Between Hate and Love

Between Hate and Love
Aku Jahat? Tidak Kok!



Seusai memastikan supir itu membungkam mulutnya, dan pergi dari hadapan kedua orang tuanya, Namira pun kembali ke dalam kamarnya. Dari raut wajahnya, tampak sama sekali tidak berseri apalagi berniat menyunggingkan seulas senyumnya.


Ketika ia melewati cermin yang tertempel di meja riasnya, Namira tiba-tiba berhenti. Ia pun duduk di bangku dan kemudian mematut dirinya di cermin tersebut. Ia menatap lekat-lekat seluruh lekuk kontur wajahnya. Dari mulai bibir, pipi, mata, jidat, semuanya tak luput ia lihat.


Ia sepertinya tengah menilai dirinya sendiri melalui pantulan cermin.


"Aku jahat? Tidak kok. Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan semua orang yang telah mempermainkan aku," tukas Namira diikuti seringaian licik terbit setelah mengucapkan kalimatnya.


"Bukankah mereka duluan yang mulai? Jadi apa salahnya aku juga akan melakukan bagianku?" imbuh Namira. "Dalam dunia ini, tidak ada orang baik yang menang dan hanya orang jahat yang menang. Maka dari itu aku akan menjadi pemenang meskipun harus bersebrangan. Aku tidak peduli nantinya ada pihak yang tersakiti, asalkan bukan aku. Dan akan aku pastikan aku tidak akan jadi pihak tersakiti lagi. Sudah cukup penyakitku menyiksaku, aku tidak akan mengizinkan sesuatu yang lain menyakiti bagian tubuhku yang lain termasuk hatiku."


Namira terus saja berbicara di depan cermin, mengeluarkan seluruh unek - uneknya yang selama ini dia tahan. Dia bertekad pada dirinya sendiri bahwa dia bukankan gadis lemah yang selalu menjadi pihak tersakiti. Dia bahkan bertekad melakukan apapun agar tidak menjadi pihak yang tersakiti. Tidak peduli jika dia harus menyakiti salah satu dari dua orang yang saling mencintai. Entah Almira atau Kevin, yang jelas Namira bersikukuh tidak mau menjadi pihak yang dirugikan.


Namira bangkit dari duduknya setelah puas mematut dirinya dicermin. Senyum jahatnya tak lekas pudar dari bibirnya yang mungil. Dia benar-benar menjadi pribadi yang lain. Memang tidak enak menjadi pihak tersakiti, oleh karena itu Namira seakan memproteksi dirinya meskipun dengan cara yang salah.


"Besok setelah aku dapat data dari para detektif itu, aku akan memulai rencanaku. Mungkin aku akan memulai dari adik tercintaku dulu," lanjut Namira, matanya mengarah pada foto yang menampilkan dirinya dengan Almira semasa kecil.


"Sedari dulu aku selalu mengalah padamu, aku selalu berusaha untuk menjadi baik padamu. Meskipun ayah selalu dipihakku, tapi asal kamu tahu bahwa aku lebih tersiksa darimu. Aku selalu dituntut ini itu demi menyelamatkan nama keluarga. Bayangkan jika aku egois seperti dirimu? Mungkin kamu tak akan bisa bebas seperti sekarang. Kamu tentunya juga akan dituntut untuk mengelola perusahaan seperti halnya diriku. Bayangkan jika aku tak mengalah dan mengikuti kemauanku? Kamu tidak mungkin bisa memilih jurusan yang kamu mau. Selama ini kamu selalu berpikir kalau aku bisa mendapatkan segalanya kan? Tidak!! Kamu yang selama ini mendapatkannya!" Mata Namira berkaca-kaca, terlihat jelas di dalam maniknya terdapat amarah yang tak bisa dikeluarkan secara gamblang. Ditambah, dadanya yang kembang kempis mengeluarkan seluruh beban yang mendesaknya.


"Sekarang sudah cukup bagiku untuk mengalah. Cukup bagiku untuk tidak egois lagi. Cukup bagiku membiarkanmu mendapatkan yang selalu kamu mau. Semuanya sudah cukup!! Aku tidak mau lagi mengalah untuk mu. Aku tidak mau lagi melihatmu bahagia sementara aku tidak!! Jika kamu berpikir aku jahat, maka aku akan menjawab bahwa kamulah yang membuat aku jadi jahat, Almira!" curhat Namira pada foto yang bertengger manis di dinding kamarnya. Kemudian dia pun mengambil bingkai foto tersebut, mengeluarkan fotonya dari bingkai, lantas merobek bagian Almira. Ia seolah tengah melampiaskan kekesalannya yang tertahan lewat foto tak bersalah tersebut.


