
"Apa? Baik tante aku segera ke sana."
Kevin menutup panggilan telponnya setelah yakin kalau suara di sebrang sana tak lagi menyahut.
"Ada apa Vin? Kok tadi lo kaya terkejut gitu?" tanya Vallen saat Kevin selesai berbicara di dalam panggilan telponnya. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Namira sudah siuman Len, kita harus segera ke sana."
"Eh?! Serius lo Vin?"
Kali ini giliran Vallen yang menjengit kaget setelah mendengar penuturan dari anak bos nya mengenai Namira yang telah siuman.
"Ya serius lah. Emang kapan aku suka becanda sama kamu?" tukas Kevin dengan ekspresi datar.
Vallen pun terkekeh pelan sebelum akhirnya menimpali kalimat Kevin dengan candaan.
"Bener juga sih. Lo gak suka becanda tapi sukanya mengomel gak jelas. Pfffttt!"
"Ish ... sialan kamu!" Kevin berdesis sebal kala melihat Vallen malah mengejek disambung tawa tertahan. "Sekarang bukan waktunya becanda Vallen, serius dikit bisa nggak sih?!" omelnya.
"Iya ... iya gue juga tahu kok. Sekarang gimana nih? Lo mau ngejar Almira apa mau langsung cabut ke rumah sakit buat mastiin keadaan Namira?"
"Kita pergi ke rumah sakit saja, Namira mau nemuin aku katanya. Jadi urusan Almira, biar nanti kita lanjut besok," tandas Kevin pada akhirnya. Semakin semrawut saja kepalanya karena harus terjebak lingkar cinta yang tak kunjung kelar.
"Yakin nih?" tanya Vallen memastikan.
"Gak tau sih, tapi ... ah sudahlah! Kamu jangan mancing-mancing buat aku makin sulit memilih!" gusar Kevin.
Sebenarnya, Kevin ingin sekali mengejar Almira dan meluruskan kesalah-pahaman nya pada Almira untuk yang kesekian kalinya, tapi ketika ia mendapat panggilan telpon dari bu Rani dan mengatakan kalau Namira ingin menemui dirinya, Kevin jadi mengurungkan niatnya mengejar Almira. Alhasil lagi-lagi Namira jadi prioritas utama di hidup Kevin.
"Dasar plin-plan lo!" ejek Vallen untuk yang kesekian kalinya.
"Diamlah! Gak usah ngeledek aku terus!" protes Kevin.
Lelaki keturunan Tionghoa itu tahu betul kalau Vallen—temannya sekaligus rekan kerjanya itu memang senang sekali mengejek dirinya dan membuatnya pusing. Apalagi kalau menyangkut cinta segitiga antara Namira, Kevin dan Almira. Sudah Kevin bisa pastikan mulutnya itu selalu koar-koar seperti admin lambe turah.
***
Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Kevin memasuki ruangan Almira. Disusul Vallen yang juga ikut mengekor seperti layaknya ajudan yang siap sedia menemani kemana pun sang Tuannya pergi.
"Hallo Namira, gimana keadaan kamu? Sudah agak baikan?" tanya Kevin pada Namira yang masih terbaring lemah di pembaringan rumah sakit.
"Lumayan. Kamu apa kabar? Apa selama aku tidak sadarkan diri kamu kerepotan menjaga aku, Vin?"
Kevin melengkungkan sudut bibirnya, membentuk kurva senyuman di bibir mungil nan tebalnya, kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tentu saja tidak."
"Kamu pasti berbohong. Buktinya kamu tampak kelelahan sekarang? Ibu aku sudah cerita sama aku kalau kamu sering bolak-balik ke sini sebelum atau sehabis dari kantor. Iya kan?"
"Ah ... itu, nggak juga sih. Cuma kebetulan aja. Hehe."
"Terimakasih ya Vin."
"Eh?! Itu kan bukan masalah yang besar Nami, kamu gak perlu berterima kasih sama aku. Lagian kan aku seneng kok nolongin kamu."
"Ekhem ... ekhem ...," entah sengaja atau bukan, tiba-tiba Vallen berdehem begitu keras.
Kevin dan Namira kontan langsung melirik ke arah Vallen yang kini berdiri di ambang pintu.
"Vallen ...," ucap Namira sembari mencoba bangkit untuk menyenderkan setengah tubuhnya pada kepala ranjang. "Kamu ada di sini juga?"
