Between Hate and Love

Between Hate and Love
Penyelidikan Vallen 2



"Sorry Vin kalau gue keluar kantor diam-diam di jam kerja kaya gini, tapi ini penting buat kebaikan lo sama Almira juga buat semuanya, " batin Vallen memohon maaf.


Vallen tahu tindakannya ini sangat beresiko. Jika dia salah dan tak bisa membuktikan dugaannya secara benar, maka dia akan malu besar pada Kevin dan keluarganya. Tidak hanya itu, dia juga akan merasa malu pada Namira dan keluarganya. Syukur-syukur kalau Namira mau memaafkan Vallen secara legowo jika nanti kepergok dan mematahkan semua kecurigaan Vallen. Namun jika tidak? Hal terburuk yang akan Vallen dapatkan mungkin adalah jalur hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik.


Tentunya jika semua yang ia curigai ternyata sia-sia, tindakannya ini tidak hanya akan membuatnya malu tapi juga berakhir dalam segala hal. Jika dia gagal membuktikan kecurigaannya dan ternyata dia ketahuan kabur dari perusahaan di jam kerja oleh Pak Gunawan, maka dia juga akan habis karirnya.


Oleh karena itu, Vallen bertekad apa yang membelenggu di benaknya itu adalah benar. Dia tidak sedang mengada-ngada atau hanya sebatas menduga. Dia hanya ingin membuktikan pada semua orang bahwa Namira adalah orang jahat yang patut di waspadai. Dia sangat optimis bahwa apa yang ia pertaruhkan akan mendapat timbal balik yang baik, Vallen yakin hal itu.


"Gue harus berhati-hati. Gue tak boleh gegabah, apalagi salah langkah," celetuk Vallen di sela kegiatan menyetirnya. Matanya tetap menatap lurus ke jalanan mengawasi mobil Namira yang berada tak jauh di depannya. Hanya terhalang satu mobil lain saja yang menjadi pembatas jarak antara mobilnya dan mobil Namira.


Sengaja mobil Vallen menjaga jarak dengan mobil Namira. Dia takut Namira sadar kalau dirinya tengah dibuntuti oleh Vallen.


"Gue harus ikutin kemana pun mobil itu melaju. Kau tidak akan bisa lepas dari gue, Namira," tekan Vallen berbicara dengan dirinya sendiri. Mimik wajahnya menyiratkan ketidaksukaan yang begitu mendalam.


Ya, saat ini Vallen begitu sebal dengan Namira. Meski pada awalnya dia begitu bersimpati dengan Namira yang harus menelan pil pahit akibat gagal bertunangan dengan Kevin, namun saat Vallen curiga bahwa Namira bertindak hal-hal buruk pada Almira maupun Kevin, rasa simpati itu seolah perlahan-lahan lenyap begitu saja.


Sama halnya sekarang, Vallen jangankan untuk bersimpati pada gadis itu karena telah dikecewakan oleh sahabat Vallen sendiri, mau sedikit memahami perasaan gadis itu saja Vallen enggan. Biar bagaimanapun orang yang berbuat keburukan tetap dianggap salah apapun alasannya.


Vallen tak tinggal diam jika Namira berusaha mengacaukan hubungan Kevin dan Almira. Bagi Vallen cinta dan perasaan seseorang tak dapat dipaksakan. Sama halnya perasaan Kevin pada Almira, atau Almira pada Kevin. Mereka berdua saling mencintai, jadi Namira tak boleh mengusik hubungan mereka apalagi menjahati mereka.


Vallen mengerti kalau Namira pasti berbuat nekat seperti itu karena dia merasa dicampakan oleh Kevin, tapi untuk berbuat kejahatan rasanya sangat sulit dipercaya. Sikap seperti itu harusnya tidak menghinggapi Namira yang notabenenya gadis cerdas yang pintar dalam segala hal. Namun sayangnya, Namira tak bisa menahan egonya sendiri. Jadi, mau tak mau Vallen harus mencegah tindakan Namira sebelum dia berbuat nekat lebih jauh.


Vallen terus mengikuti mobil Namira secara berhati-hati. Dia memberi jarak mobilnya dengan mobil Namira yang cukup aman. Ia tak mau Namira sampai melihat dibalik spionnya kalau gadis itu tengah diikuti Vallen.


"Mau kemana sih dia sebenarnya? Kenapa dia ke arah sini bukan ke arah jalan pulang?" tanya Vallen pada dirinya sendiri.


