Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 17 : Pertemuan dengan Roger



Ken segera bangkit ketika melihat Nyonya mudanya itu hadir di ruangan tempat ia berada. Ketika mendengar Safira berkata demikian dia pun lantas menjawab, "Baik Nyonya, saya akan sampaikan perkataan Anda bada Tuan." Ken sudah akan menghubungi Yohan dari telpon genggamnya, namun perkataan Safira membuatnya seketika berhenti.


"Kau kembalilah Ken, aku ingin menginap disini untuk beberapa hari." Ujar Safira.


Ken terdiam untuk beberapa saat, namun di detik berikutnya dia-pun mengangguk dan melangkah pergi keluar rumah.


Safira menghela nafas lega, akhirnya dia dapat menyingkirkan cctv berjalan itu. "Ayah, mari kita temui Ibu." Lirih Safira pelan.



Safira duduk bersimpuh di depan pusara Ibunya, Air mata tak henti-hentinya keluar dengan deras dari kedua sudut matanya. Sedang sang Ayah, dia terus mengusap punggung Safira, berharap bisa sedikit membantu menenangkan Anak gadisnya itu.


'Widia, selama ini aku telah banyak membuatmu dan Safira menderita. Sekarang, aku berjanji akan melindungi dia demi kamu dan Kakak.' Gumam Arian dalam hati.


"Ayo kita pulang Safira, ini sudah sore." Safira mengangguk, lantas mengusap sisa air mata dengan punggung tangannya. Safira bangkit di bantu sang Ayah.


"Fira!" Pekik seseorang yang membuat Safira beserta sang Ayah menoleh ke asal suara tersebut.


Safira, membulatkan matanya. Ternyata yang datang adalah Roger, pria berperawakan sedang dan berwajah tampan itu langsung menghampiri Safira dengan ekpresi wajah sulit di artikan. "Fira, kamu kemana saja? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, bahkan saat acara pemakaman tante Widia kamu tidak ada?" Roger memberondong Safira dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf kamu siapa?" Tanya Arian sambil mengerutkan kening.


Roger menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Oh, hehe, halo Om saya adalah Roger, pacarnya... Safira!" Ucap Roger dengan wajah canggung.


"Pacar?!" Arian semakin mengerutkan kening.


"Tidak, bu--bukan begitu Yah, dia hanya asal bicara saja." Safira melempar pandang ke arah lain.


"Ayah mengerti, sebaiknya kamu bicaralah dengan dia." Arian menepuk pundak Safira pelan, dia sedikit merasa bersalah pada Safira. Dia pun lantas berjalan ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari area pemakaman.


Bruk... Roger, langsung menubrukan diri dan memeluk Safira dengan erat, melepas kerinduan yang ia tahan selama beberapa bulan ini, "Fira, aku sangat merindukanmu." Ucap Roger dengan nada pelan.


Safira, hanya diam tak menanggapi atau pun membalas perkataan Roger. Roger melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Safira, "Ada apa? Apa kau tidak merindukan ku? Dua Minggu lalu, aku menunggumu di tempat biasa kita bertemu, tapi... Kamu tidak datang, aku menunggu mu semalaman Fira." Wajah Roger nampak kecewa. "Tapi, tidak papa yang penting sekarang kita sudah bertemu." Air muka Roger berubah seketika.


Safira, melepaskan genggaman Roger di tangannya dengan pelan, "Roger, sebaiknya kita putus saja." Safira menundukkan pandangan, tak berani melihat wajah Roger sedikit pun.


Deg...!! Deg...!!


"Kenapa?!" Roger menatap tak percaya.


"A--aku hanya merasa, jika kita tidak cocok." Safira mencengkram ujung baju hitam yang ia kena-kan.


"Tidak cocok? Hanya karena hal itu, lantas kamu memutuskan ku?! Kita sudah menjalin hubungan selama dua tahun, Fira. Apa masih bisa di katakan tidak cocok? Selama ini kita selalu selaras, kita berjalan di sisi yang sama, lalu dimana ketidak cocokan itu?" Roger menilik wajah Safira dengan seksama. Dia, mengenal betul seperti apa sifat gadis ini. Dia tidak mungkin bertindak tanpa ada alasan.


