
Yohan kembali ke-dalam setelah dia menenangkan diri, tampak Safira tengah mengambil air minum di dapur, dia melirik Yohan dari ujung matanya, namun saat pandangan mata mereka saling bertemu Safira dengan cepat memutusnya, dia langsung berlalu menuju lantai atas.
Yohan menghela napas dalam, memenangkan hati perempuan adalah sesuatu yang paling sulit baginya, namun dia harus tetap berusaha mengingat janjinya terhadap Yura untuk segera memberikan dia keponakan. Saat itu Yohan hanya mengiakan saja tanpa berpikir panjang. Yohan menyusul Safira ke lantai atas, dia ragu harus masuk atau tidak, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar, beberapa kali dia hendak memutar gagang pintu, namun kembali Ia urungkan karena ragu.
Pada akhirnya, Yohan kembali ke lantai bawah dan tidur di sopa tanpa bantal atau pun selimut, kamar yang lain sengaja di kunci dan tak di bersihkan jadi kamar itu tak bisa di tempati untuk saat ini. 'Apa hanya aku pria yang paling menyedihkan saat pergi bulan madu, haish.'
Di hatinya dia sedikit menyesali kedatangannya ke tempat ini, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terlanjur terjadi. Malam semakin larut, hawa dingin kian menerpa, merasuk ke tulang yang seolah akan membeku cepat atau lambat, Yohan menggigil kedinginan, tubuhnya bergetar hebat, sumpah ini pengalaman pertamanya hidup menyedihkan.
Setengah sadar dia melihat Safira berjalan ke arahnya sambil membawa selimut serta bantal di pangkuannya, 'Safira, benarkah itu dia? Atau hanya ilusi-ku saja?'
"Yohan, kamu demam?"
'Demam? Iya-kah aku demam?' Suara Safira terdengar nyata.
"Ayo pindah ke kamar, disini dingin." Safira membopong Yohan menaiki tangga beberapa kali dia limbung dan hampir terjatuh karena menahan bobot tubuh Yohan yang tidaklah ringan itu.
Cip...Cip...Cip
Suara burung bersahutan meramaikan pagi, suasana semacam ini amat sulit di dapati di perkotaan.
Safira menelusupkan diri mencari kehangatan di dalam selimutnya, tanpa dia sadari siapa yang tidur di sampingnya saat ini, pembatas yang Ia buat sudah hilang entah kemana. Yohan membiarkan Safira menelusup ke-dadanya, jujur dia sudah lama terbangun namun dia diam seperti patung, jantungnya berdegup cepat namun dia menikmati momen ini. Dia menilik wajah Safira yang masih terlelap, jemarinya menyingkap anak rambut yang menutupi kelopak mata Safira.
'Mengapa aku baru menyadari ternyata gadis ini sangat cantik dan dia adalah istriku. Entah bagaimana aku bisa terjebak dalam permainanku sendiri, tapi aku tak menyesal menikahi-mu. Justru aku bersyukur, jika bukan denganmu mungkin aku tak akan pernah menikah sampai kapan pun.'
Safira membuat pergerakan pelan membuat Yohan seketika pura-pura masih tertidur. Safira terbangun dengan wajah bingung, tangannya yang melingkar di pinggang Yohan Ia tarik dengan pelan, perlahan ia menjauhkan diri pergerakannya di buat sehalus mungkin agar Yohan tak merasakannya.
"Astaga, ko bisa aku tidur sambil meluk dia? Dasar Safira bodoh." Safira merutuki kebodohannya sambil tidur menyamping berlawanan arah, dan tentu saja itu terdengar jelas di rungu Yohan, pria itu hanya tersenyum tipis menanggapinya masih dengan mata terpejam.