Between Hate and Love

Between Hate and Love
Analogi Vallen



"Tapi Viiinn..." keluh Vallen. Dia merengek seperti anak kecil tujuh tahunan saat dugaannya tak digubris dengan baik oleh Kevin. "Lo harus ingat, Namira pernah Lo sakitin. Sebaik-baiknya orang, kalau udah merasa tersakiti pastilah ada sisi bencinya juga. Apalagi hati manusia itu gampang berubah-ubah. Mungkin kemarin baik, bisa saja saat ini dia berubah jadi licik," Vallen kembali mengutarakan opininya. Sebisa mungkin dia harus bisa meyakinkan Kevin agar memiliki sedikit rasa curiga terhadap Namira.


"Ah kamu itu kebanyakan nonton sinetron jadi ngawur ucapannya. Udah ah, gak usah dilanjutkan Len, lebih baik kita balik ke kantor. Besok kita lanjutkan lagi mencari Almira," anjur Kevin sembari mengayunkan kakinya menuju mobil yang terparkir tepat di belakang mobil Vallen.


Vallen mengekor di belakang Kevin. Ia tak patah arang untuk meyakinkan Kevin bahwa dia tak sedang bercanda. Dia memang belum punya bukti kalau Namira pelakunya, tapi setidaknya temannya itu harus berhati-hati terhadap Namira. Oleh karena itu, sekuat tenaga Vallen berusaha membuat Kevin untuk mau mendengarkan kecurigaannya.


"Vin, kamu tahu kan film Joker, bagaimana karakter Joker pada awalnya hingga jadi manusia yang jahat? Dari film itu bisa kita petik hikmahnya bahwasanya manusia yang jahat terlahir dari orang yang tersakiti. Aku pikir Namira juga seperti itu, kamu harus waspada Vin," terang Vallen sembari melangkah tergesa-gesa di belakang Kevin.


Kevin semakin tak mau menggubris. Pernyataan Vallen kali ini tidak bisa diterima. Menganalogikan Joker dengan Namira sangatlah tidak pantas. Joker hanya cerita fiktif, sementara Namira? Gadis itu nyata. Lagi pula Kevin yakin bahwa Namira tak sekeji Joker.


"Viiin..." Vallen masih merengek minta Kevin percaya, nahasnya hal itu malah ditolak mentah-mentah oleh Kevin.


"Duh Len, analogi kamu itu kejauhan. Kamu makin ngaco aja tau! Pokoknya aku gak mau denger apapun kalau kamu masih jelek - jelekin Namira. Gak, pokoknya aku gak mau denger!"


"Tapi Vin, harusnya Lo percaya sama gue bukan malah jadi pihak oposisi begini. Gimana sih Lo?!"


Kevin lagi-lagi tak menggubris, dia malah mempercepat langkahnya. Setelah itu, dia langsung menarik pintu mobilnya dan langsung melesak masuk.


"Vin... kok Lo jadi bebal gini sih? Dengerin gue dulu Vin," cegah Vallen sembari menggedor kaca mobil Kevin. Berharap agar lelaki itu mau menurunkan kaca mobilnya dan mendengarkan sangkaannya.


Kevin menurunkan kaca mobilnya, melirik tajam ke arah Vallen. "Pokoknya aku gak mau denger apapun kalau kamu masih mencoba menghasut aku buat percaya semua omongan kamu mengenai tuduhan gak berdasar kamu itu," tegas Kevin.


Vallen menarik rambutnya dengan gusar. "Harus gimana lagi sih bikin Lo percaya!! Gue gak menghasut Lo, gue cuma mau nyadarin Lo kalau selama ini Lo udah dibutakan sama sikap manisnya Namira. Please lah, Lo setidaknya percaya sama gue dikit aja Vin," harap Vallen begitu pasrah.


"Len, aku gimana bisa percaya kalau sedari tadi kamu terus-terusan menuduh Namira. Kamu kan pernah bentak aku soal aku yang nuduh orang asing itu yang membuat Almira pergi. Kata kamu, aku gak boleh nuduh sembarangan kalau belum ada bukti. Nah sekarang kenapa malah jadi kamu yang nuduh orang lain tanpa bukti?" Kevin mengingat-ngingat kata-kata Vallen ditelepon beberapa jam yang lalu. Dan Vallen cukup merasa terhantam dengan perkataannya sendiri.


Dia memang menyarankan Kevin untuk tak bertindak gegabah dengan menuduh orang tanpa ada bukti. Namun, kali ini dia sendiri yang melakukan hal tersebut. Entah atas dasar apa, Vallen begitu berani mendakwa Namira padahal dia jelas-jelas tak ada bukti.


