Between Hate and Love

Between Hate and Love
Menemukan Almira



Mobil Kevin yang dikemudikan Vallen merayap menyusuri jalanan kota yang tampak ramai dipenuhi mobil dan kendaraan lainnya. Di jam-jam segini, bukan hal asing kalau Jakarta akan semakin macet dan padat merayap. Pasalnya, sekarang adalah waktunya jam pulang, orang-orang yang seharian lelah bekerja di kantor akan kembali ke rumahnya masing-masing.


Meski sudah tidak asing lagi dengan suasana kemacetan kota Jakarta di kala jam 17.30 sore, tetap saja Kevin selalu merasa tidak terbiasa dan akan uring-uringan serta berbicara melantur sana-sini, seperti halnya sekarang.


"Kenapa sih jalanan Jakarta selalu macet?! Udah tahu aku lagi buru-buru, gak ngertiin banget sih!" protes Kevin yang entah ditujukan pada siapa.


Vallen tahu, tapi Vallen diam.


"Kalau kaya gini, Almira akan semakin jauh. Lagian kenapa sih orang-orang gak pada jalan kaki aja biar ngurangin macet. Bikin keki aja!" lanjut Kevin masih dengan raut uring-uringan tidak jelas khas anak kecil yang habis berantem dengan teman sebayanya.


Vallen tahu, tapi Vallen tetap diam dan membiarkan Kevin membeo ngalor ngidul. Ia benar-benar tidak berselera mengomentari ocehan Kevin sedikitpun.


"Aish!!! Ini kenapa sih macetnya malah makin parah, belum lagi pada nyerobot mulu nih para pengendara motor, gak bisa sabar dikit apa!" kesal Kevin, apalagi saat melihat ada sebuah motor matic berwarna hijau yang sengaja mepet-mepet ke dekat mobil Kevin, seperti sengaja mencari celah untuk mendahuluinya. Benar-benar mengacaukan suasana hati Kevin yang tak tenang dan semrawut sekarang.


Merasa ucapannya tak ditanggapi oleh Vallen, Kevin pun melirik ke arah Vallen yang memilih bungkam dan fokus mengemudi.


"Kamu kenapa sih dari tadi diem mulu, Len?"


Vallen tak menggubris. Dia hanya melirik sejenak dengan ekor matanya. Lalu fokus lagi dengan stir mobil. Seakan, stir mobil Kevin jauh lebih menarik daripada menatap pemiliknya.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Kevin lagi. "Apa pendengaran kamu mulai bermasalah? Sehingga kamu tidak mampu menangkap suara aku yang merdu ini," ceplos Kevin diiringi dengan kenarsisannya yang tiada tara.


Vallen menghela nafasnya dengan ikhlas, lantas membuka mulutnya.


"Apa penting gue tanggapi protesan lo yang entah buat siapa lo protesnya?" cuek Vallen tanpa beralih dari aktivitasnya menjadi supir pribadi Kevin selama beberapa jam ini.


"Ish ... ya paling nggak, kamu ngomong apa kek, dari tadi diem-diem bae udah kaya orang kekurangan gizi aja!"


"Mending kekurangan gizi daripada kekurangan akal sehat kaya lo!" ceplos Vallen mulai ngegas.


Kevin membulatkan matanya dengan sempurna seiring dengan mengerucutkan bibirnya beberapa senti.


"Jadi kamu menganggap aku gila, gitu?"


Dengan cuek, Vallen hanya mengedikkan bahunya sambil berkata, "Menurut lo?!"


Desisan nyaring keluar dari mulut Kevin, pertanda kalau dia tidak sependapat dengan anggapan Vallen. Terlebih, menganggap Kevin yang tampan itu gila. Benar-benar tidak sopan dan songong Vallen itu menurut Kevin.


"Jadi kita mau cari Almira kemana nih di tengah macet kaya gini?" ucap Vallen mengalihkan perdebatan yang tidak berfaedah.


"Jalan ajalah! Kemana kek, yang penting jalan," perintah Kevin santai.


"Lo gimana sih. Kalau cuma jalan muter-muter ngabisin bensin doang mah, mending gue pulang aja gilaaak!" hardik Vallen, kesal dan mulai ngegas lagi.


