
"Tapi apa Mbak?" tanya Riri terheran saat Almira kembali menggantung kalimatnya. Membuat Riri jadi semakin penasaran kelanjutan ceritanya.
Sembari tersenyum, Almira menatap Riri yang tengah serius mendengarkan ceritanya. "Tidak usah dipikirkan!" kata Almira belum siap untuk menceritakan semuanya.
Sejujurnya Riri tampak sedikit kecewa. Ia sudah menyimak dengan begitu serius, namun klimaksnya Almira malah enggan membeberkan kelanjutan ceritanya. Tapi mau bagaimana lagi, itu hak Almira. Riri tak mungkin memaksa Almira untuk mengatakannya. Mau dipaksa sampai jungkir balik pun Almira sepertinya memang belum siap untuk cerita pada Riri.
"Hmm... baiklah kalau Mbak belum siap cerita, tidak apa-apa," ucap Riri ramah. Dia pun menyelipkan senyum ramah pada Almira.
"Aku minta maaf belum bisa cerita sama kamu. Soalnya setiap aku menceritakan setiap masalahku aku jadi teringat mereka, sekali lagi maaf ya Riri."
"Tidak apa-apa kok Mbak, kalau aku jadi Mbak juga mungkin akan melakukan hal yang sama. Jadi Mbak gak perlu ngerasa bersalah gitu sama aku," hibur Riri. Dia memang sedikit kecewa tapi dia mencoba untuk legowo dan bijaksana. Itu hak Almira dan Riri tidak terlibat dalam hal tersebut. Apalagi status Riri yang bisa dikatakan baru saling kenal, wajar jika Almira memilih bungkam.
"Oh ya, ngomong-ngomong Mbak mau tinggal di mana? Ini sudah agak gelap sih," ucap Riri lagi mengalihkan topik pembicaraan.
"Sebenarnya aku juga belum tahu mau tinggal di mana, tapi bisakah kamu bantu aku buat carikan hotel terdekat sekitaran sini, ponselku mati dan belum ter-charger tadi pas aku berangkat, makanya aku kesulitan buat booking hotel."
"Memang untuk berapa hari Mbak? Kalau rencana Mbak memang mau menetap di sini agak lama, gimana kalau Mbak nginap di tempat aku aja dulu?" tawar Riri.
"Tapi—" Almira tampak ragu. Biar bagaimana pun Riri orang baru yang patut Almira waspadai. Meski tampang Riri sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang jahat, tapi Almira harus tetap waspada demi kebaikannya.
Melihat ekspresi Almira yang tampak ragu menimang-nimang ajakan dirinya, Riri pun hanya tersenyum simpul seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Almira saat ini. Riri pun berinisiatif untuk meyakinkan Almira kalau dirinya bukan orang jahat ataupun orang yang akan memanfaatkan Almira. Riri memang tulus ingin membantu sesama, tanpa dasar apa - apa atau imbalan. Ia murni melakukan semua itu dengan dasar peri kemanusiaan.
"Mbak gak usah khawatir atau takut sama aku Mbak. Aku tinggal sama orang tuaku, di rumah aku ada ayah, ibu serta adik aku yang masih kecil. Aku gak tinggal sendirian kok, jadi mbak gak perlu takut atau ngira aku adalah orang jahat. Aku juga gak bakal memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, aku tulus nolongin Mbak. Soalnya kata nenek aku kalau kita baik sama orang maka suatu hari saat kita dalam kesulitan pasti ada aja yang akan nolongin kita sebagai balasan dari kebaikan yang pernah kita lakukan sebelumnya, aku percaya itu," jelas Riri dengan jujur.
"Bukan begitu... aku gak bermaksud mikir atau nyangka kamu yang nggak-nggak. Aku cuma mencoba waspada aja, lagipula kita kan baru saling kenal. Bahkan belum genap satu jam," elak Almira. Ia tak bermaksud menuding Riri orang jahat, hanya saja otaknya menyuruh Almira untuk lebih waspada terhadap orang baru. Bukankah lebih baik berjaga-jaga sebelum kejadian daripada menyesal dikemudian? Dan yang Almira lakukan sekarang tidak salah.
"Aku mengerti kok Mbak. Itu memang perlu kita lakuin apalagi di kota orang," tukas Riri mengerti. Dia pun akan melakukan hal yang sama jika ia berada di posisi Almira sekarang. "Tapi kali ini aku memang tulus bantuin Mbak, aku cuma kasihan aja masa ketika ada orang yang kesulitan aku cuma mantengin dan gak bertindak buat nolong sih?"
Almira salut dengan sikap baik hati Riri. Tapi ada satu hal lain yang membuat Almira masih mengganjal dalam hati. "Tapi emang gak keberatan kalau aku tinggal sementara di tempat kamu? Apalagi kamu bilang kamu tinggal bareng kedua orang tua kamu dan saudara-saudara kamu.. Memangnya orang tua kamu nanti ngebolehin?"
"Ya ngebolehin dong Mbak, kan kalau nolongin orang pahalanya besar. Masa anaknya nolongin orang lain orang tua aku bakal ngelarang sih? Nggak dong Mbak. Jadi tenang aja, orang tua aku pasti akan ngerti kok."
"Tapi..." Almira masih sedikit ragu. Dia tidak tahu harus mengelak dengan cara apa lagi agar Riri tak mengajak Almira menginap di rumahnya. Sejujurnya, Almira ingin sekali tinggal sementara bersama Riri. Tapi rasanya tidak enak kalau baru kenal sudah merepotkan orang lain.
