
Yohan menatap kue tesebut, entah mengapa bayangan bibir Safira yang timbul dalam otaknya.
"Kakak ayo!" Yura mendesak, dan akhirnya Yohan pun menggigitnya.
"Enak kan?!" Yohan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku akan mengambil Angel dulu, dia pasti ingin makan kue juga." Ujar Yura yang langsung berlalu meninggalkan tempat itu.
Hening, yang terdengar hanya suara kicauan burung di udara dan gemersik dedaunan tertiup angin, "apa kau ingin keluar?" tanya Yohan tiba-tiba. Safira masih tetap diam, tak ingin menoleh apa lagi menjawab.
"Apa kau tuli?!" Yohan meninggikan suaranya, dia kesal karena Safira selalu mengacuhkannya.
Hmph, Safira tersenyum sinis, "apa yang ingin kau dengar? Tentu kau sendiri tahu jawabannya."
Yohan berdecak kesal, dia lantas bangkit dengan wajah gusar, "kalau kau mau, kau bisa bekerja di perusahaanku." Yohan pun berlalu, dia berpapasan dengan Yura yang membawa boneka perempuan yang Ia namai Angel itu.
"Kakak mau kemana?" tanya Yura.
"Kakak masih ada urusan, kamu baik-baik tinggal di rumah jangan nakal." Yohan mengusap kepala Yura lembut. Yura pun mengangguk patuh.
'Dasar wanita gak tahu di untung!' Yohan berdecak kesal, dia berlalu masuk kedalam kamarnya. Ia menanggalkan seluruh pakaian yang Ia kenakan dan masuk kedalam kamar mandi.
Air hangat mengucur deras membasahi rambut hingga kaki Yohan, mandi membuat tubuhnya kembali segar. Ia keluar untuk menghirup udara segar, segelas jus tergenggam erat di tangannya. Tawa Safira kembali menarik perhatiannya, Yohan duduk sembari mengambil koran yang teronggok di atas meja.
"Yura, ayo tangkap!" teriaknya.
"Oke Kak aku tangkap. Yeay dapat!" teriak Yura kesenangan.
"Apa sih yang mereka lakukan? Tadi aja saat aku disana dia diam saja," Yohan menggerutu kesal.
"Kakak Ipar hati-hati!"
Aw...teriakan Safira seketika membuat Yohan bangkit dan melihatnya. Tampak Safira tengah meringis kesakitan di bawah pohon mangga sembari memegangi kakinya. Yohan mengedarkan pandangan ke sekitar, tak ada seorang pun disana, membuatnya gusar.
"Kemana semua orang? Mengapa di saat seperti ini mereka malah menghilang, sungguh tak berguna." Yohan berjalan dengan cepat menuju taman tempat Safira berada.
"Kau tidak papa?" tanya Yohan seraya mengulurkan tangan. Yura gadis itu malah asik mengumpulkan mangga yang tadi di petik Safira.
"Aku baik-baik sa--," ucapan Safira terhenti seketika setelah dia melihat siapa yang mengulurkan tangan padanya. Dengan segera Safira memutus kontak matanya dengan Yohan.
"Aku bisa sendiri." Safira menepis tangan Yohan yang tergantung di udara.
"Terserah lah." Yohan melempar pandang kesal dan kembali menarik tangannya ke posisi semula.
Safira berusaha bangkit sendiri, namun nampaknya kakinya terkilir, dia kembali jatuh ke tanah, "Ah, sial." Pekiknya pelan.
Tanpa basa-basi lagi, Yohan mengangkat Safira dan menggendongnya, "hey, apa yang kau lakukan?!" teriak Safira, matanya melotot tajam, tangannya refleks memukul dada Yohan.
"Turunkan aku!" Teriak Safira.
"Diam! Atau aku akan menjatuhkanmu!" bentak Yohan tak kalah keras.
Hmph. Safira akhirnya pasrah dan membiarkan Yohan menggendongnya membawanya masuk kedalam rumah. Dia pun meletakan Safira di sopa dengan lembut, 'Ada apa dengan dia? Mengapa tiba-tiba jadi baik?' Safira merasa merinding, tak biasanya Yohan bersikap baik padanya.
"Sini aku lihat," Yohan hendak menyentuh kaki Safira namun gadis itu dengan cepat menepisnya.
"Tidak usah, aku baik-baik saja!" tegas Safira.
***
Halo gaes๐๐ moon maaf untuk novel yang satu ini slow update ya. Maaf jika up nya lama dan capternya pendek-pendek banget, soalnya othor bikinnya sekenanya. tapi muda-mudahan kalian gak bosen ya dan tetep mau dukung aku.๐ Terima kasih๐