Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 38 - Ungkapan perasaan



Langit jingga mulai menggelap, awan hitam berarak menutup secercah cahaya yang timbul dari ujung langit, Safira melangkah pelan menyusuri jalan, dia sengaja kabur dari sopir yang biasa mengantar jemput-nya bekerja, dia tak ingin berada di rumah sendirian, entah bagaimana kini dia merindukan pertengkarannya dengan Yohan.


Tet... Suara klakson motor terdengar dari belakang, membuat Ia sontak menoleh.


"Fira, kenapa kamu di jalan sendirian, mana suami kamu?" tegur seorang pria yang ternyata adalah Roger.


"Roger?!" Safira nampak terkejut, beberapa kali Ia mengerjapkan mata memastikan bahwa yang dia lihat adalah benar-benar Roger sang mantan kekasih.


"Iya ini aku," Roger turun dari kuda besi yang Ia tumpangi, "apa kabar?" tanyanya seraya berdiri memberi jarak.


"Aku baik, kamu sendiri?" Safira merasa canggung setelah kejadian di makam tempo hari mereka tak pernah berbicara lagi.


"Aku juga baik, maksudku hanya tubuhku," tapi tidak dengan hatiku, pasti kata itu yang hendak Roger sampaikan. Safira melempar pandang ke arah lain, sengaja tak ingin berkontak mata dengan pria yang kini berstatus sebagai mantan kekasihnya itu.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja." Roger memulas senyum.


"Kenapa kamu berjalan sendirian, ini sudah malam?" pertanyaan pertama terlontar kembali dari bibir Roger.


"Aku hanya sedang ingin saja, sudah lama aku tidak menginjak jalanan beraspal," ucap Safira memberi alasan.


"Apa kau sedang bertengkar dengan suami-mu?" Roger menatap serius.


"Tidak, kami baik-baik saja." Pikiran Safira kembali pada Yohan, hatinya sangat merindukan pria itu.


"Kau bohong!" Roger meraih kedua lengan bagian atas Safira lantas mencengkeramnya, "katakan padaku, apa suami-mu bersikap baik padamu?" desak Roger.


Safira melebarkan matanya, dia merasa terkejut dengan sikap Roger yang tiba-tiba begini, "lepaskan aku, kehidupanku baik-baik saja, kau jangan berpikir sembarangan!" Safira memberontak.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan-mu. Kau milikku sejak lama, justru pria itu yang harus melepaskan-mu," Roger membawa Safira dalam dekapannya, membuat gadis itu termangu seketika dia tak menolak sama sekali seolah perlakuan Roger membuatnya tersihir.


Namun tiba-tiba lengannya di tarik dengan paksa, membuat tubuhnya mengikuti arah lengan tersebut. Safira menoleh, ternyata orang itu adalah Yohan.


Deg...! Safira mengerjapkan mata, takut orang yang ada di hadapannya hanya sebuah ilusi, "Yo-han!" ucapnya pelan dengan bibir bergetar, sosok yang Ia rindukan beberapa hari ini kini tepat berada di sampingnya, menggenggam tangannya dalam diam. Pandangannya sarat ancaman untuk pria yang menjadi saingan cinta untuknya.


"Siapa pria itu?" kata itu yang pertama keluar dari mulut Yohan.


"Dia... Di-dia bukan siapa-siapa," insting menyuruh Safira berbohong, jangan sampai membuat Yohan marah.


"Benarkah? Tapi kalian terlihat sangat akrab." Yohan menatap Safira dengan padangan kecewa.


"Jadi kau suaminya? Kenapa kau membiarkan Safira berjalan kaki sendirian, kau tampak seperti orang kaya tapi tak mampu membuat dia hidup nyaman." Cibir Roger.


"Roger jaga ucapan-mu! Aku yang sengaja pergi sendiri karena merasa bosan, dia sudah lebih dari cukup memberiku segalanya." Lengan Safira Ia tautkan di lengan Yohan.


"Cih, hubungan kalian tidak baik-baik saja, aku tahu itu. Mana ada pasangan suami istri yang tampak kaku seperti kalian," Roger bersikukuh pada pendapatnya.


