
"Kamu benar, Nami... semua yang kamu katakan itu benar," lirih Almira. Matanya sudah mulai panas seperti ada cairan yang sudah siap meleleh.
"Jadi aku mohon, berhentilah menjadi orang ketiga diantara hubunganku dengan Kevin," titah Namira penuh harap.
Almira tersenyum getir. Ia diklaim sebagai orang ketiga? Yang artinya perusak hubungan orang lain? Sangat tidak manusiawi memang! Almira tidak merasa seperti itu, tapi jika dipikir-pikir kalau Almira bukan orang ketiga, lantas siapa Almira di mata Kevin? Almira bahkan sudah bisa menyimpulkan kalau dia memang bukan siapa-siapa Kevin. Tak masuk dalam daftar orang spesial lelaki itu. Jadi mungkin apa yang disebutkan oleh Namira ada benarnya juga. Harusnya Almira bisa menerima itu secara lapang.
Cukup lama Almira bergelut dengan pikiran yang memenuhi seluruh ruang kepalanya, sampai pada akhirnya dia menyadari statusnya memang cocok dikatakan orang ketiga.
Almira menyeka tepian matanya yang sudah sedikit basah, lantas tersenyum tipis. Senyumnya itu terkesan dipaksakan, dan Namira sadar akan hal itu. Kendati demikian, hati Namira sudah tertutup dendam. Ia menutup matanya meskipun tahu bahwa adiknya itu tengah terluka.
"Kamu tidak perlu khawatir Nami, tanpa kamu minta aku juga sudah menjauhinya," lirih Almira. Pupus sudah harapannya untuk menyalurkan cinta pada orang yang dicintainya itu. Ia tidak menyangka kalau niat awalnya menjauhi Kevin adalah sebuah pertanda di mana semuanya benar-benar telah selesai. Dia menjauhi lelaki itu untuk membuktikan kesungguhan lelaki itu padanya, namun nyatanya perkiraan Almira meleset.
Namira meraih kedua lengan Almira, matanya berbinar ceria. "Terimakasih Al, kamu memang adikku yang bisa diandalkan. Sebagai tanda terimakasih aku padamu, bagaimana kalau aku akan menjamin kebutuhan kamu setiap bulan. Seperti biaya kontrakan kamu. Oh ya kudengar kamu juga sudah kembali ke kampus? Apa aku perlu membiayai biaya kuliah kamu?"
"Tidak perlu Nami, aku bisa memenuhi semua kebutuhanku. Aku masih punya tabungan untuk melanjutkan hidup beberapa bulan ke depan," tolak Almira. Jika ia menerima bantuan dari Namira, itu artinya Almira tengah mempermalukan dirinya sendiri dan mengakui kalau dia kalah. Pasalnya, tujuan utama dia keluar dari rumah adalah untuk membuktikan bahwa dia bisa bertahan meski tak difasilitasi oleh harta kekayaan ayahnya. Dia juga ingin menunjukan taringnya pada Namira—kembarannya, bahwa Almira bisa hebat dengan caranya.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku sedikit lega. Aku harap kamu menepati semua ucapanmu untuk tidak lagi memberi celah Kevin mendekati kamu," pinta Namira sekali lagi.
"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku sama sekali tidak punya perasaan untuknya. Lagipula, sekarang aku sudah memiliki pacar," dusta Almira.
Namira menarik sudut bibirnya, sejurus dengan hal itu sebilah tangannya mengelus pipi Almira dengan lembut. "Terimakasih Al, sekali lagi terimakasih."
"Kamu tidak perlu berterima kasih, itu memang hak mu. Aku tidak akan pernah mengambil orang lain," pungkas Almira tak berselera. "Oh ya, apa kamu masih ingin di sini? Kebetulan aku mau bersiap-siap ke luar. Tapi kalau kamu mau tetap di sini tidak apa-apa, aku tidak akan mengunci kontrakan ini," imbuh Almira, menawarkan.
"Oh, tidak perlu. Lebih aku pulang saja jika kamu memang mau pergi. Lagipula urusanku sudah selesai," timpal Namira. "Kalau begitu aku pulang dulu."
Namira pun membalikan tubuhnya, seulas senyum licik terbit tanpa sepengetahuan Almira. Ia tidak menyangka akan berhasil mengelabui dan mempengaruhi Almira dengan mudah. Namira merasa menang sekarang. Satu persatu rencananya mulai berjalan sesuai keinginannya. Ia cukup beruntung karena bisa menyewa detektif terhandal di kota ini. Bahkan belum genap dua puluh empat jam, para detektif itu sudah berhasil mengumpulkan semua data mengenai Almira. Dengan begitu, bisa memudahkan Namira melancarkan aksinya.
