Between Hate and Love

Between Hate and Love
Gagal Bimbingan



"Ngapain dia ada di sini?" imbuh Pak Hendrawan jengkel. Dia bangkit dari duduknya. Wajahnya sudah dipenuhi kilatan amarah yang siap menyembur kapan saja.


"Maaf Pak, saya bisa jelasin semua!" ucap Almira panik. Ia takut Pak Hendrawan tak mau lagi ditemui seperti sebelum-sebelumnya lantaran terlalu kesal jadi korban penyerangan brutal Kevin.


"Saya bisa jelaskan kekeliruan ini Pak!" Kevin ikut bicara.


"Saya mohon Pak, Bapak tenang dulu!" ucap Almira sekali lagi. Ia berusaha menenangkan Pak Hendrawan yang agaknya mulai tak bisa diajak kompromi.


"Tidak Almira, lebih baik kamu selesaikan terlebih dahulu dengan kekasihmu itu, saya tidak mau jadi korban kekerasannya lagi." Pak Hendrawan segera melenggang dengan takut, meski Almira berusaha menahannya.


"Loh Pak, jangan pergi dulu! Lagi pula dia bukan pacar saya," jelas Almira. Pak Hendrawan acuh. Ia tak mengindahkan semua penjelasan Almira, ia nampaknya trauma dengan kejadian tempo lalu yang dilakukan Kevin terhadapnya. Oleh karena itu, Pak Hendrawan pergi menuju mobilnya dengan langkah ketakutan, meninggalkan Almira dan Kevin sesegera mungkin.


Dosen bernama Pak Hendrawan itu masuk ke dalam mobilnya, Almira berusaha mengejar. Almira tidak mau bimbingannya gagal lagi hanya karena manusia kerdus berada di sisinya. Sangat sulit menemui Pak Hendrawan, beliau dosen yang cukup sibuk serta tidak bisa dibujuk. Ini adalah kesempatan baik bagi Almira, karena entah ada angin darimana Pak Hendrawan mau berbaik hati dan diajak bertemu meski di luar jadwal perkuliahan. Namun sayangnya, lagi-lagi Almira harus menelan kekecewaan karena masalah sepele. Sangat tidak beruntung Almira!! Sudah bersusah payah mendapatkan hati Pak Hendrawan agar mau diajak bimbingan, namun sekarang harus terbuang lagi kesempatan baik itu.


"Lah Pak, bimbingannya gimana? Saya kan udah nunggu lama Pak, masa bapak tega mau batalin janji temu kita Pak? Pak buka pintunya! Pak Saya bisa jelasin semua!! Manusia itu bukan teman apalagi pacar saya!!" bujuk Almira penuh harap. Pak Hendrawan lagi-lagi berusaha menulikan telinganya, kini ia malah fokus menyalakan mesin mobilnya.


"Pak, saya mohon dengarkan saya dulu!" harap Almira cemas. Apalagi saat mobil Pak Hendrawan sedikit demi sedikit mulai bergerak. "Pak! Pak!! Saya mohon Pak!" teriak Almira seraya menggebrak - gebrak kaca mobil Pak Hendrawan.


Mobil itu bergerak lebih cepat dari sebelumnya, membuat Almira kalang kabut memohon pengertian Pak Hendrawan. "Pak! Ya Tuhan, Pak tolong beri saya sedikit waktu buat jelasin?!" bahkan Almira masih sempat mengikuti laju mobil itu, berharap Pak Hendrawan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Pak!" teriak Almira setengah menjerit, saat kaki serta tangannya tak lagi mampu menjangkau mobil Pak Hendrawan.


"Ya Tuhan, gagal lagi bimbingan sama beliau," lirih Almira. Ia menatap mobil Pak Hendrawan yang kian detik kian menjauh meninggalkannya dengan tatapan kecewa.


"Kalau begini urusannya, sampai bulan depan aku akan kehilangan waktu bimbingan dengan Pak Hendrawan. Aishhh.. sial!!" umpat Almira lesu.


Almira menoleh ke arah Kevin yang kini duduk di kursi dengan tingkah polosnya. Bahkan lelaki itu nampak tak membantu Almira menahan Pak Hendrawan untuk tidak pergi. Sama sekali tidak bertanggung jawab!!


Almira mengeratkan buku-buku jemarinya, menyalurkan seluruh emosinya yang sudah membuncah lewat kepalan telapak tangannya tersebut.


"Semua gara-gara dia!!" murka Almira dalam hati. Tanpa perintah apapun, Almira mendekat lagi ke arah Kevin. Wajahnya sudah dipenuhi amarah. Ia harus membuat perhitungan dengan Kevin. Gara-gara lelaki itu, acara bimbingannya dengan Pak Hendrawan kacau lagi.


Tap


Tap


Tap


Plak!!


Tanpa komando, Almira langsung menampar wajah mulus Kevin yang tengah duduk dengan santai tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Apa-apa ini? Kenapa kamu menampar aku Almira?" ucap Kevin terkejut.


"Gara-gara kamu semua urusanku kacau!! Gara-gara kamu aku jadi batal bimbingan!! Kenapa kamu tidak membantuku buat tahan Pak Hendrawan Hah? Kenapa kamu malah duduk saja sedari tadi hah?!" murka Almira mencecar Kevin.


