Between Hate and Love

Between Hate and Love
Melancarkan Aksi



Namira pun mengambil ponselnya dari dalam sling bag berwarna merah yang menyampir di pinggangnya. Setelah dapat, jari jemari lentik nan halusnya langsung menari-nari di atas layar ponselnya. Mengerikan sesuatu pada Whatsappnya.


Namira:


Selamat pagi Vin, maaf nih ganggu.. kamu ada di kantor ga? Bisa bantuin aku ga? Aku lagi buru-buru ke suatu tempat tadinya, tapi nahasnya ban mobil aku kempes nih...


Begitulah kiranya isi pesan yang akan Namira kirim pada Kevin. Setelah dirasa tak ada yang mencurigakan, Namira pun menekan tombol send pada kontak Kevin.


"Ok tinggal nunggu respon si manusia brengs*k ini membalas pesanku!"


Namira melambung-lambungkan ponselnya secara perlahan, selayaknya bola beker mainan anak-anak. Kali ini dia tengah menanti pesan balasan Kevin. Namira yakin kalau Kevin pasti akan dengan sigat membalas pesan itu, mengingat kebiasaan lelaki itu yang tak pernah jauh dari hape, membuat Namira yakin bahwa Kevin pasti akan sadar jika memang ada pesan masuk.


Setelah menghitung beberapa detik, benar saja apa yang ditunggu-tunggu oleh Namira benar-benar terjadi. Kevin begitu cepat membaca dan membalas pesan Whatsapp yang dikirim Namira. Begini bunyinya..


Kevin:


Hah kempes? Kok bisa?


Meski terkesan singkat dan irit dalam membalas pesan, tapi Namira cukup puas jika lelaki itu terpancing. Namira juga bisa merasakan bahwa lelaki itu sepertinya lumayan kaget dengan pesan yang dilontarkan Namira. Oleh karena itu, Namira pun tak kalah cepat membalas pesan Kevin yang baru saja diterimanya.


Namira:


Gak tahu nih Vin kenapa nya, kayanya sih ban mobil aku gak sengaja nginjak sesuatu yang tajam deh. Entah paku atau sejenis aku juga kurang tahu.


Tak berselang lama, Namira pun mendapat balasan lain lagi dari Kevin.


Kevin:


Sekarang kamu di mana? Aku masih di kantor tapi kalau memang kamu urgent dan kebetulan ada di deket - deket perusahaan Papa aku, aku usahain susul kamu. Sekarang beri tahu aku lokasinya di mana?


Namira lagi-lagi tampak menyeringai picik. Hati manusia jahat mana yang tak senang jika apa yang tengah dipancing malah terperangkap oleh jebakan batmannya. Namira tidak tahu harus bersyukur apalagi pada Tuhan, karena berkatnya usaha untuk membuat Kevin hancur semakin dekat dengan tujuannya. Tanpa ragu, Namira langsung menarikan jemari lentiknya lagi pada tombol qwerty ponselnya, membalas pesan Kevin dengan penuh drama.


Namira:


Kebetulan aku lagi ada di deket-deket perusahaan Papa kamu, makanya aku minta bantuan kamu, soalnya kalau aku minta bantuan Ayah aku buat jemput, aku pasti akan ketinggalan acaranya. Jadi kamu bisa kan ke sini?


Kevin:


Bisa sih, lagian kalau Papa aku tahu ban mobil kamu kempes dalam menuju perjalanan, beliau pasti akan tetap maksa-maksa aku buat nolongin kamu deh.


Namira:


Jadi kamu terpaksa sih maksudnya?


Namira sedikit berguyon melalui chit - chatnya dengan Kevin, membuat lelaki itu jadi merasa tak enak hati di tempatnya.


Kevin:


Ah anu bukan gitu maksud aku... aku cuma.. ah sudahlah gak perlu dibahas lagi. Hehee aku bentar lagi ke luar, katakan kamu ada di posisi mana?


Namira:


Aku di jalan XXX itu samping Kafe Mobit, kebetulan mobilku bannya kempes dan gak bisa lanjutin perjalanan sehabis melewati Kafe tersebut.


Kevin:


Setelah membaca pesan yang terakhir dari Kevin, Namira tak lagi membalasnya. Ia tahu lelaki itu sudah pasti akan datang sebentar lagi, mengingat isi pesan Kevin sangat amat meyakinkan. Namira jadi keenakan sendiri. Dia benar-benar puas dengan semua alur yang ia mainkan. Rasanya seperti berhasil kan memainkan permainan kubik. Sangat amat bangga bisa membuat Kevin benar -benar terlihat seperti orang bodoh yang gampang sekali diatur-atur.


