
Ricko menggosok bahu Almira dengan lembut. Memberi semangat pada Almira agar ia tak perlu merasa dilematis. Ia tak mau gadis itu sedih lantaran tak mendapatkan cintanya. Meski dari lubuk hati yang paling dalam, Ricko merasa sedih karena gadis yang ia sukai nyatanya mencintai orang lain yang bukan dirinya. Tapi itu lebih baik ketimbang melihat gadis incarannya diliputi perasaan sedih. Demi apapun, Ricko lebih rela cintanya tak berbalas daripada harus menyaksikan Almira lesu dan tak bersemangat seperti sekarang. Bukankah cinta sejati tak mesti memiliki?
"Udah Al, kamu gak perlu sedih. Kalau aku boleh ngasih saran sih ya kamu mending perjuangin aja dulu. Gak apa-apa egois dikit, karena semuanya adil dalam cinta dan perang. Hehe...," hibur Ricko diiringi kekehan renyah yang timbul akibat dari kutipannya yang bijak.
Almira mendongak, ditatapnya Ricko yang tengah terkekeh dengan pandangan aneh. "Sejak kapan kamu jadi bijak begini?" tanya Almira seolah tak percaya kutipan bijak itu berasal dari mulut seorang Ricko yang notabenenya adalah orang yang paling aneh seantero kampus.
Ricko pun menggosok tengkuknya yang tak gatal. Ia juga tidak mengerti kenapa bisa melontarkan kutipan tersebut layaknya para pujangga yang haus akan cinta saja.
"Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa mengatakan hal itu. Yang jelas sih bukan masalah kutipannya, melainkan poin penting yang bisa kita ambil. Misal, kamu gak perlu merasa sedih hanya karena kamu dan Kevin tidak bersama. Jika kamu tetap inginkan dia, tidak ada salahnya kamu perjuangkan. Kejar dia meskipun rintangannya adalah orang terdekat kamu yaitu Namira. Kalian itu saling mencintai, kekuatan cinta biasanya bisa meluluh lantahkan segalanya. Kamu gak perlu takut," terang Ricko menasehati.
Almira hanya tersenyum simpul. Entah ia harus setuju atau tidak dengan saran Ricko. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.
"Dahlah, daripada kamu berlarut-larut sedih, gimana kalau kamu tlaktir aku buat makan siang?" lanjut Ricko dengan nada becanda.
Almira mengerutkan keningnya berlipat-lipat. "Loh bagaimana ceritanya, aku yang tengah sedih malah aku yang disuruh tlaktir? Harusnya kan aku yang dapat tlaktir," protes Almira dibarengi mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
"Ya awalnya sih aku emang mau tlaktir kamu, tapi karena tadi kamu udah libatin aku ke dalam drama pelik antara kamu dan Kevin, belum lagi aku harus berbohong dan berpura-pura jadi pacar kamu, aku jadi mikir di posisi seperti ini aku yang paling rugi. Hehehe... sebab, dosaku bertambah karena kamu nyuruh aku terlibat," cerocos Ricko dengan nada becanda. Membuat Almira serasa ingin mengeplak kepala Ricko saat itu juga.
"Dih perhitungan lo!" seru Almira. Ricko hanya cengengesan melihat Almira cemberut lagi dan lagi.
"Bukan perhitungan Al, ini namanya strategi mendapatkan makan gratis dari kamu. Hahaha."
"Sialan!" hardik Almira. Semakin yakin saja Almira ingin mengeplak kepala Ricko sekuat tenaganya.
***
Kevin berjalan menghampiri mobilnya dengan gontai. Kakinya serasa ringan tanpa perintah untuk digerakkan. Wajahnya tertunduk lesu. Sungguh dia ingin berteriak sekencang-kencangnya agar beban yang mengikat dadanya terlepas.
Namun saat kakinya hampir sampai ke mobilnya, sepasang kaki telah berdiri menghadang jalannya. Kevin pun terpaksa mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah lancang menghalangi jalannya.
Dan saat bola matanya tepat menatap ke wajah si penghadang jalannya, Kevin malah melenguh dengan lesu.
"Hadeeeeh, kamu lagi," kata Kevin saat melihat gerangan yang tak lain tak bukan adalah Vallen, rekan kerja sekaligus sahabatnya. "Kamu ngapain sih pakai ke sini segala? Bukankah aku sudah menginstruksikan kalau kamu harus menghandle pekerjaanku?"
"Yapp! Itu memang betul," jawab Vallen dengan enteng.
"Lantas kenapa kamu malah menyusulku ke sini? Harusnya kamu kan duduk manis di kantor. Kerjakan semua tugasku sampai selesai, dan saat aku balik semuanya sudah beres."
