Between Hate and Love

Between Hate and Love
Awas Jangan Sampai Ketahuan!



"Auchhhhh." Refleks, Kevin dan Vallen mengaduh bersamaan saat Almira berhasil menginjak kaki Kevin dan Vallen hingga menyebabkan kepala mereka berbenturan.


"Makanya jangan macem-macem sama aku." ucap Almira santai.


Kemudian Almira pun melenggang masuk ke ruangan ICU Namira setelah berhasil melepaskan genggaman tangan Kevin secara paksa.


"Gila ... gadis itu benar-benar cerdik. Bisa-bisanya dia menginjak kaki kita dalam waktu yang bersamaan. Mana kenceng banget lagi nginjeknya." Vallen berseru kaget.


"Kalau nggak cerdik mana mungkin aku menyukainya sedalam ini." sahut Kevin seraya tetap memperhatikan punggung Almira yang hendak ditelan pintu.


"Ah lebay lo ...."


"Kurang ajar!"


Duk!


"Auchhhh kaki gue ...." Vallen kembali mengaduh dengan nyaring saat kaki yang satunya diinjak Kevin tanpa aba-aba. "Sialan lo Vin, kenapa kaki gue yang satunya lagi lo injek juga?"


"Bonus ... Hahaha." ujar Kevin diselingi bahakan puas melihat Vallen meringis kesakitan karena dua kakinya berhasil jadi santapan injakan Almira dan Kevin.


"Ngasih bonus tuh apa kek, yang bagusan dikit kaya misal duit atau voucher belanja kek, ini malah diinjek. Untung kaki gue buatan Tuhan coba kalau buatan negara sebrang gue gak yakin sudah seremuk apa nih tulangnya lo berdua injek seenaknya."


"Hahahaha sorry Len, aku cuma mengikuti apa yang pujaan hati aku lakuin. Nggak fair kalau aku gak ngerasain nikmatnya mengintimidasi kamu kaya tadi. Hahaha"


"Kampr*t lo ... kalau bukan anak bos gue, udah gue toyor kepala lo Vin."


"Berarti Papa aku menyelamatkan aku dari siksaan kamu Len."


"Sialan lo."


Selanjutnya, Kevin pun menyusul Almira yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang ICU, meninggalkan Vallen yang mendumel panjang lebar gara-gara kakinya sakit sehabis diinjek Almira ditambah bonus dari Kevin tadi.


--o0o--


Di dalam ruang ICU, Namira terbaring begitu lemah. Alat-alat medis menempel sana sini ditubuh Namira. Gadis cantik itu rupanya belum mau sadar juga meski sudah diberi perawatan begitu canggih.


Almira, dia menatap nanar keadaan Namira yang menyedihkan. Dia tidak pernah menyangka kalau Namira mempunyai penyakit mengerikan. Selama ini, Almira selalu menganggap Namira adalah sosok yang sempurna dan begitu beruntung karena tidak memiliki kelemahan sedikitpun. Nyatanya, dugaan Almira salah. Kakaknya itu tidak lebih kuat dan seberuntung dirinya yang dibekali sehat oleh Tuhan.


"Hallo Nami ... ini aku Almira adik kamu satunya-satunya, kembaran kamu yang selalu merasa tidak lebih beruntung dari kamu. Yang selalu mendapat peringkat kedua dalam hal apapun. Tapi sekarang aku sadar, kalau Tuhan tidak menciptakan aku sepenuhnya menjadi peringkat kedua, sekarang aku sadar kalau aku lebih beruntung dari kamu." lirih Almira.


Tak lama Kevin datang menemani Almira. Mengusap bahu Almira agar Almira lebih tegar. Kevin tahu kalau Almira hanya berpura-pura kuat dengan melontarkan kata-kata acuh di depan Namira yang kini terbaring lemah. Faktanya gadis pujaannya itu adalah gadis baik. Hanya saja sikap keras kepalanya yang tak mau mengakui kalau dirinya sebenarnya sayang pada kakaknya.


"Lihatlah Nami, sekarang adikmu ini masih saja bersikukuh keras kepala, sok galak dan acuh tak acuh. Padahal dia sebenarnya merindukan kamu." ucap Kevin menyindir Almira.


Almira pun mendelik kearah Kevin. "Kenapa kamu berkata begitu?"


"Karena aku tahu kalau kamu sebenarnya menyayangi kakak kamu. Sehebat apapun kamu berusaha menutupinya dari aku, sorot mata kamu tidak akan pernah bisa berbohong Al."


