Between Hate and Love

Between Hate and Love
Pengakuan Cinta



Kevin telah sampai di parkiran kampus Almira, dia langsung turun dari mobil kesayangan. Matanya mengedar, berharap kalau orang yang tengah ia tuju ada di sekitaran parkiran sehingga Kevin tak harus mencarinya di dalam gedung utama.


Dan Dewi Fortuna sedang berpihak pada Kevin, gadis yang ia cari benar-benar ada di sekitaran parkiran dan sedang jalan bersama salah satu temannya. Rona wajah Kevin berubah seketika, senyumnya juga turut mengembang melihat Almira berada tak jauh di depannya.


"Almira ...," panggil Kevin. Almira dan temannya pun menoleh ke arah sumber suara, didapatinya Kevin yang tengah memanggilnya sembari melambaikan tangannya.


"Dia lagi, mau ngapain sih dia kesini?" gumam Almira pelan.


"Siapa dia Al?" kata teman Almira yang berkacamata tebal.


"Orang gak penting. Udah yuk, mendingan kita pergi," pungkas Almira mengajak temannya untuk melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Kevin.


Senyum Kevin kontan mengatup, dia pun berpikir kalau mungkin gadisnya itu tak mendengar panggilannya. Ia pun memekik lagi memanggil Almira secara otomatis.


"Almira, Almiraaaa."


Alih-alih menoleh dan berhenti, Almira malah semakin mempercepat langkahnya.


"Dia manggil-manggil kamu tuh Al," teman Almira memperingatkan, tapi Almira sengaja acuh. Ia terlalu malas bertemu Kevin.


"Udah biarin aja. Dia cuma orang iseng yang suka gangguin aku."


Melihat Almira semakin mengabaikan panggilannya. Kevin berinisiatif mengejar Almira.


"Almira tunggu aku!" perintah Kevin, tapi lagi-lagi Almira acuh dan tetap pada pendiriannya yaitu melangkah menjauhi Kevin. Dengan demikian, Kevin juga berusaha untuk mempercepat langkahnya demi bisa menghentikan Almira.


"Almira, tunggu aku!" beruntungnya, kaki panjang Kevin berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Almira. Bahkan kini tangannya sudah mencekal tangan Almira agar gadis itu tidak bisa pergi kemana - mana lagi. "Aku perlu bicara," imbuhnya.


"Lepasin tangan aku!" Almira menatap Kevin dengan sinis. "Aku sibuk dan tak ada waktu berbicara dengan kamu."


"Sebentar aja."


"Aku bilang aku sibuk!" sentak Almira, dia berusaha melepaskan tangannya yang dicengkram kuat-kuat oleh Kevin. Namun sayangnya tenaga Kevin lebih kuat dibanding tenaganya, meski sudah sekuat tenaga agar bisa lepas, nyatanya semua sia-sia.


"Mbak, bisa tinggalkan kami berdua!" titah Kevin pada teman Almira yang sedari tadi berdiri di sebelah Almira tanpa bisa berbuat apa-apa untuk membantu Almira.


"Jangan dengerin dia. Kamu gak perlu pergi!" Almira angkat bicara, menyuruh temannya untuk tidak kemana-mana. Namun sayangnya tatapan Kevin pada teman Almira itu begitu mengintimidasi dan penuh harap.


"Baiklah," kata teman Almira yang memilih mematuhi perintah Kevin ketimbang Almira. "Aku ke kelas duluan ya, Al."


"Loh, Mir... bareng aja. Kamu gak usah dengerin manusia iseng ini. Lagipula aku gak lama kok ngomong sama dia."


"Gak apa-apa Al. Sepertinya kalian perlu bicara dari hati ke hati," teman Almira itu langsung bergegas pergi, membuat Almira melongo tak percaya.


"Terima kasih atas pengertiannya, Mbak!" ucap Kevin pada teman Almira karena sudah berusaha memberikan ruang agar Kevin bisa berbicara berdua dengan Almira. Gadis itu hanya menyimpulkan sudut bibirnya sebagai respon ucapan Kevin.


Selepas teman Almira yang bernama agak mirip dengan namanya itu pergi— Amira— Almira pun langsung menepis tangan Kevin untuk melonggar.


"Cepat katakan padaku, kamu mau ngomong apa?" cetus Almira dengan nada judes, membuat Kevin malah gemas dengan tingkah Almira. Benar kata Vallen kalau wanita pujaan kita akan terlihat dua kali lipat lebih cantik saat sedang marah. Dan Kevin melihat sendiri semua itu ada di diri Almira. Almira nampak lebih cantik dua kali lipat saat tengah marah begini. Kevin sampai senyum-senyum sendiri dibuatnya.


"Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri? Kamu pikir ada yang lucu?! Cepat katakan, kamu mau bicara apa padaku? Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu selesai senyum-senyum gajelas seperti itu!" seru Almira, ia merasa jengah dan ingin menenggelamkan Kevin ke kerak bumi rasanya.


