
Almira menatap punggung Namira dengan perasaan sedih bercampur murka. Ia tak tahu mana yang lebih dominan. Hati kecilnya mengatakan ia sedih, tapi logikanya mengatakan ia murka pada gadis berwajah serupa dengannya itu. Almira tahu, tidak sepatutnya ia menjadi orang yang plin - plan dalam menentukan sikap. Jika ia seperti sekarang, tak menutup kemungkinan dia akan jadi orang payah selamanya.
"Kamu selalu mengatur hidupku, tapi bodohnya aku selalu selalu kalah dan mau aja dia perintah," ucap Almira menyalahkan dirinya sendiri.
Perlahan tapi pasti, kristal-kristal air matanya mulai berjatuhan dari sudut pelupuk mata Almira. cukup deras seiring dengan darahnya yang berdesir hebat. Ada rasa sesal dengan dirinya sendiri, kenapa dia begitu lembek dan malah menuruti kemauan Namira. Seharus Almira melawan Namira, toh ini murni bukan salahnya melainkan salah Kevin. Sayangnya, Almira telanjur mengambil keputusan. Mau tak mau ia harus menepatinya.
Almira membalikkan tubuhnya, rasa sesak begitu mengungkung dadanya. Lagi-lagi dia adalah pihak yang dirugikan. Namun apa boleh buat, Almira harus kuat!! Urusan lelaki bukan yang paling penting. Kevin tidak penting baginya.
"Aku tidak boleh sedih, aku harus bisa kuat. Toh Kevin bukan siapa-siapa aku. Jadi aku akan bisa melewati semua ini dengan mudah. Aku harus fokus ke jalanku. Aku harus membuktikan kalau aku bisa jadi orang hebat biar Namira dan ayah gak melulu mengatur dan merendahkan aku!" Almira meneruskan langkahnya menuju kamarnya. Dia harus segera mengemas barang-barangnya dan meninggalkan kota ini sesegera mungkin. Dia harus memutus rasa sedihnya sekilat mungkin. Dia bukan wanita menye-menye yang lemah karena cinta apalagi lelaki.
"Fokus Almira, fokus..!" seru Almira menyemangati dirinya sendiri.
Dari luar rumah kontrakan Almira, Namira berbalik sebentar meratapi rumah sederhana yang jadi tempat naungan kembarannya itu. Bibirnya disunggingkan begitu tinggi, nampak terlihat picik.
"Dasar bodoh! Jadi begitu wanita yang kamu sukai Vin? Aku tidak menyangka selera kamu seperti Almira. Seperti tidak ada wanita lain saja, lihatlah! Wanita kamu itu mudah sekali aku hasut.." Namira berdecak puas. Setelah itu dia benar-benar pergi setelah yakin kalau kali ini apa yang ia mau perlahan-lahan akan terwujud.
Sementara di kamar Almira, gadis itu langsung membuka kopernya. Mengambil semua pakaiannya yang tersimpan di lemari dan kemudian memasukannya ke dalam koper yang telah dibuka. Tekad Almira sudah bulat untuk menjauh dari kehidupan Kevin dan meniti karir di tempat lain.
Meski belum tahu Almira akan pergi kemana, tapi setidaknya ia harus meninggalkan Jakarta sekarang juga. Ia bisa memilih kota-kota terdekat dahulu mungkin, seperti Bandung atau Karawang. Dua kota itu tidak terlalu asing untuk Almira. Ia tidak mau memilih Bogor karena daerah tersebut rawan diketahui oleh Kevin. Sebab setau Almira, jika perusahaan orang tua Kevin bekerja sama dengan perusahaan ayahnya, tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu Kevin diajak meeting di Bogor.
Oleh karena itu, daripada hal yang tidak-tidak terjadi dan Namira kembali melabraknya lagi, lebih baik Almira memilih tempat yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarganya.
"Lagi-lagi aku harus pindah-pindah karena masalah begini. Aku harus mengalah hanya karena Namira. Karena tak ingin bertemu Kevin aku harus merelakan pindah dari sini. Haishhh.. malang bener nasib kamu ini Al," keluh Almira meratapi dirinya sendiri pedih. "Andai saja aku tak berhubungan dengan Kevin, mungkin semua mimpiku akan bisa terlaksana tanpa dihambat perkara beginian."
Almira terus saja mendumel seraya membenarkan lipat-lipatan bajunya, memasukan beberapa barang lainnya juga sampai ruangan kopernya penuh.
"Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Mau tidak mau aku tetap harus mau. Meski pun aku punya pilihan B, tetap saja aku harus menjalankan pilihan A. Kalau dipikir-pikir selama ini aku masih bisa belum dikatakan tegas. Aku masih belum bisa dikatakan bisa mengalahkan Namira. Aku masih terikat dengan mereka, haduuuh... kenapa aku baru kepikiran sih," sesal Almira saat dia baru menyadari kalau dia memang masih cenderung mudah diperintah oleh Namira hingga membuatnya semakin terintimidasi dan menyedihkan.
