Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bertanya Kepada Namira



Selepas pertemuan dengan Pak Jamil, ada rasa lega sekaligus heran yang mengaduk-ngaduk perasaan Kevin. Bagaimana tidak, satu sisi dia senang karena pada akhirnya dia bisa terlepas dari beban yang selama ini mengikatnya tanpa susah-susah cari alasan. Tapi di sisi lainnya dia masih penasaran dengan alasan Namira yang terkesan tidak masuk akal, gadis itu memutar balikan fakta.


'Kenapa dia berkata seperti itu pada orang tuanya? Kenapa tidak jujur bahwasanya akulah yang ingin mengejar gadis lain? Kenapa dia malah memilih melindungi aku?' Kevin terus saja membatin dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hatinya bergejolak aneh dan ingin meluapkannya sesegera mungkin. Tapi bagaimana caranya?


"Vin, lo kenapa lagi sih?" suara Vallen lagi-lagi menyadarkan Kevin dari alam imajinasinya, membuat gerakan terkesiap yang begitu kentara.


"Anu... gue gak kenapa-kenapa kok," jawab Kevin sedikit kikuk. Ketara sekali kalau lelaki itu tengah menyembunyikan sesuatu dari Vallen.


"Bohong banget lo gak kenapa - kenapa, jelas-jelas lo sedang kenapa - kenapa! Wajah lo tuh kalau lagi banyak masalah kelihatan banget," tebak Vallen. Mulai lagi sok tahunya, membuat Kevin mau tak mau hanya menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan, mengambil ancang-ancang untuk berkata jujur.


"Kenapa lagi sih? Kepikiran Namira lagi kan lo? tebak Vallen sekali lagi. Benar-benar sok tahu sekali Vallen ini, namun apa yang dilontarkannya memang benar adanya. Kevin sedang kepikiran Namira.


Kevin mengangguk pasrah, "Aku cuma penasaran kenapa Namira malah melindungi aku? Harusnya dia berkata jujur aja kalau aku yang minta mengakhiri hubungan ini karena aku mencintai orang lain yaitu Almira," curhat Kevin.


Vallen mendengarkan dengan serius. Kali ini giliran dia yang menghela napasnya sedikit berat, membuat Kevin setidaknya melirik Vallen dengan tatapan aneh.


"Malah gue lebih bingung," celetuk Vallen.


"Bingung kenapa Len?"


Vallen melirik balik. "Sampai detik ini gue bingung apa peran gue dilibatin dalam pertemuan tadi," cuhatnya jujur.


Kevin mengerutkan wajahnya berlipat-lipat kemudian hanya mengatakan "Eh?" seolah cuma kata itu cukup mewakili kebingungannya.


Dengan wajah polos, Vallen kembali melanjutkan kalimatnya. Mempertegas kalimat sebelumnya dengan kalimat yang lebih panjang agar Kevin mampu mencerna hanya dengan sekali penjelasan.


"Lo tahu kan papa lo ngajak gue ikut dalam pertemuan tadi?" Kevin mengangguk mengiyakan. Lantas Vallen kembali meneruskan ucapannya yang terjeda. "Terus selama di dalam gue cuma jadi obat nyamuk yang mendengarkan semua problematika kisah percintaan lo sama Namira, bahkan gue kalau gak inisiatif nyela, gue kayanya udah gak dianggap. Yang gue heran, kenapa gue diajakin dalam pertemuan yang gak bermanfaat buat gue sama sekali?"


"Ya mungkin Papa ngajakin kamu cuma basa-basi aja kali, daripada kamu nanti di ruangan aku sendirian," ucap Kevin berasumsi.


"Ah masa sih?" sanggah Vallen tak percaya. "Kalau emang demikian, tapi kenapa tadi Pak Jamil kaya natap menyelidik gue gitu ya?"


"Bentar deh, izinin aku mencerna perlahan-lahan semua dugaan konyol kamu ini," sanggah Kevin, mengingat - ngingat gerak -gerik Pak Jamil yang tercipta di dalam pertemuan beberapa menit yang lalu.


"Coba deh lo inget-inget, walaupun tadi mulut Pak Jamil menyerocos ke arah lo sama bokap lo, tapi lo ngeuh gak kalau matanya terus-terusan ngelirik ke arah gue? Kaya lagi menilai gue lekat-lekat gitu?" duga Vallen.


"Inget gak lo?" Vallen mencoba mencari pembenaran lewat Kevin yang barang kali juga merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah ia janggalkan sekarang.


