Between Hate and Love

Between Hate and Love
Penyesalan Yang Terlambat



Sorenya, Kevin kembali ke kontrakan Almira. Dia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja setelah tadi hampir ketahuan sama pak Jamil dan bu Rani pas di rumah sakit.


Niatnya, Kevin ingin mengajak Almira memperbaiki hubungan mereka lagi setelah Kevin berhasil menunjukan kalau Namira sakit, dan mengutarakan alasan dibalik pertunangannya dengan kembaran Almira itu.


Kevin juga hendak memberi tahu Almira kalau pertunangannya itu belum sempat terlaksana karena Namira keburu kambuh penyakitnya. Tapi saat Kevin sampai di kontrakan Almira, Kevin nampak tak melihat penampakan Almira di sana. Lantas kemana perginya Almira?


"Kenapa rumah kontrakan Almira nampak seperti tak berpenghuni," pikir Kevin.


Ia pun berjalan mendekat ke arah pintu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum, Almira ...." panggil Kevin ketika sudah berada tepat di depan pintu rumah kontrakan Almira.


Tak ada respon.


Kevin pun mengacungkan kembali lengannya dan mengetuk pintu rumah kontrakan Almira tiga kali.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum, Al ... kamu ada di dalam gak?" panggil Kevin sekali lagi.


Tetap tak ada respon.


"Apa mungkin Almira belum pulang? Lalu kemana perginya dia?" Kevin bertanya pada dirinya sendiri. "Apa mungkin Almira kecapean habis dari rumah sakit tadi?! Lebih baik aku coba ketuk lagi pintunya sekali lagi."


Detik berikutnya, Kevin kembali mengetuk pintu tersebut tanpa menaruh curiga sedikitpun. Dia malah berpikir Almira mungkin sedang istirahat karena kecapean sehabis dari rumah sakit menjenguk Namira. Apalagi Almira harus keluar dari rumah sakit dengan cara yang tidak biasa.


"Almira ... kamu masih tidur kah?" teriak Kevin sekali lagi sambil sesekali mengintip keadaan dalam rumah kontrakan tersebut, melalui jendela yang gordennya tersingkap sedikit.


"Al ... kamu ada di dalam gak sih?" panggil Kevin mulai merasakan kejengahan, karena tak mendapat respon dari sang penghuni kontrakan tersebut.


Tapi sekali lagi, dia tidak menaruh curiga sedikit pun kalau Almira sudah pindah dari kontrakan tersebut.


"Al ... kamu masih marah padaku apa gimana sih? Kenapa kamu gak mau bukain pintu atay paling nggak, nyahut gitu ... biar aku tidak mengkhawatirkan kamu."


15 menit berlalu.


Kevin masih berdiri dengan tegap di depan pintu rumah kontrakan tersebut sambil memanggil-manggil Almira tanpa lelah.


"Al ... jangan marah lagi dong!"


Kevin tak mudah goyah.


Menit berikutnya, Kevin hendak mengacungkan lagi lengannya untuk mengetuk pintu kontrakan Almira yang entah ke berapa kalinya, tapi niatnya itu urung karena kebetulan ada seseorang yang lewat di depan rumah kontrakan Almira dan menginterupsi Kevin.


"Mas cari siapa?" pekik seseorang yang tidak diketahui namanya. Sebut saja ibu bertubuh gempal dengan daster pink.


Kevin menoleh mengikuti sumber suara, lantas beringsut buru-buru menghampiri si ibu gempal berdaster pink tersebut.


"Saya cari Almira bu, dia sudah pulang kan?" tanya Kevin singkat dan to the point.


"Mbak Almira yang kulitnya putih bersih dengan gigi kelinci itu yak?" ibu berdaster pink itu malah balik bertanya


Kevin memandang si ibu berdaster pink di hadapannya ini, dengan tatapan super heran. Cenderung ke arah tidak mengerti. "I-iya bu." pungkasnya irit.


"Lah si mas nya telat. Mbak Almira kan sudah pindah, barusan banget."


Kevin melebarkan matanya yang sipit, bahkan bola matanya itu seperti mau keluar dari rongganya saking terkejutnya Kevin mendengar selorohan si ibu tadi.


"Apa, pindah? Maksud ibu gimana ya?"


"Iya Mas, pindah alias move. Mas tahu kan move? Hehe," kata si ibu berdaster dengan nada lucu sok nginggris.


"Eh! Bu-bukan maksud saya, kenapa pindah?"


"Ya ... mana saya tahu. Kan saya bukan sodaranya apalagi ibunya. Hehe," si ibu berdaster pink itu selalu menampilkan kekehannya di setiap akhir kalimatnya, membuat Kevin jadi agak kurang mudeng mencerna setiap rentetan kalimat yang terlontar dari mulut si ibu tersebut.


"Yakin Mas, malah saya yakin 101% Mas. Tadi si mbak Almira pergi bawa ransel dan koper yang gede Mas."


"Apa? Terus ibu gak tanya dia mau pergi kemana?"


"Lah ... ya kagak Mas. Soalnya pas saya tadi mau nanya, si mbak Almira kaya buru-buru gitu. Jadi saya gak sempet nanya-nanya."


"Oh gitu ya bu ...," si ibu berdaster pink itu langsung mengangguk dengan cepat tanpa jeda. "Kalau gitu terima kasih atas infonya ya bu," lanjut Kevin.


"Sama-sama Mas, kalau gitu saya permisi dulu Mas. Permisi ...," pamit si ibu berdaster pink yang gelagatnya heboh dan riweuh.


"Iya bu, sekali lagi terimakasih."