Namun jika menilik semua kejadian tadi, serta insting yang kuat dari lubuk hatinya yang paling dalam, Vallen amat sangat yakin kalau dia berhak mendakwa Namira. Gadis itu tetap jadi terdakwa utamanya di mata Vallen. Dan Vallen akan membuktikan kalau apa yang ia perkirakan memang benar adanya. Insting Vallen gak bisa dibohongi. Terlalu kuat hingga Vallen berani bertaruh kali ini dia tidak akan salah lagi menuduh.


"Udah deh Len, lebih baik kamu masuk ke dalam mobil kamu. Setelah itu kita kembali ke kantor!" anjur Kevin tanpa babibu lagi, dia langsung menutup kaca mobilnya. Memutus pembicaraannya dengan Vallen.


Tak lama, terdengar deru mesin mobil Kevin yang menyala. Lima belas detik kemudian, mobil itu pun perlahan pergi meninggalkan Vallen yang mematung tak percaya.


Vallen menatap mobil Kevin yang kian detik kian jauh, sembari bekecipak kecewa Vallen pun akhirnya membalikkan tubuhnya ke arah mobilnya.


"Lo lihat Vin, gue bakalan buktiin kalau si Namira itu adalah dalangnya dari semua ini. Lo lihat aja nanti, gue bakalan tunjukin buktinya!" gerutu Vallen. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya dengan dumelan yang belum juga berhenti keluar dari mulutnya.


Vallen telah sampai di kantornya, dia pun segera bergegas ke dalam ruangan milik Kevin. Dia masih tak gentar untuk sedikit meyakinkan Kevin bahwa dugaannya tak melenceng.


Cklek!


Tanpa aba-aba dan tanpa permisi juga, Vallen langsung menarik handle pintu ruangan Kevin-bos sekaligus temannya. Dia memang sudah biasa masuk selonong boy jika mau ke ruangan Kevin, sebab Kevin pun tak pernah mempermasalahkan hal itu.


Kevin tengah duduk di kursi kebesarannya, matanya fokus menatap layar persegi empat yang ada di hadapannya. Sementara jari jemarinya sibuk menari-nari di atas keyboard putih.


"Mau apa lagi sih Len?" tandas Kevin tanpa beralih dari kegiatannya, bahkan melirik saja tidak. Ia bisa tahu Vallen yang masuk ke ruangannya meskipun tanpa melihat jelas, karena memang sudah jadi kebiasaan bahwa Vallen sering sekali selonong boy jika ke ruangan Kevin. Terlebih, tadi mereka habis berdebat saling mematahkan opini masing-masing.


"Harusnya Lo dengerin gue, Lo percaya sama gue. Sedikit aja!" bujuk Vallen. Rupanya dia benar-benar tak gentar agar Kevin mau percaya padanya.


Sebenarnya Vallen tak perlu melakukan hal tersebut. Mau seribu kalipun meyakinkan Kevin tetap saja lelaki itu masih ragu untuk percaya sama Vallen.


Awalnya memang Vallen tak mempermasalahkan Kevin mau percaya atau tidak. Tapi setelah ditimang-timang, Vallen masih butuh kepercayaan Kevin walau hanya secercah. Paling tidak, jika Kevin memberikannya setitik kepercayaan pada Vallen, dia jadi bisa leluasa menyelidiki dugaannya tersebut.


"Lo harus percaya sama gue, dikit aja Vin, please!" harap Vallen sembari mengguncang lengan Kevin dengan sedikit manja.


"Please," ulang Vallen lagi tak mau menyerah.


Kevin jengah. Ia pun menghela napasnya dengan berat. Lantas mendelik sebal ke arah Vallen yang tengah memasang puppy eyes.


"Cih! Menggelikan sekali kamu Len, apa-apaan sih kamu tuh!" decih Kevin risih sekaligus jijik. Menepis tangan Vallen yang bergelayutan di lengan Kevin.


"Lo harus percaya sama gue kali ini. Please... Lo boleh deh gak percayaan sama gue nanti, asal Lo percaya sama gue kali ini doang. Ini penting banget Vin. Lagian ini demi Lo juga, demi kebaikan Lo," bujuk Vallen lagi pantang menyerah buat meyakinkan Kevin dan memberikannya kesempatan.


Untuk kedua kalinya, Kevin mendesah pasrah. Susah juga kalau Vallen sudah bersikap memohon - mohon seperti itu di depan Kevin. Rasanya ia tak tega untuk bersikap culas.


"Baiklah. Aku akan sedikit percaya, tapi bukan berarti aku mendukung kamu. Kamu harus buktikan bahwa apa yang kamu duga itu beneran nyata. Tapi jika salah, sorry sorry to say deh pokoknya aku gak bakal mau lagi dengerin dugaan kamu."


"Iya iya, gue pasti buktiin. Btw thanks ya," tandas Vallen girang.


Bersambung.