Between Hate and Love

Between Hate and Love
Tidak Semudah Itu



Kevin di hadapkan dengan situasi yang membingungkan sekarang. Di satu sisi dia ingin mengejar Almira dan meluruskan semuanya, tapi di satu sisi dia juga tidak mungkin meninggalkan acara pertunangannya dengan Namira.


Kevin berjalan mondar-mandir ke sana kemari hingga ia melupakan sesuatu. Namira, tadi Namira tersungkur jatuh akibat di dorong Almira secara refleks.


Kevin berhenti sejenak dari aktivitasnya, lalu dia berbalik. Dan betapa shocknya Kevin saat tahu Namira bukan hanya tersungkur jatuh tapi juga pingsan.


"Astaga! Namira... "


Buru-buru Kevin membantu Namira yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.


"Namira... kamu kenapa? Namira...?" panggil Kevin seraya menepuk-nepuk pipi Namira yang tak sadarkan diri.


"Astaga! Kenapa aliran darahnya melemah? Mungkinkah penyakit Namira kambuh?"


Panik dan kalut, itulah kata yang terbesit di otak Kevin saat memeriksa urat lengan Namira. Mendadak perasaan Kevin jadi dag-dig-dug dan tak bisa berpikir jernih sekarang.


"Aku harus bagaimana sekarang? Oh Aku harus menelpon Vallen!"


Buru-buru Kevin merogoh ponsel dari dalam sakunya, dia perlu menghubungi Vallen untuk membantunya membawa Namira ke rumah sakit.


Dengan nafas yang tak beraturan dan tangan gemetar, Kevin mencoba menghubungi nomor Vallen. "Cepat angkat Len...!" panik Kevin.


Selang beberapa detik, Vallen pun mengangkat telponnya.


"Hallo, ngapain lo telpon gue segala sih?" belum apa-apa, Vallen sudah sewot di sebrang sana.


"Hallo, Len... cepat ke sini Len,"


"Ke sana kemana sih? Emang lo dimana?"


"Di depan hotel"


"Eh, ngapain lo di depan hotel?"


"Pokoknya ke sini dan cepat tolong aku!" perintah Kevin dengan nada tinggi sekaligus panik.


"Tolong apaan?" ucap Vallen santai, yang sontak saja membuat Kevin sewot.


"Namira pingsan!" sentak Kevin.


"APA?! kok bisa?"


Kevin mulai jengah dengan Vallen yang sedari tadi terlalu banyak bertanya.


"Berhentilah mengoceh! Sekarang cepat ke sini!" sentak Kevin lagi.


"Oke... Oke..!"


Kevin pun memutus sambungan telponnya dengan Vallen setelah lawan bicaranya itu mengatakan oke. Kemudian Kevin memusatkan dirinya lagi pada Namira yang masih tidak sadar.


Vallen jadi ikut panik. Buru-buru dia berlari keluar hotel untuk membantu Kevin yang tengah dirundung kepanikan. Apalagi Vallen tahu kalau Kevin panik karena Namira pingsan.


Setelah sampai di depan Hotel, Vallen langsung mendekat ke arah Kevin.


"Vin, jelaskan sama gue... kenapa Namira bisa pingsan?" tanya Vallen mengintrogasi.


Tentu saja hal itu membuat Kevin berdecak sebal pada Vallen, "Ish... berhentilah untuk terlalu banyak bertanya, sekarang kita harus segera membawa Namira ke rumah sakit!" pungkas Kevin dengan nada ketus.


"Tapi bagaimana dengan acara pertunangan kalian?"


"Persetan dengan acara pertunangan! Kita harus segera menolong Namira! " Kevin membentak Vallen seraya membopong tubuh Namira.


Anehnya, di saat Kevin begitu panik dan ingin buru-buru menyelamatkan Namira, Vallen mendadak jadi lemot dan sekarang malah berdiri mematung terdiam.


Menyadari kalau Vallen malah terdiam, Kevin pun berbalik dan kembali berdecak kesal, "Kenapa kamu malah diam saja sih Len, cepat siapkan mobil!!!" titah Kevin dengan emosi yang menyulut.


"B-baiklah!" balas Vallen terbata-bata, kemudian ia pun segera menyiapkan mobil yang di perintah anak bosnya itu.


****


Kevin terduduk di salah satu bangku tunggu rumah sakit, dia sedikit merasa lega karena Namira telah diberi penanganan oleh dokter. Namun kecemasan masih nampak jelas di wajah tampan Kevin. Selangkah saja tadi dia telat membawa Namira ke rumah sakit, mungkin nyawa Namira tak akan selamat.


"Maafkan aku Almira, tapi kakakmu lebih membutuhkan aku," gumam Kevin pelan sembari mengusap wajahnya dengan gusar.


Vallen yang kini berdiri dengan perasaan yang sama tak menentunya dengan Kevin hanya bisa melenguh lega. Dia sesekali mengamati Kevin yang tengah terduduk dengan raut cemas dan banyak pikiran. Entah apa yang sedang dipikirkan Kevin, Vallen tak mau ikut campur terlalu jauh. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya mendekat lalu mengusap punggung Kevin.


"Sabar Vin, gue yakin Namira tidak akan kenapa-kenapa," tutur Vallen menguatkan.


"Ini semua salah aku Len," rutuk Kevin menyalahkan dirinya sendiri.


