
"Baiklah kalau begitu saya panggilkan anak saya dulu. Oh ya, Nak Kevin mau minum apa? Biar sekalian Ibu ambilkan."
"Tidak perlu, Bu. Saya kesini hanya mau ketemu Namira sebentar aja kok. Jadi tidak usah repot-repot."
"Baiklah."
Bu Rani pun bergegas masuk ke dalam rumahnya, memanggilkan Namira untuk Kevin.
Selang beberapa menit, orang yang Kevin tuju akhirnya tiba juga. Namira menghampiri Kevin yang tengah terduduk di kursi teras. Hawa-hawa malas meliputi Namira kala matanya bertemu dengan mata Kevin yang sejak tadi menunggunya.
"Mau apa kamu ke sini lagi? Bukankah Ayah aku sudah menyampaikan semuanya secara jelas?" ketus Namira, gadis itu terduduk dengan melipat kedua lengannya di depan dada. Menegaskan kalau dia tengah tidak berminat berbasa-basi dengan Kevin. Tidak ada yang perlu Namira jelaskan, semuanya sudah jelas tanpa debat.
"Aku tahu, tapi ada yang masih jadi pertanyaan dan satu pertanyaan itu begitu mengganjal di hati, jadi mari kita bicara. Agar semuanya berakhir tanpa ada pertanyaan lagi diantara kita," ucap Kevin. Matanya mengedar menatap ke arah pintu, takut-takut kalau Bu Rani tiba-tiba datang dan mendengar semuanya.
"Tidak ada yang perlu kamu tanyakan. Semua sudah jelas, jadi aku tidak mau menjelaskan lagi. Sekarang lebih baik pergi dari sini dan jangan usik lagi kehidupan aku. Anggaplah semua ini tidak pernah terjadi, anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya." Namira masih bersikap ketus pada Kevin. Gadis itu sikapnya berubah 180 derajat dari biasanya. Kevin sadar akan hal itu. Ia juga sadar kalau yang menyebabkan gadis itu berubah serta merta karena ulah Kevin. Kevin merasa malu, bersalah, dan canggung.
Kevin tersenyum kecut. Rasanya ia ingin meminta maaf pada gadis itu atas kelakuannya yang buruk. Namun rasanya sulit. Kevin seolah tak memiliki kekuatan untuk mengeluarkan kata maaf itu, terlebih melihat Namira yang sekarang jauh lebih ketus. Kevin jadi semakin kesulitan. Pengecut memang!
Dihelanya napas Kevin secara perlahan, mempersiapkan diri untuk lebih bersabar dan hati - hati menghadapi Namira yang sekarang. Salah bicara sedikit, Namira pasti akan semakin enggan mengemukakan alasannya dibalik pemutusan hubungannya dengan Kevin.
"Aku tahu kamu marah, kesal, kecewa dan pasti benci sama aku. Aku tahu ini semua salahku. Tapi bisakah berikan aku waktu lima menit saja untuk meluruskan semua ini?"
"Harusnya kamu sadar kalau sekarang tidak ada yang perlu kamu jelaskan. Kita sudah tidak ada hubungan apapun."
"Aku tahu, tapi Nami... berhari-hari ini otakku selalu dilingkupi pertanyaan - pertanyaan seputar alasanmu yang sama sekali tidak sesuai fakta. Kenapa kamu malah berbohong kalau kamu ingin memutuskan hubungan kita karena kamu memiliki orang yang kamu cintai selain aku? Kenapa kamu tidak jujur saja bahwa sebenarnya akulah yang bicara seperti itu? Apa kamu mencoba melindungi aku dari Ayah kamu?"
Namira tersenyum meremehkan. Sungguh hatinya merasa muak dengan ocehan Kevin. Betapa percaya dirinya Kevin kalau Namira tengah melindungi Kevin dari amukan Pak Jamil, sehingga memilih berbohong pada orang tuanya. Sungguh tidak masuk akal menurut Namira.
"Wah, kamu kepedean sekali ya jadi orang?! Untuk apa aku harus melindungi kamu? Asal kamu tahu saja, aku melakukan ini karena aku memang mencintai orang lain. Jadi stop berhalusinasi!" sentak Namira penuh penekanan.
"Aku tidak percaya. Kamu tidak pandai berbohong. Aku sangat mengenal baik seperti apa sikapmu," sanggah Kevin.
Darah Namira seketika berdesir hebat, naik hingga ke ubun - ubun. Jantungnya juga seolah bergemuruh seiring dengan tatapannya yang sengit ke arah Kevin.
"Cih, kamu percaya diri sekali, ya. Kamu tidak mengenal aku dengan baik. Stop jadi orang sok tahu! Sekarang pergilah dari sini sebelum aku panggilin satpam buat seret kamu dari sini!" murka Namira. Mengacungkan telunjuknya mengarah ke pelataran, mengkode Kevin untuk segera minggat dari hadapannya karena ia terlalu muak melihat Kevin di dekatnya.
