Between Hate and Love

Between Hate and Love
Rencana Namira Setelah Putus



"Kerahkan semua orang yang bisa melacak keberadaan dia," tunjuk Namira pada sebuah foto yang tergeletak di atas meja. Saat ini dia tengah berbicara dengan orang-orang yang bertubuh kekar dengan setelan serba hitam-hitam. Mereka adalah detektif handal yang biasanya menangani kasus-kasus besar. Dan sengaja Namira menggunakan jasa mereka untuk menemukan Almira, biang dari semua masalahnya dengan Kevin.


Beberapa orang yang tengah berbincang dengan Namira itu menatap heran pada Namira yang memiliki wajah serupa dengan penampakan di dalam foto.


"Maaf Bu, kenapa ibu menyuruh kita melacak orang di dalam foto itu? Bukankah itu foto ibu sendiri? Lantas mengapa harus dilacak?" salah seorang yang dalam perbincangan tersebut menginterupsi, nampak keheranan dengan tugas yang diberikan sang calon tuannya.


"Bodoh!! Dia bukan saya, dia kembaran saya. Saya ingin kamu menemukan dia."


"Oooww, kirain saya itu foto ibu sendiri, hehe ..." orang yang tadi menginterupsi hanya ber-oh ria sembari menggosok tengkuknya yang tak gatal, dilanjutkan dengan kekehan aneh. Padahal situasi sedang menegang, namun orang itu malah melakukan lelucon yang sama sekali tidak perlu. Malahan, cenderung membuat Namira sedikit banyak merasa kesal. "Tapi ibu tenang saja, saya pastikan akan menemukan kembaran Ibu sesegera mungkin," imbuhnya.


"Ya itu memang harus, soalnya percuma kalau saya bayar mahal tapi kalian sama sekali tidak bisa diandalkan. Saya akan merasa rugi," pungkas Namira. Sudut bibirnya terlihat tidak berselera untuk sekedar melengkung sedikit.


"Ibu Namira tidak perlu meragukan kami," sambung peserta perbicangan yang lainnya.


"Ya, Bu. Kami akan menemukan gadis ini untuk Ibu. Beri kami waktu paling banyak selama seminggu, lebih dari itu uang Ibu boleh diambil lagi dari kami, termasuk uang DPnya," timpal yang lainnya lagi. Mencoba meyakinkan Namira kalau tim mereka adalah tim detektif profesional, dapat dipercaya dan handal.


Namira menarik sebelah ujung bibirnya, menampilkan seringaian yang cenderung terlihat licik. Sementara, supir yang sedari tadi mengekor di belakang Namira hanya terdiam dengan raut takut, cemas, dan juga gelisah.


"Saya akan tunggu!" seru Namira sembari bangkit dari duduknya.


"Pasti Bu," balas peserta lainnya. Ia pun menundukan kepalanya seolah tengah memberi hormat kepada kliennya yang menggunakan jasanya saat ini. Sementara, Namira langsung bergegas menjauh tanpa berbasa-basi lagi. Langkahnya begitu mantap dan elegan, mirip-mirip dengan para wanita sosialita yang berkuasa dengan uangnya. Dibelakangnya, mengekor supir pribadinya.


Semenjak putus dengan Kevin, Namira seperti berubah 180 derajat dari biasanya. Tidak hanya penampilannya, tapi juga sifatnya. Dia menjadi pribadi yang lebih keras, tegas, dan semena-mena.


Tidak peduli lagi terhadap sesama, tidak peduli lagi dengan kebahagiaan orang lain. Dendam akibat dipermainkan oleh seorang lelaki bernama Kevin, rupanya cukup membekas dan bercokol di kepalanya, mengakibatkan dia haruslah bertindak tanpa pakai perasaan. Menurutnya, lelaki seperti Kevin tidak layak untuk dipertahankan pun tidak pantas untuk di kejar.


Memang, balas dendam bukanlah hal yang baik dan hanya membuat luka lama menguar dan menganga lebih lebar. Tapi keteguhan Namira ingin membuat Kevin merasakan apa yang ia telah rasakan, membuat gadis itu jadi kehilangan akal dan rasa ibanya terhadap sesama manusia.


Ia tahu, manusia itu adalah sumbernya biang dosa. Tidak ada di dunia ini yang hidup tanpa dosa atau melakukan dosa. Semua manusia disini pasti berlumur dosa. Oleh karena itu, Namira akan melakukan sesuai logika dan akal sehatnya yaitu balas dendam pada siapapun yang membuat dirinya terluka tanpa memikirkan dosa.