"Gausah ada tapi-tapian lagi Mbak, hari udah makin gelap. Daripada Mbak pakai uang Mbak buat sewa hotel atau penginapan, mending uangnya buat tambahan nanti ngontrak kalau memang Mbak gak mau tinggal sementara bareng aku. Nah tapi untuk sekarang Mbak ikut aku aja dan menginap di rumah aku buat malam ini. Besok aku bantuin Mbak cari kontrakan, gimana?" usul Riri.
Almira berpikir beberapa menit. Benar juga apa yang dikatakan Riri barusan. Daripada menghambur uang buat sewa hotel malam ini, lebih baik ia hemat uangnya untuk tambahan biaya hidupnya nanti. Mungkin memang malam ini ada baiknya Almira menginap saja dulu. Toh, Ia juga tak punya pilihan karena Riri terus saja memaksanya untuk ikut.
"Ba-baiklah. Sepertinya memang aku harus menginap dulu malam ini. Badanku juga sudah pegal-pegal karena perjalanan jauh dari Jakarta ke Karawang, selain itu badanku juga udah pliket dan bau, harus cepet-cepet mandi ini mah," tutur Almira sembari mencium kedua ketiaknya yang wangi parfumnya dan deodorannya sudah sedikit mengabur efek terlalu banyak keringat yang dikeluarkan, apalagi dia tadi sempat lari-larian karena takut sama abang kondektur yang wajahnya gak santai sama sekali.
"Nah gitu dong Mbak. Kalau gitu, hayu kita berangkat!" ajak Riri sembari bangkit dari duduknya. Almira pun ikut bangkit dan mulai mengekor di belakang Riri. Mereka pun berjalan beriringan menyusuri jalan trotoar.
Selang 30 menit berlalu, Riri dan Almira telah sampai di kediaman Riri. Rumah Riri tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Rumah itu sederhana sama seperti rumah-rumah kampung pada umumnya. Seperti yang Almira tahu, Karawang memang bukan kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya. Karawang masih terbilang kota marginal di mana separuh wilayahnya adalan perkotaan dan separuh wilayahnya lagi adalah kampung atau dusun. Maka tak heran gedung-gedung di kota ini tak terlalu tinggi menjulang. Fakta berikutnya adalah, saat Almira melintasi trotoar tadi di sampingnya masih bisa Almira temukan beberapa petak sawah, dan di belakang rumah Riri juga terdapat beberapa petak sawah yang sebagian besarnya sudah hampir habis akan dibuat perumahan dan gedung-gedung ruko.
Riri mengetuk pintu rumahnya yang sederhana dan mengucapkan salam pada orang rumah. Sementara Almira masih berdiri mengekor di belakang Riri.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu.. Teteh pulang!" seru Riri menyebutkan namanya dengan panggilan Teteh (Bahasa Sunda) artinya kakak perempuan.
Ceklek!
"Walaikum salam..."
Pintu pun dibuka oleh seorang wanita paruh baya berkerudung abu-abu dan berkacamata minus yang mencangklok di batang hidungnya yang runcing. Almira meyakini wanita itu adalah ibunya Riri, sebab wajah mereka sedikit banyak memiliki kontur yang sama.
"Loh, Teteh pulang sama siapa ini?" tanya wanita paruh baya itu saat melihat kehadiran Almira berdiri di belakang tubuh putri sulungnya.
"Ibu ... ini Mbak Almira, kebetulan Teteh ketemu Mbak Almira di area terminal," jawab Riri mengenalkan Almira pada ibunya. Almira menundukkan kepalanya pertanda hormat, kemudian mencium punggung tangan wanita itu dengan sopan.
"Hallo Bu, saya Almira." Almira memperkenalkan dirinya ke wanita yang diklaim Riri sebagai ibunya itu.
"Nah Mbak Almira ini pendatang baru di kota ini. Teteh kasian aja tadi si Mbaknya kaya bingung gitu mau kemana, karena ini udah agak malem jadi Teteh ajakin ke sini buat nginep malem ini. Nggak apa-apa kan, Bu?" lanjut Riri.
"Nggak apa-apa dong Teh, kalau ibu jadi Teteh juga pasti akan ajakin Mbaknya. Teteh udah melakukan hal yang benar," sahut ibunya Riri dengan penuh keramahan. Almira jadi merasa semakin tidak enak telah merepotkan keluarga tersebut di hari pertamanya menginjakan kaki di kota Karawang.
"Maaf Bu, saya jadi ngerepotin Riri dan keluarga Ibu."
"Ih nggak ngerepotin kok Neng, sesama manusia kan memang harus saling tolong menolong. Kalau gitu ayo masuk!" ujar ibunya Riri begitu amat sangat ramah. Beliau pun menyuruh putrinya serta Almira untuk masuk ke dalam rumah. Riri dan Almira pun menurut.
Malam itu, Almira begitu bersyukur karena dilindungi oleh Tuhan. Betapa baiknya Tuhan mempertemukan Almira dengan orang-orang baik seperti keluarga Riri. Almira disambut baik di keluarga itu, padahal Almira bisa dibilang bukanlah kerabat atau sejenisnya. Mereka kenal juga belum lama, namun faktanya keluarga tersebut memperlakukan Almira begitu hangat. Kalau begitu caranya, Almira jadi ingin seperti Riri yang beruntung punya keluarga harmonis dan baik hati. Sayangnya, Almira tak mendapatkan semua itu dari keluarganya. Dicintai oleh keluarganya adalah hal yang mustahil untuk Almira saat ini. Bahkan saudari kandung sekaligus kembarannya saja menyuruh Almira untuk menjauh dari kotanya hanya karena perkara laki-laki. Memang malang nasib Almira.
Bersambung.