"Lah Almira gimana?"


"Cari aja sendiri deh! Nyusahin aja hidup lo mah. Andai lo bukan sohib sekaligus anak bos gue, beuhhh ... udah gue gibeng lo dari tadi!" sikut Vallen, saking gemasnya dengan kelakuan Kevin yang makin seenaknya pada dirinya.


"Dih ... ngambek. Jelek kamu tuh Vallen, kalau ngambek begitu, udah kaya induk angsa diambil telurnya!" canda Kevin yang bahkan tak membuat Vallen ingin mengangkat sudut bibirnya 3 mili meter saja. Bahkan hal tersebut malah membuat Vallen semakin geram dan sebal serasa ingin mencabik-cabik Kevin dengan tangannya sendiri.


"Bodo amat!" tukas Vallen, mulai ngegas lagi setelah perdebatannya dengan Kevin semakin memanas.


"Jangan gitu dong Len, kamu kan sahabat aku masa kamu gak mau bantuin aku," melas Kevin. "Coba bayangkan kalau nanti ternyata Almira ditodong penjahat terus dia diapa-apain dan gak ada yang nolongin dia terus aku juga gak ada di sana karena aku gak berusaha buat cari dia, emang kamu gak kasihan?" cerocos Kevin mencoba memprovokasi pikiran Vallen agar mau menuruti kemauannya.


Entah Kevin sedang akting atau bukan, yang jelas hal itu membuat Vallen tak bisa berkutik.


Vallen menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Biar bagaimana pun dia masih punya perikemanusiaan dan tentu tidak mau membuat Almira kenapa-kenapa.


"Iya ... iya gue temenin lo. Kita cari Almira sampai ketemu!" tandas Vallen menyerah.


"Yay!!! Gitu dong. Itu namanya baru temen aku," Kevin bersorak gembira kala Vallen menyanggupi permintaannya.


"Tapi kita mau cari kemana?" Vallen mengulang pertanyaannya yang sempat ia lontarkan pada Kevin sebelumnya.


"Kan aku bilang jalan aja terus. Siapa tahu Almira ada di sekitaran sini."


Vallen menurut. Lagipula tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti anak bossnya yang mulai menyebalkan itu.


Jalanan yang dilalui mobil Kevin sedikit melonggar seiring dengan kendaraan lain yang mulai bisa membebaskan diri dari kemacetan yang mulai berkurang. Vallen pun melajukan mobilnya buru-buru sebelum kemacetan itu kembali tercipta.


Namun saat baru hendak menancap gas, bola matanya menangkap sesuatu yang tak asing.


"Vin itu Almira!" seru Vallen setengah berteriak.


"Mana?"


Kevin pun mengedarkan pandangannya ke tepian jalanan sesuai telunjuk Vallen yang mengacung mengarah ke samping kiri.


"Itu, yang lagi berdiri ...!" seru Vallen lagi.


"Oh iya bener. Cepet pinggirin mobilnya Len!" perintah Kevin tak sabaran.


Setelah berhasil, lantas mereka berdua langsung turun dengan tergesa-gesa.


"Almira ...," jerit Kevin sambil setengah berlari ke arah Almira.


"Almira ...," Vallen juga ikutan memanggil Almira dengan nyaring.


Mata Almira membulat sempurna kala melihat Kevin dan Vallen kompakan berlari ke arah dirinya. Ia terkejut bukan kepalang.


"Astaga! Kenapa mereka ada di sini!" ucap Almira pada dirinya sendiri.


"Almira tunggu aku!"


"Almira berhenti! Jangan kabur lagi!"


"Aku harus segera menghindar sebelum mereka menangkap ku. Aku tidak mau mereka mencampuri urusanku lagi," pikir Almira.


Almira bersiap untuk menaikan kaki jenjangnya untuk menghindar dari dua orang yang familiar di matanya. Sebisa mungkin ia harus lolos dari Kevin dan Vallen yang posisinya kini semakin mendekat dengan dirinya.


