
Kevin merebahkan tubuhnya di kasur empuk rumahnya. Kepalanya benar-benar minta diistirahatkan sejenak. Sedari tadi otaknya bekerja terlalu sibuk. Sibuk dengan masalah-masalah yang datang bertubi-tubi silih berganti dan sambung menyambung membentuk kesemrawutan tiada tara.
Oleh karena itu, Kevin perlu berbaring dan menidurkan otaknya terlebih dahulu. Menjauhkan pikiran-pikiran negatif yang membelenggunya. Masalah yang dihadapinya tak kunjung selesai. Malah makin parah. Apalagi sekarang Namira ikutan marah, tapi Kevin sedikit beruntung karena terlepas dari itu semua tidak akan ada lagi pertunangannya dengan Namira. Sekarang Kevin tinggal cari cara memulihkan semuanya dan mengajak Namira bicara.
Dan saat ini otak Kevin tidak bisa diajak bekerja, dia pun memilih tidur dan melupakannya sejenak agar ia tidak cepat gila nantinya karena kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran perkara Namira dan Almira. Benar-benar pusing.
"Aku harus istirahat sejenak," gumam Kevin saat matanya setengah terpejam.
Dan saat Kevin terpejam, tiba-tiba ponselnya berdering begitu nyaring. Mau tak mau Kevin terpaksa membuka mata dan merogoh ponselnya.
"Siapa sih yang telepon? Gak peka banget, orang mau tidur juga!" gerutu Kevin. Ditatapnya layar benda pipih persegi panjang berwarna biru tersebut. Seketika mata Kevin melotot saat nama Papanya tertampil di dalam ponselnya.
"Papa?" dengan gerakan cepat, Kevin pun beringsut dan mendudukkan tubuhnya. Jakunnya terlihat naik turun menahan takut saat menerima panggilan telepon atas nama Papanya.
'Hallo Pa? Ada apa?' tanya Kevin berbasa-basi. Mengatur ritme napasnya yang terkesan memburu saking takutnya mendapat telepon dari Papanya tersebut.
'Kok ada apa sih?' sahut Papanya di sebrang sana. 'Kamu lupa kalau Papa nyuruh kamu buat ke kantor?'
Plak!
Refleks, Kevin memukul dahinya tanpa aba-aba. Sampai-sampai menimbulkan suara pukulan yang cukup nyaring dibuatnya.
'Maaf Pa, Kevin lupa kalau Papa nyuruh Kevin segera ke kantor,' sesal Kevin. Betapa bodohnya Kevin sampai melupakan perintah Papanya lewat telepon ketika berada di rumah sakit tadi. Padahal jelas-jelas Papanya meminta Kevin segera datang tadi, sayangnya gara-gara ada insiden kecil antara dirinya dan Namira sampai-sampai membuat ia lupa harus ke kantor bukannya malah pulang. Benar-benar pikun Kevin ini.
'Memangnya sekarang kamu sedang di mana sih?' imbuh Papanya.
'Di rumah Pa.'
'Haisssh, ngapain kamu di rumah? Kamu sakit?'
'Nggak kok Pa, tadi cuma gak enak badan aja makanya tadi minta Vallen buat anterin ke rumah selepas dari rumah sakit jenguk Nami.'
'Yaudah pokoknya sekarang cepat siap-siap. Ada yang mau Papa obrolkan sama kamu. Penting!'
'Baik Pa, habis ini Kevin siap-siap.'
Panggilan telepon Pak Gunawan pun dimatikan setelah dirasa obrolannya dengan Kevin selesai. Dengan begitu, Kevin bisa langsung bergegas menuju kantornya.
"Kenapa aku bisa lupa begini sih?" kata Kevin sembari cepat-cepat merapikan wajahnya yang kusut serta tatanan rambutnya yang tak beraturan. Setelah di rasa agak rapih, Kevin pun bergegas menuju parkiran rumah. Tak berselang lama, Kevin langsung memacu mobil sport berwarna biru andalannya dengan kecepatan lumayan tinggi.
***
Kevin telah sampai di kantornya, ketika dia lewat, beberapa orang langsung menyapa sembari membungkukkan badan memberi hormat padanya. Dia pun hanya membalas sapaan para bawahannya hanya dengan sebuah senyum simpul. Kevin terlalu malas berbasa - basi. Kakinya melangkah menuju ruangan Papanya, langkahnya itu begitu cepat mengayun tanpa perintah seperti sedang dikejar paparazzi.
"Eh Bro, kenapa lo balik lagi?" kali ini giliran Vallen yang tak sengaja berpapasan dengan Kevin saat ia tengah berada di lantai dua.
Kevin berhenti sejenak, lebih mendekat lagi ke arah Vallen.
Plak!
"Hais, Vin kenapa lo mukulin gue kaya gini sih? Salah gue apa?" tanya Vallen bingung.
