Between Hate and Love

Between Hate and Love
Penyelidikan Vallen 3



Sambil celingak-celinguk, Vallen berjalan begitu hati-hati dan berupaya sepelan mungkin agar tak menimbulkan bunyi-bunyi aneh yang bisa saja akan membuatnya ketahuan.


"Lindungi gue Tuhan," batin Vallen memohon. Entah kenapa Vallen jadi teringat Tuhan jika dalam situasi yang mencekam seperti sekarang. Ah, mungkin semua orang juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah Vallen lakukan jika berada dalam situasi menegangkan.


Vallen amat sangat berhati-hati dalam melangkah. Dia tidak ingin ada yang tahu keberadaannya sekarang, termasuk Namira itu sendiri. Dia harus dapat bukti secepat mungkin sebelum semuanya fatal akibat ulah Namira.


Selain itu, Vallen juga tidak mau kehilangan pekerjaannya hanya karena melibatkan diri dalam kasus cinta segi tiga antara Namira, Kevin dan Almira. Tapi, untuk sekarang Vallen nekat ingin membongkar semua yang selama ini jadi unek-uneknya, yaitu Namira telah berubah menjadi orang jahat.


Saat ini Vallen telah masuk ke dalam rumah besar yang kumuh dan tak terawat itu. Hal pertama yang Vallen rasakan saat pertama kali menginjakan kaki di dalam rumah itu adalah kesan mistis dan segala antek-anteknya. Bagaimana tidak, jika di lihat dari luar, rumah itu tak terlalu mencurigakan dan masih bisa dibilang layak huni. Karena catnya saja hanya sedikit memudar. Namun jika masuk ke dalam, ternyata ruangan di dalamnya tak sesuai ekspektasi. Ruangannya berantakan, berdebu serta dinding - dindingnya sudah dipenuhi sarang laba-laba yang bergantungan di sana - sini.


Vallen tahu tidak seharusnya dia berpikir tentang hal mistis di situasi seperti sekarang, namun entah apa yang terjadi bulu kuduk Vallen tiba-tiba berdiri bahkan keringat dingin juga memprovokasi keadaan Vallen saat ini.


Sambil terus menatap langit-langit dan dinding-dinding yang sudah dihiasi lumut dan sarang laba-laba sebagai ornamen rumah tersebut, Vallen langsung bergidik ngeri serta mendumel pelan.


"Lagian ngapain sih si Namira pakai ke sini segala? Kaya gak ada tempat lain aja buat ketemuan. Ini makin menguatkan kecurigaan gue kalau begini caranya."


Vallen segera beranjak dan mencari keberadaan Namira, dia semakin yakin kalau Namira orang dibalik hilangnya Almira. Bahkan tingkat keyakinannya melampaui batas sebelumnya kalau Namira memang bersalah. Namira terlibat dan Namira adalah dalang semua hal-hal yang merumitkan kisah cinta Kevin dan Almira.


Meskipun seluruh semesta dan penghuninya tak ada yang percaya dan menolak keras dengan kecurigaan Vallen, tapi ia tetap bersikukuh akan membuktikan kalau Namira bersalah. Ia akan membuktikan kalau dia tidak hanya berucap belaka. Dugaan dia kuat meski tak memiliki dasar kuat.


Vallen terus mengayunkan kakinya, mengendap-ngendap sambil memasang mata awas. Dan langkah Vallen terhenti saat melihat sosok yang tengah di carinya berdiri di sebuah ruangan pojok.


"Nah itu dia, ketemu juga akhirnya" decak Vallen. Ia segera berlindung pada dinding ruangan tersebut saat matanya telah menangkap sosok Namira di sana.


Setelah itu, Vallen segera berlindung di balik dinding sembari mengintip pada daun pintu kebetulan keadaannya setengah terbuka.


"Eh, sama siapa tuh si Namira. Kenapa semuanya laki-laki? Mana badannya gede-gede pula. Bisa dibilang mereka lebih mirip seorang body guard atau orang suruhan, lantas apa hubungannya dengan Namira? Dan kenapa Namira tampak serius berbicara sama mereka?" pikir Vallen dalam hatinya. Otaknya bertanya-tanya apa sebenarnya yang tengah Namira lakukan.


Sambil terus mengawasi Namira, Vallen merogoh ponselnya yang tersimpan di saku celananya. Ia akan mengambil foto Namira atau bahkan merekam percakapan Namira dengan orang-orang tak dikenal itu. Vallen akan mengabadikannya agar ia bisa memberikan foto atau rekaman tersebut pada Kevin nanti.


"Sekarang sudah tidak ada yang bisa lagi mematahkan kecurigaan aku. Semua akan terbongkar sebentar lagi!" gumam Vallen yang suaranya lebih mirip seperti cicitan tikus.


Di sudut lain, sudut di mana Namira tengah berbincang-bincang orang suruhannya. Dia ingin memberikan tugas baru sekaligus tugas tambahan pada orang suruhannya.


