
Safira, melangkah dengan tergesa-gesa kembali ke kamar. Dia mengambil tas selempang nya dan dengan langkah cepat menuruni anak tangga. Terlihat Ken, berdiri di ambang pintu.
"Ken, aku mau keluar! Aku sudah dapat izin dari Yohan." Ujar Safira tegas, mengira Ken akan menghalangi dia untuk pergi menemui Ayahnya.
"Iya Nyonya, Saya yang akan mengantar Nyonya." Ucap Ken datar.
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri!" Tolak Safira tegas.
"Maaf Nyonya, ini perintah dari Tuan. Jika saya tidak ikut, maka Nyonya juga tidak bisa pergi." Tukas Ken.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja." Safira, menyerah. Dia tak ingin berdebat dengan orang kepercayaan suaminya itu. Yang sekarang dalam pikirannya, hanya Ibunya seorang. Safira benar-benar tak enak hati saat ini, dia tahu betul bagaimana sifat Ayahnya, dia tak pernah sekali-pun mencari Safira kecuali saat ingin menjodohkan Safira dengan Yohan kala itu. Berarti kali ini, ada masalah serius yang menyangkut dengan dirinya.
Mobil yang Ken kendarai melaju dengan kecepatan sedang, Safira diam termangu menatap keluar jendela. Sudah lama dia tak merasakan udara bebas seperti sekarang ini, dia seolah terkurung dalam jeruji besi. Namun, tetap saja, keberadaan Ken di hadapannya seolah membuyarkan kebebasan Safira.
'Ada apa sebenarnya, hingga Ayah sampai mencari-ku? Dia tak pernah berbuat seperti itu selama ini, apa mungkin dia sudah menyadari kesalahannya dan menerima ku kembali sebagai putrinya?' Batin Safira bergumam.
Jika itu Ya, maka alangkah bahagianya Safira. Dia akan sangat bersyukur, dia sudah rindu kasih sayang dari Ayahnya itu. Sudah lama, bahkan sudah berpuluh tahun, dia tak merasakan kehangatan pelukan dan kasih sayang dari Ayahnya.
Setelah satu jam perjalanan, tiba lah Safira di sebuah rumah yang ia kenali. Ya, itu rumah Ayahnya. Suasana disini seperti biasanya, sepi seperti tak berpenghuni. Seorang satpam, membuka-kan gerbang untuk mereka, dengan segera Ken mengarahkan mobilnya masuk ke gerbang rumah tersebut. Setelah mobil berhenti, Safira pun lekas turun tanpa menghiraukan Ken sama sekali. Safira berjalan setengah berlari memasuki rumah tersebut.
"Bik dimana Ayah?" Tanya Safira pada Bik Sumi yang datang menghampiri ke arahnya.
"Tuan ada di kamarnya, Nona." Ucap Bik Sumi dengan wajah menunduk, matanya nampak berkaca-kaca. Safira mengernyitkan dahinya, hatinya semakin bertanya-tanya dengan apa sebenarnya yang terjadi.
Tanpa pikir panjang lagi, Safira berjalan setengah berlari menaiki undakan tangga menuju lantai dua, tempat kamar Ayahnya berada.
Tok...!! Tok...!!
Safira mengetuk pintu sebanyak dua kali, "Siapa?!" Teriak Tuan Aditama dengan suara parau.
"I--ini, Safira Yah." Jawab Safira dengan mengepalkan kedua tangannya.
Hening... Tak ada suara untuk beberapa saat, mungkinkah Ayah tak ingin menerima kehadirannya? Pikir Safira. Safira menundukkan pandangannya, menatap lantai.
Ceklek...!!
Pintu pun terbuka, menampakan wajah Ayahnya. Safira mendongak, "A--," belum sempat Safira membuka mulut, Ayahnya sudah menarik Safira ke pelukannya.
Safira diam mematung seketika, dia merasa tak percaya, Ayahnya yang selama ini bersikap dingin padanya, akhirnya mau memeluknya. Air mata, seketika meleleh di wajah cantiknya, dengan tangan yang gemetaran Safira membalas pelukan sang Ayah.
"A--ayah!" Lirih Safira dengan bibir bergetar karena tangisnya.
"Tidak, Ayah jangan minta maaf." Balas Safira, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Nak... Ibu mu--." Arian tak sanggup menuntaskan kata-katanya, dia melepaskan pelukannya dan menunduk dalam.
"I--ibu, ada apa dengan Ibu, Yah?!" Safira mengguncang tubuh sang Ayah, membuat tubuh Arian terguncang pelan. Arian menghela napas dalam, dia tak sanggup mengatakan kebenaran yang amat menyakitkan bagi sang putri.