"Nami, jangan dengarkan manusia menyebalkan ini berceloteh. Dia selalu saja berusaha membuatku jengkel." ucap Almira pada Nami. Dia tidak terima Kevin sok tahu tentang dirinya.


Kevin tersenyum kecil saat melihat Almira jadi sewot bahkan di saat situasi genting seperti ini Almira tidak mau mengalah. Benar kata Vallen kalau tingkat kecantikan wanita naik dua kali lipat ketika saat sedang marah atau mengomel.


"Nami, sejak awal aku selalu ingin mengalahkan kamu dalam hal apapun. Aku tidak senang saat kamu selalu menang dariku. Aku juga tidak senang saat ayah bertubi-tubi melontarkan pujian padamu dan selalu meremehkan aku. Tapi aku lebih tidak senang melihat kamu lemah tak berdaya seperti ini. Bagaimana aku bisa melawanmu dan membuktikan pada ayah kalau aku juga hebat sementara lawanku payah seperti dirimu." curhat Almira.


Rahang Kevin mendadak keram karena terlalu lama menahan tawanya saat mendengar Almira curhat pada Namira dengan nada sok hebat dan angkuh.


"Benar-benar menggemaskan gadisku ini, bisa-bisanya dia masih tidak mengakui kalau dia menyayangi kakaknya dan sekarang seolah-seolah dia ingin mengalahkan kakaknya." batin Kevin.


Kevin mesem-mesem sendiri saat Almira sedang curhat pada Namira. Dia sebenarnya ingin sekali terbahak begitu lantang, tapi situasi tidak memungkinkannya untuk melakukan hal itu. Jadi sedari tadi dia cuma mesem-mesem sambil menutup mulutnya agar gelak tawanya tidak pecah.


"Kenapa kamu mesem-mesem begitu?" sinis Almira.


"Ih nggak kok ... kata siapa aku mesem-mesem."


"Halahhh kamu pikir aku tunanetra yang tidak bisa membedakan mata yang mesem-mesem mana yang nggak?!"


"Nggak kok Almira ... kamu harus percaya sama aku kalau aku gak mesem-mesem tadi. Kenapa sih kamu gak percayaan banget sama orang ganteng kaya aku?"


Almira mendelik tak suka ke arah Kevin. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat pertanda kalau dia tidak ingin tertawa dengan lontaran kenarsisan Kevin.


"Berhentilah membuat lelucon!"


"Aku tidak sedang membuat lelucon Almira, aku memang tampan kok. Banyak yang mengakuinya kalau aku selalu terlihat tampan dilihat dari sudut manapun. Hahaha"


Lagi, Almira tidak tertarik sama sekali untuk sekedar mengangkat sedikit ujung bibirnya kala mendengar kenarsisan Kevin yang terkesan sangat amat lebay.


"Kamu kok gak mau ketawa sih? Emang gak lucu ya?!" Kevin menaikan sebelah alisnya, terheran kenapa leluconnya sama sekali tidak mempan untuk sekedar membuat Almira tersenyum kecil.


"Tidak sama sekali." ketus Almira.


"Ah selera humormu payah, Al."


Kevin menyerah untuk membuat Almira tersenyum. Lelucon yang disangkanya akan berhasil membuat Almira menarik sudut bibirnya malah terdengar garing dan tak menarik sama sekali. Akhirnya Kevin memilih bungkam walau dalam hatinya ia mendumel sebal.


Di saat keduanya diam membisu sambil memandang wajah Namira yang tak sadar, tak disangka-sangka Vallen masuk ke dalam ruangan Namira dengan tergesa-gesa.


Nafas Vallen memburu begitu cepat, lidahnya terasa kelu, keringat dingin mulai bercucuran di area keningnya.


Kevin memicingkan matanya dan berkomentar, "Apa kamu habis lari maraton sampai-sampai keringat kamu begitu banyak, Len?"


"Gawat Vin, Al... gawat!" lagi Vallen hanya mengutarakan kata "gawat" tanpa menjelaskan lebih panjang apa masalahnya.


"Gawat apanya?" ujar Almira tak mengerti.


"Tau nih ... kalau ngomong tuh yang jelas dong Len." sambung Kevin.


"Tarik nafas dulu ... rileks Len!" titah Almira seraya memperagakan telapak tangannya yang mengayun ke atas ke bawah, menarik dan membuang nafas pelan-pelan.


Vallen pun mengikuti arahan Almira. Setelah agak rileks, barulah ia menceritakan apa yang dimaksudnya dengan kata gawat barusan.


"Di Lobby ... gue tadi lihat kalau Pak Jamil dan Bu Rani mau ke sini."