"Ada apa bos, kenapa bos meminta kita bertemu di sini? Apa ada hal yang mau bos bicarakan?" salah satu orang suruhan Namira memulai percakapan. Namun nampaknya pertanyaan yang terlontar justru malah membuat Namira geram sendiri. Saking geramnya, ia bahkan tak segan-segan mengeplak kepala orang suruhannya dengan cukup keras dan kasar.


"Dasar bodoh! Kalau gue ke sini dan meminta lo semua kumpul berarti ada yang mau gue bicarakan sama lo semua! Kenapa Lo masih tanya, bodoh!" hardik Namira. Kata-katanya amat sangat kasar bahkan cenderung tak mencerminkan sosok Namira pada biasanya. Sosok Namira yang biasa dilihat semua orang adalah sosok yang lembut dengan tutur kata yang santun dan sopan. Sangat berbeda sekali dengan Namira yang kini tengah diawasi oleh Vallen.


"Maaf bos! Kita gak bermaksud—"


"Hentikan basa-basinya!" Namira mengangkat telapak tangannya, memberi kode pada orang suruhan yang tadi dikeplak kepalanya oleh Namira. "Sekarang gue punya tugas baru buat kalian semua," imbuh Namira.


Para orang suruhan Namira yang berjumlah lebih dari tiga orang itu pun saling memandang satu sama lain. Pandangan mereka terbilang bingung sekaligus terheran - heran.


"Apa masih ada kaitannya dengan Almira?" tanya salah satunya lagi?


"Apa bos mau menyuruh kita buat menyusul Almira ke Karawang?" timpal yang lainnya lagi.


"Ini memang ada kaitannya dengan Almira, tapi tugas baru ini bukan untuk menyusul Almira. Biarkan Almira di sana, dia sudah tenang. Selama dia tak macam-macam atau berencana pulang ke Jakarta kalian jangan coba-coba mengusiknya," jawab Namira ketus.


Para orang suruhan Namira itu mengernyitkan dahinya tak mengerti. Kemudian salah satu dari orang suruhannya bertanya lagi.


"Lantas apa tugas baru buat kami Bos?"


Namira menyeringai licik, kemudian mendatarkan lagi lengkungan bibirnya.


"Tugas barunya adalah hanya sedikit bersenang-senang dengan seseorang," ucap Namira ambigu.


"Bersenang-senang dengan seseorang?" celetuk semua orang suruhan Namira secara serentak. Mereka semua amat tak mengerti dengan penuturan Namira barusan.


"Maksudnya gimana ya Bos?" timpal salah satu dari orang suruhan Namira berambut kriwil.


"Ada orang yang mencoba mengacaukan rencana saya. Saya ingin kalian memberinya sedikit pelajaran."


"Memang siapa yang mesti kami bereskan bos?" imbuh si rambut kriwil. Dia tampak tak sabar menantikan kelanjutan kalimat Namira yang masih penuh tanda tanya.


"Vallen, coba kalian lihat ini!" ucap Namira sembari menyodorkan ponselnya yang menunjukkan foto Vallen. "Aku ingin kalian beri dia sedikit pelajaran."


"Pelajaran seperti apa yang bos mau? Yang sadis apa yang biasa - biasa saja? Tinggal bos tentukan, kami pasti bisa melakukannya dengan baik," kata si rambut kriwil mewakili kesanggupan dari teman-temannya yang lain. Mereka kemudian tersenyum licik bersama-sama.


"Kalian tak perlu memberikan sesuatu yang sadis. Kalian hanya perlu menekan atau membuatnya tak ikut campur lagi. Terserah apapun itu, saya yakin kalian punya cara tersendiri bagaimana menyakiti Vallen tanpa membuatnya mati," tandas Namira.


Si rambut kriwil itu pun lagi-lagi menyeringai remeh temeh. "Itu urusan kecil bos, kami bisa mengatasinya. Bos tinggal tunggu di rumah sambil ongkang-ongkang kaki menanti kabar dari kami."


"Baguslah. Kalau kalian berhasil, saya akan transfer tambahan upah kalian. Jangan khawatir, saya bukan orang yang pelit. Saya akan pastikan kalian sejahtera bekerja dibawah tangan saya," tutur Namira bernada sombong dan berkuasa.


"Thank you bos. Kami akan segera laksanakan!"


Sementara itu, Vallen yang masih menguping sambil merekam semua kejadian di dalam ruangan itu, tampak terperangah tak percaya saat dirinya adalah target kejahatan Namira selanjutnya.


"Sialan, berani-beraninya dia merencanakan hal itu," gumam Vallen sembari memundurkan kakinya, hendak kabur. Namun karena tak hati-hati Vallen tak sengaja menginjak sesuatu yang menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Hal itu tentu saja mengundang kecurigaan dari Namira di dalam sana.


Bersambung.