
Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Vallen dan Kevin tengah berdiri sepasang kaki dengan senyum licik terbit di ujung bibirnya. Memantau Kevin dan Vallen dari kejauhan dengan sorot mata penuh kemenangan.
"Kalian tak akan menang melawanku, Almira tak akan kalian temukan."
Dialah Namira. Gadis yang cerdik sekaligus juga licik itu memang telah mempersiapkan semuanya untuk memutus laju pencarian Almira yang dilakukan oleh Vallen dan Kevin. Termasuk membungkam beberapa warga untuk tidak menceritakan apapun jika ada yang bertanya perkara Almira.
Setelah semuanya dirasa aman, Namira segera membalikan tubuhnya. Bermaksud untuk segera pergi dari tempat itu sebelum ketahuan kalau dia tengah mengawasi Kevin dan Vallen.
Namun sayangnya, entah ada angin dari mana Vallen tiba-tiba saja menoleh ke arah Namira yang tengah memasuki mobilnya.
"Bukankah itu Namira? Kenapa dia ada di sini? Mau apa dia?" batin Vallen, menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa yang tengah ia lihat benar-benar Namira.
Vallen menggosok kedua bola matanya, barang kali dia salah melihat. Dia sipitkan lagi matanya, lebih menyurukkan kepalanya ke depan.
"Itu beneran Namira, aku tidak salah lagi. Gadis itu beneran Namira, sedang ngapain dia? Apa dia tahu kalau aku dan Kevin tengah mencari tahu kepergian Almira? Hmm..." lanjut Vallen dalam hati.
"Vin, Vin.." Vallen menepuk-nepuk bahu Kevin beberapa kali tanpa memutus pandangannya ke arah Namira. Bermaksud untuk mengajak Kevin memastikan bahwa ada Namira di sekitaran sana.
"Ada apa Len?" Kevin mengernyitkan dahinya, memutar kepalanya mengikuti kemana arah pandangan Vallen menatap.
"Ada Namira di sana," tukas Vallen, namun saat itu Kevin sudah tak lagi melihat Namira.
"Mana, gak ada siapa-siapa," tandas Kevin sembari celingak celinguk ke sana kemari, mencari sosok Namira yang katanya ada di belakang mereka.
"Itu tadi ada, dia sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia pasti sedang mengawasi kita Vin, gak salah lagi kalau dalang semua kejadian ini pasti atas kendali Namira," ucap Vallen berapi - api. Dia sangat yakin kalau dugaannya kali ini tak melenceng. Semua yang terjadi dengan Almira pasti ada kaitannya dengan Namira.
"Jangan ngarang kamu Len, kamu jangan asal nuduh. Sudah jelas-jelas gak ada siapa - siapa di sana," sanggah Kevin tanpa mau menaruh rasa percaya sedikitpun pada Vallen kali ini. Malahan, Kevin menyangka bahwa Vallen hanya salah lihat orang.
"Ada tadi Vin, gue serius. Tadi gue lihat Namira di sekitaran sana. Lo harus percaya sama gue Vin. Suer deh!" tegas Vallen sembari mengacungkan V sign pada Kevin yang masih enggan mau percaya. Vallen berharap dengan memasang wajah serius, Kevin mau sedikit membuka matanya untuk percaya bahwa Namira adalah terdakwanya. Namira adalah dalang dibalik semua ini. Namira adalah orang yang merancang skenario hilangnya Almira. Vallen yakin betul, instingnya mengatakan kalau Namiralah yang salah.
Alih-alih mau percaya pada semua sangkaan Vallen, Kevin justru malah menepis semuanya. Ia merasa kalau Vallen sudah keterlaluan karena menuduh Namira lagi Namira lagi yang jadi biangnya. Padahal Vallen tak cukup bukti untuk melemparkan semua tuduhan itu pada Namira.
"Buktinya mana kalau ada Namira?" tantang Kevin.
"Tapi gue yakin banget kalau tadi Namira Vin," lirih Vallen masih berusaha mempertahankan argumennya.
"Mungkin hanya mirip aja sama Namira Len. Gak mungkinlah ada Namira di sini, dia juga gak tahu kan tempat ini," sangkal Kevin.
Vallen bingung harus menjelaskan dengan cara apalagi agar Kevin mau mengerti dan percaya. Sepertinya Kevin benar-benar tak mau percaya. Pada akhirnya Vallen tertunduk kecewa. Percuma dia jelaskan ribuan kali kalau dia tidak salah orang, karena ribuan kali juga Kevin akan berusaha menepis.
