Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 35 : Kecelakaan yang tak seberapa



Yohan dan Safira pergi dengan menaiki sepeda, mereka mengayuh kendaraan manual tersebut dengan santai sambil menikmati indahnya pemandangan, dinding yang terbuat dari batu karang terbentang sepanjang mata memandang.


Safira melirik Yohan yang nampak santai, akhir-akhir ini pria itu banyak tersenyum, seolah Yohan yang dulu telah lenyap dari muka bumi.


'Siapa pria ini? Apa benar dia Yohan yang aku kenal, dia sangat berbeda. Dia baik, manis, penuh perhatian. Tidak seperti Yohan yang dulu, arogan, pemarah dan suka memaksa dia akan melakukan apa pun yang dia anggap benar.' Batin Safira.


Yohan tersenyum tips, agaknya dia tahu wajahnya tengah di pandangi, "apa ada sesuatu di wajahku yang membuatmu tertarik?"


Safira langsung memalingkan wajah seketika dan Ia pun mempercepat laju sepedanya, namun tiba-tiba ada seekor ular melintas tepat di depannya membuat Safira mengerem seketika dan membuat dirinya terjatuh cukup keras.


Brak...!


Safira jatuh dengan sepedanya, membuat lutut beserta sikutnya berdarah.


"Fira kau tidak papa?!" Yohan tampak panik, dia menjauhkan sepeda yang Safira tumpangi dan melihat keadaan gadis itu.


"Aku akan menelpon pengawal-ku agar membawa Dokter kemari." Yohan sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya, namun Safira menghentikan niatnya.


"Yohan aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil."


"Tidak bisa, kau bukan hanya terjatuh kepala-mu juga terbentur, aku takut ada luka dalam yang kau alami. Kau harus memeriksa seluruh tubuhmu." Ucap Yohan masih dengan ekspresi wajah yang sama, raut kekhawatiran nampak jelas di wajah pria itu.


"Kau gila, aku tidak mungkin membiarkan orang lain melihat tubuh-ku, aku tidak mau!" Tolak Safira, "lagi pula ini hanya luka lecet pendarahannya bisa di hentikan dengan obat merah," tambah Safira.


"Baiklah, tubuhmu tidak usah di periksa, tapi luka-luka mu tetap harus di periksa, aku takut ini akan jadi Infeksi." Safira mendengus kasar, pria ini benar-benar keras kepala, padahal ini hanya luka kecil tapi dia bersikukuh ingin membawa Safira ke dokter, alhasil Yohan memanggil pengawalnya yang entah tinggal dimana menyuruhnya datang menjemput mereka.


Safira di bawa ke-rumah sakit di tengah kota, rumah sakit terbesar di kota ini dengan pasilitas terbilang lengkap, dan tentu saja harganya tidak murah karena ini bukan rumah sakit umum.


"Tunggu jangan berjalan sendiri, biar aku yang menggendong-mu!" Yohan turun lebih dulu dan mengitari mobil setengah berlari, dia lantas membuka pintu mobil dan memposisikan diri hendak memangku Safira.


"Yo-yohan, aku bisa berjalan kau tidak perlu menggendongku begini." Tolak Safira merasa enggan.


"Tidak, kau tidak boleh berjalan sebelum dokter menyatakan jika kau baik-baik saja." Yohan bersikukuh.


"Tuan, biarkan saya yang menggendong Nyonya, saya takut anda kelelahan." Ucap sang pengawal menawarkan diri sambil menunduk.


"Tidak, istriku biar aku yang mengurusnya, kau tunggu saja disini." Yohan bersikukuh, dia tetap menggendong Safira walau dia terus menolak.


"Suster, tolong istri saya dia kecelakaan!" Suster itu pun langsung sigap membawa blankar dan menyuruh Yohan membaringkan Safira di atas sana, mereka membawa Safira ke UGD.


"Dia terjatuh dari sepeda Dokter, saya takut ada luka serius yang dia alami, tolong periksa dia dengan lebih teliti." Safira hanya bisa menutup wajah karena malu.


Dokter itu pun menurut dia memeriksa semua bagian tubuh Safira yang mampu Ia jangkau, "apa istri anda sedang hamil?" pertanyaan itu membuat Yohan melongo.


"Masih belum," gumamnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Tidak ada luka serius yang di alami istri anda, Tuan. Dia sehat sepenuhnya, luka-luka tadi sudah saya bersihkan, tidak ada luka parah atau pun luka dalam." Ujar sang Dokter dengan yakin.


"Apa kau yakin Dokter?" Yohan masih saja tak percaya.


"Saya yakin Tuan." Dokter itu tampak sabar menanggapi Yohan yang menurut Safira tampak berlebihan.


"Baiklah, terima kasih Dokter. Apa Istri saya tidak perlu pakai Kruk?" tambahnya lagi.


"Tidak perlu Tuan, tulang Istri anda baik-baik saja." Dokter itu tersenyum sopan.


Safira merasa geram dengan tingkah Yohan, "aku sudah baik-baik saja Yohan, ayo kita pulang," Safira turun dari ranjang, membuat Yohan seketika mendekat dan memapahnya.


"Yohan, aku bilang aku baik-baik saja, aku bisa jalan sendiri oke." Tegas Safira, membuat Yohan seketika menghentikan niatnya.


"Baiklah."


"Kamu keluarlah lebih dulu, aku ingin bicara hal pribadi dengan dokter." Yohan mengangguk seraya berlalu.


"Dokter, tolong maafkan suami saya, dia terlalu berlebihan. Saya sudah bilang padanya jika saya baik-baik saja, tapi dia tidak mau dengar." Safira tak enak hati pada dokter wanita yang masih tampak muda itu, namun nampaknya usianya kisaran empat puluh tahunan.


Dokter itu tersenyum, "tidak papa Mbak, justru saya senang melihat seorang suami yang begitu menyayangi Istrinya seperti suami Mbak, dia melakukan itu karena dia sangat mencintai Mbak. Jarang-jarang loh ada suami ke-gitu paket komplit, udah ganteng, baik, perhatian, banyak duit, lagi." Kekehnya, membuat Safira ikut tertawa dengan canggung.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Dok, terima kasih banyak atas pengertiannya." Safira menyalami Dokter itu, lantas berlalu.


Yohan nampak berdiri memunggungi Safira, dia menunggu dengan sabar, hingga Safira keluar, 'apa benar Yohan mencintaiku? Apa ini bukan lagi skenarionya? Apa aku bisa mempercayainya?'


Yohan menoleh dengan senyum yang memulas bibirnya, "Apa sudah selesai?" Safira mengangguk sebagai jawaban.


Yohan dan Safira sudah kembali menaiki mobilnya, mereka duduk berdampingan namun dengan mulut membisu, Yohan dan Safira menatap jendela yang saling berlawanan, mereka tenggelam dalam dunianya sendiri.