
Almira pergi ke sekitaran kampusnya, ia sudah ada janji temu dengan salah satu dosen pembimbing skripsinya untuk membahas kelanjutan tugas akhirnya itu. Hari ini memang hari libur, namun Almira bersikukuh ingin bimbingan agar ia bisa mempercepat skripsinya selesai. Beruntung, dosen pembimbingnya itu berbaik hati mau saja dimintain waktu oleh Namira diluar jam kampus. Alhasil di sini lah Almira sekarang, terduduk di salah satu kursi santai di depan mini market yang memang sering dijadikan tempat nongkrong para Mahasiswa ketika jam istirahat. Kebetulan juga lokasinya bersebrangan dengan kampus.
Almira membuka ponselnya, mengotak-ngatik daftar nama di dalam ponselnya, lantas menekan tombol panggil setelah dirasa sudah menemukan nomor dosen pembimbingnya itu.
"Hallo Pak, saya sudah ada di depan mini market di depan kampus. Bapak masih di mana?" ucap Almira pada ponsel yang terhubung dengan dosen pembimbing skripsinya tersebut.
"Saya dalam perjalanan, sebentar lagi saya sampai. Ini agak macet dikit di dekat bundaran, kamu tunggu di sana ya!" jawab dosen pembimbing skripsi Almira.
"Baiklahlah Pak," jawab Almira lagi. Lantas memutus panggilannya setelah dosen pembimbingnya itu tak lagi menyahut.
Setelah teleponnya dimatikan, Almira kembali menunggu dosen pembimbing skripsinya dengan setia. Kemudian ia mengotak-ngatik ponselnya untuk sekedar menghilangkan kebosanan yang menderanya dikala menunggu dosen pembimbingnya datang. Terkadang juga, dia mengedarkan pandangannya ke sekitaran jalanan di depannya dengan harapan dosen pembimbingnya itu sudah ada di depan matanya.
Namun saat matanya berharap dosen pembimbing skripsinya yang datang, entah ada angin dari mana justru yang datang adalah orang yang ingin sekali Almira hempaskan ke jurang. Kevin, lelaki itu kini telah berdiri dengan gayanya yang menawan tepat di depan Almira yang masih terduduk sambil memainkan ponselnya.
"Hai?" tanpa aba-aba serta izin, Kevin langsung mendudukan bokongnya di kursi depan Almira, membuat gadis itu refleks menggeser kursinya agar tetap berjarak dengan Kevin. "Kamu sedang apa di sini sendirian? Apa kamu sedang menunggu seseorang?" ucap Kevin sok akrab.
Almira berdecak malas. "Ya aku memang menunggu seseorang."
"Apakah kamu sedang menunggu pacar kamu?" goda Kevin. Entah pertanyaan macam apa yang sengaja Kevin lontarkan, namun agaknya dia sedang menggunakan taktiknya untuk mengungkapkan kebohongan Almira yang selalu mengaku- ngaku telah memiliki pacar padahal nyatanya tidak. Ricko itu, Kevin yakin seratus persen bukan pacar Almira. "Apa kamu sedang menunggu Ricko? Oh ya, bagaimana kabar lelaki itu? Apa dia sudah membuatmu bahagia?" imbuh Kevin berbasa-basi.
Almira mendelikkan ekor matanya, betapa tak sukanya Almira jika melihat kelakuan Kevin yang sok kenal, sok dekat, sok akrab dan sok asyik. "Aku mau ketemu sama siapapun bukan urusanmu!" tandas Almira dingin.
"Iya juga sih, tapi kalau boleh tahu emang apa sih kelebihan Ricko yang tak kumiliki? Kenapa kamu mau menerimanya sementara kamu tidak pernah mau memberiku kesempatan?" cetus Kevin memancing. Ucapan Kevin barusan benar-benar membuat Almira malas menanggapi. Bukan karena tak punya jawaban, tadi dari nada bicara Kevin dapat Almira pastikan kalau Kevin seolah berpikir dialah satu-satunya yang pantas untuk Almira, sementara yang lain hanya figuran dan tak layak untuk Almira.
"Aku sedang tidak ingin ribut denganmu, jadi lebih baik hentikan omong kosongmu itu!"
"Aku juga tidak ingin ribut kok. Kan aku cuma bertanya aja," timpal Kevin santai. Dia menyengir begitu inosen, seperti keledai bodoh yang menampilkan deretan giginya begitu lebar.
"Tapi pertanyaan kamu itu tidak berbobot sama sekali dan cenderung merendahkan orang lain."
"Merendahkan apanya sih Al?" ucap Kevin lagi. Semakin santai saja pembawaannya kali ini.
Almira menatap curiga pada Kevin, lelaki di hadapannya ini pasti tengah merencanakan sesuatu. Sebab, yang Almira tahu Kevin tak bisa sesantai itu menanggapi ucapan Almira apalagi menyangkut orang yang tengah dekat dengannya. Lelaki itu selalu meledak-ledak acap kali ada yang mendekati Almira, jadi sangat tidak wajar kalau sekarang dia bersikap biasa saja seolah menahan taringnya untuk tak dikeluarkan.
Almira terus memandang Kevin dengan seksama, meski tak ada seulas senyum yang terbit, tapi Kevin malah jadi kesenangan sendiri melihat Almira tak henti-hentinya menatap wajah Kevin.
"Jangan terlalu sering menatap wajahku seperti itu, kamu nanti bakal menyesal karena tak menerima aku," goda Kevin sembari menyenggol bahu Almira dengan pede.