"Dasar bodoh! Ternyata kuliah di luar negeri yang kamu tempuh beberapa tahun tak cukup mampu membuatmu cerdas, pantas saja selera kamu Almira. Gadis itu meskipun memiliki wajah serupa denganku tapi tetap tidak bisa sejajar dengan aku yang notabenenya adalah gadis cerdas dan unggul. " Mendadak rasa sakit dan sesak yang bercokol di dadanya itu semakin menyiksanya. Namira paham, ada yang tidak beres dengan tubuhnya saat berbicaraan mengenai kenyataan hubungan Kevin dan Almira. Ia selaksa orang kesetanan dan ingin marah-marah, meledak-ledak hingga akhirnya bisa menumpah ruahkan segala dendamnya pada Kevin.


"Apa bagusnya sih Almira? Bahkan dia terkesan seperti cewek transparan dan tak ada yang bisa dia banggakan. Semua orang tak pernah menganggapnya ada jika mereka tak mengenalku. Almira itu hanya dikenal oleh sekelumit orang aneh, kalaupun ada orang keren mengenal Almira, pastilah itu ada kaitannya dengan diriku. Semua orang mengenal dan mengagumi aku, hanya kamu saja Vin yang buta sekaligus bodoh yang malah terpikat si gadis transparan yang beruntung memiliki wajah serupa denganku!" ucap Namira kecewa. Darahnya kembali mendidih naik hingga ke puncak kepalanya, tepatnya ubun-ubunnya.


Detik terus bergulir, Namira masih menunggu sosok pancingannya muncul. Sedari tadi Namira sibuk melihat ke arah jalan sambil sesekali ngecek ponselnya untuk mengetahui berapa lama waktu yang telah dihabiskan untuk menunggu si pecundang Kevin.


"Lama amat sih jalannya, aishhh... bikin gue keki aja. Dia jalan pakai kaki manusia apa kaki siput sih? Perasaan lelet amat padahal jarak kantor dia ke sini kurang dari 1 kilo meter! Aaiiiisssh bener-bener ngeselin manusia itu, andai saja aku sedang tidak berdrama, pasti sudah kuhempaskan lelaki seperti itu ke jurang. Sebab, gue gak suka menunggu!! Payah!!" Namira berdecak kesal, tangannya dikacakkan pada pinggangnya. Kakinya menyentak-nyentak dengan gusar.


Namun tak berapa lama, orang yang sedari tadi Namira tunggu lamat-lamat mulai terlihat kehadirannya.


"Nah itu dia si manusia brengs*k nan lelet," gumam Namira ringan dan sarkas.


Kevin pun segera menghampiri Namira dengan sedikit berlari kecil.


"Nami, ban mobil mana yang kempes?" tanya Kevin setelah berhasil mensejajarkan posisinya dengan posisi Namira saat ini.


"Ah akhirnya kamu datang juga Vin, ban mobil yang depan," tunjuk Namira.


Kevin berjongkok untuk mengecek dengan seksama ban depan mobil Namira yang dirasa kempes.


"Wah ini mah kayanya bocor," sahut Kevin mendongak ke arah Namira. "Kamu tadi bilang mau ke suatu tempat kan?"


"Iya dan kebetulan aku harus buru-buru ke sana."


"Kalau nunggu orang dari bengkel buat ganti ban mobil kamu yang kempes kayanya sih memakan waktu yang lumayan lama, kira-kira kamu harus ke sana dalam berapa menit?"


Namira memandang jam tangannya yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Lantas mengestimasi waktu yang ia perlukan untuk sampai di tempat tujuannya.


"Acaranya sih masih sekitar setengah jam lagi, tapi jarak dari sini ke tempat tersebut membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua puluh menit."


"Wah kalau nunggu dulu montir bisa gak keburu dong?" Namira mengangguk lesu. Ia berakting dengan amat sangat meyakinkan.


"Yaudah kalau gitu, aku ambil mobil dulu. Biar aku yang anterin kamu?" tawar Kevin.


"Memang itu yang aku harapkan bodoh! Harusnya kamu bawa mobilmu sedari tadi gak usah pakai jalan kaki, dasar tidak peka!!" gerutu Namira dalam batinnya.


"Makasih ya, aku gak tau harus minta bantuan sama siapa lagi kalau bukan sama kamu, maaf ya," tukas Namira pura-pura baik. Padahal sedari tadi Namira tak henti-hentinya merutuk dan mengucapkan sumpah serapah untuk Kevin.


"Gak apa-apa kok. Kita kan teman," ucap Kevin tersenyum manis. "Yaudah kalau gitu aku ambil mobil aku dulu ya?"


Namira lagi-lagi menganggukan kepalanya dan membalas senyuman yang dilemparkan Kevin padanya. Lelaki itu langsung melesat meninggalkan Namira lagi untuk mengambil mobilnya yang berada di parkiran PT Gunawan Group yang tak jauh dari tempat Namira kini.


Setelah memastikan Kevin pergi, Namira menyenderkan tubuhnya di depan mobilnya sembari menyilang kaki serta lengannya dengan santai.


"Masuk perangkap juga akhirnya!" decaknya puas.


Bersambung.