Between Hate and Love

Between Hate and Love
Atur Strategi Lagi



Dengan langkah tersugut-sugut Namira keluar dari kantor Kevin secara buru-buru. Ia merasa rencananya sudah tercium oleh Vallen. Sehingga, Namira harus lebih waspada acap kali bertatap muka dengan Vallen. Lelaki itu berbahaya dalam misinya.


Entah benar atau tidak kalau Vallen telah mengetahui rencana Namira, tapi Namira merasa kalau Vallen memang tengah mencurigainya. Itu artinya sedikit demi sedikit rahasia Namira selama ini terendus oleh orang lain.


Namira tahu, Vallen memang bukan lelaki bodoh yang bisa dikelabui layaknya Kevin. Karakter Vallen yang cenderung seperti bunglon itu yang membuat Namira harus lebih berhati-hati.


Bagaimana tidak, Vallen selalu dapat memecahkan masalah yang tengah di hadapi rekannya, baik masalah percintaan Kevin, masalah perusahaan, bahkan masalah Almira pun mungkin saja Vallen setitik demi setitik telah mampu menemukan titik terang. Oleh karena itu, tak heran jika Vallen jadi orang kepercayaan Kevin maupun Pak Gunawan, pemilik perusahaan The Gunawan Group sekaligus Papanya Kevin. Vallen memang sudah lama bekerja di sana yang memiliki jobdesk yang fleksibel. Kadang jadi asisten langsung bos besar, kadang menjadi asisten Kevin, dan yang lebih ekstreem lagi Vallen biasanya menjadi mata-mata yang diperintahkan oleh Kevin untuk menyelidiki kasus perginya Almira.


"Sialan! Bisa-bisanya Vallen mulai mengetahui akal bulusku. Aku tahu dia memang pria yang cerdik dan gak gampang tertipu daya oleh sikap manisku. Tapi tak kusangka dia secerdik itu. Padahal aku tidak pernah meninggalkan tanda-tanda yang mencurigakan, anehnya semakin aku terlalu berhati-hati dia malah semakin tahu kalau aku tengah merencanakan sesuatu." Namira begitu kesal. Emosinya meluap-luap sesaat setelah sampai di dekat mobilnya.


"Sial!! Ini gak bisa dibiarkan! Aku harus bisa membungkam Vallen agar dia tak menghasut Kevin agar mau ikut curiga juga, haishhhh... what the hell! Kenapa ada manusia seperti Vallen sih? Menghambat langkahku saja!" Namira berdesis dan mengumpat dengan amat sangat kesal. Dia tampak mondar - mandir gelisah di samping mobilnya yang terparkir tadi. Kebetulan, dia telah menghubungi mekanik secara diam-diam saat Kevin mengantarkannya ke hotel. Jadi sekarang keadaan ban mobilnya tak lagi kempes.


"Aku harus membuat Vallen tidak lagi bisa kepo apa yang tengah aku kerjakan saat ini. Aku tidak mau semua rencanaku yang telah aku susun secara apik harus berakhir tak sesuai harapan. Tapi gimana caranya melawan Vallen? Sementara ini otakku saja merasa buntu, hufffft... " imbuh Namira berdialog dengan dirinya sendiri.


Namira masih belum mau masuk ke dalam mobilnya. Ia masih setia mondar mandir memikirkan cara agar dapat menyingkirkan Vallen tanpa harus membunuh lelaki itu. Ia bahkan menggigit ujung kuku telunjuknya, berharap dengan begitu dia bisa mendapatkan ide brilian yang tiba-tiba muncul. Semoga saja!


"Duh c'mon Nami, kamu harus lebih cerdik," Begitulah kiranya decakan Namira yang terdengar seperti suara cicitan tikus pengerat.


"Berpikir Namira, berpikir! Kamu harus menyingkirkan Vallen tanpa membunuh seperti yang ada dalam cerita - cerita fiksi," sambil mondar mandir tak karuan, Namira masih saja berpikir keras. Ia tengah memikirkan cara menyakiti Vallen tanpa melukainya secara fisik. Ia ingin membungkam mulut orang yang ikut campur urusannya dengan cara halus. Dia tidak mau mewalan secara fisik, biar bagaimanapun Namira masih memiliki nilai-nilai keagamaan yang tentunya menjadi reminder Namira saat hendak berbuat nekat atau mungkin khilaf. Lagipula lebih aman menyakiti seseorang tanpa adanya kontak fisik ketimbang bertarung fisik secara langsung.


Namira menggaruk kepalanya dengan kasar. Bukan karena gatal atau sebagainya, ia hanya tengah mengekspresikan kesulitannya menemukan ide yang brilian untuk melancarkan aksinya.


"Hah, ini membuatku gila. Bisa-bisanya aku kesulitan berpikir seperti ini. Gak bisa dibiarkan! Aku harus segera menemukan ide sebelum semuanya menjadi gagal total," gusar Namira. Ditariknya lagi rambutnya yang terjuntai panjang.