Setelah barang-barangnya dimasukan semua ke dalam koper, ia pun memastikan ruangan sekitar yang barang kali masih ada barang berharga belum termasukan ke dalam kopernya. Ia tidak mau ada barang yang tertinggal nantinya. Repot kalau sewaktu-waktu harus balik lagi untuk mengambilnya. Jadi sedemikian cara harus ia lakukan, Almira harus benar-benar teliti agar semuanya terangkut oleh kopernya.
"Semua sudah siap, namun badanku seolah belum siap meninggalkan kota ini. Ck! Lagi-lagi penyakit plin-planku ini kambuh lagi," gumam Almira tersenyum getir. Ia pun menatap keluar jendela, untuk mencari ide supaya ia bisa mengambil keputusan yang paling benar. "Apa aku tetap tinggal di sini saja ya? Toh, kuliah aku juga belum selesai. Masa aku harus bolak-balik nantinya. Haduuuhhh semakin rumit saja aku sekarang!"
Almira mendadak dihantam keraguan yang begitu mendalam. Dari lubuk hatinya memang dia masih belum mau pindah lagi, terlebih dia masih ada urusan dengan akademiknya yang belum kelar. Namun, jika mengingat kejadian di mana Namira selalu menekannya untuk pergi dari hidup Kevin, Almira mendadak meradang dan ingin mengabulkannya. Sekarang ia jadi bingung sendiri harus pergi atau tidak. Namun logika dan akal sehatnya cenderung mengompori batin Almira untuk tidak pergi.
"Sepertinya aku memang tidak perlu pergi dari sini. Kalau aku pergi berarti sama saja aku mengalah untuk Namira," pikir Almira, dua detik berikutnya ia pun menggelengkan kepalanya dengan cepat saat sekelebat egonya mulai memprovokasi benaknya.
"Nggak! Nggak! Aku gak mau kalah terus sama Namira. Masalah Kevin, biarlah jadi urusan Namira. Kenapa aku begitu peduli semua ucapan dia? Dia aja gak memikirkan perasaan aku. Datang-datang udah main ancam aku aja. Enak aja dia berani bersikap kaya gitu ke aku, pokonya aku tidak akan pergi dari sini. Titik!" tegas Almira seraya melipat kedua tangannya dan mendaratkan bokong di kasur tanpa aba-aba.
Namun saat ia berhasil meyakinkan diri untuk tidak pergi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menandakan ada pesan masuk.
Pip.. pipipp.. pipipp
Almira pun meraih ponselnya yang masih tergeletak di kasur, men-swip up ponselnya yang terkunci. Lantas membuka pesan masuk yang diterima ponselnya.
Almira mengernyitkan alisnya berlipat-lipat saat mendapat pesan dari nomor baru.
0813******74
Segeralah pergi, aku tidak mau kamu berubah pikiran lantas memutuskan untuk tidak jadi pergi. Aku tidak akan memaafkan kamu jika kamu menuruti egomu. Aku akan bilang sama Ayah dan Ibu mengenai keberadaan kamu, jika kamu tak segera menjauhi Kevin. Akan aku katakan pada mereka kalau kamu berusaha menggoda calon suamiku.
Begitulah kiranya isi pesan dari nomor baru, yang Almira yakini pengirimnya adalah Namira— saudara kembarnya.
"Sial!" umpat Almira sembari melempar ponselnya ke kasur setelah berhasil membaca pesan Namira. "Lagi-lagi dia menekanku. Lagian dia darimana sih dapat nomor aku? Padahal aku sudah mengganti nomor ponselku. Tapi kenapa dia bisa tahu? Apa si bodoh itu memberikan nomorku pada Namira? Ish... lelaki itu memang menyulitkanku saja hidupnya!" Almira berdesis sebal, pikirannya semrawut gara-gara Namira dan Kevin. Ia pun mengambil ponselnya dan bangkit dari duduknya.
"Aku sepertinya memang harus pergi dari sini. Ditekan terus menerus sama Namira membuatku risih jadinya. Persetan dengan kuliahku!! Aku akan mengambil kelas online atau mungkin PP dari tempat baruku ke sini. Toh, aku cuma perlu ke sini buat bimbingan aja, jadi bisa aku akali nanti. Sekarang tugasku adalah pergi dari sini sebelum si Namira makin aneh-aneh kelakuannya," dumel Almira, lantas ia pun menarik gagang kopernya dan bergegas ke luar tanpa pikir panjang. Mungkin pergi dari sana adalah cara terbaik untuk bisa hidup tenang.
Bersambung.