Between Hate and Love

Between Hate and Love
Kena Trigger



"Kurang ajar kalian semua!!" hardik orang yang kini memantau Kevin dan Almira di dalam mobilnya.


Gadis itu mencengkram kuat-kuat kemudi mobilnya, seperti tengah menyalurkan seluruh emosinya yang tertahan. "Bisa-bisanya kalian bermesraan seperti tadi di depanku? Dan kamu Almira... rupanya kamu tidak bisa diajak kerja sama baik-baik. Bisa-bisanya kamu masih menemui Kevin? Brengsek kamu Almira!!"


Gadis yang tengah mengumpati Kevin dan Almira itu adalah Namira, gadis yang selalu merasa tak seberuntung Almira.


"Kalau kalian tidak bisa dipisahkan secara baik-baik, maka aku akan bertindak licik. Lihat saja!" tekad Namira. Ia pun turun dari mobilnya dengan seringaian iblis terbit di ujung bibirnya. Kepalanya sudah dipenuhi banyak ide jahat yang siap ia lakukan untuk memecah berai Kevin dan Almira. Menurut Namira, pantang baginya untuk bisa menerima Almira dan Kevin bersama secara legawa. Jika ia tidak merasa bahagia, maka orang lain juga tidak boleh bahagia. Terutama Kevin dan Almira. Sampai kapanpun Namira tak akan rela mereka berdua bahagia di atas rasa sakitnya.


Namira terus saja berjalan dengan langkah elegan memasuki mini market yang tadi Kevin masuki juga. Ia sengaja ingin membuat drama pura-pura tak sengaja bertemu Kevin di sana. Ia ingin melihat seperti apa reaksi Kevin jikalau mereka papasan di tempat yang notabenenya wilayah kampus Almira. Karena yang Namira tahu, Kevin belum memberi tahu dan mungkin tak akan pernah memberi tahu keberadaan Almira pada dirinya. Oleh sebab itu, Namira ingin menyaksikan sendiri kebohongan apa lagi yang coba Kevin tampilkan untuk melindungi keberadaan Almira.


Saat dia memasuki mini market, matanya menyapu ke seluruh penjuru mini market, mencari sosok Kevin yang ternyata tengah bertransaksi di depan meja kasir.


Namira tak langsung menegur Kevin, ia sengaja ingin semuanya terlihat berjalan natural. Jadi dia hanya memperhatikan punggung Kevin sembari menunggu lelaki itu berbalik dengan sendirinya.


"Sudah selesai ya Mas urusan kita!" decak Kevin sebal. Ia menarik kembali kartu debitnya setelah berhasil menyelesaikan transaksinya dengan si penjaga kasir mini market.


"Nah kalau gini kan enak," ucap si penjaga kasir mini market dengan wajah girang.


"Gara-gara Mas, saya jadi ketinggalan teman saya!" sewot Kevin, menyalahkan.


"Ya maaf Mas, saya kan cuma jalanin tugas dan tanggung jawab saya sesuai prosedur tempat kerja saya. Soalnya saya kapok Mas kalau jadi korban prank - prank dari anak-anak yutub jaman now, kemarin- kemarin saja saya kena omel bos saya," terang si penjaga kasir sembari diiringi curhat colongan seputar pengalaman tak mengenakkannya.


"Yaudahlah. Kalau begitu saya pergi dulu!" tukas Kevin malas. Ia hendak berbalik, namun lagi - lagi ditahan oleh si penjaga kasir mini market.


"Eeet bentar dulu Mas!"


"Duhelahhh apa lagi sih Mas? Kan saya udah bayar semuanya tadi. Masnya lupa apa gimana?" sewot Kevin dengan wajah mengkerut. Terlebih, saat Kevin harus buang-buang waktu dengan penjaga kasir mini market yang senang sekali menahan Kevin di saat genting. Benar-benar tidak bisa diajak kompromi!!


"Bukan gitu Mas, ya emang sih transaksinya udah selesai, tapi bagaimana dengan barang-barang yang Mas borong tadi? Apa perlu saya angkut ke dalam mobil Mas?"


Kevin menghela napas dengan berat serta malas. "Bagikan saja semua minuman yang tadi saya borong ke seluruh pengunjung hari ini. Kalau kamu mau juga boleh kamu ambil sesuka kamu," ucap Kevin datar.


Si penjaga kasir mini market itu tampak melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Kevin. "Ini seriusan Mas?" tanyanya terheran.


"Kamu pikir saya tukang becanda?" decak Kevin jutek. Ia sampai harus berkacak pinggang dan memelototkan matanya untuk menakut-nakuti si penjaga kasir mini market, dengan begitu si penjaga kasir itu akan lebih percaya dan tak lagi mengajaknya berbasa-basi.


