Between Hate and Love

Between Hate and Love
memutus Laju Pencarian Almira



"Bapak jangan bohong!" seru Vallen. Ia tak kuasa untuk tidak marah. Dia tahu sikapnya itu keterlaluan tapi ia merasa ada yang janggal dengan semua ini.


"Eh Mas, jangan nuduh sembarangan yak!! Pokoknya kalau saya bilang gak tahu ya gak tahu, kenapa maksa sih?" jawab Pak Sukirno tak terima. Ia pun berdiri dan marah-marah. Merasa jengkel karena Vallen sudah tidak sopan menuduhnya berbohong.


"Pergi kamu dari sini!!" usir Pak Sukirno pada Vallen. Mengacungkan telunjuknya dengan kasar.


Vallen pun berupaya mempertahankan posisinya. Ia masih butuh keterangan lainnya. Ia tidak mau pergi sebelum dapat info tentang Almira.


"Pak, kenapa Bapak jadi begitu emosi sama saya? Saya kan cuma nyuruh Bapak berkata sejujur-jujurnya kalau bapak sedang tidak berbohong atau berusaha menutup-nutupi semuanya dari saya!" sergah Vallen.


Pak Sukirno pun semakin murka, dia semakin tak terima dengan sikap Vallen yang menurutnya tak pantas dan sangat tidak sopan pada yang lebih tua. Terlebih, Vallen bukanlah warga sekitar yang berhak menilai Pak Sukirno seenaknya.


"Pergi gak dari sini!" usir Pak Sukirno lagi. Nada bicaranya berapi-api, menandakan kalau dia tak suka dengan sikap Vallen yang mulai kurang ajar.


"Saya gak mau pergi, sebelum bapak jelasin semuanya secara detail," elak Vallen mulai ngeyel.


"Berani kamu ya, sama saya?!" dengan sorot mata yang dipenuhi kilatan amarah, Pak Sukirno pun memajukan kakinya beberapa senti, memangkas jarak dengan Vallen yang kini sudah dalam keadaan berdiri juga.


"Pergi!! Atau saya akan lakukan tindakan anarkis kalau kamu masih di sini!!" imbuh Pak Sukirno, marah.


Vallen berusaha untuk tetap tak gentar walau ia sendiri cukup sadar kalau Pak Sukirno sedang dikuasai amarah yang amat sangat mengerikan. Mungkin sebentar lagi lelaki paruh baya yang tadi kelihatannya kalem itu, akan menjotos Vallen tanpa ampun.


"Saya ke sini bertanya baik-baik dan dengan niat yang baik pula. Saya sedang tidak mau cari ribut, saya di sini hanya mau tahu tentang Almira."


"Sudah saya bilang, saya gak tahu banyak tentang anak itu, bodoh!! Apa telingamu bermasalah, hah?" murka Pak Sukirno.


"Pergi atau saya hajar kamu!!" Pak Sukirno yang tengah diliputi amarah yang tak terelakkan itu mulai mengacungkan kepalan tangannya, mengamcam Vallen yang masih saja enggan beranjak dari tempatnya.


"Pak, sudah saya bilang kalau saya gak akan pergi kalau saya belum dapat info tentang Almira, teman saya!" tegas Vallen, bebal dan ngeyel luar biasa.


"Berani kamu ya!!" Pak Sukirno semakin mengeratkan buku-buku jemarinya, mengambil ancang-ancang untuk memberikan bogem mentah pada Vallen yang sama sekali belum beranjak sesenti pun dari tempatnya, padahal Pak Sukirno berulang kali mengingatkan dan menyuruh Vallen pergi dari sana.


"Beneran ngeyel ini, anak... rasakan ini hiyaaaaa..." Pak Sukirno hendak menjotos tepat mengenai wajah mulus Vallen, beruntungnya beberapa bapak-bapak yang tadi terlibat dalam pertemuan itu langsung menahan bogeman Pak Sukirno.


"Sabar Pak, sabar... jangan bertindak gegabah sama orang - orang seperti mereka," salah satu teman Pak Sukirno berusaha mengingatkan Pak Sukirno agar tidak terbawa emosi.


"Iya Pak, untuk menghadapi bocah ingusan kaya gitu kita gak bisa main hajar gitu aja. Inget Pak, kita ini cuma rakyat biasa yang kemungkinan akan kalah jika masalah ini sampai terekspose ke media apalagi sampai ke jalur hukum. Bapak harus lebih sabar!" timpal teman Pak Sukirno yang lainnya. Ia menahan tubuh Pak Sukirno, berupaya menjauhkan lelaki paruh baya itu agar tak dapat menggapai tubuh Vallen.


Suasana jadi semakin keruh, Vallen awalnya masih enggan pergi. Namun saat Pak Sukirno mulai terbawa emosi dan siap sedia melancarkan tindakan anarkis, Vallen pun mau tak mau mengalah. Dia lantas pergi dengan tangan kosong dan rasa kecewa yang bercokol di benaknya. Mau bagaimana lagi, semua orang mulai tak bisa diajak kompromi baik-baik. Dan Vallen cukup waras untuk tidak gegabah dengan masalah sepele namun cukup membahayakan dirinya.


Jujur, dia sebenarnya tak mau cari perkara apalagi main adu otot dengan orang yang lebih tua. Tapi sayangnya, yang lebih dulu terbawa emosi bukanlah Vallen. Melainkan Pak Sukirno dan teman-temannya.