Si ibu berdaster pink yang heboh dan riweuh itu pun langsung berlalu meninggalkan Kevin. Tapi, dari sorot matanya terlihat jelas kalau si ibu itu seperti menaksir Kevin. Bahkan beberapa kali si ibu menyempatkan menengok ke belakang dan mengerlingkan matanya dengan genit, khas wanita-wanita penggoda yang kampungan pada Kevin.


Beruntung, Kevin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain ketika menemukan kejanggalan dari sikap si ibu berdaster pink tersebut. Kalau tidak, berabe urusannya berurusan sama ibu-ibu berumur yang sedang di fase puber kedua. Bisa-bisa si ibu itu menganggap Kevin merespon sikap aneh si ibu itu.


Sepeninggal ibu berdaster pink, Kevin langsung merogoh ponselnya dan mengotak-ngatik mencari nomor seseorang.


Detik berikutnya, Kevin langsung menekan tombol bertanda gagang telpon setelah berhasil menemukan kontak Vallen.


"Hallo Vallen," ucap Kevin setelah telponnya terhubung dengan nomor Vallen.


"Ada apa sih pak bos, lo nelpon-nelpon gue mulu," balas Vallen dengan nada super upper malas.


"Ini bukan saatnya bercanda Vallen," jengah Kevin.


"Jeh ... siapa juga yang lagi ngajakin bercanda, emang ada apa sih? kok dari nada bicara lo, kaya serius dan panik begitu?"


"Almira kabur, Len."


Di sebrang sana, Vallen menjengit kaget. "Apa??! Kabur, kok bisa?"


"Aku juga gak tahu alasannya kenapa Almira kabur lagi, tapi kayanya dia belum lama perginya. Barusan aku dapat kabar dari tetangga sekitaran kontrakan Almira kalau Almira belum lama perginya, jadi kemungkinan belum jauh. Jadi sekarang, kamu cepet bantuin aku cari Almira," ucap Kevin sedikit memerintah.


"Tapi gue banyak kerjaan nih Vin, pak Wishnu nyuruh gue siapin proposal buat meeting siang ini," bantah Vallen.


"Tinggalin aja! Nanti biar aku yang ngomong sama Papa aku, kalau kamu lagi aku pinjem dulu buat urusan lain."


"Tapi Vin—"


"Gak usah tapi-tapian Vallen. Masalah aku lebih darurat daripada meeting perusahaan, lagipula asisten Papa masih ada Nathania, jadi bisa handle dulu tugas kamu."


"Oke deh kalau gitu, aku segera ke sana. Btw kamu di mana sekarang?"


"Di kontrakan Almira."


"Oke. Gue meluncur!"


"Oke Len, aku tunggu!"


Setelah bernegosiasi dan berhasil meyakinkan Vallen, Kevin pun menutup sambungan telponnya. Pikirannya semakin semrawut dan tak karuan sekarang. Dia baru meluruskan kesalahpahaman nya dengan Almira, tapi kenapa Almira malah pergi lagi?


Lalu, Kevin mengotak-ngatik lagi telponnya. Kali ini bukan untuk menghubungi nomor Vallen, melainkan nomor Almira.


"Ya Tuhan, mana sih nomor Almira?" pungkasnya khawatir.


Kevin men-search nama Almira di kontaknya, namun tidak ada. Barang kali Kevin lupa nama kontak Almira di ponselnya, Kevin pun berinisiatif mencarinya satu demi satu.


Kevin men-scroll down ponselnya, mencari kontak Almira. Naasnya, Kevin masih belum menemukan kontak Almira.


"Kok diponsel aku gak ada nama Almira ya. Aku namain apa sih kontak Almira?! Apa aku cari manual aja kali, siapa tahu aku ingat," ucap Kevin ketar-ketir karena masih belum menemukan kontak Almira.


Kevin terus men-scroll down daftar kontak di ponselnya. Mencari kontak Almira di antara ratusan kontak yang tersimpan di ponselnya bukan hal mudah, apalagi dilakukan secara satu persatu karena ia merasa lupa menamai dengan nama apa kontak Almira itu. Karena pas tadi Kevin memasukan keyword pakai nama 'Almira' di fitur pencari kontak, nama itu tidak ada dalam daftar kontaknya.


Tapi, Kevin sekali lagi tidak menyerah. Terus mencari, mencari, mencari dan mencari. Hingga Kevin menyadari satu hal.


"Astaga! Selama ini kan aku tidak pernah menyimpan kontak Almira. Aku juga tidak pernah meminta atau menanyakan kontak Almira," polos Kevin.


Kevin menarik wajahnya yang kusut menjadi semakin kusut. Dia lupa, selama mengenal Almira, dia tidak pernah telponan atau chattingan karena ia tidak memiliki kontak Almira. Jika dia kangen, dia akan langsung datang menemui Almira di butik Mamanya. Lagi pula, kebiasaan konyolnya yang lebih senang melihat ekspresi terkejut Almira yang menjadi dasar kenapa Kevin tidak pernah meminta atau mencari tahu kontak Almira.


"Dasar bodoh. Kenapa kamu bodoh banget sih Vin!" rutuk Kevin menyalahkan kecerobohannya sendiri. "Aku memang senang melihat ekspresi menggemaskan saat Almira terkejut dengan kehadiranku yang suka datang tiba-tiba ke butik, tapi seharusnya dulu aku meminta kontaknya agar kalau dalam keadaan genting begini, aku bisa menghubungi dia. Aishhh! Dasar payah kamu Vin!" imbuh Kevin menyesal.