Between Hate and Love

Between Hate and Love
Menjalani Hidup Baru



Usai memberikan kunci dan sedikit berbincang dengan pemilik kontrakan, Almira pun melangkahkan kakinya menuju terminal. Ia sudah memutuskan akan pergi ke kota yang tak terlalu dekat tapi juga tak terlalu jauh dari Jakarta. Kota yang jadi pilihan Almira tersebut adalah Karawang. Ya, Almira memutuskan ke sana dibanding ke Bandung. Selain dia masih ada urusan di kampus yang mengharuskan dia ke Jakarta, kota Karawang juga termasuk salah satu pusat kota Industri terbesar se-Indonesia, dengan begitu nanti Almira bisa sekalian mencari nafkah di sana.


Apapun akan Almira lakukan demi hidupnya yang tenang. Kalau dia masih di Jakarta, jangankan bisa mengalahkan Namira dan membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa sukses, untuk hidup tenang saja rasanya Almira akan kesulitan. Jadi daripada semuanya kacau balau, lebih baik Almira melipir ke kota tetangga. Itung-itung bisa jadi ajang pembuktian kalau dia mampu bertahan di kota orang tanpa fasilitas orang tuanya.


Waktu menunjukan pukul jam 3 sore. Menurut informasi yang Almira dapat, untuk mendapatkan bus tujuan Karawang dari terminal Tanjung Priuk, Almira harus mendapatkannya kurang dari jam 4 sore. Karena bus terakhir yang berangkat dari Tanjung Priuk ke Karawang hanya dibatas sampai jam 4 saja. Sementara untuk kalau naik kereta, harus menggunakan Kereta Api Lokal jurusan Purwakarta yang hanya ada di jam-jam tertentu.


Oleh karena itu, daripada rasa plin-plannya menghampiri dan menggagalkan rencananya lagi, lebih baik Almira mengambil alternatif yang lebih praktis. Yaitu naik bus umum.


Setelah dapat bus yang dituju, Almira pun masuk ke dalam bus. Tak berselang lama, bus itu pun perlahan melaju meninggalkan kota kelahiran Almira beserta kenangannya.


"Pada akhirnya aku benar-benar harus pergi dari kota ini. Entah nasib buruk apa yang menimpaku ini.. seumur-umur aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kota ini untuk waktu yang tak bisa kutentukan.. Andai saja aku tak terlibat dengan manusia-manusia otoriter itu, mungkin hidupku akan adem ayem aja," curhat Almira sembari menatap pemandangan di sampingnya.


Kalau mengingat hal tersebut, Almira lagi-lagi menjadi manusia paling melow. Bertahun-tahun Almira selalu menjadi orang yang harus mengalah, bahkan ketika dia memutuskan kabur agar dapat pengakuan saja pada akhirnya Almira harus lagi-lagi mengalah.


"Hidupku memang kurang beruntung!" pernyataan Almira kali ini keluar beserta helaan nafasnya yang begitu berat. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Segala keputusan sudah Almira ambil, ia harus fokus menatap masa depan dan menjalani hidup barunya di kota barunya nanti.


Meski masih ada secuil rasa tak rela, Almira berupaya untuk mencoba tetap legawa. Dua kali dia harus pindah-pindah terus.


"Tapi percuma saja aku mengeluh, siapa yang mau mendengar? Toh aku sejak dulu terbiasa terbuang. Arghh daripada aku pusing-pusing memikirkan masalah yang gak ada habisnya ini, lebih baik aku hubungi Tania. Sudah lama aku tidak pernah menghubungi gadis lambe turah itu. Ckckck ... kira-kira apa kabarnya ya dia?" Almira langsung terkikik geli kala otaknya mengingat salah satu rekan kerjanya dulu ketika masih bekerja di butik bu Vania. Mengingat nama Tania, selalu membuat otak Almira merujuk pada tukang gosip, sehingga Almira jadi bisa ketawa-ketiwi sendiri.


Almira pun berinisiatif untuk mengechat kawan lamanya itu. Ia pun membuka ponselnya dan mencari kontak Tania.


"Mudah-mudahan Tania gak lagi sibuk, jadi aku bisa mengobrol atau sekedar say hi sama dia," ucap Almira sedikit ceria.


Almira tengah mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya. Pesannya ia tujukan untuk Tania, namun belum sempat pesan itu terkirim, Tania ternyata terlebih dahulu mengiriminya pesan.


Tania: Bagaimana kabar kamu Al?