"APAAAAA?!" jerit Almira dan Kevin bersamaan.


Kali ini giliran Almira yang mendadak panik setelah mendengar penjelasan Vallen.


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih?" sentak Almira sambil mondar-mandir memikirkan cara untuk kabur dan menghindar dari orang tuanya.


Keadaan di dalam ruang ICU Namira semakin ricuh saat Almira kebingungan mencari cara bagaimana dia bisa keluar dari sana tanpa kepergok kedua orang tuanya. Hal itu semakin diperparah dengan kondisi Kevin yang ikut-ikutan panik dan grasak grusuk.


"Aduh ini gimana?" ucap Kevin resah.


"Aku harus segera pergi dari sini. Tapi aku tidak mungkin keluar dari sini dengan keadaan begini. Orang tuaku pasti akan mengenali aku." sahut Almira tak kalah resah.


Almira menggigit jari telunjuk kanannya sembari mondar-mandir, berharap menemukan cara kabur dari ruangan Namira.


"Kamu pakai topi aku aja ... " celetuk Vallen.


Vallen pun segera melepas topinya dan memakaikan ke kepala Almira.


"Tapi orang tuaku masih bisa mengenali aku, Len."


"Benar juga." Vallen tampak mengusap dagunya, memikirkan benda apalagi yang bisa membuat penampilan Almira tidak dikenali orang tuanya kalau nanti berpapasan di luar.


"Pakai hoodie aku aja, ini lumayan bisa membuat Almira sedikit tidak dikenali." seru Kevin.


"Ide bagus."


Kemudian Kevin melepas hoodienya dan menyampirkannya ke badan Almira. Sekarang penampilan Almira jauh lebih tertutup.


"Tapi kayanya masih ada yang kurang deh." Vallen mengamati penampilan Almira yang kepalanya sudah tertutup topi serta hoodie tapi ia masih bisa mengenali kalau itu Almira meskipun sekilas.


"Aku butuh masker untuk menutup sebagian wajahku." celetuk Almira.


"Tapi di sini tidak ada masker. Kalaupun ada, aku harus memintanya ke bagian resepsionis dan itu membutuhkan waktu." jelas Kevin.


"Terus gimana dong?" Almira semakin panik dan tidak bisa rileks lagi sekarang.


Vallen berpikir sejenak. Dia tampak memikirkan alternatif lain untuk menutupi sebagian wajah Almira agar tidak dikenali orang tuanya tanpa harus menggunakan masker. Kemudian Vallen merogoh saku belakang celana jeansnya.


"Aha! untung aku masih menyimpannya." Vallen kegirangan ketika menemukan sebuah benda yang terselip rapi di saku celananya. "Pakai ini aja," ucap Vallen seraya menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna merah jambu pada Almira.


Kevin dan Almira menatap ragu sekaligus heran dengan sapu tangan milik Vallen.


"Apa itu milikmu?" ucap Kevin tak percaya.


"Tentu saja. Ini adalah sapu tangan kesayangan gue."


"Warnanya pink?" imbuh Kevin sambil menunjuk dengan ekspresi geli. "Selera warnamu rendahan sekali." ejeknya.


"Loh emangnya kenapa kalau gue suka warna pink?" sewot Vallen.


Kevin hendak menyolot lagi, tapi buru-buru dicegah Almira. "Sudahlah tidak perlu berdebat, aku akan pakai ini ... ini bersih kan, Len? bukan bekas ingus kamu?!" cerocos Almira sembari melekatkan sapu tangan Vallen ke permukaan wajah bawahnya.


"Bukan. Tapi itu bekas keringat gue dan belum sempat gue cuci. Hehe" ceplos Vallen polos.


Kontan saja, membuat Almira dan Kevin berjengit kaget. "Eeeeh?!"


Vallen langsung terkekeh dan berkata. "Haha bercanda aja kok. Itu bersih, tenang aja Al."


"Ish ... bisa-bisanya kamu masih becanda di situasi genting begini." gerutu Almira.


Selang beberapa menit, Almira telah siap dengan penampilan tertutupnya. Ia pun merasa sekarang sudah aman untuk keluar tanpa harus ketahuan orang tuanya.


"Aku pergi dulu."


Tak perlu berlama-lama, Almira pamit dan melenggang keluar dari ruangan Namira sebelum kedua orang tuanya benar-benar sampai di sana.


"Jangan sampai ketahuan Al." seru Kevin dan Vallen saat punggung Almira keluar dari ruangan tersebut.


Bersambung.