Namun baru selangkah kakinya mengambil langkah lebar, ironisnya tangan Almira sudah terkunci oleh tangan Kevin dan Vallen yang mengakibatkan Almira tidak bisa kemana-mana.


"Almira kamu mau kemana sih?" tanya Kevin disela mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. Tangan kanannya memegang tangan kiri Almira. Sementara tangan kanan Almira ditahan oleh Vallen.


"Lepaskan aku bodoh!" hardik Almira mencoba berontak dari Kevin dan Vallen.


"Almira, gausah kaya anak kecil deh yang demen kabur-kaburan," ceplos Vallen yang juga tak kalah ngos-ngosan setelah berlari ke arah Almira.


"Vallen, jangan sok menggurui aku! Kamu tidak tahu duduk permasalahannya jadi lepaskan tangan aku!"


"Aku dan Kevin tidak akan membiarkan kamu kabur lagi."


"Almira aku mohon jangan pergi! Aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi aku mohon kita bisa selesaikan secara baik-baik," bujuk Kevin.


"Apaan sih! Lagian siapa juga yang kabur? Aku memang sengaja pindah dari kontrakan aku biar aku lebih dekat ke kampusku," terang Almira dengan jujur.


Kevin dan Vallen menjengit kaget. Refleks, mereka juga melepaskan genggaman mereka pada tangan Almira.


"Eh! Jadi kamu bukan kabur karena marah sama aku?" polos Kevin.


"Bukan."


"Terus kenapa harus pindah?" Vallen ikutan bertanya.


"Cih! Apa kamu tuli? Kan aku sudah bilang aku pindah biar aku dekat dengan kampus aku. Apa perlu aku jelaskan mengapa aku mengatakan kampus?" sewot Almira pada Vallen. "Sepertinya kamu belum tahu kalau aku resign dari butik mamanya Kevin karena aku mau melanjutkan studi aku yang sempat tertunda."


Bukannya menimpali kalimat Almira, Vallen malah menatap bingung ke arah Kevin seolah ingin diperjelas duduk permasalahan Almira mengenai rencananya itu.


Kevin yang mengerti, akhirnya hanya menganggukkan kepalanya ke arah Vallen.


"Jadi karena itu kamu sengaja pindah? Bukan karena kamu masih marah pada Kevin?" ulang Vallen.


"Sudah aku bilang bukan. Apa perlu aku pertegas B-U-K-A-N."


"Terus kalau memang begitu adanya, kenapa kamu kaya ketakutan pas tadi kita manggil kamu?" heran Vallen.


Kevin mengangguk setuju dengan Vallen.


"Karena aku tidak mau kalian kepo urusan aku."


"Loh kok gitu?" kali ini giliran Kevin yang terheran.


"Kamu kan mau menikah dengan Namira, jadi untuk apa kamu kepo urusan aku lagi. Lebih baik kamu urusin Namira, jangan mengganggu hidupku lagi!" tegas Almira.


Almira lantas bergegas pergi meninggalkan Kevin dan Vallen yang masih berdiri mematung dan membeku setelah mendengar penuturan Almira yang terkesan memerintah.


Detik berikutnya, Kevin tersadar dari kebekuan nya.


"Almira, tunggu! Kamu harus tau kebenarannya kalau aku —"


"Aku tidak mau tahu apapun tentangmu. Sekarang kembalilah ke tempatmu!" teriak Almira dari jarak jauh.


Kevin memandang punggung Almira yang semakin menjauh.


"Sudahlah Vin, besok kita coba lagi bujuk Almira. Aku yakin dia tinggal di sekitaran sini, kalau pun kita gak tahu tempat tinggal Almira, kita kan masih punya CV Almira yang menyertakan kampusnya. Kita datengin aja kampusnya kalau misal Almira tidak ditemukan di sekitaran sini," usul Vallen pada Kevin. "Lebih baik kita pulang, lo pasti capek banget kan seharian harus berjibaku dengan masalah serumit ini?"


Sejujurnya bukan Kevin yang capek, tapi Vallen sendiri yang terlalu lelah jika harus mengejar Almira sekarang, makanya dia membujuk Kevin untuk pulang dan mengusulkan untuk menemui Almira besok lagi.


Bersambung.