
"Jangan asal bunyi kamu Len, kalau Namira tahu nanti dia tersinggung. Repot urusannya kalau dia ngambek lagi. Ini aku baru baikan sama dia, jadi hati-hati kamu kalau bicara!"
"Ya Lo jangan kasih tahu lah!! Susah amat sih, Lo." sergah Vallen ngegas. "Tapi ngomong-ngomong, tadi pas gue sampai di sini ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan kaya lagi ngawasin rumah kontrakan Almira."
Mata Kevin membulat sempurna. "Maksud kamu?"
"Iya tadi ada orang mencurigakan gitu gerak-geriknya, gue samperin tuh ya sekalian gue mau tanya-tanya gitu kali aja dapat informasi mengenai Almira, eh pas kaki gue baru mau merapat ke arah dia, itu orang malah kabur terbirit-birit gitu kaya menghindari gue."
"Dia perempuan apa laki - laki?" tanya Kevin mulai serius. Rasa was-wasnya semakin meningkat tatkala Vallen membeberkan informasi mengenai orang aneh tersebut. Ia takut orang tersebut adalah orang yang sama dengan yang dimaksud para tetangga Almira.
"Cowok Vin, mana mukanya sangar gitu."
"Apaaa?!" Kevin terjengkat kaget sekaget-kagetnya. Bola matanya yang tadi sempat membulat kini dibuat semakin membulat lebih lebar, cenderung seperti mau melompat dari rongganya. "Cowok? Si manusia kerdus itu bukan? Ah maksud aku dosen muda yang waktu itu sempat aku jotos?" tanya Kevin dibarengi meralat kalimat awalnya.
"Ya bukanlah. Ini mah gue gak kenal. Kalau dosen Almira yang lo beri bogem mentah itu mah gue juga familiar mukanya. Ganteng, mulus, dan berwibawa..." cetus Vallen memanas-manasi. "Nah kalau yang ini mah udah tua dan mukanya sangar."
"Kalau dia bukan manusia kerdus, berarti kemungkinan dia orang jahat Len," Kevin menanggapi tak tenang. Jujur, dia memang tak bisa selalu tenang jika menyangkut informasi tentang Almira. Apalagi kalau dia tahu gadis itu dalam bahaya. Kevin sungguh tak bisa membayangkannya.
"Ya nggak tahu juga sih, padahal mah gue mau nanya-nanya doang tadi. Gue kira sih dia orang yang mau ngontrak atau tetangga Almira gitu, eh taunya bukan. Buktinya dia kabur kalang kabut gitu," Vallen memaparkan dengan detail apa yang barusan dialaminya. Ia juga sempat tak mengira kalau orang itu adalah orang jahat, namun setelah orang itu kabur mendadak, Vallen jadi harus su'udzon begitu saja.
"Udah dapat dipastikan dia orang jahat Len, atau jangan - jangan sebenarnya dia sekongkolan sama gadis yang katanya ngajak Almira cekcok?" Kevin mulai berspekulasi, otaknya seolah dipaksa lebih ekstra agar paling tidak dapat menelaah semua kejadian tersebut dari tempat Kevin sekarang.
"Ya kita gak bisa asal nebak gitu aja. Kita harus dapat bukti agar bisa memecahkan teka-teki dari masalah ini. Jika memang benar lelaki itu orang jahat dan membahayakan Almira, setidaknya kita perlu tau motifnya," Vallen mencoba bersikap bijaksana. Tidak seperti Kevin yang selalu grasak grusuk jika dihadapkan dengan masalah yang menyangkut Almira, di saat seperti ini peran Vallen memang patut diacungi jempol. Dia jauh lebih tenang dan tak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Bagi Vallen, terlalu beresiko jika dia langsung mengklaim lelaki yang sempat dicurigainya itu benar-benar orang jahat. Bagaimana kalau bukan? Vallen berpikir kalau seandainya orang tersebut tak sesuai kecurigaannya, jatuhnya akan jadi fitnah. Lebih parahnya lagi pencemaran nama baik. Jadi untuk itu, Vallen tidak mau langsung ambil keputusan.
Dia memang bukan tipe yang amat sangat serius dalam segala situasi, dia juga bukan tipe pemikir berat seperti Kevin. Vallen adalah orang yang paling bisa menempatkan dirinya sesuai situasi. Dia bisa menjadi amat sangat kocak dan tak ada serius-seriusnya jika dalam konteks suasana kasual, namun Vallen juga bisa menjadi serius dan lebih bijaksana dalam menanggapi berbagai hal jika dalam situasi yang remang-remang seperti sekarang.
