Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 19 : Masa lalu



Frankk...!!


Suara, mangkuk tersebut berbenturan dengan lantai, membuat bunyi yang begitu nyaring. Isi di dalamnya pun berhamburan bercampur dengan pecahan dari mangkuk tersebut. Yohan terdiam, menunduk dengan wajah suram.


"Yura!!" Geramnya penuh kekesalan.


Naya, yang sedari tadi berdiri di dekat tembok pun menunduk ketakutan, dia tahu benar bagaimana sifat Tuannya jika sedang marah.


Diluar dugaan, Yohan berjongkok dan menggenggam tangan sang adik, yang tengah duduk di tepi ranjang sambil terisak lirih. Yohan menghela nafas dalam, menetralkan amarah yang hampir saja meledak.


"Yura kan adik Kakak yang paling baik dan cantik. Kakak mohon, makan ya kamu harus minum obat." Yohan memberi tatapan hangat.


"Ta--tapi, a--aku hanya ingin Mami yang menyuapi ku Kak." Yura menangis sambil mengucek mata dengan tangannya.


"Iya besok Kakak akan bawa Mami pulang, tapi sekarang kamu harus makan, oke!" Yura mengangguk. Yohan memberikan isyarat pada Naya agar membawakan kembali makanan yang sama untuk Yura.


Akhirnya Yura, menghabiskan makanannya. Sekarang dia tengah duduk dan bersandar di kepala ranjang, sembari memainkan boneka Barbie miliknya.


"Kak, sebenarnya Mami pergi kemana?" tanya Yura dengan wajah cemberut.


"Mami dia ada urusan mendadak." Jawab Yohan, sembari mengerjakan pekerjaan di laptopnya. Dia sengaja membawa pekerjaannya ke kamar Yura agar bisa menemani dan menjaga gadis itu.


"Kak!" Panggil Yura lagi.


Yohan menghela nafas, lantas menutup laptop yang ia gunakan untuk bekerja dan menghampiri Yura di ranjangnya. "Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" Yohan mengusap rambut Yura lembut.


"Sebenarnya Mami itu siapa?" tanya Yura dengan wajah polos, "Dia tidak seperti pelayan."


'Ternyata Yura menyadari itu. Haruskah aku bilang kalau Safira sebenarnya istri ku?'


Hening... Cukup lama Yohan terdiam, haruskah dia bilang pada Yura, bahwa Safira bukan pelayan melainkan Kakak iparnya? Tapi, jika ia mengatakan hal itu, itu menunjukan jika dia sudah menerima Safira sebagai istrinya. Tapi, Safira memang istrinya bukan? Sampai kapan-pun Yohan tidak akan pernah membiarkan Safira lari dari genggamannya, dia akan membuat Safira menderita seumur hidupnya.


"Sebenarnya... Dia adalah, Kakak ipar-mu, Yura. Dia istri Kakak." Yohan melempar pandang ke arah lain.


"Jadi Kakak sudah menikah? Dan Mami, Kakak ipar Yura?" Yura terperangah takjub, "Ini sungguh hebat Kak, Mami ternyata Kakak Ipar Yura, hore! Aku sangat senang." Yura melompat-lompat kegirangan di atas tempat tidur. Membuat ranjang besar itu berderit karena menahan bobot tubuhnya yang tidak kecil lagi.


"Kenapa kau begitu senang?!" Yohan tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu, yang begitu senang dengan status wanita yang dia anggap sebagai Maminya itu, ternyata adalah Kakak Iparnya.


"Tentu saja aku senang Kak! Kalau Kakak sudah menikah, bukannya aku akan punya keponakan, ia kan? Aku suka bayi kecil!" Ucapnya riang.


'Eh Bayi?!'


Yohan membulatkan matanya. Tidak pernah sekali-pun dia berpikir ke arah sanah. Memiliki Bayi dengan wanita itu mungkinkah?


"Kau ini ada-ada saja! Kakak tidak mungkin punya Bayi." Yohan menggeleng, sembari kembali ketempat duduknya semula, di sopa yang ada di sudut ruangan kamar Yura.


"Kenapa tidak mungkin Kak? Bukankah, kalau sudah menikah bisa membuat Bayi sebanyak-banyaknya?!" Tanya Yura polos.


Yohan berjalan menuju ruang kerjanya, perkataan dari Yura tadi, sukses membuat pikirannya teralihkan dari pekerjaan yang tengah ia geluti.


