
Panggilan dari Safira sejenak menghentikan niat Roger yang hendak berlalu, "Roger maafkan aku, aku tahu apa yang terjadi selama ini membuatmu terluka. Kau pria yang baik, aku yakin Tuhan telah menyimpan jodoh terbaik untukmu."
Roger tersenyum sembari mengangguk, "semoga kau bahagia Fira, jangan lupakan aku, kita masih bisa berteman."
"Tentu saja, kita selamanya adalah teman. Oh ya perkenalkan, dia Yohan suami-ku." Yohan tersenyum cerah dia amat bahagia di panggil suami.
"Hey bro, jaga dia dengan baik, jika tidak, aku akan kembali merebutnya darimu. Sampai jumpa!" Roger menaiki kembali kuda besinya lantas berlalu.
Safira menghela napas lega, dia berbalik seraya memulas senyum, hatinya amat lega dia bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus.
Yohan menatap Safira lekat-lekat, "kenapa kamu liatin aku kaya gitu?" Safira merasa risih.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?" Yohan menopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Sejak kapan ya? Aku tidak tahu, ayo kita pulang!" Safira menggandeng lengan Yohan dan menautkan jemarinya.
Saat Safira tengah mengganti pakaian tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk, membuat dia mempercepat kegiatannya.
Ceklek...
Pintu pun terbuka, menampilkan wajah kikuk Yohan, "ada apa?" tanya Safira sedikit heran.
"Emh a-aku, apa aku boleh masuk?" tanyanya gugup.
"Oh bo-leh, masuklah." Safira pun ikut gugup, dia mempersilahkan Yohan masuk ke-kamarnya.
"Ti-tidak usah biar aku saja." Safira merampas baju-baju itu dari tangan Yohan, lantas menjejalkan-nya ke lemari.
"Kenapa kau sangat gugup?" Yohan terkikik melihat reaksi Safira yang menurutnya lucu.
"Haha, aku sama sekali tidak gugup, dari mananya aku terlihat gugup." Safira berdehem sambil duduk so-keren.
Yohan duduk di sampingnya, lantas menyentuh jemari Safira pelan dia menggenggamnya menatap dari samping wajah cantik itu, panas dingin seketika menjalar di tubuh gadis itu, keringat dingin membajiri telapak tangannya.
"Jangan gugup, santai saja." Yohan meraih rambut Safira menghirup wangi tercium dari sana.
"Fira, sejak kapan kamu punya perasaan untukku?" pertanyaan itu lagi-lagi terlontar dari mulut Yohan, dia merasa penasaran dengan jawaban Safira.
"Saat kau pergi, selama kau tak ada di sampingku, aku menyadari bahwa aku takut jika kau pergi dan tak pernah kembali." Safira menunduk menatap telapak tangannya yang saling meremas.
"Aku akan selalu kembali padamu kemana pun aku pergi, karena hanya kaulah tempat aku kembali, aku mencintaimu Safira," Yohan menautkan bibirnya dengan lembut, ciuman penuh rindu dan perasaan yang terbalaskan.
'Harapanku kini hanyalah selalu melihatmu saat aku hendak memejamkan mata dan selama aku terjaga, tetaplah di sampingku bersama tawa kecil yang menyapa, memanggil aku dan kamu Ayah dan Bunda. Safira, aku pikir aku tak bisa meraih hatimu, namun nyatanya kau menerima diriku mungkin ini adalah buah dari kesabaran ku.'
Di bawah langit-langit berwarna putih tulang, dua insan tengah memupuk cinta, meregup asa, memulai mahligai pernikahan mereka untuk yang pertama kali. Rintihan pelan selaras dengan sentuhan lembut yang membuai insan, membuat mereka hanyut di dalamnya, seolah dalam dunia ini hanya ada mereka berdua. Meski kaku namun itu membuktikan bahwa itu terjadi untuk yang pertama kali bagi mereka.
Tamat.