"Tak kusangka kalau adikku itu memang bodoh luar dalam. Aku pikir otaknya bodoh dalam hal akademik saja, nyatanya dia memang bodoh dalam segala hal. Baru aku pengaruhi sedikit saja sudah percaya, dasar gadis payah!" ucap Namira licik.
Namira mengamati terus menerus rumah kontrakan Almira yang kini sudah tertutup pintunya. Sifat jahatnya kembali memenuhi ruang kepala Namira.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun bahagia di atas penderitaanku. Entah itu Kevin atau Almira, aku tidak peduli jika mereka harus hancur. Mereka berdua telah merubahku jadi orang yang jahat. Sekarang giliran aku meneruskan apa yang telah kalian perbuat," decak Namira. Wajahnya berubah drastis menjadi wajah antagonis.
Benar kata pepatah dunia, orang jahat terlahir dari orang yang tersakiti. Namira merasa seperti itu. Dia korban dari perilaku Kevin. Sebenarnya, Namira tidak akan terlalu kecewa jika lelaki itu mau lebih terbuka di awal. Namun sayangnya, semua sudah terlambat. Saat Namira begitu mengharapkan lelaki itu, dan saat kondisi Namira terbilang memprihatinkan, justru lelaki itu baru mau jujur.
"Kalau saja kamu jujur dari awal tentang perasaanmu Vin, mungkin aku masih bisa terima. Aku tidak akan bertindak seperti ini. Aku akan menerima dengan lapang dada dan merelakan kamu bahagia dengan siapapun yang kamu mau. Namun sayangnya, kamu memilih bungkam saja kemarin-kemarin Vin saat aku mulai sayang-sayangnya. Dan sekarang kamu memilih Almira dan merelakan aku pergi? Tak akan kubiarkan kamu mendapatkan yang kamu mau. Aku tidak peduli meskipun adikku menutupi perasaannya, aku tidak ingin kamu dan adikku bersama," lirih Namira. Ia cukup kesal dengan apa yang menimpanya. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Dia awalnya ingin mencoba ikhlas, tapi setelah tahu alasan dibalik Kevin meninggalkannya karena Almira. Namira merasa tidak rela.
Setelah berhasil melancarkan aksinya, Namira pun masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil itu melesat jauh meninggalkan kediaman Almira.
Sementara di dalam kontrakan, Almira hanya bisa tersenyum getir. Rasanya lebih perih dari biasanya menghadapi kenyataan pahit yang lagi-lagi harus menimpa hidupnya.
"Tuhan, sebenarnya aku ini punya dosa apa sama Diri-Mu Tuhan? Kenapa kamu memberikan coba-cobaan yang tak kunjung berkesudahan? Sebenarnya apa rencana-Mu Tuhan?" lirih Almira.
Tubuhnya merosot ke bawah, kakinya seolah lemas tak bertenaga hingga tak lagi mampu menopang berat badannya. Dadanya sesak. Sekuat apapun dia bersikap biasa saja dan menolak dengan keras bahwa dia tidak punya perasaan pada Kevin, nyatanya dia terlalu rapuh. Dia tetap merasa sakit hati. Dunia seolah tak pernah berpihak padanya. Dunia hanya berpihak pada Namira, yang memiliki segalanya. Keluarga, kasih sayang, jabatan, karir yang tinggi, hingga cinta. Namun apa yang dimiliki Almira? Bahkan cinta saja tidak ada.
"Ini begitu tak adil untukku. Aku selalu mendapat kesialan, sementara Namira selalu mendapatkan yang dia mau. Sebenarnya aku ini dilahirkan untuk apa sih? Jika memang aku terlahir untuk menghadapi sebuah kesialan, maka lebih baik cabut saja nyawa ku ini Tuhan!" rutuk Almira pasrah.
Almira menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, mencoba membendung aliran sungai air mata yang kian detik kian meluncur deras. Ia tidak mau menjadi pribadi yang lemah. Dan mengeluarkan air mata adalah simbol dari kelemahan, jadi sebisa mungkin dia harus menghentikan air mata sialan itu.
"Huaaaaaaaaa ... kenapa aku harus dihadapkan dengan masalah seperti ini sih?" jerit Almira. Ia tengah menyalahkan Tuhan, dan mendebat pada sang Kuasa itu. Namun apa daya Almira? Marah pada-Nya bukanlah alternatif terbaik dalam menyelesaikan semua problematika dalam hidupnya.
"Tidak, aku tidak boleh menyalahkan Tuhan. Semua ini salahku. Ya, ini salahku yang terlalu berharap pada manusia kerdus bernama Kevin itu. Aku seharusnya tidak perlu sedih. Aku sudah terbiasa menjadi yang kedua. Aku juga sudah tidak berhubungan dengan Kevin. Lantas untuk apa aku harus ambil pusing?" hibur Almira pada dirinya sendiri.
Bersambung