Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 30 : Liburan



"Yura akan menjalani pengobatan di luar negri!" Ujar Yohan tiba-tiba, membuat Safira yang tengah menikmati cup cakenya menoleh seketika.


"Luar negri? Kenapa?"


"Disana pengobatannya lebih bagus dan dokter-dokternya pun sudah berpengalaman. Aku ingin dia cepat sembuh." Ujar Yohan menjelaskan.


"Keadaan mental Yura cukup menghawatirkan, apa kau tidak takut dia kembali melakukan hal-hal yang tak terduga?"


"Tidak akan, dia sudah berjanji padaku."


"Apa kau menjanjikan sesuatu padanya?" Menilai dari sikap Yura yang masih seperti anak kecil, dia pasti meminta sesuatu sebagai imbalannya.


"Tidak, dia pergi atas keinginannya sendiri." Yohan berucap sedikit kikuk.


'Sebetulnya ada alasan lain sih, tapi aku tidak akan mengatakan padanya.' Batin Yohan.


"Tapi aku tetap khawatir padanya Yohan, meski usia Yura sudah cukup dewasa, tapi pikirannya masih seperti anak-anak, aku takut dia kenapa-napa tanpa kita diluar sana." Yohan tersenyum samar, dia senang melihat Safira mengkhawatirkan Yura, dia sudah seperti seorang Ibu yang mengkhawatirkan anaknya.


"Dia tidak sendiri, ada Paman dan Bibiku yang tinggal disana dan lagi pun mereka yang menyuruhku mengirim Yura ke tempat mereka. Lingkungan disana lebih nyaman, dan ada Putrinya Bibiku yang seusianya, Yura bisa belajar darinya." Yohan menyingkirkan rasa kekhawatiran di hati Safira, jujur Safira sudah sangat menyayangi Yura, terlepas dari siapa Yura bagi Yohan.


~*~


Setelah kepergian Yura keluar negri, suasana rumah semakin sepi, di meja makan hanya ada Yohan dan Safira yang selalu diam kala bersama.


'Ini sungguh mengesalkan, setelah Yura pergi dia semakin dingin saja. Bagaimana caranya, aku mendekatinya.' Yohan menggerutu dalam hati.


Safira selesai dengan sarapannya lantas dia pun berlalu lebih dulu, dia memutuskan menunggu Yohan di mobil saja. Disana sudah ada Ken yang menunggu mereka seperti biasa.


"Selamat pagi Nyonya!" Sapanya ramah, wajahnya seperti biasa selalu full senyuman.


"Pagi." Safira menjawab pendek.


"Apa Tuan masih di dalam?" tatapan Ken mengarah ke pintu mencari sosok Yohan yang masih belum terlihat.


"Dia masih sarapan." Safira bermain dengan ponselnya, dan membuka akun sosial medianya, dia menemukan sesuatu yang menarik di sana, chat pribadi dari Roger.


Deg... Safira terenyuh, ternyata selama ini Roger masih tetap berusaha menghubunginya, apa mungkin jika Safira katakan keadaan pernikahannya dengan Yohan, Roger mau mengerti dan menunggunya? Safira langsung membuka Chat tersebut dan membacanya.


[Fira, aku ingin bicara lagi denganmu!] Chat dari beberapa bulan lalu.


[Fira, kenapa kamu mengganti nomormu? Aku berusaha menghubungimu tapi tak bisa]


[Fira, aku ingin kau menjelaskan lagi bagaimana kau bisa menikah tanpa memberitahu ku? Fira balas pesanku, ku mohon😞] Dan masih banyak pesan-pesan lain yang Roger kirimkan.


[Roger, aku minta maaf. Aku baru membuka aku sosial media ku setelah sekian lama. Jadi aku tidak tahu kau mengirim pesan padaku.] Balasan dari Safira. Klik... Safira mengirim pesan balasan tersebut.


Bugh... Yohan masuk, dengan segera Safira Menyembunyikan ponselnya kembali. Meskipun hubungannya dengan Yohan tak seperti hubungan suami istri pada umumnya, namun Safira tetap tidak ingin Yohan melihat pesan Roger di handphone nya.


"Tuan, kita jadi pergi ke kota B?" tanya Ken memastikan.