'Bagaimana aku harus menjelaskannya padamu Roger, sekarang aku sudah menikah. Tapi, pernikahan ini hanya sebuah ajang balas dendam dan aku terperangkap di dalamnya. Mengenai hati, tentu saja hatiku ini masih milikmu, tapi ragaku... Takkan pernah bisa meninggalkan dia.'


"Aku sudah menikah!" Tegas Safira, kali ini dia mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke arah mata Roger. Hanya ini cara satu-satunya agar Roger meninggalkannya.


"Me...nikah?!" Roger terperangah, mulutnya menganga, tubuhnya mematung seketika. Perkataan yang keluar dari bibir Safira, memberinya pukulan telak di dada. "Kau sangat lucu Fira, mana mungkin kau menikah." Roger berusaha menyangkal dia tidak ingin percaya dengan kata-kata Safira barusan.


"Kau sudah berjanji, akan menungguku! Dan sekarang aku sudah kembali, aku ingin menikahimu, Fira."


flash back, Roger.


Setelah dia bicara di telpon dengan Safira, hatinya sungguh senang. Rasa resah dan risau yang ia rasakan akhir-akhir ini sirna, setelah dia mendengar suara merdu dari sang kekasih, yang selama ini selalu ia rindukan.


Roger tersenyum, sambil menatap sebuah cincin berawarna putih bertahtakan berlian dengan warna senada berbentuk hati. Rencananya, saat dia bertemu dengan Safira ujung minggu ini, dia akan melamar Safira menjadikan dia milik Roger seutuhnya.


Ehem...!! Suara deheman seseorang, membuat Roger seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka sepenuhnya. Dia tersenyum canggung, ketika mendapati sang Ibu, tengah berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangan di dada.


"Keputusan mu tepat Nak, Safira Anak yang baik. Mamah sangat-sangat setuju kalau kamu menikah dengan dia!" Ibu Diana tersenyum simpul.


"Mamah sudah tahu ya, aku ingin melamar Safira?" Roger duduk tepi ranjang. Begitupun dengan Mamah Diana dia pun ikut duduk di samping Roger.


"Tentu saja Mamah tahu!" Diana, mengangkat bahu, "Kamu harus membuat sesuatu yang sepesial dan Romantis, jangan sampai membuat Safira tidak terkesan." Diana menepuk pundak sang putra.


"Baik Mah, aku akan menuruti saran Mamah!"


Akhirnya ujung minggu pun tiba, Roger sudah menghias sebuah gazebo di tepi danau tempat biasa dia menghabiskan waktu dengan Safira. Dia mendekorasi tempat itu, dengan nuansa serba putih, dia pun menyiapkan sebuah meja dengan dua buah kursi yang saling berhadapan untuknya dan Safira nanti makan malam.


Waktu telah berlalu, malam pun tiba. Namun, Safira tak kunjung datang. Resah mulai hinggap di hati Roger, namun dia tetap bertahan menunggu orang yang paling ia harapkan kehadirannya muncul di hadapannya dengan senyuman.


Tanpa terasa, Roger pun terlelap di kursi dengan kepala menunduk di meja. Semalaman dia menunggu, tapi Safira ternyata tidak datang.


"Hemh... Sia-sia saja aku menyiapkan semua ini." Roger menghela nafas kasar. Dia lantas bangkit, dan kembali pulang dengan wajah menunduk.


Hatinya merasa kecewa, namun dia tidak ingin berpikiran buruk tentang Safira, mungkin dia ada urusan lain, atau ada keadaan darurat perihal Ibunya pikir Roger menghibur diri.


flash back of.


"Maaf Roger, aku sudah menikah. Sebaiknya kau cari wanita lain saja, permisi!" Safira melangkah dengan cepat, setengah berlari dan masuk kedalam mobil Ayahnya.


Brukk...!!


Safira membanting pintu mobil dengan keras, membuat Arian memekik saking terkejutnya.