Between Hate and Love

Between Hate and Love
Sesal Kevin



"Halah kebanyakan menelaah malah bikin semuanya jadi terbuang secara percuma. Kelamaan itu Vallen!! Almira keburu susah ditemukan," sergah Kevin.


"Ya gak bisa gitu, kita pokoknya harus menggali informasi sebanyak-banyaknya dulu baru kita bisa menemui titik terangnya."


"Halah, kamu pikir kita ini tikus tanah yang hobinya menggali?" celetuk Kevin, semakin sebal saja dia pada Vallen yang mendadak jadi sok bijak. Kevin benci Vallen yang kebanyakan menelaah dan menelaah tapi ujung - ujungnya bergerak lambat.


"Ya gak gitu juga konsepnya, Bambang!!" geram Vallen. Mendelik ke arah Kevin yang kini tengah cemberut dengan melipat kedua tangannya.


"Pokoknya gue gak mau asal tuduh. Jatohnya jadi fitnah nanti, lebih buruknya lagi bahkan bisa dikatakan pencemaran nama baik, terus nanti gue dilaporin ke Pak Polisi, terus di bui, terus di..."


"Stop!!" cegah Kevin, memotong cerocosan Vallen yang mulai ngawur. "Kenapa ke situ-situ sih kamu, Len? Otak kamu gesrek apa gimana?"


"Pokoknya gue gak mau bersikap kaya Lo!!" tegas Vallen, mendebat.


"Ya tapi gak usah pakai kata-kata lebay kaya gitu Vallen, pusing aku tuh dengernya," tukas Kevin seraya mengacungkan telapak tangannya setinggi telinganya, seolah tengah menutupi suara-suara yang masuk ke dua benda yang berfungsi sebagai indera pendengaran tersebut.


"Sekarang kita fokus ke pencarian Almira sekaligus mencari wanita yang bercekcok dengan Almira. Abaikan lelaki yang tadi kamu pergoki tengah memantau rumah itu," imbuh Kevin, mengalihkan kembali pembicaraan ke topik utama sebelum Vallen mulai berpikir yang tidak-tidak.


Soalnya, Kevin sadar betul kalau mendebat dengan Vallen tentunya sangatlah sulit untuk menang. Kalau di pikir-pikir lagi, sikap Vallen tersebut sedikit banyak mirip Kevin jika otaknya mulai gesrek.


Benar kata pepatah dunia, jika kita berteman lebih dari lima tahun, secara gak sadar sifat dan kebiasaan kita hampir mirip-mirip bahkan cenderung sama persis, bisa dibilang sebelas dua belas. Pantas saja Kevin dan Vallen terkadang memiliki kebiasaan yang cukup serupa. Kalau Kevin sedang bebal dan urakan dalam menanggapi berbagai hal, maka di saat itu Vallen berperan sebagai orang yang menenangkan Kevin. Sebaliknya, jika Vallen yang tengah berada di posisi seperti itu, maka gantian Kevin yang berperan menjadi bijak. Ibarat kata, jika ada racun pasti ada penawarnya. Jika ada hitam maka sepatutnya ada putih.


Pada intinya, persahabatan Kevin dan Vallen emang cukup unik dan menarik. Berbeda pandangan, sikap, dan selera tapi tetap kompak dan tak pernah sampai tercerai berai apalagi salah paham. Meskipun terkadang Kevin suka semena-mena dan seenaknya pada Vallen, tapi entah kenapa Vallen tak merasa tersinggung sama sekali.


Bagi Vallen, Kevin adalah sahabat, rekan kerja, keluarga terbaiknya. Baik buruk sifat Kevin, Vallen tetap menerimanya dengan suka cita. Pun sebaliknya, Kevin juga menerapkan hal yang sama. Vallen adalah orang penting dan berjasa di hidup Kevin.


Meski sering berbeda pendapat, mereka tak pernah bermusuhan dalam jangka yang lama. Baru beberapa detik saja beda paham, mereka akan langsung kompak sedia kala. Sama seperti sekarang, mereka tengah berdebat satu sama lain, tapi beberapa detik kemudian mereka kompakan memecahkan masalah kaburnya Almira.


"Kamu benar Vin, tidak seharusnya kita berdebat tentang lelaki aneh yang gue temui, apalagi belum jelas asal usulnya. Lebih baik kita pecahkan masalah ini dan fokuskan ke masalah Almira saja," Vallen ikut bersikap legowo. Tidak penting membicarakan lelaki aneh nan misterius tersebut, toh belum tentu juga ada korelasinya dengan kaburnya Almira sekarang.