"Perasaan kamu aja kali, Len. Sedari tadi aku gak begitu perhatiin ada tingkah aneh dari Pak Jamil kok. Beliau masih sama seperti orang yang kita kenal biasanya, yang suka memancarkan sorot mata yang tajam dan bikin kita panik. Jadi menurut aku sih wajar-wajar aja dia kaya begitu sama kamu," ucap Kevin membela.


Vallen tak setuju, ia pun melontarkan sergahannya pada Kevin. "Lah lo gimana sih, masa lo gak bisa bedain mana Pak Jamil yang biasa mana yang bukan. Sikap Pak Jamil yang ditunjukan ke gue selama pertemuan tadi bener-bener aneh dan bikin gue merinding sekaligus bertanya-tanya."


"Ah udahlah, itu hanya perasaan kamu doang kali Len."


"Ah gak asik lo!" Vallen menyelonong pergi begitu saja saat Kevin tak sependapat dengannya. Jelas-jelas ada kejanggalan dari tatapan Pak Jamil, bahkan begitu kentara hingga Vallen mampu menangkapnya secara jelas. Namun anehnya, Kevin malah tidak setuju dengan semua dugaan-dugaan Vallen. Benar-benar bukan teman yang bisa diandalkan menurut Vallen.


"Len, kamu mau kemana?" panggil Kevin saat Vallen malah pergi begitu saja. Mungkin dia kecewa karena Kevin tak mau sependapat dengannya, atau mungkin males melanjutkan obrolan dengan Kevin karena Kevin seperti membela Pak Jamil.


"Gue mau balik ke ruangan gue!"


"Tapi kan obrolan kita belum selesai, Len?"


"Bodo amat. Ngomong sama lo udah kaya ngomong sama tembok. Gak asik!" rajuk Vallen tak mengindahkan kalimat Kevin yang masih ingin berbincang-bincang. Membuat Kevin melongo dibuatnya.


"Haishh ngambek lagi dia," gumam Kevin pelan. Untung saja Vallen sudah menjauh, sehingga dia tidak mendengar gumaman Kevin. Kalau saja dia mendengar, pasti sudah memekik protes.


Sebenarnya Kevin bukan tak mau percaya ataupun sependapat dengan Vallen. Tapi dia cuma tidak mau menimbulkan pertanyaan baru di otaknya yang mana sudah terisi penuh oleh pertanyaan - pertanyaan mengenai Namira yang memutar balikkan fakta. Otaknya akan semakin ruwet karena bertanya-tanya namun jawabnya tak kunjung dia dapatkan. Jika ditambah pertanyaan mengenai keganjilan sikap yang ditunjukan Pak Jamil untuk Vallen, tak menutup kemungkinan kepala Kevin semakin semrawut dan pusing. Oleh karena itu, ia memilih abai dengan keganjilan sikap Pak Jamil.


Terasa egois memang, di saat dirinya yang tengah merasakan kemumetan luar biasa, Vallen harus terlibat mikir. Namun saat kemumetan itu melingkupi Vallen, Kevin malah jadi tidak mau mikir. Tidak adil, tapi mau bagaimana lagi. Masalah Kevin jauh lebih penting dari segalanya. Toh, masalah Vallen tidak begitu serius. Bisa dicari tahu jawabannya selepas masalah Kevin kelar.


Kevin memangku dagunya dengan jari jemari lentik yang saling bertautan. Otaknya kembali berpikir dengan keras dan merujuk pada problem dirinya dengan Namira.


Pikirannya melayang mencari-cari sesuatu yang bisa ia jadikan landasan kenapa Namira sampai rela berbohong dan memutar balikan fakta. Naasnya, setelah berulang kali berpikir keras. Jawaban-jawaban yang diharapkan Kevin tak kunjung ditemukan.


"Arrrrggh, kenapa malah jadi semakin sulit sih? Kenapa makin kesini masalah bukannya kelar malah makin banyak. Hadeeeeh!" erangnya dengan suara bergetar.


Dipijatnya pelipis Kevin secara pelan, berusaha meminimalisir otaknya yang serasa panas dan hampir pecah. Lantas bergumam. "Mungkin aku harus menemui Namira agar semua masalah ini cepat clear dan tak menimbulkan pertanyaan - pertanyaan baru yang sudah seperti sarang laba-laba. Ruweeeet!" keluh Kevin.


Bersambung.