Almira hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mesem-mesem saat mendapati kebetulan tersebut. Bagaimana tidak, saat dia berupaya mengirimkan pesan pada Tania, nyatanya Tania malah mengirimkan pesan lebih dulu.


"Dasar Tania, so sweet banget sih kamu.. saat aku tengah memikirkan kamu, eeeh kamu diam-diam juga memikirkan aku. Hahaha emang bener-bener kita itu soulmate," gumam Almira saat membaca pesan yang dikirim Tania.


Setelah itu, Almira pun merubah isi teks pesannya. Ia menggantinya sesuai yang di tanyakan oleh Tania.


Almira: Aku baik. Sangat baik malah. Kalau kamu?


Tania: Aku juga baik. Al, kamu tahu gak?


Almira: Tahu apa? Kan kamu belum nanya.


Tania: Yaelah ya bentar aku ngetik dulu...


Tania: Kamu tahu belum kalau yang jadi tunangan Pak Kevin? Denger-denger dia kembaran kamu? Emang bener ya? Kok kamu gak pernah cerita kalau kamu punya kembaran?


Almira: Ya kamu gak pernah nanya sama aku punya kembaran apa nggak. Jadi mana mungkin aku tiba-tiba ngasih tahu kamu. Jadi siapa yang salah?


Tania: Yaelahh.. iya iya gue salah, gue salah karena gak nanya... tapi emang bener kalau kembaran kamu yang jadi calon pak Kevin? Kok bisa sih?


Almira: Iya bener kok. Kembaran aku yang jadi calon tunangan sama Kevin. Kalau masalah bisa dan nggaknya, ya mana aku tahu. Aku juga gak tahu kalau ternyata calonnya Kevin adalah Namira, kembaran sekaligus kakak aku.


Tania: Berarti selama ini Pak Kevin cuma manfaatin kamu doang, Al?


Almira: Ya kali.


Almira begitu malas jika membahas Kevin. Namun sayangnya, sedari tadi Tania terus-terusan bertanya mengenai Kevin dan Namira. Walau agak kesal, tapi Almira mencoba tetap menjawabnya. Mengingat, Almira tahu seperti apa sifat Tania yang super kepo. Pantang bagi Tania menyudahi pembicaraannya tanpa berhasil mengorek informasi sedetail-detailnya. Buktinya, meski Almira sudah menjawab begitu singkat, Tania masih saja bertanya ini itu seolah belum puas.


Tania: Terus lo gak sakit hati emang dimanfaatin begitu sama Pak Kevin?


Almira: Sakit? Buat apa. Toh, aku gak ada hubungan apa-apa selama ini. Untuk apa aku marah?


Tania: Wah bener-bener kamu kebal banget jadi orang! Kalau aku jadi kamu mungkin aku bakalan menjauh dari kota ini. Aku bakalan marah banget dan mungkin gak bakal maafin orang-orang itu.


Almira hanya mampu tersenyum getir membaca pesan Tania. Ia tak sekebal yang Tania kira. Ia pun sama seperti yang dianalogikan Tania. Buktinya sekarang Almira pergi dari orang-orang itu. Meninggalkan Jakarta demi menjalani hidup baru yang lebih baik.


Meski sedih, Almira tak mau menyatakannya pada Tania. Ia pun membalas pesan terakhir Tania dengan kalimat penghiburan sekaligus pengalihan.


Almira: Yaelah lebay banget kamu Tan, muji-muji terus dari tadi. Mau melayang nih dipuji terus. Hahaha ... katakan.. pasti kamu ada yang mau diminta kan?


Tania: Ya Alloh Al, kamu tuh ya su'udzon mulu sama aku. Masa aku muji kamu karena ada maunya sih? Aku tuh tulus tau muji kamu. Suer deh! Tapi kalau kamu mau ngasih sesuatu sih gak apa-apa. Hahaha


Refleks, Almira terkekeh begitu ceria. Ia bahkan tak mempedulikan para penumpang lainnya yang mulai menatap Almira dengan tatapan heran saat Almira tiba - tiba terkekeh-kekeh tanpa sebab.


Obrolan mereka di dalam chat itu pun berlanjut dan melebar kemana-mana sampai Almira tak sadar dia telah sampai di kota yang dituju saking banyaknya tertawa akibat kelakuan Tania.


Bahkan saking asyiknya, Almira sampai di tegur oleh abang kondektur bus.


"Mbak, ini sudah pemberhentian terakhir. Mbaknya gak mau turun?" tegur abang kondektur dengan wajah galaknya.


"Ma-mau Bang," ucap Almira takut.


Bersambung.