Kevin sepertinya terlanjur percaya pada Namira. Kevin masih menyangka bahwa Namira tidak berubah sifatnya terlepas dari apapun yang telah menimpanya. Kevin cukup yakin bahwa Namira tak akan senekat dan setega itu mengusik hidup Almira. Ya, Kevin sangat percaya akan hal itu sampai-sampai dia tak mau mendengarkan Vallen yang selalu berada di pihaknya dalam keadaan apapun.
Vallen masih menunduk kecewa. Dia tak ada minat melanjutkan kalimatnya untuk membuktikan bahwa dia tidak salah lihat. Tapi percuma juga kalau Kevin tak mau mendengarkannya, jadi Vallen memilih diam.
Merasa tak enak hati, Kevin pun menggosok bahu Vallen. Menjelaskan bahwa dirinya tak bermaksud membuat Vallen kecewa.
"Len, jangan salah mengartikan ucapan aku. Aku gak bermaksud buat kamu ngambek kaya gitu. Aku cuma gak mau aja kamu nuduh-nuduh Namira terus. Kita tak punya bukti. Lagi pula aku bisa memastikan kalau yang kamu lihat bukan Namira karena aku baru saja mengantarnya ke sebuah hotel. Dia bahkan gak tau kalau aku mau ke sini, jadi kemungkinannya kecil kalau orang yang kamu lihat adalah Namira," terang Kevin mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai penengah.
Vallen menepis kasar lengan Kevin yang tengah menggosok bahunya. Ia tak perlu dibujuk seperti itu. Biar bagaimanapun Vallen tetap pada pendiriannya. Wanita yang ia lihat barusan adalah Namira. Vallen bahkan berani bersumpah demi apapun bahwa matanya tidak rabun.
"Udah deh Vin, gak usah belain si Namira terus. Gue bukannya marah sama Lo, tapi ada kalanya Lo jadi orang jangan asal percaya aja sama Namira. Oke, selama ini kita mengenal dia sebagai pribadi yang baik. Tapi itu dulu. Kalau sekarang meragukan dia tuh," tandas Vallen blak-blakan. Entahlah, Vallen merasa amat sangat yakin kalau Namira telah berubah.
"Meragukan gimana sih Len? Sebenarnya kamu tuh ada masalah apa sih sama Namira? Kenapa kamu jadi sentimen gitu sama dia?" Kevin bertanya dengan nada menyelidik.
"Ya gue cuma ngerasa aja Namira telah berubah. Gue gak bisa jelasin kenapa gue bisa terang-terangan menjudge dia berubah, tapi ketahuilah biasanya dugaan gue ini kuat. Lo tahu kan, kalau gue tipe orang yang gak gampang asal mencap orang? Tapi entah mengapa dari lubuk hati gue yang paling dalam, kali ini gue patut mencurigai Namira."
"Tapi dugaan tak berdasar itu jatuhnya jadi angin belaka Len. Lebih parahnya lagi jadi fitnah," elak Kevin. Kali ini dia kurang setuju dengan Vallen yang lagi-lagi menyudutkan Namira. Meski Kevin tak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu, rasanya Kevin tidak rela kalau Namira disudutkan. Apalagi, hubungannya dengan Namira baru saja baikan. Kevin tidak mau termakan omongan Vallen begitu saja.
Jika memang Namira bersalah dan dalang dari semua ini, Kevin pastinya akan sangat kecewa tapi saat ini, dia tak bisa menuduh gadis itu hanya karena Vallen melihat orang yang sekilas mirip Namira.
"Tapi Viiinn..." keluh Vallen. Dia merengek seperti anak kecil tujuh tahunan saat dugaannya tak digubris dengan baik oleh Kevin. "Lo harus ingat, Namira pernah Lo sakitin. Sebaik-baiknya orang, kalau udah merasa tersakiti pastilah ada sisi bencinya juga. Apalagi hati manusia itu gampang berubah-ubah. Mungkin kemarin baik, bisa saja saat ini dia berubah jadi licik," Vallen kembali mengutarakan opininya. Sebisa mungkin dia harus bisa meyakinkan Kevin agar memiliki sedikit rasa curiga terhadap Namira.
Bersambung.