"Itu balasan yang setimpal karena kamu tidak membantu menahan Pak Hendrawa. KENAPA KAMU TIDAK MENAHANNYA HAH? APA KAMU SENGAJA INGIN MEMBUAT KELULUSANKU TERTUNDA? BEGITUKAH??!"


"Ya ampun Al, kamu jadi orang su'udzon mulu sama aku. Tadi kan kamu lihat sendiri, aku sudah berusaha menahan si dosen sok kecakepan itu," ucap Kevin cuek dan tanpa dosa sama sekali. "Tapi dia sendiri yang memilih tidak melanjutkan bimbingannya. Aku juga sudah minta maaf tapi kamu lihat sendiri tadi sikap dia yang acuh?! Jadi bukan salah aku dong kalau dia pergi," lanjut Kevin ngeyel.


"Apa katamu? Bukan salahmu katamu? Jelas-jelas itu salahmu!! Kalau saja dulu kamu tidak menghajar beliau, mungkin dia tak akan merasa trauma. Kalau saja kamu tidak menampakkan wujudmu di sini, mungkin bimbinganku akan berjalan semestinya!!" geram Almira. Ia benar-benar tak kuasa lagi untuk tidak memaki lelaki berwajah kerdus ini.


"Halaah emang dasar dosen kamunya aja yang lebay dan baperan. Masa kejadian udah lama begitu, dia masih inget aja ... benar-benar dosen baperan!!" cemooh Kevin seraya mengecipakkan bibirnya remeh temeh.


Almira menganga tak percaya dengan ekspresi Kevin yang tengah meremehkan dosen pembimbing Almira. Benar-benar tidak ada rasa bersalah sedikitpun di wajah Kevin. Almira jadi semakin sebal dengan lelaki di hadapannya ini. Ingin rasanya Almira mencekik leher lelaki sekarang juga!


"Ka-kamu tuh yaaa... Hishh!!" Almira tak mampu berkata-kata saking jengahnya dengan kelakuan Kevin yang makin menyebalkan.


"Sudah lah Almira, gak usah diurusin dosen begitu mah. Mending kamu santai bareng aku, hehe... kebetulan aku sudah membeli seluruh minuman yang dijual di mini market ini. Aku borong semuanya biar kamu bisa memilih dan menikmatinya sesuka kamu. Daripada kamu marah-marah terus kan?" usul Kevin, ia berusaha menarik perhatian Almira agar wanitanya itu tak terlalu mengambil pusing kejadian tadi.


Alih-alih tertarik, Almira malah semakin kesal. "Terserah!!" cebik Almiras seraya menjawil tasnya yang tergeletak di kursi bekas duduknya tadi.


Almira menyelonong pergi meninggalkan Kevin yang sontak saja membuat lelaki itu kalang kabut berusaha mengejar Almira.


"Al, kamu mau kemana?!"


Almira membungkam mulutnya, kakinya tetap ia langkahkan ke depan. Ia jengah berlama-lama dengan Kevin. Emosinya membumbung tinggi dan ingin meledak saat itu juga acap kali berhadapan dengan Kevin.


"Al... tunggu aku!!" Kevin berusaha mensejajarkan kakinya dengan langkah Almira, namun sebelum itu terjadi sayangnya si Mas penjaga mini market itu lebih dulu menyeru Kevin.


"Et.. et.. et... Mas mau kemana? Minumannya gimana nih?" tahan si Mas penjaga mini market mencekal tangan Kevin.


"Haduh Mas, lepasin tangan saya! Saya sibuk nih..." tampik Kevin berusaha menepis cekalan tangan si penjaga mini market.


"Ya gak bisa begitu dong Mas, perkara minuman belum kelar nih. Transaksinya juga belum selesai. Jangan coba-coba lari dari saya ya Mas! Awas aja kalau mau nipu saya! Tak akan saya ampuni!!" ancam Mas penjaga mini market, masih berusaha mencekal tangan Kevin dengan erat.


"Dih siapa juga yang mau lari apalagi nipu? Gak faedah banget! Lepasin gak!!" elak Kevin.


"Kalau gak mau lari atau nipu terus kenapa sekarang main pergi-pergi aja? Transaksi kita belum kelar. Emang mau kartu kredit sama debit Mas jadi milik saya?"


Kevin diam. Ia ingat kalau kartu berharganya masih ada di kasir. "Haduh iya iya ... tapi tolong lepasin tangan saya!" ucap Kevin judes.


"Ikut saya!" titah si penjaga mini market tak kalah judes. Kevin mau tak mau menurut dan melenggang ke arah pintu masuk mini market mengekor di belakang penjaga mini market.


Dari arah lain, tanpa sepengetahuan Almira maupun Kevin, seseorang tampak memantau setiap kejadian yang menimpa Almira dan Kevin tadi. Raut wajahnya nampak begitu sebal ketika melihat gerak - gerik yang dilakukan Almira ke Kevin atau sebaliknya. Ia semakin sebal ketika tadi Kevin berusaha mengejar Almira meski wanita itu sedang marah.


"Kurang ajar kalian semua!!" hardik orang yang kini memantau Kevin dan Almira di dalam mobilnya.


Bersambung.