Alih-alih menuruti perintah Namira, Kevin malah semakin mengeratkan bokongnya di kursi. Enggan untuk pergi meski Namira sudah mengusirnya terang-terangan. Ia belum mendapatkan jawaban dari Namira, jadi ia tidak mau hengkang terlebih dahulu.
"Aku tidak mau pergi. Sekalipun kamu usir aku secara blak-blakan, aku tetap tidak peduli. Aku akan tetap di sini sampai kamu berkata jujur dan menceritakan alasannya pada ku."
Namun sebelum hal itu terjadi, Kevin lebih dulu menyeletuk dan menahannya.
"Hati kamu sama hati adikmu ternyata sama, ya... sama-sama keras! Tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain terlebih dahulu. Bisanya hanya menyimpulkan. Bukankah itu terbilang egois? Aku pikir kalian hanya serupa dalam bentuk wajah, tapi ternyata semuanya sama. Pikiran kamu juga sama dengan adik kamu."
Nana memutar kepalanya menghadap ke arah Kevin. Emosinya semakin naik. Beruntung ia masih bisa mengontrolnya dengan baik, sehingga tak meluap apalagi meledak - ledak ketika berhadapan dengan Kevin.
"Apa maksud kamu bawa-bawa adik aku? Tau apa kamu tentang adik aku? Jangan melibatkan adikku hanya untuk mengalihkan kesalahan kamu!" ucap Namira sengit.
"Aku tau semuanya tentang adik kamu. Aku mengenal baik adik kamu, bahkan lebih jauh sebelum mengenal kamu," pungkas Kevin. Entah secara sadar atau karena ia terlalu geram diabaikan Namira. Padahal dia hanya meminta penjelasan saja dari gadis itu.
Namira memicingkan matanya dengan heran. Sungguh, apakah telinganya salah mendengar? Kenapa Kevin mengatakan kalau dia mengenal Almira lebih jauh sebelum Namira?
"Maksud kamu?" tanya Namira bingung. Ia cukup kesulitan menerima informasi yang dilontarkan Kevin barusan.
"Ya, aku mengenal adik kamu dengan baik. Makanya aku bisa mengatakan kalau kalian sama. Tidak hanya serupa dalam hal wajah, tutur kata, sikap, kepribadian, semuanya sama," jelas Kevin lirih.
"Apa?" Namira kembali bertanya. Ia benar-benar belum mampu mencerna dengan baik maksud perkataan Kevin. Namun satu hal yang ia tangkap. Kevin mengatakan kalau dia mengenal adiknya Namira dengan baik. Itu artinya Kevin mengenal Almira dengan baik jauh sebelum kenal dengan dirinya. Dan Kevin tahu sesuatu tentang Almira. Kalau pun iya, lantas apa keterlibatan Almira dalam masalah ini? Namira tertegun.
"Apa aku perlu memperjelas kenapa aku membawa - bawa adik kamu dalam masalah ini?" cetus Kevin, seakan bisa menebak apa yang tengah melingkupi otak Namira sekarang.
Namira tak menjawab. Ia masih belum bisa mencerna atau menebak apa yang tengah dimaksudkan Kevin saat ini.
"Karena Almira adalah wanita yang aku cintai."
Deg
Selain tak mampu berkata-kata, Namira juga nampak sedikit limbung saat rungunya mendengar pernyataan Kevin mengenai perasaannya pada Almira. Beruntung, posisinya kini tengah berada di ambang pintu. Dengan demikian, Namira biasa perpegangan pada tepian pintu agar tubuhnya tak ambruk.
Melihat hal itu, Kevin sedikit khawatir. "Kamu tidak apa-apa, Nami?" Ia bergegas bangkit untuk menolong Namira, tapi Namira segera mengacungkan telapak tangannya, pertanda menolak bantuan Kevin tanpa berkata-kata.
Namira tak ingin terlihat semakin menyedihkan setelah dicampakkan Kevin. Apalagi harus pingsan di hadapan pria itu. Sungguh sangat tidak ingin! Bukankah Namira sudah berpura-pura kalau dia mencintai lelaki lain? Kalau tubuh lemahnya harus pingsan setelah mendengar pernyataannya yang mencintai adik kembarnya, apa kata Kevin nanti? Lelaki itu pasti menganggap Namira tidak serius kalau dia mencintai lelaki lain. Jadi sebisa mungkin Namira harus terlihat kuat.
"Aku tidak peduli kamu mencintai siapapun," pungkas Namira berdusta. Ia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kevin yang tertohok tak percaya.
"Jadi karena ini kamu memilih pergi dariku? Jadi karena Almira kamu memutuskan hubungan kita? Sejak kapan? Apakah kamu sengaja mendekati aku karena Almira? Sekarang aku sadar, kamu hanya memanfaatkan aku agar bisa mengambil hatinya. Aku pikir kamu meninggalkan aku karena aku sakit. Ternyata aku salah. Kamu memanfaatkan aku! Dasar pria jahat! Brengs*k! " Namira membatin ditengah perjalanannya. Terjangan rasa kecewa serasa menghunus tepat ke jantungnya. Ia tidak pernah menyangka hal seburuk ini menimpanya.
Bersambung.