"Sepertinya memang begitu." Dan bodohnya Kevin malah setuju dengan ucapan Almira. Taktik yang diluncurkan Kevin nampaknya berhasil membuat Almira bertahan duduk lebih lama dengannya. Semenjak perseteruannya dengan Almira yang belum kelar, lelaki itu seolah tak memiliki kesempatan duduk bersama dan mengobrol panjang lebar dengan gadis pujaan hatinya itu. Maklum, Kevin selalu saja tak tahan mengontrol emosinya kalau menyangkut Almira, membuat gadis itu risih sendiri dengan sikap Kevin yang arogan.
Tapi coba lihat sekarang? Mereka telah menghabiskan tiga puluh menit bersama tanpa mereka sadari. Mungkin Kevin memang harus bersikap seperti itu bila ingin terus dekat dengan Almira. Siapa tahu dengan sikap Kevin yang lebih sabar, wanita pujaannya itu mau kembali pada Kevin.
"Sudahlah, lagian kamu ngapain sih di sini? Bukannya kamu urusin pacar kamu itu. Lagi pula di sini kamu cuma membuatku sesak napas doang. Minggir sana!" titah Almira masih dengan nada judes bin jutek.
"Ah aku di sini kan cuma pengen duduk-duduk aja."
Mendengar kalimat tersebut malah membuat Kevin jadi gemas sendiri. Ia ingat ucapannya sewaktu ia dan Almira menjenguk Namira di rumah sakit, bahwa wanita akan terlihat dua kali lebih menggemaskan saat sedang marah. Dan itu terbukti nyata, Almira tampak begitu menggemaskan hingga Kevin tak kuasa ingin mencubit pipi Almira jika saja diizinkan. Namun sayangnya, keinginan Kevin itu hanya angan-angannya saja. Jangankan mencubit, mencolek pipinya saja Kevin tak mendapat izin dari sang empunya. Alhasil, yang Kevin lakukan sekarang hanya bisa membuat Almira keki sendiri oleh kelakuan Kevin yang terus memancing Almira agar mengeluarkan seluruh kekesalannya. Menurut Kevin, semakin Almira kesal malah akan semakin menggemaskan nantinya.
"Please deh, kalau mau duduk ya gak usah di sini," risih Almira. "Kenapa harus di sini sih? Di sana kan masih ada kursi kosong!" tunjuk Almira, mengarah pada kursi pojok yang memang belum ada yang menempati.
"Loh kenapa emang Al? Kan ini tempat umum. Jadi boleh dong siapa saja duduk-duduk di sini, jadi kamu tidak bisa mengusir aku. Hehe," ucap Kevin.
Almira memalingkan wajahnya ke sisi lain. Sebal sekali dia ketika tak bisa menangkis ucapan Kevin yang mematahkan keengganan duduk bersama lelaki itu. Ingin rasanya ia pergi saja dari sana, namun sayangnya Almira sudah ada janji dengan dosen pembimbing skripsinya. Lagipula dosen pembimbingnya menyuruh Almira untuk menunggunya di sana, jadi mau tak mau, suka tak suka, sudi tak sudi Almira harus bertahan dan mengesampingkan egonya.
Almira mengecek ponselnya untuk melihat jam yang tertera di sana. Wajahnya terlihat gusar sekaligus bosan saat dosennya tak kunjung datang. (Nyungsep di mana sih Pak Dosen? Kan kasian Almira dipancing-pancing terus sama Mas Kerdus. Haha). Rasanya Almira tak sabaran ingin segera menuntaskan bimbingannya untuk hari ini, sehingga ia dengan segera bisa kabur dari manusia kerdus bernama Kevin yang tengah duduk di dekatnya ini sambil mesem-mesem tidak jelas.
"Al, apa kamu mau minum? Kalau ya, nanti aku belikan. Kamu tinggal sebut saja mau minuman rasa apa?" tawar Kevin berbaik hati.
"Tidak perlu, aku bisa bisa membelinya sendiri jika aku mau. Lagi pula aku tidak mau minum sebelum orang yang aku tunggu datang," ketus Almira tanpa menatap wajah Kevin secara langsung.
"Emang siapa sih yang kamu tunggu? Ricko?" tebak Kevin. "Kalau memang ya, gak apa-apa aku juga akan belikan untuk si Ricko pacar kesayangan kamu itu," imbuh Kevin dengan nada nyinyir.
"Sudah aku bilang aku tidak mau!! Kenapa kamu maksa banget sih?" sentak Almira.
"Karena memaksa adalah bagian dari kebiasaanku. Hahahaha ..." Kevin terbahak begitu puas, membuat Almira menaikan bibir atasnya mengerucut.
"Dasar payah!" hardik Almira.
"Tidak apa-apa payah, yang penting aku ganteng dan gak kalah hebat dari pacar kamu itu!" celetuk Kevin narsis. Kemudian terbahak lagi sembari menyelonong masuk ke dalam mini market. Betapa puasnya Kevin hari ini bisa mengusili wanita kesayangannya itu. Memang tidak ada yang lebih menyenangkan selain dari mengusili orang terkasihnya sesekali. Rasa bahagia Kevin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, meskipun harus bertindak hal-hal konyol seperti yang telah ia lakukan tadi. Ia bersyukur, setidaknya Almira tidak kabur begitu saja. Sudah lama Kevin menunggu momen seperti ini lagi. Momen yang sangat sulit Kevin dapatkan akhir-akhir ini akibat terjebak di antara dua cinta.
Bersambung.