Between Hate and Love

Between Hate and Love
Perubahan 180 derajat Namira



Namira telah sampai di rumahnya. Kedua orang tuanya, Bu Rani dan Pak Jamil langsung menyambut Namira dengan penuh rasa cemas. Anaknya itu tidak pernah pergi keluar sampai selarut itu sebelumnya.


"Nami, kamu darimana saja Nak? Kenapa pulang begitu malam? Dan kenapa tidak mengabari kami kalau mau pulang sampai malam begini?" cecar Bu Rani. Nampak jelas wanita paruh baya itu sangatlah khawatir. Mengingat, kondisi Namira yang belum sepenuhnya sembuh. Bu Rani takut kalau anaknya yang tinggal satu itu kenapa-kenapa.


Senada dengan Bu Rani, Pak Jamil pun ikutan memberondong pertanyaan-pertanyaan pada Namira yang baru saja tiba di rumah. "Kenapa kamu tidak izin dulu sama Ayah atau Ibu? Kamu membuat kami jadi khawatir. Apakah kamu senang melihat kamu segelisah ini gara-gara kamu, hah?!"


"Aku banyak urusan Yah, Bu," jawab Namira culas. Ia bahkan langsung pergi ke kamarnya di lantai dua saat orang tuanya belum selesai berbicara. Melihat hal tersebut membuat Pak Jamil dan Bu Rani tercengang tak percaya.


"Nami, kenapa kamu main pergi begitu saja? Nami... Ayah dan Ibu belum selesai berbicara! Yak! Namira ..." pekik Pak Jamil, selaku ayah Namira. Lelaki itu seolah tak lagi mampu berkuasa dan bertindak sesukanya ketika berhadapan dengan putri kesayangan yang kini lebih banyak abai dan sedikit culas. Benar-benar membuat Pak Jamil frustrasi, pun dengan istrinya.


"Ayah, kenapa sekarang Nami kita mendadak jadi seperti itu? Kenapa sikap Nami sekarang jadi berubah sama kita?" Bu Rani bertanya pada suaminya. Tatapan tak beralih melihat sedih punggung anaknya yang bersikap acuh.


"Ayah juga gak tahu Bu, kenapa Nami bersikap seperti itu."


"Itu bukan Namira yang kita kenal, Yah. Dia bukan anak kita, dia orang lain. Namira anak kita mana pernah bersikap tidak sopan dengan mengabaikan pertanyaan kita? Bahkan Nami kita tidak akan sanggup melakukan hal seperti tadi. Dia bukan anak kita, Yah," lirih bu Rani. Wanita paruh baya itu enggan mengakui Namira yang sekarang sebagai putrinya. Namira anaknya tidak pernah bersikap kasar dan tidak sopan seperti tadi. Namira anaknya adalah putri paling sopan sedunia.


"Apa Ibu tahu sejak kapan perubahan Namira terlihat? Apa semua ini ada hubungannya dengan Kevin?" duga Pak Jamil.


Bu Rani menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu, seolah dia ingat sesuatu. Ya, dia ingat perubahan Namira terjadi setelah Kevin mengunjunginya tempo lalu. Apa mungkin apa yang di duga suaminya memang benar adanya? Mengingat, Namira berubah semenjak hari itu, dimana dia ditemui Kevin. Ibu diam tak bergeming. Takut suaminya akan curiga.


"Kenapa Ibu menatap Ayah seperti itu?" heran Pak Jamil. "Apa Ibu sepemikiran dengan Ayah bahwa Namira berubah gara-gara Nak Kevin?"


Bu Rani tampak meleguk salivanya, menghilangkan gugup yang menderanya tiba-tiba. Ia belum yakin kalau semua ini disebabkan oleh Kevin, tapi Bu Rani juga tidak berani menjamin kalau Namira berubah karena hal lain.


"Euu.. anu.. mungkin Namira lagi banyak pikiran, Yah. Kita gak boleh langsung menuduh semua ini gara-gara Nak Kevin," ucap Bu Rani mencoba mengalihkan terkaan Pak Jamil yang terlalu merujuk pada Kevin.


"Tapi kalau bukan gara-gara Nak Kevin, lantas gara-gara apa Bu? Kalau pun banyak pikiran, apa yang sedang Namira pikirkan kalau bukan masalah percintaannya? Mengingat, dia belum kembali ke kantor. Masa iya sih dia kepikiran kantor? Kayanya nggak mungkin deh, Bu." Pak Jamil menyimpulkan.


"Ya tapi kita gak bisa menuduh Nak Kevin, lagipula yang mengambil keputusan final kan Namira. Dia yang meminta Kevin untuk mengakhiri hubungannya. Jadi sudah seharusnya Namira tidak boleh menyesal. Kemarin sih nak Kevin memang sempat ke sini, tapi gak lama langsung di usir oleh Namira," ceplos Bu Rani tanpa sengaja. Ia bahkan lupa kalau tadinya tidak akan mengungkit masalah ini. Namun ternyata, Tuhan berkehendak lain.


"Jadi Nak Kevin kesini kemarin?" tanya Pak Jamil, agaknya dia sedikit shock dengan sikap keceplosan Bu Rani.