"Bayi?" Ucap Yohan mengatakan isi pikirannya. Seketika bayangan dia tengah bermain dengan seorang Anak laki-laki di halaman rumah bermain di kepalanya. Yohan tersenyum kecil, namun seketika kesadarannya kembali pulih.


"Dasar bodoh apa yang kau pikirkan, Yohan! Dia adalah Anak dari orang yang telah menyebabkan kematian Ibumu." Yohan mengingatkan diri, bahwa maksud dan tujuan dia menikahi Safira adalah untuk membalas dendam.


Tapi, apa itu layak bagi Safira. Yang telah, membuat Adiknya perlahan melupakan niatnya untuk mengakhiri hidup. Safira gadis baik, Yohan tidak memungkiri itu, tapi rasa benci, amarah dan dendam telah berakar dalam hatinya. Tidak mudah untuk melupakan rasa sakit yang ia rasakan dulu.


Yohan kembali mengingat beberapa kejadian di masa lampau.


"Tante!" Ucap seorang Anak kecil bermata bulat, pipi tembem dan berkulit putih, Anak ini begitu menggemaskan membuat semua orang sering kali ingin mencubit pipi Anak ini karena begitu lucu dan ganteng. Dia berjalan di tuntun oleh seorang Ibu muda, yang tampak mengenakan Dress selutut.


"Halo Pria kecil!" Dia yang di panggil Tante pun mencubit pelan pipi sang Anak dengan gemas.


"Dia?!" Sang Anak menunjuk pada Anak kecil di pangkuan sang Tante yang tengah memainkan pita di sepatunya. Anak itu, kira-kira berusia dua tahun.


"Ini Safira Anak Tante! Bagaimana cantik tidak?" Ucap sang Tante sambil tersenyum kecil.


"Hem, dia masih terlalu kecil, tapi... Lumayan cantik." Ucapnya sembari mendekatkan wajah ke wajah gadis cilik itu.


Ibunya dan Ibu dari Anak itu seketika tergelak, mendengar perkataan dari anak berusia 6 tahun tersebut. "Liana lihat Yohan putramu, dia sudah tahu gadis cantik rupanya." Ucap Widia sambil menyeka sudut matanya yang berair.


Diluar dugaan, Safira kecil mencium pipi tembem Yohan membuat dia repleks mundur. Kedua Ibu muda itu-pun kembali tergelak melihat tingkah laku anak mereka yang nampak begitu menggemaskan.


Widia dan Liana Ibunya Yohan berteman baik sejak lama. Mereka teman satu kampus, mereka termasuk teman dekat, mereka sering bertemu di cafe sambil membawa anak mereka, yakni Yohan dan Safira.


Widia, Liana, Arian dan Yudo. Mereka teman se-angkatan sewaktu kuliah. Mereka berhubungan baik, dan sering kali bepergian bersama. Yudo adalah pacar Liana, sedangkan Arian sudah lama dia suka terhadap Widia. Namun, Widia dia malah berpacaran dengan Kakaknya Arian yang bernama Ario Aditama.


Yohan, menghela nafas panjang. Dia benar-benar merasa kesal, kecewa dan benci terhadap Widia yang adalah Ibunya Safira. Dulu, dia termasuk dekat dengan Widia dia bahkan sering mengajak Safira kecil bermain, tapi setelah kejadian menyakitkan itu. Kebencian mulai berakar di hatinya.


flash back


Yohan bersenandung riang sehabis pulang sekolah. Sekolah nya cukup dekat jadi dia tak perlu menggunakan mobil pulang pergi sekolah. Yohan berjalan masuk kedalam gerbang rumahnya, setelah satpam membukakan gerbang tersebut untuknya. Saat ini Yohan berusia, sepuluh tahun dia duduk di bangku sekolah dasar kelas 3.


Tap...Tap...!!


Suara langkah kaki Yohan menaiki undakan tangga.


Bruk...!!


Suara pintu di tutup kencang, membuat Yohan memekik saking terkejut. Sesaat dia menghentikan pergerakannya, namun dia melanjutkan berjalan kembali, menuju kamarnya.


"Dia Widia kan, kamu menyimpan perasaan untuk dia, kan, Yudo!" Teriak Liana Ibunya Yohan dari dalam kamar.


Deg...!! Deg...!!