
"Semua yang gue tuduhkan gak kebukti gitu?" potong Vallen dengan cepat. Ia seakan tahu kelanjutan kalimat yang akan Kevin lontarkan.
"Iya itu salah satunya. Jadi... "
"Jadi gue gak boleh selidikin gitu?" sambar Vallen lagi.
"Bukan gitu..."
"Kevin.. Vallen."
Secara mengejutkan seseorang kemudian menginterupsi percakapan antara Vallen dan Kevin yang tengah mendebat salah paham.
Sontak saja Kevin dan Vallen langsung terdiam dengan mata yang membelalak kaget. Mereka hafal betul suara lembut tersebut. Suara yang tak asing di telinga mereka.
Glek!
Vallen dan Kevin meleguk air ludah mereka masing - masing. Membasahi kerongkongan mereka yang tercekat dan mengering. Setelah itu, perlahan tapi pasti Kevin dan Vallen memutar kepala mereka ke belakang, di mana suara lembut yang berasal dari arah belakang mereka itu berada.
Dan ketika posisi mereka mampu menangkap jelas pemilik suara tersebut, mata mereka semakin terbuka lebar-lebar. Sejurus itu pula, mereka kembali saling pandang dengan tatapan yang tercengang tak percaya.
"Astaga, Vin. Apa dia dengar semuanya percakapan kita tadi?" tanya Vallen setengah berbisik pada Kevin. Dia bahkan melupakan kekecewaannya pada Kevin yang sempat membuncah beberapa saat yang lalu.
"Mana aku tau, aku kan juga sama seperti kamu. Gak tahu soal kapan dia datang," balas Kevin tak kalah berbisik-bisik.
Pemilik suara yang tak asing itu pun memangkas jaraknya dengan Kevin dan Vallen. Membuat Kevin dan Vallen semakin was-was takaruan.
"Pokoknya kalau Namira tanya-tanya sesuatu, kita harus kompak menjawab Namira salah dengar!" seru Kevin masih dengan nada berbisik. Bahkan suaranya ia lebih pelankan karena jarak Namira sekarang tinggal beberapa langkah lagi. Ia takut Namira semakin salah paham karena mendengar obrolannya dan Vallen yang menyudutkan gadis itu.
"Aku berharap dia gak dengar seluruh percakapan kita. Bisa berabe nih kalau niat aku yang mau nyelidikin dia sampai ketahuan. Gak asik banget nantinya, kita harus menyiapkan ribuan alasan yang serupa Vin, biar dia percaya. Gue gak mau semua usaha gue selesai sebelum dimulai," cerocos Vallen.
"Kita harus bersikap biasa-biasa saja sekarang." Kevin benar-benar mengecilkan volume suaranya, bahkan cenderung luplep alias hilang timbul, membuat Vallen harus membuka telinga lebar-lebar.
Namira semakin dekat dan semakin dekat dengan Kevin dan Vallen yang tengah berdiri.
"Hai Namira... hehe kok kamu udah ada di sini aja sih? Emangnya acaranya sudah selesai?" ucap Kevin sedikit canggung, sementara Vallen enggan berbicara. Dia hanya memamerkan deretan giginya yang putih bersih tanpa mau koar-koar berbohong.
"Acaranya sudah selesai. Aku ke sini sekalian aja mau ambil mobil aku yang tadi pagi mogok dan belum sempat aku urus. Makanya sekarang aku ada di sini, sekalian mampir gitu," tutur Namira dengan tingkahnya yang lembur seperti biasanya.
"Ooohh..." hanya itu yang keluar dari mulut Kevin menanggapi penuturan Namira yang panjang serta lebar.
Namun dalam hatinya Kevin tengah berperang dengan logikanya.
Berbeda dengan suara batin Kevin, kali ini justru semakin menguatkan keiinginan Vallen membuktikan bahwa Namira benar-benar sudah berubah menjadi licik.
"Dilihat dari penampilannya Namira sangat tidak berubah sedikit pun, tapi sepertinya sikapnya jauh lebih berubah. Gue bisa menangkap tidak ada ketulusan yang ada di dalam netra namira. Mana mungkin gadis ini tak berubah seperti apa yang diucapkan Kevin? Gue merasa Namira semakin mencurigakan terlepas dari penampilannya. Sikapnya memang masih manis, tapi manisnya kaya ada yang disembunyikan. Gue yakin dia memang yang merencanakan semua masalah ini," batin Vallen bertanya-tanya.
Vallen memang bukan pakar yang bisa menelaah hati seseorang hanya dengan melihat penampilannya, tapi setidaknya Vallen bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang janggal acapkali melihat Namira saat ini.
