Between Hate and Love

Between Hate and Love
Jangan Bermain-main dengan Hati



—Hati adalah organ yang paling sensitif, jangankan menyakiti tepat pada organ tersebut secara langsung, organ lain yang terluka saja hati mampu merasakan rasa sakitnya. Bisa dibayangkan ketika seseorang menyakiti hati kita? Sakitnya luar biasa. Jadi jangan bermain-main dengan hati. — Ms. Oh.


Kevin keluar dari ruangan Papanya setelah mendiskusikan pertunangan sekaligus pernikahannya dengan Namira yang akan dilangsungkan tepat setelah Namira stabil. Ia nampak murung selepas dari sana. Ia bingung harus memberitahu Papanya seperti apa kalau hubungannya dengan Namira telah selesai.


Sulit menjelaskannya secara gamblang, hingga Kevin lagi-lagi menunjukan sisi lemahnya sebagai pria yang payah dan tak bisa membantah.


"Bro, lo kenapa?" Kevin mendongak tepat mengarah pada Vallen yang kebetulan lewat. Entah kenapa lelaki dengan tinggi 168 cm itu senang sekali seliweran saat Kevin tengah dirundung dilematis.


"Aku gak apa-apa," jawab Kevin lesu. Memang dia tidak punya alasan untuk babibu.


"Pasti ada masalah lagi mengenai hubungan lo sama Namira, iya kan?" tebak Vallen seolah tahu kalau masalah Kevin pasti tidak jauh-jauh dari Namira ataupun Almira.


"Ya itu kamu tahu. Terus ngapain nanya lagi?" Kevin membalas dengan nada sebal.


"Hahaha, udah gue duga," Vallen malah terkekeh renyah. Dia kemudian, merangkul bahu Kevin. Mengajaknya untuk duduk sejenak di kursi panjang yang lebih mirip kursi tunggu. "Sini... sini, cerita sama gue!" anjur Vallen.


"Papa aku malah mau mempercepat acara pertunangan aku sama Namira yang dirangkap sama pernikahan juga, Len," pungkas Kevin setelah berhasil mendaratkan pantatnya di kursi panjang, begitu pun dengan Vallen.


"Serius lo? Terus lo gak bilang kalau lo sama Nami udah end alias selesai?"


Kevin hanya menggelengkan kepalanya dengan gelisah. Bibirnya terkatup rapat tanpa perintah.


"Ya berarti lo harus terima semuanya dengan lapang dada," lanjut Vallen dengan nada enteng.


"Loh, kok harus aku terima? Kan aku gak mau Len nikah sama Namira. Aku maunya sama Almira. Gimana bisa aku menerima pertunangan sekaligus pernikahan sama Nami? Sementara hatiku hanya buat Almira?"


"Tapi masalahnya lo itu payah!" sergah Vallen, membuat Kevin memberengut sebal. "Lo payah! Lo pecundang karena lo gak bisa mengelak atau pun membantah kemauan Papa lo sama Pak Jamil. Atau paling nggak, lo kasih tahu kebenarannya sama mereka kalau lo sama Nami udah end," imbuh Vallen, merutuki Kevin tiada hentinya.


"Tapi aku gak berani Len."


Refleks, Vallen menepuk jidatnya dengan gusar. Berlama-lama terlibat dalam masalah Kevin beneran menguras tenaga dan pikirannya.


"Hadeeeh, sejak kapan lo jadi cemen begini? Perasaan awal-awal lo gak secemen ini deh. Bucin lo kayanya makin parah sampai-sampai bikin lo jadi lemah begini."


Kevin termenung sejenak menyerap kata-kata Vallen barusan. Lelaki itu ada benarnya juga, sejak kapan Kevin jadi manusia cemen? Perasaan awal-awal Kevin bersikukuh menolak perjodohan tersebut. Namun semenjak semuanya jadi kacau balau gara-gara ulah ceroboh Kevin, ia mendadak jadi pribadi yang takut mengambil tindakan. Ia takut kalau tiba-tiba akan semakin memperumit lagi masalahnya apalagi menimbulkan masalah baru.


"Kamu benar Len, sekarang aku jadi manusia yang payah dan takut mengambil keputusan. Benar-benar payah aku ini!" rutuk Kevin pada dirinya sendiri. Ia sadar betul, dirinya telah banyak berubah. Kevin yang sekarang adalah Kevin yang memiliki tingkat kelemahan yang mendominasi.


"Gue bukannya mau nyalahin atau nyepelein lo sih, jujur gue disini juga bingung sama sikap lo yang plin-plan dan mudah goyah sama pendirian lo."


"Terus aku harus gimana, Len?"


"Ya intinya sih lo harus jadi Kevin yang semula. Jangan bermain-main dengan perasaan deh, ada kalanya lo harus jadi orang yang tega dan gak mudah kasihan sama orang lain. Hilangkan kebiasaan kasihan sama orang yang menurut gue bakalan ngebuat lo jadi orang tersesat dan penuh keplin-planan. Kalo misal lo beneran demen sama Almira, kejar dia. Pertahankan dia, fokus cuma sama dia. Jangan nengok ke samping maupun ke belakang yang bakal membuat lo ragu. Urusan Namira, lo harus tegas," ucap Vallen menasehati.