"Dasar gila, udah tua juga bukannya inget umur sama dosa.. eeeh ini malah ngajakin berantem. Pak Tua itu pikir dia hebat? Cih, benar - benar kekanak-kanakan. Aku nanya baik-baik juga, ini malah diajakin ribu. Kamps!!" Vallen menggerutu di sela langkah kakinya, memangkas jarak dengan mobilnya. Ia tak habis pikir bahwa pertanyaannya tersebut mampu memicu para orang tua itu marah. Padahal, menurut Vallen semua yang dia tanyakan itu bukan atas dasar tuduhan belaka.


Vallen yakin betul bahwa ada yang tengah disembunyikan para warga di sana. Sayangnya, mereka enggan berbagi informasi pada Vallen. Entah untuk apa alasannya mereka begitu pelit membagikan info tentang Almira.


"Saat ini aku memang belum ada bukti kuat, tapi percayalah kalau aku temukan buktinya dan mereka terlibat dalam masalah ini, aku tidak akan mengampuni mereka apalagi memberi kesempatan pada mereka," imbuh Vallen masih belum berhenti menggerutu padahal tempat yang dia tuju telah terjangkau.


Vallen duduk di depan mobilnya, menunggu Kevin yang belum selesai dengan tugasnya.


"Ini si Kevin kemana sih? Kenapa lama amat," decaknya sentimen. Melipat kedua tangannya di depan dada, serta sesekali melirik pergelangan tangannya dengan gusar saat menyadari Kevin belum juga kembali.


Tak lama setelah itu, dengan berlari kecil Kevin akhirnya kembali ke tempat semula dimana Vallen menunggunya.


Huh hah huh hah.


Deru nafas Kevin terdengar tak beraturan, selepas berlari kecil. Dia pun menyelaraskan irama nafasnya sebelum akhirnya menyeka keringat yang muncul ke permukaan dahinya.


"Gimana Vin? Udah ada info tentang Almira?" tukas Vallen to the point. Sementara orang yang ditanya masih belum mampu mengeluarkan sepatah dua patah kata pun karena saking capeknya ke sana kemari bertanya tentang gadis pujaan hatinya, Almira.


Kevin mengangkat sebelah telapak tangannya, memberi kode bahwa dia butuh beberapa detik untuk menstabilkan nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Vallen.


Setelah dirasa cukup stabil, Kevin pun membuka suara. Menjawab apa yang menjadi pertanyaan Vallen barusan.


"Tidak ada info apapun mengenai Almira. Semua orang di sini seolah menutup mulut, mata, serta telinga mereka. Aku gak ngerti kenapa mereka seperti ketakutan jika aku tanya-tanya tentang Almira," tutur Kevin lemah.


"Sudah aku duga," ceplos Vallen heboh, membuat Kevin mengernyitkan dahinya tak mengerti. Ditatapnya Vallen secara intens, penuh kebingungan serta pertanyaan yang tak dapat Kevin lontarkan secara langsung.


"Gue udah merasa janggal sedari tadi. Kayanya ada yang sengaja membungkam para warga untuk tak memberi tahu kita deh, Vin." Vallen mulai berspekulasi. Sedari tadi dia merasa ada yang aneh acap kali bertanya tentang Almira. Bahkan saat tadi Pak Sukirno hampir saja memukulnya, Vallen merasa kalau lelaki tua itu sebenarnya tahu sesuatu namun sengaja memilih menutup-nutupinya. Dan Vallen bisa membaca hal itu dari mimik wajah lelaki yang telah dipenuhi beberapa kerutan tersebut. Vallen bisa menangkap bahwasanya lelaki itu tengah berdusta pada Vallen maupun pada dirinya sendiri.


"Janggal gimana sih Len?" tanya Kevin semakin dibuat tak mengerti.


Vallen pun menceritakan duduk perkaranya dengan serius pada Kevin. Panjang lebar, bahkan ceritanya ia tuturkan dari awal hingga saat kejadian dirinya hendak dipukul Pak Sukirno.


Kevin yang mendengarkan dengan seksama hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Ternganga tak percaya bahwa cerita Vallen dan segala dugaannya mulai dapat merujuk pada suatu kesimpulan.


"Sekarang gue makin yakin kalau semua ini ada rekayasa. Gue yakin satu dari beberapa penghuni di sini pastinya tahu dong gerak-gerik Almira selama di sini, tapi anehnya semuanya bilang gak tahu. Kan aneh, Vin," ucap Vallen setelah menuturkan kecurigaannya.


"Kamu benar Len, ini semua pasti ada yang mensetting. Kemungkinan mereka memang dipaksa menutup mulut oleh orang yang tak bertanggung jawab, tapi kira-kira siapa ya Len orangnya? Dan ada masalah apa sebenarnya sama Almira?"


Vallen hanya mampu mengedikkan kedua bahu sebagai responnya. Sebenar, dia curiga pada satu orang dan orang itu cukup dekat dengan Almira maupun Kevin. Namun, kecurigaan Vallen hanya bisa ia pendam sebelum menemukan bukti nyata untuk mengungkap semuanya menjadi lebih jelas.


Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Vallen dan Kevin tengah berdiri sepasang kaki dengan senyum licik terbit di ujung bibirnya. Memantau Kevin dan Vallen dari kejauhan dengan sorot mata penuh kemenangan.


"Kalian tak akan menang melawanku, Almira tak akan kalian temukan."


Dialah Namira. Gadis yang cerdik sekaligus juga licik itu memang telah mempersiapkan semuanya untuk memutus laju pencarian Almira yang dilakukan oleh Vallen dan Kevin. Termasuk membungkam beberapa warga untuk tidak menceritakan apapun jika ada yang bertanya perkara Almira.


Bersambung.