
"Udah deh ah!! Ngapa jadi bahas ini sih? Katakan, sebenarnya kamu ngehubungin aku mau ngapain?" geram Kevin mengalihkan topiknya ke awal.
"Eh iya lupa... sebenarnya gue bawa berita buruk buat lo!!"
"Apa?! Berita buruk?" refleks, mata Kevin membulat sempurna.
"Iya, ini tentang Almira. Dia sepertinya kabur lagi."
Ciiiiiiitttt
Refleks, Kevin menghentikan mobilnya secara paksa saat mendengar berita buruk yang berhubungan dengan Almira. Kevin tidak sadar kalau aksinya barusan membuat Namira juga jantungan setengah mati.
"Vin? Apa-apaan sih kamu?!" Namira meninggikan nada bicaranya.
Alih-alih meminta maaf karena hampir membahayakan Namira, Kevin malah menoleh ke arah Namira tanpa kata-kata. Namira yang kebetulan sedang menoleh ke arahnya dengan tatapan terkelojot-kelojot langsung meredakan amarahnya yang hampir memuncak saat Kevin hanya diam melongo takut. Namira ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Kevin bertindak seperti itu.
"Ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi pada perusahaan?" tebak Namira.
Kevin menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak mungkin menjawab kalau yang membuatnya refleks tersebut bukan tentang perusahaan atau yang lainnya. Namun tentang Almira.
"Kenapa malah diam Vin?"
"Aa... tidak, maafkan aku Nami. Aku gak sengaja menginjak pedal rem. Hehehe," jawab Kevin polos. Ia tidak tahu harus melontarkan alasan apa yang lebih relevan selain daripada alasan itu. Otaknya terlalu mandek untuk berpikir lebih cerdas agar Namira tak curiga bahwa yang membuatnya begitu adalah karena kabar yang dibawakan Vallen tentang kepergian Almira, yang entah kemana gadis itu kabur lagi.
"Tapi aku sekilas dengar kalau kamu nyebutin berita buruk, memangnya berita buruk tentang apa kalau bukan tentang perusahaan kamu?" tukas Namira menyelidik.
"Jika memang bukan tentang perusahaan pasti hal buruk itu tentang si bodoh Almira itu," batin Namira.
Sejatinya, Namira cukup mampu membaca gerak-gerik yang ditampilkan Kevin saat ini. Hanya ada dua hal yang membuat lelaki itu begitu terkejut - kejut. Tentang perusahaan dan Almira yang katanya cinta sejatinya, wanita pilihannya. Namira yakin, jika memang bukan tentang perusahaan pasti ini semua ada hubungannya dengan Almira yang pergi akibat permintaan Namira. Jika memang begitu, Namira saat ini menang. Namun, Namira tak mau muluk-muluk dan berbahagia dulu. Ia ingin memastikan bahwa dugaannya tersebut keluar dari mulut Kevin langsung.
"Katakan, jika memang bukan tentang perusahaan, apakah ada hal lain yang membuat kamu begitu terkejut?" desak Namira lagi.
"Eee... anu... aku," Kevin tergagap sudah saat Namira mendesaknya untuk memberitahu hal buruk apa yang tengah menimpa dirinya. Kevin seperti kehilangan kosa kata dan jati dirinya jika dihadapkan dengan Namira.
"Aku... anu maksudnya apa Vin? Kamu kenapa? Hal buruk apa memangnya yang tengah menimpa kamu?" untuk ketiga kalinya Namira mendesak Kevin untuk berkata jujur. Namun, Kevin masih saja bungkam.
Kevin bungkam bukan berarti dia bisu, dia hanya tidak punya nyali untuk mengatakan sejujurnya pada Namira. Kevin belum siap jika mengatakan sebenarnya selama ini dia tahu keberadaan Almira. Kevin juga belum siap jika Namira tahu bahwa Almira adalah orang yang membuat hati Kevin memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Namira.
"Berita yang dibawa oleh Vallen yang katanya buruk ini sebenarnya..." Kevin masih saja ragu, di detik-detik terakhirnya ini dia masih berusaha Tuhan mau memberinya ide brilian yang bisa dia jadikan alasan agar Namira percaya.
Sementara itu, Namira mencondongkan tubuhnya dengan serius. Menatap Kevin lekat-lekat dengan memasang telinga yang sudah dia siapkan untuk mendengar alasan Kevin dengan seksama. Walau Namira tahu kemungkinan terbesarnya Kevin pasti memilih berdalih.
"Sebenarnya ini hanya pranknya si Vallen aja," hanya kata itu yang mampu Kevin lontarkan pada Namira. Kemudian dia menyengir layaknya keledai bodoh.
