Between Hate and Love

Between Hate and Love
Awal Dan Akhir



Malam itu, langit tampak begitu gelap. Tidak ada bintang gemintang yang biasanya menghiasi langit malam. Gemuruh petir seolah jadi penghias suasana malam itu. Suaranya nampak bersahutan seolah tengah memanggil hujan untuk segera datang.


Waktu telah menunjukan pukul tengah sepuluh malam, di kediaman keluarga Rubbiantoro Jamil semua anggota keluarga dan para pekerja sudah memilih bergumul dengan selimut mereka. Namun berbeda dengan Namira, gadis itu adalah anggota satu-satunya yang belum tidur di kediaman Rubbiantoro Jamil.


Bukan tanpa alasan Namira memilih belum tidur, ia masih ada urusan yang harus diselesaikan.


Dari raut wajah yang ditampilkan, Namira tampak begitu cemas dan gelisah seolah ada yang mengganggu benaknya. Tubuhnya mondar mandir ke sana kemari sembari memegang benda pipih berwarna hitam.


Ya, Namira cemas dan begitu gelisah karena tengah menunggu telepon yang cukup penting. Terlihat dari cara Namira mondar-mandir namun matanya tak luput mengecek ponselnya itu beberapa kali.


"Dasar payah! Pada kemana sih mereka, kenapa masih belum mengabari gue!!" gerutu Namira, bibirnya dikerucutkan beberapa senti ke depan.


Ia kembali mondar mandir dengan tak tenang. Entah telepon siapa yang tengah Namira tunggu, yang jelas telepon itu sangat penting baginya.


"Kalau sampai dalam lima menit mereka belum mengabari gue, akan gue pastiin mereka gak akan menerima upahnya. Gue gak bakal mau bayar orang-orang yang gak becus kerja!!" cetus Namira penuh kekesalan.


Gadis itu kemudian berkomat-kamit menghitung waktu mundur. Dalam waktu 5 menit, dia berkomitmen tidak akan membayar orang yang tengah ia pekerjakan.


Dua puluh lima.


Dua puluh empat.


Dua puluh tiga


Dua puluh dua


Dua puluh sa...


Remember that I told, you will never be alone


Remember that I told, you will never be alone*


Namira buru-buru mengecek ponselnya yang berbunyi. Lantas mengangkatnya dengan cepat.


"Hallo Boss," sapa orang di seberang sana.


"Saya hanya ingin dengar berita bagus!" tukas Namira ketus melalui panggilan ponselnya.


"Ini berita bagus kok Bos, tenang saja."


"Katakan, berita bagus apa yang kamu bawa?"


"Target sudah pergi sesuai perintah Bos."


"Kamu sudah memastikan kalau dia benar-benar pergi?" tanya Namira kembali. Dari nada bicaranya, Namira benar-benar ketus. Dia memang sudah berubah semenjak merasa terkhianati oleh Kevin dan Almira. Sifat baik dan elegannya sama sekali sudah tidak ada dalam diri seorang Namira yang terkenal cerdas panutan semua muda mudi.


Niat Namira kini adalah menghancurkan Kevin. Tidak peduli jika harus melibatkan Almira, karena pada dasarnya hancur dan retaknya hubungan Namira dan Kevin memang disebabkan Almira. Meski tak sepenuhnya salah Almira, tapi Namira sudah kepalang sakit hati. Jadi kali ini dia ingin memastikan rencana berjalan mulus sesuai keinginan dirinya.


"Katakan, apa kamu sudah memastikan kalau Almira benar-benar pergi meninggalkan kota ini?" tanya Namira mengulang.


"Sudah Bos. Dia benar-benar pergi dari sini, tadi saya sempat juga ikutin dia pergi ke terminal Tanjung Priok."


"Lantas apa kamu juga memastikan dia naik bis? Saya tidak ingin kamu hanya memantau dia sampai terminal tapi tidak kamu pastikan dia pergi atau tidak!!"


"Saya sudah pastikan semua Bos, dia telah naik bis jurusan Jakarta - Karawang. Dia menuju ke sana," ucap si penelepon orang suruhan Namira.


"Bagus!!" seru Namira tersenyum licik. Batinnya begitu puas karena semuanya berjalan sempurna. Step by step rintangan yang ia hadapi akhirnya menyingkir.


"Terus apa lagi tugas saya Bos?" tanya si penelepon di sebrang sana.


Dengan lugas Namira pun menjawab, "Kamu tetap awasi rumah bekas kontrakan Almira. Kalau perlu selama seminggu kamu tak boleh lengah. Saya tidak ingin kita kecolongan. Karena Almira adalah anak yang plin-plan, jadi saya takut dia kembali lagi ke kontrakan itu. Pokoknya saya minta kamu pastiin semuanya clear tanpa Almira, PAHAM?!"


"Paham Bos. Saya akan jalankan sesuai perintah Bos. Akan saya awasi terus rumah kontrakan ini supaya saya bisa memastikan Almira memang tidak pernah kembali kemari."


