Between Hate and Love

Between Hate and Love
Mengunjungi Rumah Namira



Hari berangsur begitu cepat. Sudah lima hari setelah pertemuan dengan Pak Jamil berlalu, namun Kevin masih saja kepikiran alasan Namira memutar balikan fakta. Ya, setiap menit yang berlalu terasa seperti mencekam dan berat buat Kevin sebab, kepalanya selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kenapa dan kenapa. Alhasil, Kevin jadi bingung sendiri meluapkannya.


"Sepertinya aku harus menemui Namira kali ini, aku tidak mau terus - terusan diliputi rasa penasaran. Setidaknya kalau aku ketemu, sedikit banyak aku akan tahu alasan Namira. Toh, aku tahu kalau Namira tidak sekeras Almira," gumam Kevin sembari menopang dagunya.


Kevin bangkit dari kursi kebesarannya. Luapan rasa penasaran itu semakin mendesak Kevin untuk tidak berlama-lama berpusing ria. Tekadnya sudah bulat untuk bertemu dengan Namira. Tidak mau menunggu lagi.


Kakinya terus mengayun menuju parkiran. Namun saat kaki panjang Kevin baru setengah jalan mencapai ambang pintu, langkah harus terhenti karena Vallen menghadangnya tiba - tiba. Memblokade jalannya dengan sengaja. Benar-benar minta ditabok si Vallen itu. Senang sekali mengganggu Kevin, apalagi saat sedang buru-buru seperti sekarang. Sangat tidak menguntungkan bagi Kevin.


"Eeet... eeet... ettttt... Mau kemana sih lo, Vin?"


"Minggir Len, jangan halangi jalan aku. Aku sedang buru - buru dan lagi gak minat buat becanda sama kamu, cepat minggir!" titah Kevin sedikit malas meladeni Vallen yang hobinya menambah suasana hati Kevin jadi semakin rumit.


"Iya tapi jawab dulu mau kemana? Kenapa lo keliatan kaya orang linglung, gusar, lesu, dan banyak pikiran begitu?" tebak Vallen. Mulai lagi sikap sok tahunya.


Kevin menghela napasnya dengan berat, seulas senyum terpaksa dia tampilkan ke hadapan Vallen yang selalu saja sok tahu. Kalau saja bukan teman Kevin, mungkin Kevin sudah menenggelamkan Vallen ke kerak bumi terdalam, atau membuang dia ke sungai Amazon, biar sekalian dimakan piranha dan anakonda.


"Len, bisa gak sih kamu gak perlu tanya-tanya dulu. Aku lagi buru-buru nih!" seru Kevin sembari mengecek jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya sesekali.


"Sayangnya gue gak bisa!" timpal Vallen, masih menghalang-halangi jalan Kevin. Selain sok tahu, dia juga mulai rese dan selalu kepo anaknya. Mungkin sehabis ini, Kevin benar-benar berniat membuang Vallen ke Sungai Amazon biar tidak bertemu dengan manusia semenyebalkan Vallen lagi. "Kasih tahu dulu ke gue, lo mau kemana?" desak Vallen memaksa.


Dengan berat hati, Kevin pun menyerah. Percuma mendebat dengan Vallen. Dia pasti akan kalah. "Aku mau bertemu Namira. Puas kamu?" ucap Kevin sebal.


"Eh? Namira apa Almira?" Vallen mengklarifikasi, barang kali saja telinganya salah mendengar atau mungkin Kevin yang salah menyebutkan.


"Ya ampun Len, aku bilang aku mau ketemu Namira. Apa telingamu tidak dikorek selama setahun? Makanya kamu gak denger ucapan aku tadi? Padahal jelas banget tadi aku ngomongnya Namira," cecar Kevin semakin malas. Ia mencoba mencari cara untuk keluar dari Vallen yang terus meregangkan tangannya, menghalangi Kevin.


"Sembarangan aja lo ngatain gue gak ngorek telinga gue selama setahun. Lo pikir gue cowok jorok apa!" protes Vallen. "Gue juga denger tadi lo nyebutin nama Namira, tapi yang gue heran kenapa lo mau ketemu sama Namira? Ooo... apa jangan - jangan sekarang lo mau ngajak dia balikan?"


Seketika, Kevin menoyor kepala Vallen dengan keras. Membuat Vallen sedikit meringis kesakitan.


"Sembarangan aja kamu kalau ngomong. Ngapain juga aku balikan sama Namira, kan cinta aku cuma buat Almira. Gak akan pernah berubah sampai kapanpun, no debat!"


"Lah kalau gak mau balikan, terus ngapain lo mau nemuin Namira. Emang lo gak takut si Namira nolak lo buat bertemu?"


"Urusan ditolak mah biar jadi urusan nanti. Yang jelas aku mau ketemu dia supaya aku tahu alasan dibalik dia mengakhiri hubungan kita dengan legowo. Serta, aku juga mau nanyain kenapa dia malah memutar balikan fakta."


"Tapi gue gak izinin," ceplos Vallen. Kevin menyipitkan matanya antara terheran tapi juga takjub.


