
Kaki telanjang Safira menyentuh pasir putih, dia berjalan di bibir pantai sambil menikmati udara pagi. Debur ombak menjadi back sound di tempat ini, Safira berjongkok mengambil cangkang kerang yang timbul di antara pasir yang basah. Dia mengangkatnya ke udara dan menilik benda kosong itu, benda itu cukup cantik dia akan membawanya sebagai cinderamata.
"Kau suka disini?" Tiba-tiba Yohan hadir di tempat itu tanpa Safira sadari.
"Hem." Jawab Safira tanpa membuka mulut, masih membekas dalam benaknya kejadian tadi pagi yang membuat wajahnya seketika memerah kala mengingatnya.
"Fira kau tahu, aku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, mungkin tanpa aku sadari aku berubah menjadi orang yang keras hati, aku tidak bisa bersikap lembut seperti orang lain, bahkan aku memperlakukan adikku seperti waktu itu, ya kau tahu semuanya aku tak perlu menjelaskan. Mungkin kau takut padaku karena itu." Yohan tersenyum masam.
"Tapi Fira, semua itu berubah saat kau hadir dalam hidupku, awalnya aku memang ingin membalas dendam padamu atas apa yang terjadi antara orang tua kita di masa lalu. Tapi aku malah terjebak dalam permainanku sendiri, aku... jatuh cinta padamu."
Deg... Seketika Safira menoleh, dia menatap wajah Yohan dari samping, pria itu nampak tersenyum lembut, dan sedikit memiringkan kepalanya, lantas tersenyum, membuat wajah Safira langsung memerah bak tomat matang.
"A-apa yang kau katakan?" Ucap Safira gelagapan.
"Apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran, ini berasal dari hatiku. Nyonya Safira, apa kau mau menyandang nama belakangku setelah namamu?" kata-kata Yohan membuat Safira tertegun dengan pandangan kosong.
"Jika kau belum siap, kau tidak usah menjawab, abaikan saja perkataan-ku." Yohan tersenyum sambil menghela napas.
"Aah perutku lapar, bisa tolong buatkan aku sarapan, aku tidak pandai memasak."
"Oke," Jawab Safira pendek, "makanan apa yang kau ingin aku buatkan?" tanya Safira ketika mereka tengah berjalan kembali ke Vila.
"Apa saja boleh, asal kau yang memasaknya."
Safira berjibaku dengan peralatan dapur, memasak sarapan untuknya dan Yohan.
"Kapan kita akan kembali?" Tanya Safira di sela-sela suapannya.
Yohan menoleh, "aku kira kamu suka berada di tempat ini."
"Aku suka, tapi kita tidak mungkin selamanya tinggal di tempat ini kan." Balas Safira.
"Jika kau suka kita bisa menetap disini, aku bisa bekerja dari rumah." Usul Yohan, yang seketika di tolak oleh Safira.
"Tidak, tidak, aku tidak mau tinggal disini selamanya."
"Baiklah, aku hanya bercanda. Lusa kita kembali, besok kita akan jalan-jalan ke pasar."
"Ke pasar? Dimana? Aku pikir tempat ini terpencil."
"Tidak jauh dari tempat ini adalah kawasan wisata umum, jadi disana lumayan ramai kau bisa berbelanja apa pun yang kau inginkan. Kita akan kesana naik sepeda."
Wow... Membayangkannya saja Safira sudah amat senang, hari esok akan begitu menyenangkan, "mengapa harus nunggu besok, kenapa tidak kita pergi sekarang saja." Safira menatap penuh harap.
Yohan tesenyum pelan, "baiklah, sesuai keinginanmu istriku, mari kita pergi."