
Namira membalikan tubuhnya dari hadapan Kevin. Hatinya begitu sakit menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Bahkan rasa sakit hatinya jauh 1000 kali lipat lebih sakit daripada sakit yang dialami tubuhnya. Benar kata orang, hati adalah organ yang paling sensitif. Sedikit saja terluka, maka dunia serasa runtuh seketika. Sakitnya luar biasa.
"Nami aku tidak bermaksud begitu, kamu salah paham," Kevin berusaha mencegah Namira untuk kabur, tapi sayangnya Namira segera menepis lengan Kevin dengan kasar.
"Jangan halangi aku. Bukankah kamu mau pergi? Kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak segera enyah dari hadapanku?"
"Tapi setidaknya dengarkan penjelesan aku dulu. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Aku sudah tidak mau dengar apapun dari mulut kamu. Bagiku kamu sama saja dengan lelaki di luar sana, sama-sama pembual, sama-sama tidak bisa menerima kekurangan pasangannya. Dan sama-sama kurang ajar!"
Dengan deraian air mata yang masih mengalir di kedua bola matanya, perlahan tapi pasti kaki jenjang Namira mulai mengayun meninggal Kevin yang tertegun di tempatnya.
"Nami, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita bukan karena kamu sakit, tapi aku memang lebih dulu mencintai gadis lain, kenapa kamu malah punya pikiran seperti itu sih?" pekik Kevin. Berusaha meyakinkan Namira kalau dia tidak seperti yang Namira kira. Dia memang ingin mengakhiri semuanya dengan Namira, tapi bukan karena tahu Namira sakit. Melainkan karena hatinya sudah lebih dulu dilabuhkan untuk orang lain, tepatnya adik Namira yaitu Almira.
"Namira aku mohon hentikan kakimu melangkah, kita bisa membicarakannya baik-baik," Kevin berusaha mengejar. Dia tidak mau Namira diliputi salah paham seperti sekarang. Dia tahu dia salah, tapi biar bagaimana pun Kevin tidak mau menciptakan kesan buruk pada gadis itu saat harus memutuskan hubungannya.
"Namira dengerin aku dulu," kata Kevin menambahkan. Tapi sayangnya Namira acuh. Gadis itu terus saja melebarkan jarak dengan Kevin secara cepat. Namira seolah begitu muak melihat rupa Kevin saat ini. Jangankan melihat rupa, mendengar suaranya saja Namira begitu enggan. Dia benar-benar ingin segera masuk ke dalam kamarnya dan jauh dari Kevin.
Dan saat sampai di depan ruang rawat Namira pun, Kevin masih berusaha meyakinkan Namira agar mau mendengarkan penjelasannya. Tapi sekali lagi, Namira begitu enggan Kevin mengusiknya lagi. Dengan pasti, Namira mengunci ruangannya agar Kevin tidak bisa masuk.
"Namira buka!" pekik Kevin seraya menggedor pintu ruang rawat Namira yang terkunci.
Dibalik pintu, Namira langsung merosot jatuh seiring dengan air matanya yang kembali merebak. Entah kenapa dia merasa begitu lemah sekarang.
"Semua laki-laki sama saja, kamu jahat Kevin. Kamu tega membuat aku seperti ini. Kamu tega . Arrrrgh," erang Namira seraya memeluk lututnya dengan erat.
Sementara di depan pintu ruang rawatnya Kevin masih berdiri menggedor-gedor agar Namira membukakan pintunya. Dia akan pergi kalau Namira sudah bisa diajak berbicara baik-baik.
"Namira aku mohon, bukakan pintunya sebentar saja. Aku perlu bicara."
Tak ada jawaban dari dalam sana. Kevin tak mau menyerah. Dia pun kembali menggedor pintunya, berharap gadis di dalam ruangan tersebut mau berubah pikiran dan mendengarkan penjelasannya.
"Namira, kenapa kamu jadi keras kepala gini sih? Mana Namira yang aku kenal dulu, yang selalu lembut dan tak pernah berburuk sangka pada seseorang, yang selalu menjadi pendengar yang baik buat semua orang, yang tidak pernah memotong pembicaraan. Mana semua itu? Kenapa kamu bisa berubah dalam sekejap mata gini sih?" protes Kevin. Dia tidak mengerti kenapa Namira seperti bukan Namira yang dikenalnya dulu.
Tak ada tanggapan dari Namira di dalam ruangannya, dengan amat sangat berat Kevin mulai menjauh dari Namira. Kevin berpikir kalau gadis itu mungkin butuh waktu untuk menerima dan mau mendengarkan penjelasan Kevin. Jadi, Kevin memutuskan untuk memberikan jeda dan akan kembali nantinya setelah situasi dan kondisi Namira stabil.