"Bagus!"


Namira pun menutup panggilan teleponnya dengan orang sewaannya. Kemudian dia menyeringai licik lagi seolah belum puas melakukannya sekali. Senyumnya menyiratkan penuh kemenangan. Dengan begitu Namira bisa tertidur pulas malam ini.


"Hah.. kamu benar-benar sangat bodoh dan juga lemah Almira. Baru digertak saja kamu sudah kelimpungan takut. Tapi baguslah, dengan begitu aku tidak perlu susah payah menyingkirkan kamu dari Kevin. Karena kalau masih ada kamu di sekitar Kevin, rencana ku membuat Kevin menderita akan gagal total. Karena kamu sumber utama kebahagiaan Kevin. Jadi aku terpaksa menjauhkan kamu dari lelaki brengs*k tidak tahu diri itu!!"


Namira meremat ponselnya kuat-kuat. Setiap kali mengingat nama Kevin dan Almira selalu membuat hatinya serasa terbakar. Tak hanya itu, mengingat mereka tersenyum bersama seolah membuat seluruh organ tubuhnya serasa nyeri bagai ditusuk ribuan jarum, bahkan menghujam tepat ke bagian jantungnya. Oleh karena itu, membuat Kevin menderita adalah keinginan terbesarnya. Dan membuat Almira berada di pihaknya adalah sebuah rencananya meski harus menyingkirkan gadis malang tak berdosa itu.


"Ini adalah awal dari kebahagiaan aku, tapi ini adalah akhir dari cerita bahagia kalian berdua!!" decak Namira penuh emosi. Matanya penuh dengan kilatan amarah, sejalan dengan dadanya yang sesak terkungkung dendam.


"Apapun akan aku lakukan demi membuatku bahagia. Aku tidak akan merelakan siapapun bahagia sebelum aku mendapatkan kebahagiaan. Enak saja, kalian pikir kalian bisa bahagia saat aku sedih? Big no!! Aku akan memastikan kalian mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan wahai manusia brengs*k!! Camkan itu!!" Namira semakin meremat ponselnya, menyalurkan seluruh kekesalannya lewat rematan ponselnya. Jika saja ponselnya itu adalah sebuah benda cepat pecah, mungkin saat ini kondisinya sudah retak akibat rematan kuat dari jari jemari Namira.


Usai puas melakukan aksinya, Namira pun beranjak ke tempat tidurnya. Ia harus segera meredakan emosinya sebelum efeknya akan membuat penyakitnya kambuh. Ia sadar betul kalau dia tidak boleh terlalu banyak pikiran dan terlalu banyak mengeluarkan emosi. Dia harus selalu menstabilkan emosinya demi kesehatannya yang belum pulih seratus persen. Meski tidak ada tanda-tanda kalau penyakitnya masih terasa nyeri, namun Namira harus berjaga-jaga sampai ia bisa dinyatakan sembuh total.


Namira sadar betul tentang riwayat penyakitnya yang tidak main-main. Salah sedikit bisa fatal semuanya. Ia masih ingin hidup lebih lama lagi. Jadi dia harus tetap sehat agar bisa membalaskan dendamnya. Ia harus tetap menstabilkan emosinya agar nyawanya tidak terancam. Dengan begitu, niatannya untuk menghancurkan Kevin akan bisa dia tindak lanjuti.


Namira tidak ingin mati sebelum ia merasa bahagia dan puas. Ia ingin menikmati pemandangan yang langka dimana Kevin menderita, menangis, hancur dan tersedu-sedan karena cintanya tak lagi ada di sampingnya. Namira ingin melihat langsung proses kehancuran Kevin.


Terdengar egois dan cukup licik memang, tapi Namira merasa itu adalah hal yang wajar dan lumrah, apa salahnya Namira melakukan semua itu. Persetan dengan rasa iba. Bagi Namira baik rasa iba maupun perikemanusiaannya telah mati!! Jadi dia akan memastikan apa Yang ia inginkan tak akan terhalang oleh yang namanya rasa iba dan perikemanusiaan. Kehancuran Kevin adalah poin utama yang ingin Namira raih di sisa hidupnya.


Jika memang Namira harus mati, dia ingin mati setelah dia melihat Kevin benar-benar tak bersama Almira. Dia akan merasa tenang setelah dendamnya terbalaskan.


"Aku akan melakukan apapun yang aku mau, aku akan mengesampingkan rasa iba dan perikemanusiaan yang selama ini membuatku kalah dan lemah. Mulai detik ini, aku bertekad pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan peduli apapun kata orang. Saiko, jahat, licik, sadis, egois, arogan adalah sifat-sifat yang akan aku tanam dan lekatkankan dalam diriku mulai saat ini. Bye-bye kebaikan!! Aku sama sekali tak butuh kalian dalam pertempuran ini," ucap Namira diikuti senyuman jahat, lantas membanting tubuhnya di kasur tanpa aba-aba dengan suasana hatinya yang amat sangat menggembirakan.


Bersambung.