Between Hate and Love

Between Hate and Love
Terlambat



Sembari membawa kotak berisi barang-barangnya, Almira melenggang pergi meninggalkan kantornya. Langkahnya terasa berat kala Tania lagi-lagi menahan langkah Almira.


"Al, apa kamu yakin akan keluar dari sini?" ucap Tania sembari mencekal pergelangan lengan Almira.


Almira menghela nafasnya dan memutar bola matanya ke arah Tania, "Tan, jangan buat aku semakin berat meninggalkan butik ini," tepis Almira.


"Tapi aku masih belum rela Al," lirih Tania masih belum mau melepaskan cekalannya.


"Aku sudah memberikan surat resign dan bu Vania juga sudah menyetujuinya," tegas Almira.


Alih-alih melepaskan cekalannya, Tania malah mempererat cekalannya dan kembali berkomentar, "Ku mohon cabut kembali keputusan kamu itu. Jika kamu mau kuliah, kamu kan bisa ambil kelas karyawan atau misal kelas weekend".


Meski Tania berupaya membujuk agar Almira tidak mengundurkan diri dari butik, tapi keputusan Almira rupanya sudah bulat. Dia tidak bisa menunggu satu tahun lagi untuk kembali melanjutkan kuliahnya, apalagi Almira sadar kalau Kevin adalah sumber utama pengunduran dirinya dari butik itu. Sekeras apapun bujukan Tania, hal itu tidak berpengaruh untuk Almira. Lagipula bu Vania sudah menyetujuinya, pantang untuk Almira mengurungkan niatnya hanya karena satu bujukan Tania.


Almira mendesah pelan lalu mengelus bahu Tania. "Nanti aku akan menemui kamu, kalau ada waktu." hibur Almira seraya melengkungkan sudut bibirnya. Berharap Tania mau mengerti.


"Janji?" Tania mengacungkan jari kelingkingnya. Dengan begitu dia jadi sedikit lega kalau Almira tidak akan melupakannya meski jarak menjadi penghalang mereka.


Tak lama Almira menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tania, membentuk tanda janji.


"Janji" ucap Almira singkat lalu mengulum senyum terbaiknya.


Setelah berhasil meyakinkan Tania, kemudian Almira menghela nafasnya dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan butik. Dia tidak mau berlama-lama di sana, karena semakin lama Almira mengulur waktu maka akan semakin berat Almira meninggalkan butik itu.


Butik itu seperti rumah kedua buat Almira, di sana dia menggantungkan mimpinya setinggi langit, di sana dia mendapatkan keluarga baru yang bahkan lebih baik dari keluarganya sendiri. Terlalu banyak kenangan yang Almira dapat di sana. Hanya saja, keadaan memaksanya untuk pergi.


"See you Almira.... " Tania memekik sembari melambaikan tangannya pada Almira.


Ada rasa berat yang tersirat di dalam benak Almira, sebenarnya dia tidak ingin keluar. Tapi apa mau dikata, semua keputusan telah ia ambil. Dan sekarang langkahnya itu akan membawanya ke kehidupan baru. Almira tidak boleh menoleh ke belakang, di sana terlalu banyak kenangan yang tercipta dengan Kevin.


"Aku akan memulai hidup baru, dengan duniaku yang baru tanpanya." ucap Almira dalam hati. Bahkan dia masih enggan menyebutkan nama Kevin secara utuh.


Selangkah demi selangkah, Almira tetap berjalan keluar butik. Langkahnya begitu berat sejalan dengan hatinya yang masih berat untuk meninggalkan semuanya.


"Aku akan merindukan tempat ini," ucap Almira sembari tersenyum kecut. Lalu memperbesar langkahnya tanpa menoleh ke belakang.


***


Sementara di tempat lain, Kevin masih terhanyut dalam batinnya sampai seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan bu Vania dan mengagetkannya.


"Pak... Pak Kevin!" panggil Tania dengan tergesa-gesa.


Bu Vania dan Kevin yang ada di dalam ruangan tersebut tiba-tiba terlonjak kaget saat pekikan Tania mengganggu rungu mereka berdua.


"Aihhh, kenapa kamu masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu dulu sih?!" ketus bu Vania sembari mengucek dan memberi udara pada telinganya yang mendadak sakit.


"Kebiasaan deh Tania," imbuh Kevin sinis.


Menyadari kalau tindakannya itu salah, Tania pun membungkukkan badannya dan meminta maaf karena sudah lancang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maafkan saya bu, pak!" sesal Tania.


"Ngomong-ngomong kamu mau ngapain ke ruangan saya dengan tergesa-gesa begitu?" selidik bu Vania.


"Anu bu saya mau bilang, ___"


Tiba-tiba Kevin ikut berkomentar, "Tolong suara kamu kecilkan kalau manggil saya tuh!" titah Kevin seraya memajukan bibir mungilnya.


Tania menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "sekali lagi maaf pak, soalnya gawat pak... bu..."