Setelah sampai di luar Rumah Sakit, Kevin menghampiri Vallen yang masih setia menunggunya di parkiran.
"Gimana, lo udah jelasin yang sebenarnya belum sama si Namira?" Vallen bertanya nampak antusias. Sedari tadi dia cukup menahan diri untuk tidak ikut campur. Ia bersabar menunggu Kevin dan Namira memiliki waktu untuk menjelaskan kesalah pahaman yang tercipta di antara mereka. Maka dari itu dia seantusias sekarang ingin tahu kelanjutan kisah cinta anak bosnya ini.
Vallen pun mengelus bahu Kevin dengan lembut, memberi semangat pada Kevin agar tak terlalu kecewa.
"Cewek emang kalau ngambek tuh suka agak lama dan gak bisa menerima ataupun memaafkan kesalahan kita dengan cepat, jadi berikan si Namira waktu buat lebih relaks dan leluasa berpikir."
"Aku tahu, Len." Kevin menghela napasnya sejenak. Inhale - exhale.
"Terus sekarang kita mau kemana?" tanya Vallen dengan raut serius.
"Pulang aja deh, kepala aku rasanya pusing dan semrawut serasa mau pecah memikirkan semua ini."
"Heleeeh, baru gitu aja udah pusing padahal kan yang ciptain kepusingan ini semua ya lo sendiri," cibir Vallen, mencoba menyinggung penyebab kekacauan ini semua dikarenakan karena Kevin sendiri.
Kevin cukup merasa tersindir. Ingin rasanya dia mengeplak kepala Vallen saat ini juga. Tapi kalau dipikir-pikir memang semua ini salah Kevin. Dari awal memang salah Kevin karena melibatkan Namira hanya karena ingin membantu Almira kembali ke keluarganya. Apalagi memutuskan bertunangan dengan Namira yang jelas-jelas tidak sama sekali ada perasaan cinta untuk gadis itu. Alhasil, semuanya kacau. Tidak hanya Almira yang membenci dirinya, tapi sekarang Namira juga ikut-ikutan membencinya.
Dan sekarang, menyesal saja rasanya percuma buat Kevin. Nasi telah menjadi bubur. Tidak ada alasan bagi Kevin untuk marah apalagi mengeluh.
Kevin terdiam meratapi kebodohannya sendiri hingga menciptakan kekacauan sebesar sekarang. Membuang napasnya lagi seolah tak cukup sekali. Dia benar-benar sedang dalam situasi yang sangat berat.
"Hiih kenapa lo malah jadi melamun sih, Vin? Apa sekarang lo merasa menyesal? Lantas menyadari semua yang lo lakukan itu benar-benar fatal?" singgung Vallen mencibir.
Kevin mendelikan ekor matanya dengan tajam. Ia benar-benar ingin mengeplak kepala Vallen karena lagi-lagi mencibir dirinya.
"Kenapa harus dibahas lagi sih, Len? Kayanya kamu seneng banget deh lihat aku dihadapkan masalah sekacau ini. Sengaja kamu ya sedari tadi terus-terusan nyindir aku seolah-olah aku tuh—"
"Aku apa?" potong Vallen. "Yang paling salah gitu?" melanjutkan kalimat Kevin yang terpenggal. Tentu saja Kevin langsung memanyunkan bibirnya beberapa senti ke depan saat Vallen menebak dengan tidak sopan. Betapa dongkolnya Kevin mempunyai sahabat seperti Vallen yang selalu saja doyan membuat dirinya terpojok. Benar-benar kurang ajar.
"Hiiih kamu," jawab Kevin. Ia begitu kehabisan kata-kata jika berurusan dengan Vallen.
Alih-alih merasa berdosa, Vallen malah terbahak begitu renyah melihat Kevin merajuk. Tawanya itu bahkan terkesan jahat hingga siapapun yang mendengar rasanya ingin menyumpal mulut lebar Vallen, begitupun Kevin.
"Antarkan aku pulang!" titah Kevin saat Vallen belum berhenti menyebarkan tawanya yang jahat itu.
"Yakin nih kita mau pulang?" tanya Vallen dengan nada bercanda. "Emang kamu gak mau nemuin Almira? Mumpung si Namira udah tahu kalau kamu gak ada perasaan untuknya, jadi kamu bisa lebih leluasa mendekati Almira," goda Vallen.
"Hih apaan sih," Kevin sebal bukan kepalang karena lagi-lagi Vallen beneran minta dikeplak kepalanya.
Bersambung.