"Sebenarnya ini kenapa sih? Jujur gue gak ngerti duduk permasalahannya kaya gimana?" Vallen yang awalnya tidak mau ikut campur mendadak jadi penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi kawan serta rekan kerjanya itu.


"Namira sebenarnya sakit kanker otak stadium tiga," lirih Kevin pelan.


"Apa?!" Vallen terperangah tak percaya.


Sementara Kevin mengangguk dan melanjutkan kembali kalimatnya.


"Dia sudah sejak lama mengidap penyakit mengerikan itu, tapi dia sama sekali tidak menyadari penyakitnya itu. Yang tahu penyakitnya itu cuma aku dan orang tuanya doang," pungkas Kevin menjelaskan.


Vallen terkejut bahkan dia membuka mulutnya begitu lebar. Dia sungguh tidak menyangka kenapa Namira tidak menyadari penyakitnya sama sekali, sementara Kevin malah yang lebih tahu penyakit Namira itu. Apa Namira bodoh?.


"Lantas kenapa dia tidak tahu?" tanya Vallen.


"Orang tuanya, terutama pak Jamil sengaja menyembunyikan penyakit tersebut dengan alasan tidak ingin membuat Namira terpuruk karena mempunyai penyakit itu. Katanya selain dengan obat, penyakit juga bisa di minimalisir dengan menjaga suasana hati si penderita. Aku awalnya tidak percaya tapi itu memang cukup efektif membantu kesembuhan Namira"


"Lalu kenapa sekarang bisa kambuh?" Vallen kembali bertanya. Rasa penasarannya itu seperti mengungkung benaknya.


Kevin menarik nafasnya dalam-dalam. Dia seperti kekurangan oksigen sekarang. Semua masalah ini tercipta akibat kebodohan Kevin. Kevin jadi menyesal telah membuat keputusan seperti ini.


"Tadi aku menemui Almira untuk mengatakan sesuatu_____ "


Vallen tiba-tiba menyambar dan memotong kalimat Kevin yang belum selesai, "Jangan bilang lo mau mengatakan kalau lo terpaksa bertunangan sama Namira, terus tiba-tiba Namira denger, terus dia pingsan!" duga Vallen.


Kevin memberengut kesal karena kalimatnya terpotong, "Ish... sembarangan aja kalau ngomong!" ucap Kevin sambil menoyor kepala Vallen.


"Terus kenapa dong?" imbuh Vallen.


"Makanya kalau aku lagi jelasin tuh jangan di potong dulu!" Kevin protes.


Tak mau kalah, Vallen juga ikut protes, "Dih kenapa lo jadi sewot sih, aturan tinggal bilang aja alesannya kenapa!"


Kevin berdesis, memang tidak akan pernah bisa menang kalau berdebat dengan Vallen yang otaknya bebal dan tak mau mengalah.


"Iya... iya aku lanjutin nih!"


Vallen kembali serius dan bersiap mendengarkan semua alasan Kevin.


"Aku sebenarnya sudah merencanakan ini jauh-jauh Len. Sengaja aku bertunangan dengan Namira, semata-mata aku pengen mempertemukan Almira dengan keluarganya. Karena selama ini Almira salah paham dengan kedua orang tuanya yang menganggap kalau orang tuanya membeda-bedakan kasih sayangnya dengan Namira. Tapi belum sempat itu terkuak, Eh Namira malah datang dan Almira jadi salah paham padaku. Terus pas Namira meluk Almira, tiba-tiba dia mendorong Namira hingga pingsan lalu dia kabur,"


Vallen berusaha mencerna kata-kata Kevin yang panjang kali lebar. "Bentar deh, jadi maksud lo... lo sengaja bertunangan dengan Namira semata-mata buat kepentingan Almira? Cuma itu doang?"


Kevin mengelak, "bukan cuma itu, aku melakukan ini supaya bisa membantu Namira sembuh. Dengan Namira sembuh, aku yakin keluarga Almira mau menerima Almira kembali dan tidak membeda-bedakan Almira lagi," Kevin berkilah.


"Tapi lo kan bisa tuh jelasin pelan-pelan sama Almira kejadian yang sebenarnya. Bukan malah bertunangan sama orang yang jelas-jelas gak lo cintai," Vallen menampik penjelasan Kevin yang berbelit-belit dan sedikit ngawur itu.


"Habisnya aku kesel Len sama sikap Almira, masa cuma gara-gara foto di insta story doang, dia malah nyuruh aku menjauh! Yaudah aku percepat aja tuh pertunangan aku, dengan begitu aku bisa memberi dia sedikit pelajaran dan menuntaskan semuanya,"


"Apa lo bodoh? Perempuan kan emang gitu kalau dia bilang menjauh artinya dia bukan benar-benar nyuruh lo menjauh tapi dia pengen lo lebih mengertiin dia. Lagian gue heran sama lo Vin, bisa-bisanya lo bertindak gegabah kaya gini," tukas Vallen sebal.


"Mana aku tahu semuanya akan berakhir kaya gini," Kevin menyenderkan punggungnya di dinding tanpa aba-aba. Dia cukup menyesal semua tidak berjalan sesuai rencananya.


Vallen ikut menyenderkan punggungnya dan menghela nafasnya dalam-dalam.


"Sekarang rencana lo apa?" tanya Vallen seraya melirik ke arah Kevin.


"Aku harus meminta maaf sama Almira dan meluruskan semuanya,"


Dengan sigat Vallen menanggapi, "tidak semudah itu bosque!" sindir Vallen.


Bersambung~