"Masih aja nanya salahnya apaan? Kamu harusnya bawa aku ke sini ... bukan malah membawaku pulang ke rumah. Jadi kan Papa aku gak sewot-sewot nyuruh aku segera ke sini."
"Loh, kan lo yang minta dianterin ke rumah. Ya gue mah nurut aja apa kata lo. Kenapa lo nyalahin gue?" timpal Vallen begitu enteng.
"Ya tetep kamu yang salah. Kamu kan asisten aku, jadi tugas kamu mengingatkan aku kalau aku khilaf kaya tadi. Biasanya kan kamu juga seperti itu."
Vallen memalingkan kepalanya sejenak ke arah lain, tangannya berkacak pinggang, sementara mulutnya terangkat miring.
"Helehh ... apa lo gak sadar ya, kalau gue ingetin lo suka ngebantah? Giliran gue nggak ngingetin lo juga nyalahin gue. Ampun deh gue, kepala lo minta ditebas kali ya nyalahin gue mulu?" kata Vallen dengan nada setengah bercanda, setengah lagi kesal luar biasa dengan Kevin yang mulai semena-mena. Kalau saja bukan sahabat dan juga anak bos di tempatnya bekerja, mungkin Vallen benar-benar akan menebas kepala Kevin lantas membuangnya ke Afrika. Sungguh rasa gemas Vallen terhadap Kevin sedang di puncak tertinggi. Untung saja Vallen masih bisa memaklumi dan menyampingkan egonya.
"Ya tetep aja kamu salah, udah tahu aku suka lupaan kalau sedang banyak pikiran kaya gini. Ini kamu malah sengaja bawa aku ke rumah dan menuruti semua kemauan aku," pungkas Kevin masih kekeuh menyalahkan Vallen.
"Terserah lo dah. Pusing gue jadinya. Lagi pula lo kan sekarang udah ngejogrok di sini, ngapain sih kita ributin?" ucap Vallen, betapa pasrahnya dia meladeni Kevin yang tidak mau mengalah. "Sekarang mending lo temuin bokap lo daripada lo ngomel-ngomel sama gue, biar urusan lo cepet kelar!" usul Vallen sedikit ngegas. Didorongnya bahu Kevin untuk segera pergi menemui papanya, lebih tepatnya sih pergi dari hadapannya.
Kevin pun mengerucutkan bibirnya saat Vallen mendorong tubuhnya untuk segera bergegas menemui Papanya.
"Dasar temen gak ada akhlak!" cebik Kevin begitu pelan. Namun nampaknya cebikannya masih mampu di dengar oleh Vallen.
"Lo yang gak ada akhlak!" murka Vallen. Kevin pun langsung kabur sambil cengengesan saat Vallen barangkali akan memunculkan tanduknya lantaran saking sebalnya pada Kevin.
Usai berbasa-basi dengan Vallen, Kevin pun kini telah berada di ruangan Papanya. Dia langsung mendudukan bokongnya di kursi depan meja kerja Papanya, ia juga bersiap memulai obrolan dengan orang yang paling dia hormati di dunia ini.
"Ada apa Papa memanggil aku? Apa kantor kita sedang ada masalah?"
Sebelum menjawab, Pak Gunawan menyempatkan tersenyum terlebih dahulu membuat Kevin jadi nampak bingung serta heran dengan reaksi Papanya yang terbilang tak biasa.
"Tidak ada apa-apa. Kantor kita baik-baik saja."
"Loh tadi kata Papa, penting? Kok sekarang bilang gak ada apa-apa. Emang masalahnya sudah selesai? Cepet banget perasaan."
"Hahaha Papa sengaja bilang gitu karena Papa ingin kamu cepet-cepet datang ke sini. Papa mau membicarakan sesuatu yang lebih penting dari perusahaan."
Kontan saja alis Kevin terangkat sebelah saat mendengar penuturan Papanya yang berbelit-belit. Wajah Kevin pun berubah serius menyimak kelanjutan kalimat Papanya.
"Emang apaan, Pa?"
"Tadi Papa telepon Pak Jamil, kebetulan kami membicarakan mengenai kelanjutan pertunangan kamu dan Namira."
"Terus?" Kevin memotong dengan raut penasaran.
"Papa dan Pak Jamil sepakat untuk melangsungkan pertunangan kamu sekaligus pernikahan kamu dalam waktu yang berbarengan."
Duarrr! Bagai sapi yang dicucuk hidungnya, jantung Kevin serasa berhenti sebentar saat rungunya mendengar rencana Papanya dan Pak Jamil yang akan mempercepat pertunangan sekaligus acara pernikahannya dengan Namira dalam satu waktu. Padahal, Kevin baru saja mengatakan isi hati yang sebenarnya pada Namira bahwa dia ingin mengakhiri hubungannya dengan gadis itu, tapi kenapa Papanya malah berencana mempercepat pelaksanaan pertunangan sekaligus pernikahannya? Rasanya Kevin tidak sanggup berkata-kata lagi kali ini.
Bersambung