Bu Rani menghela napas ringan, ia sudah keceplosan. Lantas sekarang mau berdalih apa lagi? Pada akhirnya Bu Rani hanya mengangguk pasrah. Mengiyakan kalau Kevin benar-benar berkunjung ke rumah mereka untuk bertemu Namira.


"Nah itu masalahnya!" seru Pak Jamil.


"Maksud Ayah apa?" sergah Bu Rani tak mengerti.


"Ibu bilang kan kalau Nak Kevin kesini?" Bu Rani mengangguk pelan, Pak Jamil tak lama melanjutkan ucapannya. "Mungkin karena Nak Kevin kesini, Namira jadi berpikir dua kali telah memutuskan hubungannya dengan Nak Kevin. Karena tak menemukan titik terang, itu membuat anak kita jadi pusing dan kebingungan sendiri mau lanjut atau tetap mempertahankan egonya," terka Pak Jamil menggebu-gebu. Ia sudah seperti pakar Cinta yang tahu segalanya.


"Maksud Ayah, anak kita itu tengah dirundung dilematis begitu?" sahut Bu Rani. Ia masih belum mencerna baik-baik makna dari ucapan suaminya tersebut yang terkesan memaksakan.


"Masa sih?" Bu Rani masih belum percaya seratus persen dengan kalimat simpulan suaminya tersebut.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!" seru Pak Jamil. Ia pun lantas memutar tubuhnya, hendak bergegas menuju kamarnya. Namun tiba-tiba niatannya tertahan saat sang supir yang bertugas untuk mengantar jemput Namira kesana kemari lebih dulu menginterupsi.


"Permisi Tuan dan Nyonya besar?" ucapnya dengan keadaan setengah membungkuk.


"Ya ada apa Pak?" sahut Bu Rani. Senada dengan Bu Rani, Pak Jamil juga ikutan melontarkan perkataan yang sama.


"Maaf Tuan dan Nyonya besar, saya cuma mau menyerahkan kunci ini pada Nyonya dan Tuan besar," tandas sang supir sembari menyerahkan kunci mobil pada majikannya dengan hati-hati.


"Terimakasih Pak," kata Bu Rani pada supir Namira.


"Bapak boleh pergi ke ruangan Bapak," sambung Pak Jamil.


Alih-alih menuruti perintah kedua majikannya, Pak supir pun malah diam di tempatnya. Seolah masih ada yang perlu dibicarakan. Wajahnya terlihat begitu cemas dan ragu-ragu, tapi hatinya tidak tenang kalau sekiranya pendam dan menjadi unek-unek belaka.


Melihat keganjilan itu, Pak Jamil pun sadar dan kemudian bertanya lagi pada supirnya.


"Ada apa lagi Pak? Apakah ada sesuatu yang penting yang mau Bapak sampaikan pada kami?" tanya Pak Jamil. Raut wajahnya mendadak jadi serius dan penuh tanda tanya.


"Anu Pak, saya cuma mau cerita sesuatu yang penting," balas Pak Supir setengah ragu-ragu.


"Penting? Apa itu soal anak saya?" kali ini Bu Rani yang angkat bicara. Ia juga menampilkan raut-raut serius layaknya Pak Jamil saat Pak Supir itu ingin mengatakan hal-hal yang berhubungan dengan Namira.


"Iya, Pak Bu... tapi saya bingung mau cerita dari mana... soalnya ini menyangkut dengan anak ibu yang lain."


"Apa?!" Pak Jamil dan Bu Rani terkejut seketika saat Pak Supir itu membawa-bawa anaknya yang lain. Yang artinya Almira, anak mereka yang telah lama hilang.


"Maksud bapak, Almira? Apa ada kabar tentang putri saya yang itu? Apa bapak melihatnya?" cecar Bu Rani dengan meninggikan intonasi bicaranya. "Katakan! Dimana Bapak melihat putri saya yang lain?" bahkan Bu Rani sampai mengguncangkan tubuh Pak supir dengan tak sabaran menantikan kelanjutan ucapan Pak supir.


"Dimana Bapak menemukan Almira?" sahut Pak Jamil.


Saat Pak Supir hendak mengatakan sejujurnya pada kedua majikannya itu, tiba-tiba dia tanpa sengaja melihat Namira telah berdiri di dekat pembatas lantai dua. Meski tubuh gadis itu berada di lantai dua, tapi matanya mengarah tepat ke arah Pak Supir yang sepertinya hendak mengadu pada majikannya. Membuat Pak supir itu menjadi takut karena ditatap intens dan tajam oleh Namira. Gadis itu tidak bertindak apa-apa, tapi cukup membuat Pak Supir dihadapkan dengan kekalutan luar biasa. Alhasil, Pak supir itu langsung mengurungkan niatannya.


"Maaf Bu, sepertinya saya keliru," ucap Pak Supir. Ia pun langsung membalikan tubuhnya, meninggalkan kedua majikannya yang terperangah tak percaya. Antara kecewa dan juga merasa janggal.


Pak supir sepertinya terpaksa berbohong lagi, mengingat sedari tadi dia terus mendapat tatapan menyeramkan dari Namira yang mengintainya di lantai dua. Ia takut kalau Namira bertindak nekat.


Bersambung.