"Tapi kira-kira Lo ada yang dicurigai gak sih selain bokapnya Almira, si Pak Jamil itu?" tanya Vallen meneruskan pembicaraannya. "Ya gue sih bukannya mau sok tahu ya, selama ini kan gue cuma tahu Almira ada masalahnya sama keluarganya doang. Ya barang kali aja gitu kalau sama lo ada cerita apa gitu, kan lo lebih deket."


"Sayangnya nggak ada len," jawab Kevin lesu. Ia sadar kalau selama ini dia tidak terlalu peka pada gadis itu. Padahal dia bersikukuh cinta pada Almira, namun faktanya Kevin tak cukup mampu mengetahui setiap masalah Almira.


Kevin menunduk malu. Meratapi kepayahannya sendiri. Selama ini, dia tak pernah terlalu banyak tahu tentang Almira. Dan bodohnya, dia tak pernah bertanya atau mencari tahu.


Seharusnya, jika Kevin mengatakan mencintai gadis itu. Kevin harus berjuang mencari tahu. Kevin harus lebih tahu dibanding Almira sendiri. Jadi, ketika ada masalah seperti sekarang.. Kevin tidak perlu lagi kesulitan bertanya-tanya.


Namun, semuanya sudah terlambat. Mau kesal dan mengucapkan sumpah serapah serta menghardik dirinya sendiri saja rasanya percuma. Almira telah pergi entah kemana. Kevin semakin menundukan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang menyeruak tiba-tiba. Kevin merasa menyesal.


Melihat Kevin diam tak bergeming sambil menunduk, hal itu membuat Vallen jadi merasa khawatir.


"Vin, Lo gak kenapa - kenapa?" tanya Vallen sembari mengusap punggung Kevin lembut.


Kevin hanya mengacungkan telapak tangannya, tanpa mau mendongak. "Aku gak apa-apa Len."


Ucapan Kevin terdengar berbeda. Dari situ Vallen mulai memeriksa wajah Kevin yang tengah disembunyikan.


"Lo nangis Vin?" celetuk Vallen, terkejut. "Lo ngapain nangis sih Vin?"


"Aku cuma ngerasa sedih dan malu aja sama diri aku sendiri Len," jawab Kevin disela tangisannya yang sudah tak lagi bisa disembunyikan. Namun dia masih enggan mendongak.


Vallen mengerutkan kedua alisnya tak mengerti. "Sedih? Malu? Kenapa lo ngomong gitu, Vin?"


"Soalnya aku orang yang tak berguna sama sekali untuk Almira. Aku selalu mengatakan mencintai dia, aku juga bersikukuh ingin mendapatkannya. Tapi... di saat Almira sedang ada masalah, aku malah gak tahu menahu. Bahkan aku gak tahu kalau Almira punya masalah lain diluar masalahnya dengan Pak Jamil," lirih Kevin. Suaranya terdengar parau tertahan sesak.


Suasana mendadak jadi haru. Vallen jadi bingung harus menasehati Kevin seperti apa. Ia takut salah bicara dan menyebabkan Kevin makin sedih. Tapi, jika tak dinasehati sekarang, Vallen merasa Kevin hanya akan memperburuk keadaan. Sebab, saat ini bukan waktunya memikirkan siapa yang salah dan patut disalahkan.


"Apa gue bilang aja kali ya sama dia, kalau sekarang bukan waktu yang tepat dia harus menye-menye menyalahkan diri sendiri," batin Vallen, dilema.


Masih menggosok bahu Kevin, Vallen pun perlahan-lahan membuka suara lagi.


"Vin ..," ucap Vallen ragu. Kevin mendongak menatap Vallen. Vallen menghela nafasnya sejenak, lantas melanjutkan ucapannya. "Menurut gue, sekarang bukan saatnya Lo merutuki diri lo sendiri. Toh, di masalah ini semuanya masih remang - remang, siapa yang salah dan siapa yang benar. Gue bukannya mau sok bijak, tapi menurut gue dalam kondisi sekarang Lo seharusnya gak perlu nyalahin diri lo sendiri. Jadi jangan memperumit keadaan Vin, lebih baik kita urusi dan pecahkan semua ini daripada menghabiskan waktu buat menye-menye," terang Vallen menyadarkan Kevin.


"Kamu benar Len, aku tidak seharusnya menyalahkan diriku di waktu yang tak tepat ini."


"Yaudah, lebih baik kita cari bukti lagi yang lebih relevan. Semakin cepat, semakin baik kan?" ucap Vallen dengan diiringi senyuman yang terbit di kedua ujung bibirnya. Dalam posisi sekarang, Vallen memang harus bisa menjadi menyejuk perasaan Kevin yang tengah semrawut dan kacau. Dengan begitu, Kevin tak berlama-lama sedih yang nantinya masalah ini semua bisa, cepat selesai.


Bersambung.