"Loh kenapa? Jangan bilang karena kamu gak mau aku limpahin kerjaan?" tebak Kevin.


"Salah satunya itu sih, tapi ada lagi yang lain. Gue gak mau lo nemuin dulu si Namira, bagaimana kalau dia masih sakit? Lantas kedatangan lo malah bakal memperburuk keadaan dia. Emang lo gak mikir ke arah situ?"


Kevin tak menjawab. Ia malah berpikir dan termenung sejenak. Benar kata Vallen, Kevin tidak berpikir mengenai keadaan Namira, bagaimana kalau gadis itu masih belum stabil? Selama beberapa hari ini, Kevin kan belum melihat Namira atau menanyakan kondisinya. Selama ini yang dipikirkan Kevin hanya menemukan kebenaran tanpa berpikir resikonya. Bukankah terdengar egois? Tentu. Tapi Kevin juga tidak mau terus-terusan bertanya - tanya tanpa bertindak sesuatu.


"Darimana lo tahu?" Vallen menautkan kedua alisnya, tak mengerti.


"Nanti aku cerita, sekarang aku harus buru-buru. Bye!" Dengan gerakan cepat, Kevin pun ngibrit meninggalkan Vallen yang menganga tak percaya. Kevin melakukan itu serta merta agar Vallen tak mencegahnya lagi. Berabe juga kalau Vallen terus menahannya. Bisa gagal rencananya.


Kevin telah terduduk di belakang kemudinya. Dia pun langsung menggerakkan kemudi mobilnya dan bergumam dengan tegas.


"Aku tahu mana yang harus aku lakukan. Aku tahu mana yang terbaik. Aku akan pastikan Namira tidak kaget saat melihat kehadiranku."


Tak berselang lama, mobil itu pun berangsur melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan tempat Kevin bekerja.


***


Kevin telah sampai di rumah Pak Jamil. Ia pun segera turun dari mobilnya. Dari kejauhan, samar - samar mata Kevin menangkap sosok Bu Rani yang tengah menyiram tanaman dengan selang airnya. Perlahan tapi pasti, Kevin pun mendekat ke arah Bu Rani yang asyik memegang selang yang mengucurkan air ke tanaman hijaunya.


"Hallo Bu," sapa Kevin dengan lembut. Senyumnya tak luput dari wajahnya yang tampan.


"Aa.. Nak Kevin, ke-ke .. kenapa ada di sini? Sejak kapan sudah di sini?" agaknya Bu Rani terkejut dengan kehadiran Kevin yang datang mendadak. Bu Rani pun mematikan selang airnya. Ekspresi wajahnya serta sikapnya berubah jadi aneh saat ada Kevin.


"Barusan Bu," jawab Kevin lembut.


"Nak Kevin, sebaiknya kita duduk di teras saja," usul Bu Rani. Kevin hanya mengangguk pertanda setuju. Mereka pun bergegas menuju teras dan duduk di sana.


Sejatinya, Bu Rani nampak kikuk dan canggung dengan keberadaan Kevin di rumahnya. Terlebih, pasca Namira yang meminta mengakhiri hubungannya dengan Kevin sebelah pihak. Beliau merasa sedikit malu dengan keputusan anaknya. Namun mau bagaimana lagi, alasan Namira cukup relevan dan kuat. Sebagai pihak orang tua, Bu Rani tidak bisa ikut campur kalau urusan hati anaknya. Apalagi menyangkut masa depan dua keluarga. Jadi, ketika melihat Kevin datang ke rumahnya seperti sekarang, Bu Rani berasumsi kalau Kevin pasti ingin menanyakan alasan di balik Namira yang memilih tidak melanjutkan pertunangan. Di dalam benak bu Rani, pasti Kevin kecewa karena Namira seenaknya memutuskan hubungan mereka dengan alasan mencintai pria lain.


"Ngomong-ngomong, kedatangan Nak Kevin ke sini mau apa ya? Bukankah—"


"Saya sudah tau Bu. Tapi kedatangan saya ke sini cuma mau bicara sedikit dengan Namira, apa ibu membolehkan?" potong Kevin dengan cepat.


"Kalau ibu sih boleh-boleh saja, tapi kalau Namira sendiri ... agaknya ibu kurang yakin dia mau bertemu dengan Nak Kevin saat ini."


"Bilang saja saya ke sini untuk sedikit berdiskusi. Kalau pun pada akhirnya hubungan kita gak berjalan sesuai rencana, tidak apa-apa. Saya janji gak bakal mempengaruhi keputusan Namira, Bu," bujuk Kevin penuh harap.


"Baiklah kalau begitu saya panggilkan anak saya dulu. Oh ya, Nak Kevin mau minum apa? Biar sekalian Ibu ambilkan."


"Tidak perlu, Bu. Saya kesini hanya mau ketemu Namira sebentar aja kok. Jadi tidak usah repot-repot."


"Baiklah."


Bu Rani pun bergegas masuk ke dalam rumahnya, memanggilkan Namira untuk Kevin.


Bersambung.