Satu kata buat Namira saat ini. Gusar! Ya, dia tengah gusar karena tidak biasanya dia kesulitan mencari ide cemerlang, padahal dia sangat butuh ide-ide itu agar strateginya menghentikan kecurigaan Vallen dapat segera terselesaikan. Biasanya, Namira selalu bisa berpikir cepat. Namun kali ini berbeda. Dia benar-benar buntu.


Entah ada angin apa Namira mendadak bodoh seketika. Ia seperti bukan menjadi dirinya sendiri.


"Ah aku merasa kebodohan Almira mulai menempel pada otakku. Sialan! Bisa-bisanya kaya gini padahal aku ini sangat cerdas. Bahkan aku memiliki IQ kurang lebih 200, yang seharusnya tidak akan menemukan kesulitan dalam hal apapun, gak salah lagi .. ini pasti ketularan bodohnya Almira, haish..." Namira berdecak sebal dan mulai menyalahkan Almira lagi dan lagi. Gadis itu merasa mandeknya ide - ide yang sering muncul secara cepat, hilang begitu saja gara-gara Almira. Ya, dia ketularan kebodohan Almira.


Tapi apa daya, Namira terlanjur kesal pada semua orang yang berpihak pada Almira, adik kembarnya. Semua orang yang berpihak pada Almira harus Namira beri pelajaran, ia tak akan segan-segan membuat perhitungan bagi siapapun yang mencoba menghalang- halanginya untuk bertindak jahat pada Almira maupun Kevin, termasuk Vallen.


Tak jauh dari tempat Namira berada sekarang, orang yang sedari tadi menjadi penyebab utama Namira terlihat gusar dan kesal tengah mengawasinya dengan seksama. Dialah Vallen. Sejak kemunculan Namira di PT yang datang tiba-tiba beberapa menit yang lalu, Vallen sudah tampak curiga dengan gadis itu. Sehingga ia patut mengawasi Namira dengan seksama.


"Sudah aku duga, Namira yang sekarang begitu mencurigakan. Dia patut diwaspadai," tandas Vallen merasa menemui sedikit titik terang.


Seperti halnya yang tengah ia lakukan sekarang. Mengintai Namira pada radius dua meter secara sembunyi-sembunyi. Dan benar saja, saat Vallen mengawasi gerak-gerik Namira kali ini, dia jadi semakin yakin bahwa Namira yang sekarang bukanlah Namira yang dulu lembut dan baik hati.


Namira yang sekarang dapat Vallen rasakan sangat licik. Terlihat dari cara bicaranya yang terkesan berlebihan saat membujuk, merayu, meminta tolong atau lainnya. Terlebih, saat berada dekat Kevin, Namira selalu mencuri-curi pandang dengan tatapan sangat sarat akan makna. Bukan tatapan lembut nan hangat, tapi tatapan yang penuh selidik.


"Sejak awal setelah dia gagal tunangan sama Kevin, gue udah bisa mewanti-wanti bakalan kaya gini. Sayangnya si Kevin malah gak bisa melihat kelakuan aneh si Namira. Buta kalinya si Kevin, haduuuhhh..." decak Vallen menyayangkan sikap Kevin yang terjebak oleh kamuflase Namira.


Vallen terus saja mengawasi Namira yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil Namira pun perlahan-lahan bergerak meninggalkan tempat tersebut.


Dari situ, Vallen langsung panik tak terkira.


"Wah.. wah mobilnya mulai jalan, gue harus segera mengikutinya. Gue akan buktikan sama Kevin kalau apa yang tengah gue curigakan ini benar-benar bukan hanya sekedar omongan belaka. Si Namira memang sudah jadi manusia licik. Gue pasti akan menciduk gadis itu. Gue akan buktiin kalau dialah dalang dari semua ini."


Sambil menggerutu tak jelas, Vallen segera berbalik badan. Ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di parkiran belakang dengan ketar-ketir.


Selang beberapa menit, Vallen sudah mendapati mobilnya. Dia langsung melesak ke dalam mobilnya dengan tergesa-gesa. Bahkan ia juga hampir lupa memasang seatbelt. Beruntungnya, sekelebat akal sehatnya mampu mengendalikan dirinya untuk berpikir tentang keselamatan dalam mengemudi, hingga pada akhirnya dia tak jadi melupakan seat bealtnya.


"Gue harus buru-buru ngikutin mobil si Namira, gue gak mau kehilangan jejak dia saat ini. Gue akan mengikuti dia agar dapat bukti sejelas-jelasnya, jadi si Kevin gak nuduh gue menyudutkan si Namira mulu. Lihat saja! Gue akan bongkar keburukan si Namira," tandas Vallen setelah berhasil mengaitkan seatbelt pada tubuhnya. Lantas ia langsung tancap gas dengan kecepatan lumayan tinggi, meninggalkan area kantornya tanpa pamit pada Kevin.


"Sorry Vin kalau gue keluar kantor diam-diam di jam kerja kaya gini, tapi ini penting buat kebaikan lo sama Almira juga buat semuanya, " batin Vallen memohon maaf.


Bersambung.