"Aku selalu ke sini setiap waktu," ucap Vallen seraya membantu Namira yang hendak bersender pada kepala ranjang. "Sekalipun aku sedang tidak enak badan, aku pasti wajib ke sini."
"Heummm ... karena selain bekerja di kantor merangkap jadi asisten pak Gunawan sekaligus anaknya, aku juga mendapat tugas untuk menjaga kamu selama kamu tidak sadar. Jadi jangan heran kalau aku sekarang ada di sini juga."
"Yang bener? Apa ibu sama ayah aku juga meminta bantuan sama kamu? Ah maafkan aku ya, sudah merepotkan kalian semua," lirih Namira.
Dengan sigap, Vallen pun menggeleng cepat sebelum akhirnya menimpali pertanyaan Namira tersebut.
"Bukan orang tua kamu yang meminta aku. Tapi—"
"Tapi apa Len?" Namira mendongak penasaran. "Memang siapa yang sudah menyuruh kamu buat repot-repot jagain aku?"
"Ya siapa lagi kalau bukan cowok yang berada di sebelah kanan kamu," tandas Vallen diikuti dengan mengedikkan dagunya ke arah Kevin.
"Kevin?"
Namira menoleh ke arah Kevin yang kini tengah menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa itu benar Vin?" lanjut Namira.
Baru saja Kevin hendak menjawab pertanyaan Namira, tapi niatnya urung karena lagi-lagi Vallen menyambar mensabotase jawaban Kevin.
"Kapan sih dia bohong. Kevin itu khawatir banget sama kamu Nami, jadi kalau dia lagi sibuk di kantor dan gak bisa kesini, dia selalu nyuruh aku buat jagain kamu sementara. Dia akan marah dan mengancamku kalau tidak menuruti kemauannya," tandas Vallen mengadu pada Namira.
Namira berkaca-kaca. Dia begitu terharu dan semakin terpesona dengan sikap baik hati Kevin calon tunangannya. Gadis itu merasa Kevin sangat perhatian pada dirinya, dan hal itu semakin membuatnya yakin kalau Kevin adalah malaikat penjaganya.
Lain hal dengan Namira, kali ini ekspresi Kevin justru sebaliknya. Dia sedikit meradang dengan tindakan Vallen yang terkesan sedang menjebaknya dalam kerumitan kisah asmaranya yang tak kunjung kelar.
Kendati demikian, Kevin tak berkutik. Sehingga dia hanya tersenyum kecut antara terima dan tak terima. Lantas dia meminta izin pada Namira kalau dia mau keluar sebentar.
"Ah Nami ... aku harus keluar sebentar. Ada yang mau aku selesaikan dulu," ucap Kevin retoris.
Namira hanya menggangguk pelan. Lantas Kevin langsung menarik paksa lengan Vallen untuk ikut keluar bersamanya.
"Eh! Kita mau kemana? Kok lo narik-narik lengan gue sih?" decak Vallen.
"Ikut aku yuk!" paksa Kevin sembari menampilkan senyum aneh.
Kevin murka tertahan. Sebenernya dia ingin memaki Vallen saat itu juga, tapi ia tak bisa. Karena situasi dan kondisi Namira yang masih lemah.
—o0o—
Di luar kamar rawat Namira
"Kenapa lo ngajak gue keluar sih?" berontak Vallen.
"Kamu ngapain sih pakai segala bilang ke Namira kalau aku yang maksa dan nyuruh kamu buat jagain dia selama gak sadarkan diri?" kesal Kevin.
Vallen hanya terkikik geli saat Kevin uring-uringan gara-gara tindakan Vallen yang mengucik-ngucik perkara siapa yang harus jagain Namira selama gadis itu tidak sadarkan diri.
"Malah ketawa lagi. Bukannya mikir!" celetuk Kevin. Semakin sebal saja dia dibuatnya.
"Hahaha ... maafkan gue boss! Abis gue seneng kalau lo terpojok kaya tadi. Si Namira jadi makin kesemsem sama lo."
"Becanda kamu gak lucu Vallen. Kamu tahu kan kalau kamu bertindak kaya tadi, semakin sulit nantinya aku buat bisa lepas dari Namira," ceplos Kevin.
Saat Kevin tengah mengomeli Vallen perkara tidakkan Vallen yang kekanak-kanakan, saat itu juga seseorang yang tak Kevin dan Vallen ketahui kedatangannya, tiba-tiba menginterupsi.
"APA? Kamu mau lepas dari Namira?"
Kontan, Kevin dan Vallen menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung.