
Safira masih enggan menatap ke arah suaminya itu. Yohan, terus saja mencoba melakukan kontak mata dengan Safira, namun gadis itu terus saja menghindar. Hingga Yohan tidak tahan lagi dengan ke-acuhan Safira, dia menyusul Safira yang pergi ke dapur hendak membantu para pelayan menyiapkan makan siang.
"Eh, Nak Yohan mau kemana?" Tanya Arian, yang keheranan ketika melihat menantunya itu pergi meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.
"Mungkin Tuan ingin ke toilet!" Ken memberikan alasan, padahal dia tahu betul kemana arah tujuan Tuannya itu.
"Tapi, arah toilet ke sana." Ujar Arian dengan suara rendah, sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dengan tujuan Yohan. Namun, seketika otaknya kembali berpungsi, akhirnya dia memahami pikiran sang menantu.
Arian tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Tuan Ken, mari duduklah kita minum secangkir kopi." ajak Arian dengan santai. Ken yang sudah menyadari semua itu dari awal ikut merasa lega karena mertua Tuannya itu juga telah menyadarinya, dia pun tidak ingin menolak dan bergabung duduk bersama Arian.
Di dapur, pada waktu yang bersamaan. Safira tengah membantu menyiapkan masakan untuk menjamu Yohan. Namun, seseorang datang menyeretnya dan menyudutkannya ke dinding dengan paksa, para pelayan hanya menunduk malu, tak mampu berucap sepatah kata-pun.
"Kalian pergilah dulu." Perintah Safira! Para pelayan hanya mengagguk dan lekas pergi.
"Kalau mau bicara, bicara saja, tidak usah pakai drama." Ucap Safira ketus.
"Kenapa kamu gak pulang kemarin?" Tanya Yohan tak sabar, "Yura menanyakan kamu." Tambahnya lagi, dia tidak ingin Safira salah faham pada perkataannya.
"Ken pasti sudah bilang kan, kenapa kamu masih bertanya?!" Safira menatap tajam, dimatanya tak lagi ada rasa takut pada laki-laki di depannya itu.
Dia pun, menepis tangan Yohan yang ada di pundaknya.
"Oh, kamu ingin melihat aku menderita kan? Selamat... Tujuan kamu sudah tercapai!" Safira mendorong tubuh Yohan agar menjauh darinya.
Yohan hanya diam sembari mengepalkan tangan, tak ingin membalas atau pun menjernihkan kesalahpahaman ini.
"Kenapa diam? Ayo tertawalah! Apa kau sudah lupa cara tertawa?" Safira mendengus, sembari melempar pandang sinis. "Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu." Safira membuang muka.
Grep...!!
Yohan mencengkram tangan Safira, lantas berkata, "jangan kurang ajar ya, kamu pikir karena aku gak melawan kamu bisa seenaknya? Ayo kita pulang!" Yohan menyeret Safira hingga gadis itu mengikuti langkahnya dengan paksa.
"Lepas! Aku tidak ingin pergi denganmu, Yohan." Safira menghempaskan tangan Yohan dengan kasar.
Yohan merapatkan tubuhnya ke tubuh Safira, memberi penekanan pada gadis itu, nafasnya berhembus kasar menerbangakan rambut di wajah gadis itu.
Lantas, Yohan mendekatkan wajah ke daun telinga Safira, "pulang denganku, atau Ayahmu yang akan menanggung akibatnya." Ancam Yohan dengan nada berbisik.
"Kau--," Safira semakin jijik dengan Yohan. Yohan hanya menyeringai, menampakan deretan gigi putihnya.
"Makan dulu baru pulang." Ucap Safira ketus, sembari kembali ke dapur.
Yohan tersenyum senang, akhirnya Safira setuju untuk kembali bersamanya.
Suara denting sendok dan garpu menjadi pengiring musik di ruang makan tersebut. Safira, Yohan, Arian dan Ken, tampak tengah duduk mengelilingi meja tersebut, sembari menyantap makan siang mereka. Safira lebih banyak diam, makan pun hanya sekedarnya saja, dia hanya menusuk-nusuk makanan dengan garpu.
"Fira, kenapa makanannya gak enak kah?" Tanya Arian sembari mengernyitkan dahi.
"Enggakko Yah." Safira menggeleng pelan, "Yah, Fira mau ikut Yohan, pulang." Ucap Safira sembari menunduk.
Arian terdiam sejenak, menelan sisa makanan dalam mulutnya, dia lantas mengambil air dan sedikit meneguknya, "baiklah, tapi sering-seringlah datang kemari." Ucap Arian dengan berat hati.
Safira melirik Yohan dengan ujung matanya, Yohan hanya tersenyum samar. "Tentu saja Ayah mertua! Aku akan sering mengajak Safira berkunjung kemari. Aku tidak bisa jauh-jauh dari putrimu walau sesaat, jadi aku tidak bisa membiarkan dia menginap terlalu lama!" Yohan tersenyum manis pada Safira, senyuman yang begitu memuakan bagi gadis itu.
Safira menjawab lewat sorot matanya, 'Dasar manusia gila.' Yohan seperti paham arti dari tatapan yang di lemparkan Safira, dia lantas mengangkat sudut bibirnya merasa senang dengan tatapan gadis itu.
Arian terkekeh pelan, "Anak muda seperti kalian, memang sudah seharusnya menikmati masa-masa pengantin baru. Oh ya, bagaimana bulan madu kalian kemarin?" Tanya Arian dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Sangat indah...!" Jawab Yohan, seolah dia sudah mengalami semua itu, "benar kan sayang?" Yohan meminta pendapat Safira.
Safira kembali menjawab lewat tatapan matanya, 'Cih raja Drama.' gumamnya dalam hati.
"Baguslah, kalau begitu! Segeralah, beri Ayah seorang cucu!" Ungkap Arian dengan wajah sumberingah.
"Ayah aku--," Belum sempat Safira menyelesaikan perkataannya, yang hendak mengatakan alasan untuk menunda kehamilan, ucapannya seketika di potong oleh Yohan.
"Tentu saja Ayah." Yohan berucap sembari tersenyum, dia membuat Arian yakin jika hubungan pernikahan mereka dalam kondisi baik-baik saja.
'Drama yang sangat memuakan, rasanya aku ingin mengakhiri semua sandiwara ini. Tapi, perusahaan Ayah, dalam kendali laki-laki kejam ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah akan keadaan ini. Aku tidak ingin perusahaan Ayah mengalami kondisi buruk lagi.' Batin Safira.
Selepas makan siang dan berpamitan pada Tuan Aditama, Safira, Yohan serta Ken pergi dari rumah itu, menuju ke-kediamannya.
Safira duduk sembari menatap ramai nya jalanan Ibu kota, dia rindu akan kebebasan, dan makan jajanan pinggir jalan, betapa indahnya saat-saat itu, meski saat itu dia hanya hidup serba pas-pasan bersama Ibunya. Tapi, rasanya begitu berbeda, tidak ada rasa tertekan atau kesepian seperti sekarang.
'Ibu, aku sangat merindukanmu! Maaf, aku tidak bisa datang di hari terakhirmu, bahkan di saat pemakamanmu pun, aku tidak ada. Aku seperti Anak yang tidak berbakti, tolong maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tidak bisa berkata jujur pada Ayah, bahwa menantu pilihannya bukan orang yang baik. Aku juga tidak bisa menyalahkan Ayah, untuk semua yang terjadi karena ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Dia juga sangat menderita seperti halnya kita Ibu, hanya saja dia terlambat menyadari kesalahannya, jika sejak awal dia mau mendengarkan perkataan Ibu, semua ini pasti tidak akan terjadi. Kita akan hidup bahagia selamanya.'
Safira memejamkan mata, menekan air mata yang terus saja ingin menerobos keluar dari kedua sudut matanya. Dia menegakan tubuhnya dengan posisi kepala setengah menengadah keatas.
Di sampingnya Yohan, nampak menilik dari ujung matanya. Pandangannya pada Safira kali ini terlihat berbeda dari biasanya, entah apa yang terjadi pada Pria berkulit putih itu.