Sepuasnya merobek foto tersebut, Namira melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Ia lantas memutar tuas showernya, mengguyur seluruh tubuhnya tanpa melepas seluruh atribut kain yang melekat pada tubuh indahnya.


Berjam-jam Namira mengguyur tubuhnya tanpa rasa kedinginan sama sekali, dinginnya udara malam itu, beserta dinginya air shower yang kini menusuk pori-pori kulitnya tak lantas membuat padam amarah yang bergejolak di dadanya. Kobaran api amarah tertahan di dadanya masih terasa panas dan tak kunjung mereda, bahkan lebih terasa menyesakkan meski kulitnya sudah mulai keriput karena terlalu banyak terkena kucuran air shower. Namira tetap enggan beranjak, ia malah bergumam begitu lirih.


"Aku tidak menyangka kalau hidupku akan seperti ini. Aku pikir dengan menjadi orang baik dan selalu menuruti orang tua serta mengesampingkan egoku, aku akan lebih mudah mendapatkan yang aku mau. Tapi nyatanya, Tuhan dan semesta malah mempermainkan aku. Aku tidak bisa mendapatkan yang aku mau. Aku tidak mendapatkan cinta maupun hati Kevin. Brengsek!" umpat Namira seraya memukul dinding kamar mandi yang dilapisi oleh keramik bercorak bunga.


"Lihat saja, setelah ini aku akan membuat semua orang mendapatkan balasannya. Dan aku bisa mengangkat daguku setinggi-tingginya. Mereka akan menyesal karena bermain-bermain dengan Namira. Aku adalah Namira, gadis yang akan membuat semua orang bertekuk lutut dan terluka," tegas Namira.


Di sisi lain, Almira sudah merebahkan tubuhnya di kasurnya. Matanya tak kunjung tertutup meski seluruh anggota badannya begitu lelah dan ingin segera minta diistirahatkan, namun sayangnya indera penglihatannya itu tak bisa diajak kompromi dan selalu bersebrengan. Alhasil, Almira hanya berguling kesana kemari dengan gusar. Entah seperti ada isyarat atau apa, pikiran Almira begitu tak tenang. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu. Yang jelas, Almira merasa gelisah sendiri.


Didudukkannya badannya, memeluk lututnya dengan erat sembari bergumam resah. "Sebenarnya aku ini kenapa sih? Kenapa aku kaya merasa gelisah begini? Apa terjadi sesuatu dengan keluargaku? Haisshhhh ..." Almira kemudian mengacak rambutnya, merebahkan kembali tubuhnya sembari menyentak-nyentakkan kedua kakinya ke atas ke bawah. Mengusir segala kegundahan yang kini menghampirinya.


"Lagian untuk apa aku memikirkan keluarga aku? Bahkan ibu yang selalu jadi malaikatku saat masih di rumah, sekarang tak tahu kabarnya seperti apa. Ibu sepertinya memang sudah melupakan aku. Buktinya, ibu tidak pernah mencari aku. Ibu sibuk dengan Namira, semua orang sibuk dengan dia. Tidak dengan aku. Jadi untuk apa aku merasa gelisah dan sibuk memikirkan orang-orang yang tidak menganggapku?" lirihnya. Ada rasa kesal yang menyemat kala ia menyadari satu fakta bahwa dirinya tak lagi dianggap oleh keluarganya.


"Semua orang telah melupakan aku. Semua orang hanya mengingat aku saat di sisi mereka, tapi saat aku jauh... memang siapa yang mau peduli padaku? Ayah, Ibu, Namira serta Kevin, mereka semua adalah orang-orang yang menurutku munafik. Mereka tidak benar-benar mencintai atau menyayangi aku," tukas Almira, ia membalikan tubuhnya ke sebelah kiri. Mulutnya kembali bergumam mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.


Almira ingin membenci orang-orang yang telah menyakitinya, melupakan semua orang dan segala ceritanya demi bisa menata hidup yang lebih baik. Namun naasnya, entah dapat pikiran dari mana, otaknya malah teringat keluarganya lagi. Ia seperti mengetahui kalau akan ada sesuatu yang besar terjadi di dalam hidupnya.


"Ah, setiap kali aku memikirkan mereka, rasanya dadaku panas. Tapi bodohnya, aku malah terus mengingatnya. Aku bahkan merasa ada sesuatu yang janggal. Aku merasakan firasat aneh yang mungkin saja merugikan aku... huffft... Tuhan, sebenarnya aku ini kenapa sih?" tanya Almira, bingung.


Bersambung.