"By the way, kalian lagi ngomongin apa sih? Kok aku perhatikan tadi sekilas kalian kaya serius banget," Namira mulai kepo. Membuat Kevin jadi salah tingkah dan melirik ke arah Vallen. Berharap Vallen bisa membantunya menjawab pertanyaan Namira yang tak sulit namun cukup membuat Kevin kelimpungan.
"Kita hanya membicarakan seputar bisnis dan pengelolaan keuangan perusahaan, makanya kami terlihat sangat serius," sergah Vallen dengan mimik yang serius serta dingin. Dia masih terlihat tak begitu suka sama Namira saat ini. Sementara Kevin hanya tersenyum canggung.
"Ohhh begitu," jawab Namira singkat sembari memangut - mangutkan dagunya entah mengerti atau justru kecewa, Namira hanya bersikap seperti itu. Namun Vallen bisa melihat ada sedikit kekecewaan karena jawaban Vallen.
"I.. iya kami hanya ngobrol seputar kerjaan aja sih." Kali ini giliran Kevin yang ikut memberikan tanggapan.
"Dia sebenarnya pasti penasaran dengan percakapan gue dan Kevin. Dan sebentar lagi dia pasti akan melontarkan pertanyaan lagi dengan sedikit menyelidik. Gue yakin itu," batin Vallen menebak.
"Tapi kenapa harus di luar? Kenapa tidak di dalam ruangan kerja kalian? Ruangan Vallen atau mungkin kamu, Vin? Bukankah kalau urusan pekerjaan apalagi tentang keuangan ada baiknya kalian obrolkan di tempat yang agak tertutup, kenapa malah memilih tempat ini? Memangnya kalian gak takut ada yang nguping?" cecar Namira.
"Benarkan, apa aku bilang. Si Namira ini mulai kepo. Pertanyaannya memang terdengar sederhana dan klise, tapi jika gue tilik dengan seksama, ini sih pertanyaan yang begitu menyelidik," lanjut batin Vallen berargumen.
Sementara itu, Kevin lagi-lagi bingung mau jawab apa. Dia hanya tersenyum canggung untuk meminimalisir mimik wajahnya yang nampak tengah berpikir keras mencari jawaban - jawaban yang relevan agar Namira tak menaruh curiga padanya maupun Vallen.
"Obrolan kami tidak bersifat rahasia. Kami tahu batasan yang boleh dan tidak boleh diobrolan dalam ruang umum. Lagi pula obrolan kami meskipun tentang keuangan bukan berarti kita blak-blakan ngomongin keuangan perusahaan ini," tandas Vallen mematahkan keingin tahuan Namira yang menggebu-gebu.
"Oohh.. begitu," jawab Namira lagi. Vallen memang cerdik. Dia mampu menepis sekaligus membungkam mulut Namira pada saat itu juga.
Dan tanpa Vallen dan Kevin sadari, Namira tengah merekatkan buku-buku jemari tangannya. Menahan kesal sekaligus kecewa karena Vallen tak mau membagi tahu.
"Kurang ajar si Vallen ini, bisa-bisanya dia bersikap ketus seperti itu padaku. Dia pikir aku tidak tahu bahwa kalian sebenarnya bukan membicarakan persoalan keuangan perusahaan? Walau aku tak tahu pasti kalian bicarakan soal apa, tapi aku yakin kalian membicarakan hal yang bersangkutan dengan Almira, kan? Cih! Dasar kalian manusia-manusia payah! Kalian akan kuberi pelajaran satu-satu! Camkan itu!!" batin Namira bergejolak. Rasanya darah Namira mendidih tatkala merasakan ketidak sukaan Vallen terhadapnya.
Meskipun marah, bukan Namira namanya kalau gadis itu tak mampu menahan emosinya sedemikian rupa. Gadis itu masih bisa menyunggingkan sudut bibirnya, mengalihkan rasa kesalnya supaya Kevin tak curiga.
"Meskipun kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya sekarang, tapi target utamaku adalah Kevin. Jadi aku tak akan membiarkan Kevin percaya padamu, Vallen sialan!! Aku akan pastikan kamu merasakan hal buruk karena telah berani ikut campur dan mencoba menghalangi niatanku. Lihat saja nanti, kamu akan menyesal karena mencoba melindungi manusia yang akan aku sakiti!!" dumel Namira berapi-api dalam hatinya. Ia tak suka jika ada yang ikut campur dan mencoba menghalangi niat jahatnya menghancurkan Kevin. Meskipun yang menghalangi niatnya itu adalah Vallen yang tak berdosa apalagi punya salah padanya.
"Siapapun yang berusaha menghalang- halangi usahaku, itu artinya dia adalah musuhku juga," lanjut batin Namira amat sangat marah.
Bersambung.