"Aku sama Namira sudah—"


"Dengarkan aku dulu. Jangan dulu memotong kalimatku, itu gak sopan Almira!"


"Di saat situasi seperti ini kamu masih bisa berpikir tidak sopan? Lantas perlakuan kamu padaku dan kembaranku apa itu bisa disebut sopan? Kamu mempermainkan aku. Kamu berbohong sama aku. Kamu bahkan mengkhianati aku," ungkit Almira. Ia merasa masih benci pada Kevin yang merasa paling benar sendiri.


Kevin tertunduk lesu. Semua yang dikatakan Almira memang benar adanya. Dia adalah orang paling tidak sopan karena mempermainkan perasaan adik kakak yang jelas-jelas tengah bersitegang.


"Maafkan aku Almira, jujur niat awal aku tidak begitu. Aku hanya—"


"Aku tidak butuh alasanmu. Sebab apapun alasan yang kamu katakan semuanya telah membuat aku kecewa. Aku kecewa dengan kamu."


"Tapi semua ini juga salahmu!" balas Kevin sedikit menyentak. Membuat Almira diam tak percaya.


"Salahku?" heran Almira.


"Ya! Ini salah kamu. Seandainya kamu membuka hati untuk aku, seandainya kamu tidak cuek sama aku, seandainya kamu melihat keberadaanku, semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku sayang sama kamu Almira."


Pengakuan cinta yang selama ini sulut sekali Kevin lontarkan, nyatanya lolos begitu saja dari mulut Kevin sekarang.


"Aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi dari aku dan menjauh dari aku."


Almira tertegun sekita. Tanah yang menjadi tempatnya berpijak seolah longsor seketika, tubuhnya merosot ambruk saking tak percayanya dengan apa yang di dengar rungunya kali ini. Buliran kristal-kristal bening juga turut menggenang di kelopak matanya.


Melihat hal itu, Kevin refleks membantu Almira untuk bangun.


"Al, kamu gak apa-apa?" tanya Kevin panik.


Almira masih diam tak bergeming. Seluruh organ geraknya serasa lumpuh hingga tak ada lagi energi yang membuatnya mampu berdiri tegak kembali. Almira bingung harus senang atau tidak dengan pengakuan cinta Kevin yang mendadak. Satu sisi dia bahagia akhirnya penantian cintanya berbalas, tapi satu sisi dia ingat kalau Kevin telah bertunangan dengan Namira, apalagi saat otaknya ingat kalau Namira jatuh sakit sekarang. Sebenci-bencinya dia pada Namira, dia tetap punya hati yang tak mungkin bisa merebut Kevin kakaknya.


Almira meleguk salivanya dengan rakus, mencoba berdiri lagi dengan bantuan tangan Kevin yang kini merangkum kedua bahunya.


"Kamu gak apa-apa kan, Al?" ulang Kevin. Ia tak henti-hentinya bertanya dengan kalimat yang sama. Dia begitu cemas gadisnya itu kenapa-kenapa.


"Aku tidak apa-apa," ucap Almira sembari menepis tangan Kevin agar mau melepas dari bahunya. Sebisa mungkin Almira harus kuat menahan berat tubuhnya yang entah kenapa bebannya serasa bertambah ribuan ton. "Lebih baik kamu pulang, aku ada kelas!" usir Almira dengan nada halus.


Kevin mengernyit seketika, "Terus bagaimana dengan kita?" agaknya Kevin masih menantikan jawaban Almira mengenai kelanjutan hubungan mereka.


"Aku sudah punya pacar. Jadi berhentilah mengejarku!"


Deg! Jantung Kevin serasa berhenti sejenak seiring dengan dirinya yang terperangah tak percaya dengan penuturan Almira.


Kevin tersenyum kecut. Sulit baginya untuk percaya semua ini. "Tidak mungkin, kamu pasti berbohong! Aku tidak percaya sama kamu. Kamu sengaja kan berkata begitu supaya aku melupakan kamu? Sebegitu sulitnya kah kamu melupakan kesalahan aku sampai-sampai kamu berbohong sudah memiliki kekasih demi menghindari aku."


"Tidak kok. Aku sama sekali tidak berbohong."


"Aku minta maaf Almira, kalau perlu aku berlutut di depan kamu agar kamu puas dan melupakan kesalahan aku. Aku mohon berkata jujurlah kalau kamu belum punya pacar! Kembalilah padaku, aku mohon Almira!" harap Kevin dengan wajah sendu.


"Kalau kamu datang ke sini hanya untuk meminta maaf, maka akan aku kabulkan. Aku akan memaafkan kamu. Tapi kalau untuk kembali padamu, maaf aku tidak bisa kabulkan. Sesuai perkataan aku sebelumnya, aku sama sekali tidak berbohong. Aku benar-benar sudah punya pacar."


"Tidak mungkin!"


Bersambung.