Sebenarnya perasaan Vallen saat ini campur aduk. Satu sisi dia takut Namira memergokinya dan mengakibatkan semuanya menjadi gagal, di satu sisi dia juga berburu dengan waktu agar ia bisa kembali ke kantor sebelum waktunya pulang atau sebelum orang - orang kantor sadar kalau dia kabur secara diam-diam.


Tapi untuk sekarang? Vallen tak bisa menggunakan nama Kevin karena temannya itu sedang ada di kantor. Bahkan lelaki itu terang-terangan melarang Vallen untuk menyelidiki Namira. Jika sampai bapak dan anak itu tahu kalau Vallen mencurigai mantan calon menantu / calon tunangan Kevin, maka habislah riwayat Vallen. Dia pasti akan ditegur habis-habisan oleh kedua orang yang paling berjasa serta paling berkuasa dalam hidup Vallen saat ini.


"Gue harus bisa mendapatkan bukti bahwa Namira memang jahat jadi gue gak sia-sia ngikutin dia kalau ada hasilnya. Tapi gue juga harus kembali ke perusahaan sebelum semuanya tahu gue keluar di jam kerja tanpa ada pekerjaan di luar," sambil melirik jam yang tertempel di pergelangan tangannya, Vallen terlihat gusar dan cemas. Ia seperti tengah berpacu dengan waktu. Dia tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk menciduk Namira perihal kejahatannya yang tak terendus apalagi dicurigai oleh Kevin dan keluarga. Tapi dia juga tak mau dapat teguran dari Pak Gunawan jika dia kembali tanpa hasil yang bisa dia tunjukan pada Kevin maupun Pak Gunawan.


"Sebenarnya dia mau kemana sih? Kenapa masih belum sampai juga di tempat tujuannya? Apa sebenarnya dia tahu kalau gue tengah membuntutinya? Jadi dia sengaja ingin mempermainkan gue dengan membawa gye muter-muter tanpa arah dan tujuan yang jelas kaya gini?" pikir Vallen, negatif.


"Awas aja kamu Namira kalau sampai kamu mempermainkan gue! Biar bagaimanapun gue tidak akan membuat kamu menang dalam peperangan ini. Gue tidak akan membiarkan kamu menyakiti Kevin dan keluarganya termasuk orang terkasihnya, meskipun orang terkasihnya itu adik kamu sendiri, Namira. Tak akan! Gue tak akan membuat kamu bertindak seperti itu!! Sehebat-hebatnya kamu, tapi tidak ada dalam kamus gue kalau kejahatan akan menang, CAMKAN ITU!!" imbuh Vallen dengan gemas dan tegas.


Vallen masih terus mengikuti mobil Namira meski dia beranggapan kalau Namira tahu dia telah diikuti oleh Vallen, tapi Vallen tak menyerah dan tetap mengikuti kemana pun mobil Namira membawanya. Vallen benar-benar ingin semua ini segera terelesaikan, jadi dia tak ingin kehilangan jejak Namira sejengkal saja.


Hingga pada akhirnya Namira berhenti di sebuah rumah yang agak kumuh namun cukup besar dan lumayan menjulang tinggi di daerah pinggiran kota. Rumah itu tampak aneh dan asing di mata Vallen.


"Tempat apa ini? Kenapa Namira datang ke sini? Apa dia mau menemui seseorang?" pertanyaan - pertanyaan itu seolah bergelayutan di otak Vallen saat dia juga baru memberhentikan mobilnya di sisi yang berbeda dengan tempat parkir mobil Namira.


Beruntungnya, Namira tak tahu kalau tengah dibuntuti Vallen. Terbukti saat Namira turun dari mobilnya dan berjalan santai memasuki rumah kumuh itu. Vallen juga yakin betul Namira memang tak sadar akan kehadiran dirinya. Oleh karena itu, Vallen bisa sedikit menghela nafas lega dan bisa melanjutkan missinya dengan cukup leluasa.


"Gue harus ikutin Namira ke dalam, siapa tahu di sana semuanya semakin jelas. Gue jadi bisa tahu sebenarnya apa yang tengah Namira rencanakan maupun Namira sembunyikan selama ini. Karena hati gue mengatakan Namira memang tengah merencakan sesuatu yang buruk dan juga tengah menyembunyikan sesuatu yang pastinya erat kaitannya dengan Kevin," Vallen berspekulasi panjang kali lebar. Setelah itu dia turun dari mobilnya dan mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah yang sempat Namira masuki tadi.


Sambil celingak-celinguk, Vallen berjalan begitu hati-hati dan berupaya sepelan mungkin agar tak menimbulkan bunyi-bunyi aneh yang bisa saja akan membuatnya ketahuan.


"Lindungi gue Tuhan," batin Vallen memohon.


Bersambung.