Hah kota B? Safira mengerutkan dahinya, "ya, aku cukup lelah akhir-akhir ini jadi butuh sedikit liburan." Ujar Yohan membenarkan.


"Hey Ken, buka pintunya!" perintah Safira.


"Maaf Nyonya, Tuan tidak mengijinkan."


"Yohan, suruh Ken buka pintunya. Jika kalian ingin liburan pergi saja, aku ingin bekerja." Safira masih terus berusaha membuka pintu mobil yang terkunci itu.


"Kenapa aku harus menurutimu? Jalan saja Ken, jangan dengarkan dia." Ken pun menuruti perintah Yohan.


"Yohan, aku ingin turun. Hentikan mobilnya." Ucap Safira setengah berteriak.


"Terus jalan Ken, jangan dengarkan dia." Yohan melipat tangan di dada sembari menyandarkan punggung di sandaran kursi.


"Baiklah, kalau kalian tidak mau berhenti, aku akan lompat dari jendela." Safira sudah melongokkan kepalanya, namun Yohan langsung menarik kerah belakang baju Safira membuatnya seketika jatuh terjembap dengan kepala di pangkuan Yohan. Sepersekian detik mereka saling bersitatap, antara karena rasa keterkejutan masing-masing.


Seketika Safira bangkit dan kembali duduk pada posisinya, "dasar gila, kau mau mati hah?" Yohan berteriak karena kesal.


"Mungkin lebih baik mati, di banding harus hidup dengan orang sepertimu." Gerutu Safira kesal.


Yohan tersenyum masam, perlahan dia mulai mengerti karakter Safira, dia selalu memancing amarahnya, mungkin dia sengaja memicu pertengkaran di antara mereka, agar Yohan jengkel dan memilih untuk bercerai.


'Sekuat apa pun kau berusaha Safira, kau tak akan pernah lepas dariku. Seorang Safira hanya akan menjadi milik Yohan Alexander.'


Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan, mereka sampai di sebuah Vila yang tak jauh dari bibir pantai. Tempatnya nampak elegan, seperti sang pemilik. Safira turun Ia mengedarkan pandangan ke sembarang arah, di susul Yohan. Sedangkan Ken, dia pergi memarkirkan mobil.


"Bagaimana Indah kan pemandangannya, ini Vila milikku, untuk beberapa hari kita akan bersantai di tempat ini." Yohan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah perjalanan jauh.


"Tapi urusan kantor bagaimana?"


"Biar Ken yang menanganinya." Safira melirik manusia serba guna yang tengah menurunkan barang-barang dari bagasi tersebut. Entah sejak kapan kedua orang ini merencanakannya, bahkan mereka sudah menyiapkan barang-barang tanpa sepengetahuan Safira.


"Tapi dia disini, bagaimana mengurusi urusan kantor?"


"Dia akan kembali sore nanti. Sudah ayo buatkan aku makanan, aku lapar." Yohan berjalan lebih dulu menuju Vila tersebut.


"Jadi, kami hanya akan berdua di tempat terpencil ini? Ini sungguh tidak baik, aku harus bicara dengan Ken." Safira menghampiri Ken yang sedang menggeret koper milik Yohan.


"Ken, benar kamu akan pulang sore nanti?" Safira mengajukan pertanyaan sambil berjalan.


"Ya Nyonya, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya sambil tersenyum.


"Emh, bisakah kau tidak pergi? Siapa yang akan mengantarku berbelanja, kalau kau pergi, aku bahkan tidak tahu tempat ini dimana." Safira mencari alasan untuk menahan Ken tetap tinggal.


"Semua yang anda butuhkan selama tinggal disini sudah tersedia Nyonya, bahkan barang-barang pribadi anda juga sudah saya siapkan." Ucap Ken tenang.


"Tapi--," Safira hendak berucap kembali namun kedatangan Yohan seketika membuat ucapannya terhenti.


"Kau akan terus diam disana, suamimu sudah kelaparan, tapi kau malah asik bergosip!" Yohan melayangkan tatapan aneh pada Ken, yang di tatap langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Sabarlah sedikit, seharusnya kau bawa pelayan kemari. Rumah sebesar ini tidak ada pelayannya, kau tidak akan bangkrut hanya karena menggaji seorang pelayan." Gerutu Safira kesal, sembari berlalu.