
Usai berdebat kecil, Kevin dan Vallen memasuki ruang rawat Namira. Kebetulan pak Jamil sudah keluar tadi, jadi Kevin dan Vallen bermaksud meluruskan semuanya pada Namira perihal keinginan Kevin yang ingin memutuskan pertunangannya dengan Namira.
"Kalian darimana saja? Apa urusannya sudah selesai?" tanya Namira saat melihat Kevin dan Vallen memasuki ruangan rawatnya.
Vallen menyenggol sekilas lengan Kevin, lantas berbisik pelan ke telinga Kevin.
"Lo yakin mau menjelaskannya sekarang sama Namira?"
"Yakin. Soalnya aku gak bisa nunggu lebih lama lagi. Kalau ditunggu-tunggu malah makin ruwet nantinya. Jadi lebih baik sekarang aja deh aku ngomong yang sejujurnya."
"Tapi Namira masih lemah gitu, apa lo gak takut dia kenapa-kenapa?" Vallen kembali bertanya dengan memandang ke arah Namira sekilas.
"Aku percaya Namira pasti mengerti."
"Terserah lo dah. Gue ora melu-melu kalau Namira sampai kenapa-kenapa setelah ini," pasrah Vallen dengan menyisipkan logat jawanya yang khas.
Melihat Vallen dan Kevin berbisik-bisik tidak jelas, Namira yang sedari tadi menanti jawaban dari mereka hanya mampu mengerutkan dahinya sedalam mungkin. Lantas dia pun menginterupsi.
"Hey ... kenapa kalian gak jawab pertanyaan aku?"
Kevin dan Vallen berhenti sejenak. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya memfokuskan mata mereka ke hadapan Namira yang sudah diujung keheranan. Setelah itu barulah mereka terkekeh aneh. Benar-benar aneh sampai Namira semakin mengerutkan dahinya berlipat-lipat.
"Kalian kenapa sih? Ada yang kalian sembunyikan dari aku?"
"Anu, kita sebenarnya—"
Alih-alih salah satu dari Kevin dan Vallen menjawab pertanyaan Namira, keduanya malah saling melempar senggolan lengan seperti sedang meminta perwakilan untuk menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Namira. Namun ironisnya, cukup lama Namira menunggu, tak satupun ada yang mau menjawab.
"Kalian sebenarnya kenapa?" ulang Namira.
"Aku ..."
Dan saat Kevin baru hendak menjelaskan, tiba-tiba ponselnya berdering dan merusak rencananya.
'Haishh kenapa di saat seperti ini malah ada telepon masuk sih?' dumelnya pelan.
"Aku angkat telpon dulu," ucap Kevin pada Namira.
Kevin pun keluar dari kamar Namira tanpa mendengar dulu respon Namira. Alhasil, Namira jadi semakin amat sangat curiga.
Vallen yang kebetulan ada dalam ruangan tersebut, akhirnya hanya tersenyum kikuk saat melihat Kevin melenggang keluar dan Namira menampilkan ekspresi kecewa karena tak mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi.
Ditatapnya Vallen yang saat ini berdiri tak jauh dari pintu, kemudian Namira hendak berinisiatif bertanya pada Vallen.
"Vallen ... sebenernya ad—"
"Maaf aku harus nyusul Kevin dulu," ucap Vallen mencoba menghindar dari pertanyaan Namira yang sudah diliputi rasa curiga yang mendalam.
Lagi, untuk kesekian kalinya Namira harus menelan kekecewaan karena tak mendapatkan jawaban atas apa yang mulutnya lontarkan barusan. Bahkan Vallen sengaja pergi sebelum kalimat pertanyaan itu terlontar sempurna di mulut Namira.
"Benar-benar mencurigakan!" pikir Namira.
Di luar ruang rawat Namira, Kevin masih nampak sibuk berbicara dengan telponnya. Entah siapa gerangan yang menelepon Kevin tersebut, tapi dapat Vallen simpulkan kalau itu pasti orang kantor.
"Ada apa?" tanya Vallen pelan, kontan saja Kevin memberikan gerakan telunjuk yang tertempel di bibirnya, memberi kode agar Vallen tak berbicara dulu.
1 menit berikutnya, Kevin pun telah usai berbicara dengan telponnya. Sayup-sayup terdengar kalau lelaki bermata sipit itu menghembuskan udara dari hidungnya dengan kasar. Mengusap wajahnya secara lesu, sementara mimik wajahnya yang semula biasa saja, saat ini terlihat agak kusut setelah menerima panggilan telpon dari orang kantor.
Melihat ada kejanggalan, Vallen pun berinisiatif bertanya lagi pada lelaki bermata sipit dengan iris coklat.
"Ada apa sih, Vin? Lo kayanya gusar gitu?"
"Ada masalah di kantor."
"Masalah apaan?"
"Ada komplain dari rekan bisnis Papa yang katanya kurang puas sama kerjaan kita."
"Ooohh ...," balasan Vallen terdengar seperti menyepelekan masalah tersebut. Membuat bola mata Kevin langsung mendelik ke arah Vallen.
"Kamu kok kaya santai banget denger berita begini? Kamu seneng ya perusahaan Papa aku merugi?" sewot Kevin.