Dan benar saja, semua yang dilakukan Kevin nyatanya membuahkan hasil. Penjaga kasir itu langsung mengangguk patuh tanpa banyak komentar babibu. "Baik Mas, terimakasih nanti akan saya berikan pada pengunjung hari ini."


Setelah berdrama-drama kecil dengan penjaga kasir mini market tersebut, akhirnya Kevin bisa membalikan tubuhnya juga. Namun saat posisi tubuhnya baru setengah berbalik, dia langsung mendapati Namira di dengan raut terkejut. Gadis itu kini tengah berdiri tak jauh dari ambang pintu.


"Namira ..," gumam Kevin tertohok tak percaya.


Kevin mendekat ke arah Namira. Suasana canggung serta kikuk membuat Kevin sesekali meleguk salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan tercekat.


Ia bahkan tergugup melihat Namira di depannya.


"Aku sedang lewat sekitaran sini dan kebetulan aku haus jadi makanya inisiatif beli air mineral di sini," dusta Namira berbasa - basi.


Kevin hanya membulatkan mulutnya pertanda mengerti. Ia sebenarnya cukup was-was kalau misalnya Namira papasan sama Almira secara tak sengaja. Ia takut memperkeruh masalah keduanya dan salah paham di antara keduanya tak akan pernah selesai nantinya. Namun beruntung Almira sudah lebih dulu pergi. Dengan begitu, setidaknya Kevin bisa sedikit menghirup nafas lega karena keberuntungan masih berada di pihaknya. Lagipula, Kevin yakin kalau Namira baru datang.


"Memangnya kamu sedang apa di sini?" imbuh Namira.


"Ah, aku juga tak sengaja lewat sekitaran sini," jawab Kevin berbohong.


"Benarkah?"


Namira masih berlagak seperti benar-benar tak sengaja bertemu Kevin. Padahal, sejatinya dia sudah berada di sana sejak Almira bersama Pak Hendrawan. Ia bahkan melihat semua kejadian mendramatisir di mana Kevin sok sokan menahan Almira untuk tidak pergi. Benar-benar membuat Namira tersulut emosi melihatnya.


"Ah iya, aku tadi haus juga makanya aku mampir buat beli air atau minuman yang seger-seger. Hehe," ucap Kevin sekenanya dilanjutkan kekehan polos dan juga watados.


'Wah wah... tidak kreatif sekali jawaban si brengs*k ini. Aku mengatakan haus, diapun mengatakan haus. Dia pikir aku bodoh? Aku bahkan melihat setiap rentetan kejadian saat dia menghiba-hiba pada Almira. Sepertinya aku harus membuatnya semakin tersudut!' Namira membatin.


Lantas ia tersenyum simpul sebelum akhirnya bertanya lagi. "Lalu kalau kamu memang sedang haus, minumannya mana? Apa gak jadi beli?" cetus Namira polos.


Skakmatt! Kevin meleguk salivanya saat Namira melontarkan pertanyaannya. Betapa bodohnya Kevin beralasan mau beli air atau minuman yang segar-segar tapi tak mengambil atau membawa minuman satupun ke meja kassa. Bukankah dia tadi habis dari meja kassa? Dan Sepertinya Namira juga tahu.


Kevin meringis kikuk. "Aaah, tadi pas aku cari di lemari pendingin ternyata minuman kesukaan aku tidak ada di sana. Terus aku tanya sama Mas penjaga kasir ternyata sedang kosong katanya," dalih Kevin semakin beralasan tak tentu arah.


' Wah dia semakin pandai berkelit. Sejak kapan dia memilih-milih minuman? Kalau memang dia mencari minuman yang spesial, tujuan dia tentu bukan ke mini market ini. Dia akan ke Coffee shop atau sejenisnya. Dasar payah! Berbohong saja kamu tidak kreatif! Apa kamu tidak becus melakukan apapun hah?' batin Namira lagi.


Lain hal dengan yang terlontar dengan mulutnya langsung. Namira tidak ingin membuat Kevin merasa terpojok secara terang-terangan. Ia harus lebih pandai agar Kevin kena triggernya sendiri.


"Memang kamu cari minuman apa sih?" tanya Namira masih dengan ekspresi biasa.


"Aaah itu aku, cari American Cappucino!" tandas Kevin sekenanya. Benar-benar Kevin sudah kehilangan alasan lain untuk menampik setiap pertanyaan yang tercetus dari bibir mungil Namira.


"Kamu salah tempat, kalau kamu mau American Cappucino aku bisa menunjukan kamu di mana tempat yang benar. Ikut aku!" ucap Namira seraya menarik tangan Kevin tiba-tiba.


"Ta-tapi Nami..." Kevin berusaha menolak, namun sayangnya Namira tak mengindahkan hal itu. Gadis itu tetap mencekal lengan Kevin, sedikit menyeret lelaki itu untuk mengikutinya.


"Ikut saja! Aku jamin kamu akan menyukai tempat yang aku rekomendasikan nanti."


Bersambung.