"Prank?"
"Ya, prank. Jadi tadi si Vallen cuma ngeprank aku aja. Dia bilang bawa berita buruk padahal mah nggak. Dia cuma ngada-ngada aja. Hehehe ... yaudah aku lanjutkan telepon dulu ya, lihatlah... kebiasaan si Vallen gini, kalau aku gak matikan teleponnya pasti dia gak mau matiin telepon duluan," Kevin mulai berdalih meyakinkan Namira dengan memperlihatkan layar ponselnya yang masih terhubung dengan panggilan Vallen di sebrang sana pada Namira. Kevin berharap dengan begitu dia bisa sedikit menghindari pertanyaan - pertanyaan lain dari Namira.
Kevin sadar bahwa alasannya barusan tidak masuk akal sama sekali. Namira juga bukan gadis bodoh yang bisa percaya begitu saja dengan ocehannya barusan. Namun setidaknya, dengan aksinya barusan yang memamerkan ponselnya pada Namira, ia jadi bisa langsung memfokuskan diri pada ponselnya lagi.
Dan benar saja, Kevin langsung menempelkan lagi benda pipih itu pada telinga kirinya. Melanjutkan kembali obrolan dengan Vallen melalui ponsel. Ia bahkan keluar dari mobil sport merahnya agar bisa lebih leluasa mendengarkan berita tentang hilangnya Almira lagi. Kevin begitu khawatir pada gadisnya itu. Sampai-sampai Kevin mengabaikan Namira yang masih ada di dalam mobilnya. Membiarkan gadis itu melongo tak percaya dan kesal sendiri dibuatnya.
"Sialan!! Ini pasti tidak salah lagi kalau berita buruk yang dimaksud Vallen dan Kevin itu pasti tentang Almira," umpat Namira kesal. Buku-buku jemarinya merekat dengan erat. Meski ia bermaksud untuk menghancurkan perasaan Kevin, namun faktanya rasa cemburu dan rasa tidak relanya kini masih ada untum lelaki itu.
"Kenapa sih harus Almira lagi, Almira lagi? Seperti tidak ada hal lain saja. Bahkan dia bisa langsung melupakan keberadaanku jika mendapat kabar mengenai Almira. Dia lupa kalau aku ada di sini.. menyebalkan!" lanjut Namira, semakin tak terima saja dirinya menjadi nomor dua.
Namira menatap Kevin yang tengah serius dengan obrolannya melalui telepon. Namira sungguh-sungguh ingin tahu lebih detail sebenarnya apa yang terjadi dengan Almira.
Tanpa aba-aba, Namira pun mengambil ponselnya dan jemari-jemari lentiknya langsung mengetikan sesuatu pada layarnya.
Namira: Katakan, sebenarnya apa yang terjadi di rumah kontrakan Almira? Apa gadis itu kembali lagi ke kontrakannya? Kebetulan aku menyaksikan bahwa Kevin tengah terhubung dengan panggilan telepon Vallen dan mereka membicarakan tentang Almira. Mereka mengklaim itu kabar buruk, tapi aku tidak tahu pastinya tentang apa.
Namira langsung mengirimkan pesan tersebut pada orang suruhannya yang ia tugaskan untuk mengawasi kontrakan Almira waktu itu. Ia berharap dengan mengirim pesan itu pada orang suruhannya, ia jadi bisa mendapat kejelasan berita buruk apa yang dimaksud Kevin dan Vallen sekarang. Namira tidak mau jika kabar buruk itu ternyata berpihak padanya. Ia tidak mau semua rencana yang ia susun gagal total dan berantakan begitu saja. Namira ingin semuanya terkendali dibawah tangannya.
"Tidak ada satupun yang boleh bahagia kecuali aku. Aku tidak akan membiarkan Kevin bertemu lagi dengan Almira," tekad Namira.
Tak lama, orang suruhan Namira pun membalas pesan Namira. Buru-buru Namira membacanya sebelum Kevin kembali masuk ke dalam mobilnya dan memergoki Namira, apalagi sampai ketahuan aksi buruknya.
Orang suruhan: Gawat bos, tadi ada lelaki berperawakan putih dengan tinggi badan kira-kira 168 cm memergoki saya tengah mengawasi kontrakan Almira. Untungnya saya segera kabur sebelum lelaki itu bertanya-tanya pada saya. Tapi agaknya dia mulai curiga sama saya, soalnya saya sekilas lihat dia kaya natap saya layaknya orang jahat.
Namira: Ya memang kamu orang jahat, dasar bodoh!!
Bersambung.