"Jangan menilai hubungan seseorang dengan cara pandang mu sendiri, kau tidak tahu seperti apa hubungan kami sebenarnya." Safira terus membela diri, namun tidak dengan Yohan pria itu hanya menatap Roger dengan diam, membiarkan pria itu mengatakan apa yang ingin Ia katakan.


"Kau tahu, Safira dan aku hampir menikah, kami saling mencintai, seandainya kau tidak datang dalam hidupnya, saat ini kami pasti sudah hidup bersama dengan perut Safira yang membuncit," Roger tersenyum menyeringai, dia sengaja memanasi Yohan.


Safira merasakan urat-urat tangan Yohan mengeras dia mengepal menahan amarah, "Yohan tolong jangan dengarkan dia, itu hanya di masa-lalu, tapi kini aku istrimu. Abaikan dia, ayo kita pulang." Safira berusaha menarik tangan Yohan, mengajaknya pergi. Namun, pria itu bergeming di tempat dia malah menghunuskan tatapan tajam pada Roger.


"Yohan!" Safira terperangah merasai Yohan melepaskan cengkraman tangannya dengan pandangan lurus ke-depan.


"Aku beri kamu kesempatan, jika kamu masih mencintainya, pergilah," ucap Yohan lirih. Safira menatap Yohan dengan mata berkaca-kaca.


Roger yang sejak tadi memanasi Yohan pun seketika terdiam, dia nampak terkejut dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Yohan, yang menurutnya tidak mungkin keluar dari mulut suami mana pun.


"Apa yang kau katakan?" Safira menatap tak percaya.


"Pria ini yang kau cintai kan, pergilah. Kejar kebahagiaanmu sendiri, aku membe--," Safira membekap mulut Yohan dengan jemarinya, dia menggelengkan kepala menyuruhnya untuk berhenti mengatakan apa yang hendak Ia ucapkan.


"Tidak, tidak aku tidak mencintainya, jangan menyuruhku pergi." Ulu hati Safira merasakan sakit yang teramat, saat Yohan menyuruhnya pergi.


"Lepaskan aku Safira, benar yang Ia katakan hubungan kita tidak baik-baik saja. Aku yang memaksamu, dan sekarang kau bebas." Yohan melepaskan tangan Safira yang mencengkram pergelangan tangannya.


Safira menarik dasi yang tergantung di leher Yohan, membuat wajah pria itu seketika tertari ke arahnya, hingga wajah mereka terpaut beberapa Inci. Sebuah ciuman ringan Safira daratkan di bibir Yohan, membuat pandangan pria itu melebar seketika, "sekali lagi kau menyuruhku pergi, aku akan menghajarmu!"


Yohan mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna apa yang terjadi, "Fira kau--," Yohan menyentuh bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Safira.


"I Love You, Yohan Alexander, bisakah aku tetap menjadi Nyonya Alexander?" Yohan menjawab dengan anggukan disertai senyuman penuh rasa bahagia.


"I Love you to Nyonya Alexander, sampai di dunia lain hanya kamu yang akan menjadi Nyonya Alexander, aku bersumpah!" Safira menubrukkan diri pada Yohan memeluk pria itu dengan erat, rasa rindu yang selama ini mengungkung hatinya kini terlepas sudah.


"Kamu kemana saja? Kau pergi tanpa kabar, aku sangat merindukanmu." Safira enggan melepas rangkulannya, lupa sudah dia pada Roger yang kini menatapnya dengan tatapan sakit hati. Harapan satu-satunya telah pupus, dia pikir dirinya akan bisa kembali mendapatkan Safira, saat mendapat balasan pesan tempo hari. Namun nyatanya, perasaan Safira untuknya telah sepenuhnya musnah, beralih pada pria yang kini bersetatus sebegai suaminya saat ini.


'Safira meski hatiku sakit melihat kamu bersama dia, tapi aku juga merasa bahagia karena kamu mendapatkan laki-laki sepertinya, yang bahkan lebih mementingkan kebahagiaanmu dari pada keutuhan rumah tangganya, semoga kau berbahagia!' Roger hendak menaiki kembali kendaraan roda duanya saat Safira memanggil.


"Roger tunggu!"