Oleh sebab itu, Vallen sekarang tak langsung setuju dengan dugaan Kevin. Bukan berarti lelaki itu tak curiga atau terlalu santai, Ia hanya perlu mendapatkan bukti dahulu baru bisa mendakwa orang yang ditemuinya tadi memang orang jahat.
"Tapi Len, jelas-jelas dia mencurigakan. Mana mungkin dia tiba-tiba mengawasi rumah kontrakan Almira kalau tak ada yang sedang ia rencanakan?" Kevin tetap keukeuh dengan dugaannya, Vallen hanya menanggapi dengan datar dan ia juga tak tetap tak mau percaya dulu sebelum ada bukti relevan.
"Ya kita tetep gak bisa langsung tuduh gitu aja, Vin. Gak semua yang kita curigai tepat sesuai yang ada di dalam otak kita. Gak semua yang penampilannya mencurigakan adalah orang jahat. Pokoknya kita harus cari bukti dulu!!" tegas Vallen melalui sambungan teleponnya dengan Kevin.
Kevin pun akhirnya menyerah dengan pernyataan Vallen saat ini. Benar juga semua ucapan Vallen bahwa tidak semua yang mencurigakan itu adalah orang jahat. Kendati demikian, Kevin tetap merasa tak tenang saat ini.
"Kita gali informasi sebanyak-banyak dari para tetangga Almira. Termasuk pemilik kontrakan tersebut."
"Oke, tapi Lo kesini dong. Ya gak mungkin kan gue nanya-nanya dan cari informasi sendirian..." keluh Vallen menyuruh Kevin agar membantunya.
"Nanti aku ke sana setelah mengantarkan Namira ke tempat acaranya. Kamu tetap pasang mata awas dan jangan sampai lengah. Siapa tahu kan, lelaki yang sedari tadi jadi perdebatan kita beneran balik lagi ke sana, soalnya feeling aku sih dia orang jahat yang memang mengira Almira masih tinggal di sana, jadi aku jamin lelaki itu pasti balik lagi," titah Kevin. Muncul lagi keraguannya pada lelaki asing tersebut.
"Yaudah pokoknya lo cepetan ke sini, gue gak mau tahu!"
"Iya," jawab Kevin singkat padat dan jelas. Ia pun segera mematikan teleponnya setelah di rasa Vallen tak lagi bersuara. Setelah itu, Kevin pun mengayun langkahnya kembali ke dalam mobilnya dimana masih ada Namira di sana.
Setelah masuk, Kevin langsung diberondong pertanyaan oleh Namira yang agaknya mulai penasaran sekaligus ketakutan.
"Vallen telepon tentang apa? Apa Vallen memberi kabar yang buruk tentang perusahaan? Atau sebenarnya kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Namira tidak tahu mana yang lebih dominan, yang jelas dia merasa terancam sekarang. Otaknya menyuruh mulutnya untuk terus melontarkan pertanyaan tanpa jeda.
Hal itu tentu saja membuat Kevin ternganga tak percaya.
"Anu, tidak ada apa-apa kok. Everything is fine, kamu gak perlu khawatir." Hanya kata itu yang dikeluarkan Kevin untuk menanggapi pertanyaan Namira. Dia berpikir Namira masih belum boleh tahu semua masalah Kevin tentang Almira. Kevin tidak mau Namira jadi kepikiran atau sejenisnya. Oleh karena itu, Kevin mulai berdalih seolah tak terjadi apa-apa.
"Kamu yakin? Tapi kenapa kamu terlihat cemas tadi pas kamu sedang teleponan sama Vallen."
"Ah masa sih? Perasaan biasa aja deh," jawab Kevin santai. Padahal dalam hatinya ia sungguh tak bisa bersantai-santai seperti sekarang. Ia cukup khawatir pada Almira, cintanya, gadisnya, dan masa depannya.
Kevin memalingkan wajahnya ke arah lurus. Menatap jalanan dan menghindari tatapan curiga dari Namira yang sedari tadi kepo.
"Oh ya, Nami... setelah sampai di tempat tujuanmu nanti, aku mau langsung pulang ya. Maaf maaf nih kalau aku gak bisa tungguin kamu," Kevin hanya tersenyum tipis, meminta pada Namira untuk mengizinkannya pulang selepas mengantar gadis itu ke hotel.
"Iya gak apa-apa," balas Namira. Semakin curiga saja dia kalau Kevin benar-benar sedang menyembunyikan rasa khawatirnya mengenai Almira.
Bersambung.