"Tadinya gue pengen ngerjain semua kerjaan lo, tapi pas tadi gue di ruangan lo dan lagi otak-atik pekerjaan lo, gak sengaja Bokap lo mergokin gue. Dia nanya ke gue, kenapa gue di ruangan lo? Ke mana lo sebenernya? Sama kenapa lo limpahin pekerjaan lo ke gue semua. Terus gue jawab dong yang sejujur - jujurnya kalau lo pergi mau nemenin temen lo," cerocos Vallen tanpa jeda.
"Bokap lo dengan baik hati bilang gini. 'Len, gak usah diterusin kerjaan anak saya. Biar dia selesaikan sendiri, jangan terus-terusan kamu bantu atau handle. Biar dia bertanggung jawab! Lebih baik kamu susul anak saya, suruh dia balik ke kantor!' Gitu kata bokap lo, makanya sekarang gue di sini."
Kevin melongo tak percaya. Ia baru tahu kalau Vallen secerewet itu sampai-sampai semua yang dia katakan begitu mulus tanpa titik koma. Bahkan lelaki itu dengan lugas menirukan gaya Papanya ketika berbicara. Benar-benar ajaib.
"Lagian kamu kenapa segala ngerjain tugas aku di ruangan aku sih? Kamu kan punya ruangan sendiri."
"Ya emang sih, tapi kebetulan tadi laptop di ruangan gue rada lemot parah butuh diservice kayanya. Makanya daripada kerjaan lo gak gue kerjain, ya gue pakai komputer lo aja. Eh taunya bokap lo mantau tadi."
"Kamu tuh! Benar-benar minta di hiiih kayanya," Kevin geram bukan kepalang, tangannya mengacung layaknya hendak mencekik kepala Vallen. Beruntung logikanya masih ada di kepalanya, hingga ia langsung mengurungkan niatannya.
"Udah deh ah, sekarang kita balik ke kantor. Lagian lo ngapain sih lama-lama di sini, toh si Almira juga gak ada kan?" tebak Vallen sok tahu. Padahal sudah jelas-jelas dia baru saja tiba. Bahkan belum ada lima menit, Kevin sudah muncul dihadapannya. Jadinya kan Vallen enak, karena tak harus menyusuri area kampus, mencari-cari jejak Kevin. Lantas bagaimana dia bisa menebak kalau Almira tidak ada? Bukankah Vallen sok tahu?
Mendengar nama Almira, Kevin spontan langsung menjatuhkan kepalanya lagi. Rasa lesu kian menggerayanginya lagi. Gadis itu selalu saja membuat Kevin jadi orang paling lemah sedunia.
"Tadi sih Almira ada, cuma dia pergi sama mahasiswa cowok yang ngaku-ngaku pacaran sama Almira."
"Terus lo percaya?"
"Ya Nggak lah! Jelas-jelas Almira belum punya pacar. Meskipun dia bersikukuh mengatakan kalau temannya yang bernama Ricko itu adalah pacarnya, tapi aku cukup yakin kalau Almira cuma gertak aku. Mata Almira itu gak bisa bohong! Dia tidak pantas menjadi seorang pembohong. Jadi mana mungkin aku bisa percaya begitu saja."
"Nah kalau lo gak percaya, kenapa lo harus sedih dan menye-menye begini? Payah lo!" hardik Vallen sembari melipat kedua tangannya dengan santai.
"Tapi masalahnya dia gak mau ngaku. Dia bahkan dengan tega nyelongong meninggalkan aku sembari gandeng tangan si cowok itu di depan mata kepala aku sendiri, Len. Rasanya tuh ingin sekali aku menebas tangan si cowok itu. Berani-beraninya dia mengeratkan tangannya di celah jari jemari tangan Almira."
"Kalau menurut gue sih, ini bukan salah cowok itu. Tapi emang si Almiranya yang sepertinya sengaja bikin lo panas dan naik darah. Dia sengaja bikin lo cemburu. Dia juga sengaja panas-panasin lo supaya ...." Vallen tak melanjutkan kalimatnya, ia malah menyeringai licik, membuat Kevin mengerutkan wajahnya tak mengerti.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum sih, Len? Gaje deh lo! Ngomong tuh yang jelas kek, jangan dipotong-potong begitu, bikin aku pusing aja!" sewot Kevin.
Vallen pun tersenyum sarkas. Dirangkulnya bahu Kevin, lantas berkata.
"Dengerin gue dulu boy! Kalau si Almira bersikap kaya yang lo sebutkan tadi, itu artinya dia itu lagi cari perhatian ke lo. Dari kacamata yang gue lihat, kayanya dia ada perasaan juga sama lo. Cuma kebanyakan cewek tuh suka pada jaim malu-malu kucing gitu buat ngungkapin perasaannya secara gamblang."
"Masa sih?" Kevin mendelik tak percaya. Vallen biasanya memang suka sok tahu. Oleh karenanya, sulit bagi Kevin untuk percaya dengan mudah pada semua cerocosan Vallen kali ini.
Bersambung.