Karena tak kunjung mendapat jawaban yang di ingininya dari sang Ayah, Safira pun hendak beranjak pergi ke rumah sakit. "Safira, Nak tunggu!" Arian mencekal lengan Safira menghentikan niatnya untuk pergi ke rumah sakit.
"Tidak ada gunanya kamu pergi ke sana, Ibumu dia... Dia sudah tiada." Lirih Arian dengan derai air mata.
Dugh... Sesuatu seolah menghantam dada Safira, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Tubuhnya lemah lunglai, seolah semua tulang di tubuhnya seketika menghilang. Tubuh Safira ambruk ke lantai, setengah kesadarannya menghilang, langit-langit seolah berputar, pikirannya berpusat hanya pada Ibunya.
"Safira!" Teriak Arian dengan wajah panik. Dengan segera, dia menopang tubuh Safira dan menyandarkan ke tubuhnya.
"Ibu...Ibu...," Lirih Safira, tangis seketika pecah dari bibirnya. Air mata mengucur deras, rasa sakit dan penyesalan berbaur menjadi satu dalam hatinya. Pikirannya saat ini begitu kacau, sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dan menyusul Ibunya ke pangkuan sang pencipta.
"A--ayah, A-aku bahkan b-belum bertemu lagi dengan Ibu se-semenjak aku menikah." Ucap Safira dengan suara sesenggukan akibat tangisnya.
Arian, memeluk tubuh Safira yang terduduk di lantai, dia mengusap lembut rambut putrinya itu. "Saat itu, Ayah sempat datang ke rumah Yohan, Fira. Tapi, penjaga bilang kamu sedang tidak ada di rumah, kalian sedang pergi berbulan madu, dan telponmu juga tidak bisa di hubungi. Ayah, tidak punya pilihan lain, selain memakamkan Ibumu tanpa kehadiranmu." Arian ikut terisak lirih.
'Yohan, kau benar-benar tega bahkan kau berbohong dan mengatakan jika aku tidak ada di rumah, dan kau bilang kita sedang berbulan madu, cih... aku bahkan sedang kau siksa saat itu dengan memaksaku menjadi seorang pelayan. Akhirnya, kau bisa membalas dendam padaku, aku pikir kau sedikit berubah, namun nyatanya aku yang terlalu bodoh. Pesikopat sepertimu, mana mungkin punya rasa iba padaku, bahkan dia tidak bilang jika Ibuku telah tiada.' Safira memejamkan mata sekilas, merasakan rasa sakit yang teramat dalam ulu hatinya.
"Maafkan Ayah, Fira. Kau begitu sulit di hubungi, Ayah tidak punya pilihan lain." Ucap Arian.
"Tidak papa Ayah, justru aku ingin berterima kasih karena Ayah mau merawat dan mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhirnya." Safira berucap lirih.
"Jangan berkata begitu Nak, Ayah semakin menyesal dan merasa bersalah, atas kepergian Ibumu." Arian menunduk dalam, berusaha menekan hatinya yang penuh akan rasa bersalah terhadap Safira dan Widia sang istri.
"Ada banyak hal yang ingin Ayah katakan padamu, Nak! Tapi, sebaiknya kita pergi ke makam Ibumu terlebih dahulu." Safira mengangguk, dan berusaha bangkit di bantu oleh Ayahnya.
Safira menghapus air mata yang membasahi wajahnya, dia lantas melepaskan tangan Arian yang berusaha membantunya berjalan. Dia tidak ingin, Ken melihat dia yang tengah lemah, Safira yakin Ken sengaja di suruh menemaninya untuk menjadi mata-mata dan melaporkan segala tindak tanduk Safira saat ini.
"Tidak apa Yah, Safira bisa jalan sendiri." Safira berusaha sedikit tersenyum, walau senyum itu terkesan terpaksa.
'Kau pasti sekarang sedang tertawa kan Yohan. Dasar berengsek, aku benci padamu.' Safira menggertakkan gigi sembari mengepalkan tangan.
"Baiklah, mari kita mengunjungi Ibumu dan mendo'akan nya." Safira mengangguk, lantas berjalan lebih dulu. Safira turun dari tangga, dengan wajah sembab. Terlihat Ken, tengah duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, secangkir kopi tersuguh tepat di meja di hadapannya.
"Ken, bilang pada Tuan mu. Hari ini aku tidak akan kembali, Ibuku baru saja meninggal. Aku ingin mengunjungi makamnya terlebih dahulu." Ucap Safira dengan wajah datar tanpa ekspresi.