Sama halnya seperti Almira, ia akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya merebut apa yang dia inginkan. Namira juga begitu, dia seolah mati rasa iba, mati penglihatan, mati pendengarannya. Segalanya dia yang boleh atur, meski semesta dan Tuhan tak mengizinkan. Oleh karena itu, Namira tak tanggung-tanggung ingin membuat Kevin sama sakitnya dengan apa yang dia alami. Tentunya caranya cuma satu, yaitu membuat lelaki itu tidak bersatu dengan Almira.


Namira masuk ke dalam mobilnya, raut wajah imutnya berubah menjadi raut tegas dan penuh dendam. Bahkan supir yang menemaninya saja, merasa heran dengan perubahan sikap Namira yang tergolong tak biasa.


"Maaf Mbak Namira, bukannya saya mau ikut campur dengan urusan keluarga Mbak, tapi apakah Mbak yakin mau menyewa para detektif itu untuk mencari kembaran Mbak?" tanya sang supir dengan ekspresi ragu-ragu. Ia mempunyai firasat buruk kalau seseorang sudah berhubungan dengan para detektif.


Namira melengkungnya seulas senyum tipis, lantas menjawab dengan kalem. "Kenapa? Apa bapak pernah punya pengalaman buruk dengan para detektif?" tebak Namira, ia seolah tahu maksud gegalagat aneh yang ditunjukan oleh supir yang baru direkrutnya selama kurang lebih dua bulan.


Supir itu menggeleng, lantas menimpali pertanyaan Namira. Menjelaskan maksud dari sikap tidak biasanya tersebut. "Maaf Mbak, bukan begitu. Saya sering lihat di film - film kalau orang yang memakai jasa detektif ujung-ujungnya akan berakhir negatif. Saya takut kalau Mbak tiba-tiba ..." sang supir itu menjeda kalimatnya.


"Tiba-tiba nyakitin target saya?" pangkas Namira.


Sang supir pun lagi-lagi menggelengkan dengan cepat. Ia tak bermaksud menuduh ke arah situ. "Eee... eu bukan Mbak, maksud saya ... duh gimana ya ngomongnya," gumam sang supir gelagapan. Ia seolah tercekat dan sulit sekali melanjutkan kata-katanya. Ia takut salah bicara lebih jauh, meskipun pada dasarnya ia memang sudah salah bicara dan terkesan lancang. Beruntung, bos barunya itu masih bisa mentolerir perbuatannya.


Namira tergelak begitu nyaring saat melihat raut wajah kebingungan bercampur takut dari supirnya. "Bapak gak perlu cemas, saya menggunakan jasa detektif semata-mata mau mencari adik saya, saya tidak ingin menyakiti atau melukai adik saya seperti apa yang tengah ditakutkan bapak sekarang. Saya memang merasa kesal pada mantan saya karena lebih memilih adik saya, tapi bukan berarti saya akan menyeret adik atau bertindak kekerasan pada adik saya. Dalam masalah ini, yang paling salah adalah Kevin— mantan saya. Saya akan memberikan sedikit pelajaran yang tak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya. Caranya ... mungkin saya akan menggunakan bantuan Almira nanti. Tapi Bapak gak perlu takut, saya tidak akan berbuat anarkis. Jadi stop berpikir negatif pada saya, Pak. Mengerti?" terang Namira panjang kali lebar. Diujung kalimatnya, ia menambahkan sebuah kata yang wajib sang supir itu patuhi.


"Mengerti Mbak, maafkan saya karena telah lancang menuduh Mbak yang tidak-tidak," jawab si bapak supir itu dengan raut tertekan. Meskipun Namira sudah menjelaskan maksud dan tujuannya menyewa detektif untuk melacak Almira, tapi entah kenapa si bapak supir masih nampak cemas dan gelisah. Ia tetap tidak bisa mempercayai bos barunya itu sepenuh hati. Perasaan si bapak supir itu tetap saja berkata lain. Ia tetap merasa kalau Namira tetap akan berbuat nekat. Ia juga merasa Namira tengah berdusta padanya. Namun apa daya bapak supir tersebut? Kalau dia ikut campur terlalu jauh, takutnya bos barunya itu akan tersinggung. Lantas, nanti memecat si bapak supir tersebut sesukanya. Alhasil, si bapak supir itu hanya diam tanpa babibu atau kepo lagi. Ia tidak mau, demi menyelamatkan orang yang belum pasti dijahati oleh kembarannya sendiri, eh malah dia yang kena imbasnya.


Bersambung.