"Hah? Gawat kenapa?" sambar Kevin. "Apa ada sesuatu yang terjadi dengan butik ini?" tambahnya.


"Apa butik saya kebakaran?" bu Vania ikut panik.


Sementara Tania langsung mengelang dengan cepat.


"Itu apa sih Tan? kalau ngomong tuh yang jelas! " sentak Kevin tak sabaran.


"Coba kamu bicaranya pelan-pelan, biar kamu bisa mengutarakannya dengan baik dan gak bikin kita menebak-nebak kaya gini," titah bu Vania.


Tania menghela nafasnya dalam-dalam, merilekskan nafasnya yang memburu. Setelah rileks, barulah Tania bisa membuka suara, "Almira pergi pak!" panik Tania.


"Ya ampun Tan, kirain kenapa... kalau masalah Almira resign saya sudah tahu," ucap Kevin datar.


"Terus bapak gak nahan dia?" tanya Tania.


"Memang kalau saya tahan dia, keputusannya bisa berubah?" Kevin balik bertanya.


Memang benar, sekeras apapun Kevin menahan Almira untuk tidak pergi, sebanyak apapun Kevin meminta maaf pada Almira, keputusan Almira tidak di ganggu gugat. Toh, Kevin sadar kalau Almira pergi dan mengundurkan diri dari butik semata-mata hanya ingin menjauh dari Kevin. Jadi selama ada Kevin, maka Almira akan bersikukuh untuk tetap keluar.


"Tapi setidaknya kalau bapak yang membujuknya mungkin saja dia mau mendengarkan bapak," usul Tania.


"Justru kalau saya yang bujuk, dia malah akan semakin kekeuh dengan keputusannya. Jadi biarlah dia pergi," balas Kevin yang mendadak jadi sedikit sewot.


"Maksud bapak?" Tania kembali membeo.


"Almira tidak mau mendengarkan saya"


"Tapi bapak kan belum coba!" Tania kembali menyerobot, dia benar-benar berharap kalau Kevin bisa menahan Almira untuk tetap kerja di butik.


Mendengar kalimat Tania yang terakhir, bu Vania yang sedari tadi diam langsung membuka suara untuk membela Kevin.


"Almira sudah mengundurkan diri dan saya sudah menyetujuinya, jadi tidak ada yang bisa mengubah keputusannya meski kamu mengemis pada anak saya untuk menahannya," pungkas bu Vania.


"Tapi bu... "


"Tania, Almira mengundurkan diri bukan atas kehendak saya atau Kevin. Almira sendiri yang menginginkannya. Kita semua sudah berupaya untuk menahannya, tapi ini keputusannya. Lagipula niat Almira mengundurkan dirinya semata-mata mau melanjutkan kuliahnya. Bukankah niatnya itu bagus?" jelas bu Vania panjang lebar.


"Tapi bu... " Tania merengek lesu, lalu dia merengek pada Kevin, "Pak Kevin... " Tania masih berharap kalau dua orang di hadapannya itu mau menahan Almira sekali lagi.


Kevin yang melihat wajah memelas Tania, akhirnya merasa iba juga. Dia pun bangkit dari duduknya, "Sekarang di mana Almira nya?" tanya Kevin datar.


Tania langsung merubah wajah lesunya dengan wajah semringah. Tidak disangka kalau aksinya itu berhasil meluluhkan hati Kevin agar mau membantunya menahan Almira.


"Dia baru saja keluar pak, ayo cepat pak kita kejar!" ajak Tania sambil menarik lengan Kevin dengan buru-buru.


Langkah Tania mendadak jadi berat. Merasa ada yang janggal Tania pun berbalik.


"Kenapa bapak malah diam?" tanya Tania.


Bukannya menjawab, Kevin malah memperhatikan lengannya yang di tarik Tania.


"Lepaskan tanganmu dari tanganku! Aku tidak mau orang lain berpikir kalau ada rumor diantara kita." ketus Kevin.


Tania hanya mampu menyengir seperti keledai bodoh. Sebenarnya cekalannya itu hanya refleks belaka, tidak bermaksud memantik pergosipan atau mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Maafkan saya pak, ini cuma refleks," kilah Tania sembari menurunkan tangan Kevin dengan malu-malu.


"Tapi nggak mesti pegang-pegang tangan juga kali Tan," protes Kevin.


Setelah berdebat tujuh purnama, akhirnya Kevin dan Tania pun beranjak ke luar butik untuk menahan Almira. Kevin dan Tania sedikit berlari kecil, berharap kalau Almira belum jauh.


Namun ironisnya, Almira sudah tidak ada di sekitaran butik. Entah sudah sejauh mana dia pergi, yang jelas sudah tidak kelihatan wujudnya.


"Yaaaah, Almiranya sudah gak ada pak," ucap Tania lesu.


"Ya mau gimana lagi, lebih baik kamu masuk lagi ke butik. Urusan Almira, nanti saya yang selesaikan." tegas Kevin.


Bersambung~