Dalam posisi seperti sekarang, Vallen memang paling bisa diandalkan. Cuma dia yang paling mengerti kondisi Kevin sahabatnya. Cuma dia yang tahu masalah-masalah yang tengah dihadapi Kevin saat ini. Dan Vallen juga orang pertama yang terlibat dalam urusan cinta segitiga Namira — Kevin — Almira yang blunder dan tidak kelar-kelar. Oleh karena itu, Vallen harus mengambil posisinya sebagai penasehat Kevin.


"Jangan bilang makasih dulu. Gue butuh bukti kalau lo beneran bakal ngelakuin saran gue apa nggak. Gue nggak mau ya, udah panjang kali lebar sampai bibir gue kriting memberi lo nasehat tapi ujung-ujungnya gak lo pakai tuh petuah gue. Awas aja!" geram Vallen. Tangannya mengacung memperagakan orang yang hendak membogem wajah Kevin, membuat Kevin memundurkan kepalanya secara otomatis.


"Iya, kali ini gue bakal ikutin semua saran kamu Len."


"Nah gitu dong. Itu baru sahabat gue."


Kevin menarik sudut bibirnya tipis-tipis. "Thanks ya Len. Kalau gitu aku pamit dulu."


"Lah mau kemana? Jam kerja kan belum selesai masa lo baru dateng udah mau minggat lagi sih? Kerjaan lo gimana nanti?"


"Aku mau ke kampusnya Almira, mau mastiin kedaan gadis itu gimana. Urusan kerjaan, kamu yang handle dulu ya Len," ucap Kevin dibarengi cengiran lebarnya.


"Hadeh apes deh gue!" celetuk Vallen saat tahu ujung-ujungnya dia yang harus handle pekerjaan Kevin. "Memang ya, namanya anak bos dimana-mana otaknya gak ada yang bener. Bisanya cuma ngabisin duit perusahaan. Gaji full tapi kerjaannya kelayapan, sayang banget gue bukan anak bos!" imbuh Vallen seraya menggeleng-gelengkan kepala, mengeluh.


Alih-alih tersindir, kali ini Kevin malah tergelak dengan keluhan Vallen. Lelaki itu pasti sedang curhat colongan lantaran sedikit iri dengan posisi Kevin yang notabene adalah anak tunggal sekaligus pewaris tahta keluaga The Gunawan Group, tempat Vallen bekerja saat ini.


"Yaudah ah, aku pamit ya!"


"Perlu gue anterin gak?" tawar Vallen. Setidaknya kalau dia mengantar anak bosnya itu, dia bisa terbebas dari pekerjaan Kevin yang menumpuk.


"Gausah. Kamu fokus aja sama tugas kantor. Hahaahaa," pungkas Kevin diselingi tawa jahat yang membahana.


"Giliran yang pait-paitnya Lo limpahin ke gue, nice banget hidup Lo Vin! Gue kapan bisa kaya lo? Hmmm...."


"Mau tau gak tipsnya jadi orang kaya mendadak?" Kevin mengerlingkan mata usilnya pada Vallen, membuat Vallen langsung berubah serius seketika.


"Gimana?"


"Hahaha... kamu tidur aja selama enam bulan, siapa tahu nanti dapet mimpi jadi orang kaya. Lumayan kan, setidaknya kamu jadi bisa merasakan gimana hidup sebagai orang kaya meskipun hanya dalam mimpi, hahahaa."


"Kampr*t lo! Gue udah serius nyimak!"


"Hahahaha.. udah ah, aku pamit! Selamat mengerjakan tugas saya ya Bapak Asisten!" ledek Kevin sembari berlalu.


"Minggat lo sana temen lakn*t!" geram Vallen.


Hari ini Kevin harus menemui Almira, pujaan hatinya, sekalian membuktikan pada Vallen kalau dia kali ini akan serius mengikuti saran Vallen. Dia tidak mau menjadi payah dan menyesal karena tidak bisa melontarkan bantahan mengenai keengganannya melanjutkan pertunangannya dengan Namira. Keputusan Kevin sudah bulat kali ini. Dia ingin hidup bahagia dengan gadis pilihannya yaitu Almira.


Senyum Kevin mengembang setelah mendapat semangat dan petuah dari sang raja motivasinya, yaitu Vallen. Belum lagi saat dirinya bisa sepuasnya meledek Vallen, benar-benar membuat mood Kevin naik satu tingkat. Rekan kerja sekaligus sahabatnya itu memang paling pintar kalau urusan memberikan saran atau solusi dari setiap masalahnya. Dia benar-benar bisa di andalkan, dan Kevin sangat beruntung memiliki Vallen di hidupnya meskipun kadang-kadang rada gesrek anaknya.


Bersambung.