"Ya bukan gitu. Cuma gue sih udah bisa prediksi akan ada komplain beginian. Jadi gue nggak kaget-kaget banget lah," ucap Vallen enteng.
"Loh kok kamu ngomongnya gitu sih, Vallen? Maksud kamu apa? Bisa-bisanya ya kamu ngegampangin banget?"
Lain hal dengan Kevin yang emosinya hampir memuncak, Vallen masih dengan memasang wajah tampang polos dan biasa saja.
"Ya gimana gak merugi, gue yakin itu yang komplain pasti dari PT. Persada Multi Guna, kan?" tebak Vallen.
Kevin pun mengangguk mengiyakan.
"Dari mana kamu tahu? Aku kan belum cerita PT mana yang komplain."
"Ya jelaslah. Tanpa lo kasih tahu juga udah gue bisa tebak secara cuma-cuma. Dan gue juga gak kaget mereka komplain. Orang yang kerjain proyeknya lo, Vin. Sementara lo sibuk ngejar Namira dan Almira. Gimana mau maksimal tuh kerjaan lo?"
Kevin seperti kuda yang terpecut bokongnya. Dia baru sadar bahwa apa yang dikatakan Vallen ada benarnya juga. Pantas saja sedari tadi Vallen terlihat tidak begitu terkejut mengenai komplain tersebut.
"Aish ... bener juga kata kamu Vallen. Ini semua salah aku. Aku terlalu sibuk ngurusin masalah Namira dan Almira. Sampai-sampai aku mengesampingkan masalah kantor. Padahal Papa lagi mercayain buat kelola proyek tersebut ke aku. Sementara aku malah bekerja leha-leha. Aish ... payah banget aku ini!" rutuk Kevin pada dirinya sendiri.
"Ya ... lo emang payah!" tambah Vallen tanpa ragu. "Terus Pak Gunawan, udah tahu belum kalau ada komplain beginian?"
"Kayanya sih belum. Dan aku harap Papa gak tahu sebelum aku selesaikan masalah ini."
"Halah ... bentar lagi lo paling dapet panggilan dari bokap lo, siap-siap aja lo diomelin habis-habisan sama bokap lo," ceplos Vallen.
"Ish ... jangan mengada-ngada kamu."
Kevin sebal bukan kepalang saat Vallen selalu ceplas-ceplos sesukanya. Apalagi mengada-ngada soal Papanya Kevin yang akan memarahi Kevin perihal proyek yang gagal Kevin tangani dengan baik.
Drtt ... Drtt ... Drrt ....
"Hape lo geter tuh. Pasti dari bokap lo!" tandas Vallen lagi. Dia seperti menantikan momen dimana Kevin akan diomelin sama Papanya sendiri.
"Sok tahu kamu!"
"Coba aja lo check kalau gak percaya!"
Dengan sedikit ragu bercampur takut, lamat-lamat Kevin menarik ponselnya yang terselip di saku celananya. Dia sangat berharap itu bukan panggilan dari Papanya seperti apa yang diterka Vallen tadi.
Ditatapnya layar ponsel Kevin tersebut. Seketika bola matanya melebar sempurna saat mendapati nama yang tertera di layar ponselnya tersebut adalah orang yang ditandaskan Vallen.
Seperti peluru yang ditarik pelatuknya, ucapan Vallen menjadi kenyataan. Dan Kevin menampilkan ekspresi wajah berkerut meringis lucu.
"Papa aku yang telpon, Len!" ucap Kevin seraya mengacungkan layar ponselnya ke hadapan Vallen.
Vallen terbahak begitu jahat. Dia seperti mendapatkan hadiah undian yang tak terduga karena berhasil menebak siapakah gerangan yang menelpon Kevin saat ini.
"Buahahahaha ... syukurin lo. Kena semprot dah lo sama bokap lo sendiri. Buhahahha."
"Hih ... dasar sialan kamu, Vallen."
—o0o—
Kevin dan Vallen kembali masuk ke ruangan Namira setelah cukup lama tadi mereka berdiri di luar dengan sekelumit masalah yang menimpa perusahaan The Gunawan Group.
Niat awal, ingin meluruskan segalanya pada Namira bahwa Kevin tidak mau pertunangannya berlanjut. Sayangnya, hal itu harus dia urungkan lagi karena ada urusan lain yang tidak boleh dia tunda-tunda. Alhasil, saat Kevin kembali ke ruangan tersebut hanya untuk berpamitan pada Namira bahwa dirinya harus buru-buru ke kantor lagi.
"Namira, aku tadi dapat telpon dari Papa aku kalau aku dan Vallen harus kembali ke kantor. Jadi gak apa-apakan kalau aku tinggal?"
"Gak apa-apa kok. Lagi pula, aku udah mulai baikan jadi kamu gak perlu nungguin dan jagain aku terus."
"Yaudah kalau gitu aku pamit ya?"
"Sebentar!" tahan Namira.
"Ada apa? Apa kamu mau nitip pesan buat Papa aku?" tebak Kevin.
Namira mengelang pelan lantas membuka mulutnya lagi.
"Bukan. Tapi aku mau setelah kamu selesai di kantor nanti kamu ke sini lagi ya ... bisa, kan?"
"Tapi—"
"Aku mau membicarakan pertunangan kita."
Deg!
Bersambung.