
Safira mulai berjibaku dengan peralatan dapur, benar yang Ken katakan, walau sebulan tinggal di tempat ini tanpa keluar rumah kau tidak akan pernah kelaparan. Safira menghela napas, memasak dengan bibir menggerutu.
"Yohan sialan, aku tidak ingin pergi ke tempat begini, apa lagi tinggal hanya berdua. Aku ingin pulang."
"Apa aku telpon Papah ya? Agar Papah pura-pura sakit dan minta aku jenguk dia. Hah, ide yang brilian, Safira." Safira mengambil ponsel dari saku celananya, dan menyalakan benda pipih tersebut. Diluar dugaan ternyata jaringan di tempat ini amat buru bahkan tak ada sinyal satu pun yang muncul di bagian atas layar gawainya.
"Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Rencana pertama gagal dan sekarang rencana kedua juga gagal. Aah, apa yang harus aku lakukan?" Safira mengacak rambutnya frustasi.
"Sayang, apa makanannya sudah siap?" Safira terkejut, apa yang dia dengar kata sayang? Apa kupingnya kemasukan air atau bagaimana?
"Ini halusi nasi, ini pasti halusi nasi." Safira bergumam pada diri sendiri.
"Sayang, apa makanannya masih belum siap?" Yohan mengulang kata-katanya lagi.
Safira membulatkan matanya, merasa heran, aneh, sekaligus tak percaya, sebuah kata yang bahkan tak pernah Ia bayangkan keluar dari mulut Yohan, "kau memanggilku?" Safira masih belum bisa mengatasi rasa keterkejutannya.
"Tentu saja, apa ada orang lagi selain kamu disini?"
"Oke, ini pasti mimpi," Safira menepuk-nepuk pipinya agar dia kembali ke dunia nyata, "aw, ini sakit! Berarti ini nyata?!" Yohan menatap cengo apa yang Safira lakukan.
"Ini memang nyata Fira. Sayang, aku ngajak kamu kesini untuk honey moon, kamu suka tempat ini?"
"Hah, honey moon?!" Kata kedua ini membuat dada Safira seketika berhenti berdetak, dia tersentak dan mundur beberapa langkah ke belakang hingga tubuhnya membentur meja kompor.
"Hey, hati-hati." Yohan mendekat membuat Safira semakin ketakutan.
"Sepertinya kau kelelahan karena perjalanan jauh makanya kau sedikit bermasalah." Dengan cepat Safira membawa hasil makanannya ke meja makan. Dan Yohan pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membantu Safira dan mendekatkan diri padanya.
"Ma-makanlah, katanya tadi kau lapar. Dimana Ken?" Safira mengedarkan pandangan mencari ke sembarang arah sosok Ken.
"Dia sudah pergi!"
"Hah, pergi? Kapan?" Safira tak percaya.
"Kita baru saja datang, Ken pasti kelelahan. Mengapa kau menyuruhnya cepat pergi!" Safira berjalan cepat keluar melihat mobil di garasi, dan benar saja mobilnya telah lenyap dari sana.
Safira masuk kembali ke dalam dan ikut duduk di meja makan, dia mulai mengisi piring dengan makanan pula, menyantap dengan kasar makanan tersebut, Yohan hanya tersenyum menatap istrinya berprilaku begitu, tingkah Safira cukup imut di matanya.
"Kenapa kamu senyum?" Safira melempar tatapan curiga.
"Senyum itu bukan sebuah dosa, kenapa aku tidak boleh tersenyum?" Yohan berucap masih dengan full senyum di wajahnya.
"Kau pasti sudah kerasukan setan di tempat ini." Safira merinding ketakutan. Sikap Yohan yang tiba-tiba berubah 180° rasanya sulit di percaya.
"Sayang, aku hanya ingin memperjelas hubungan kita. Aku tahu sikapku padamu sebelumnya sangat buruk, dan aku ingin memperbaiki semuanya." Yohan menyentuh tangan Safira, yang refleks langsung Safira hempaskan.
"Kau pasti sudah gila Yohan, ka-kau pasti hanya berpura-pura benarkan? Kau ingin mengerjai ku kan? Hah, ini benar-benar tidak lucu," Safira tertawa mengejek.
"Ini benar Safira, aku tidak bohong. Aku ingin memperbaiki hubungan kita, aku minta maaf atas sikapku sebelumnya."
"Oke, oke... Biarkan aku tenangkan pikiran dulu!" Safira menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan, menetralkan kemelut dalam otaknya yang tak ubahnya seperti benang kusut saat ini.
"A-aku ingin mandi, dimana kamarku?"
"Di lantai atas," Jawab Yohan masih menguyah makanannya, "mau ku antar?" tawarnya, yang seketika di tolak oleh Safira.
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
Safira berlalu menuju lantai atas, jantungnya berdegup kencang, perubahan sikap Yohan yang tiba-tiba begitu membuatnya amat terkejut, mungkinkah ini scenario Yohan lagi, untuk menyiksanya?
Safira memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri sejenak. Melarutkan rasa penat dan lelahnya dengan guyuran air hangat. Setelah itu Ia pun memakai baju mandi di atas lutut yang tersedia di sana. Safira keluar dengan balutan handuk di kepalanya, matanya seketika membola saat melihat sosok itu berselonjor kaki di atas ranjang.
"Yohan! Kenapa kamu masuk kesini?" Seketika Safira menjerit histeris.