
Seluruh rungan tampak kosong, para pekerja semua telah pulang, tinggal Safira seorang diri yang masih berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung habis, bahkan dokumen tersebut masih tersisa setengah dari tumpukan tersebut.
"Aah, ini sungguh melelahkan." Safira menelungkupkan wajah di atas meja, punggungnya terasa panas dan tangannya kebas, "aku ingin tidur," keluh Safira masih dengan posisi yang sama. Awalnya dia pikir bekerja bisa membuat dia sedikit memiliki kebebasan, namun nyatanya tidak.
"Yohan sialan! Semoga kau jadi pria impoten, agar garis keturunanmu terputus!" gerutu Safira.
"Kau berani mengutuk suamimu sendiri!" Mata Safira membulat mendengar suara yang tiba-tiba hadir di dekatnya. Safira mendongak sembari memicingkan mata.
'Ternyata memang benar dia. Hmph, aku tak perlu merasa malu atau merasa bersalah padanya.'
Safira mengacuhkan Yohan dan memilih untuk kembali bekerja, "lanjutkan itu besok, ayo kita pulang." Yohan masih menunggu Safira bangkit untuk berjalan bersama.
"Kenapa masih diam, ayo!" ajak Yohan lagi, karena Safira tak kunjung bangkit.
"Kau pergi duluan, dan tunggu aku di halte." Safira berujar dengan pandangan datar, sembari mengamankan berkas-berkas kedalam laci.
"Disini tidak ada orang, tidak akan ada yang melihat kita." Ungkap Yohan masih tak bergeming.
"Maksud kamu mereka bukan orang?" Mereka itu merajuk pada penjaga keamanan dan para cleaning servis yang masih bertugas. Yohan mendesah kesal, lantas berlalu pergi.
Safira melirik punggung Yohan yang menghilang cepat di balik pintu. Entah mengapa di hati Safira kesannya terhadap Yohan sedikit berubah, 'Hem, tidak buruk.'
Safira berjalan keluar menuju halte sesuai perjanjiannya dengan Yohan tadi. Dari kejauhan sudah nampak mobil sedan berwarna hitam yang Safira kenali menunggu di tepi jalan, mau tak mau Safira tetap mendekat dengan langkah malasnya.
Klik... pintu mobil terbuka tanpa harus Safira yang melakukan, "jalanmu lambat, duduk di depan." Perintahnya, membuat Safira yang tadinya ingin mengabaikan Yohan yang membukakan pintu untuknya dan memilih duduk di belakang terpaksa masuk dan menuruti perintahnya.
"Sabuk pengaman." Ujar Yohan sebelum dia mulai melajukan mobilnya. Safira menurut tanpa berkata-kata. Dia terlalu malas untuk meladeni suaminya itu.
Mobil melaju menerobos jalanan yang cukup ramai, hiruk pikuk kendaraan menjadi pemandangan tak asing yang bisa Safira lihat. Entah kemana Yohan membawanya pergi, Safira tak peduli. Kebebasannya telah Yohan renggut dengan paksa membuat Safira seolah tak peduli akan hidupnya sendiri.
Mobil menepi di sebuah restoran bergaya moderen dengan latar pemandangan yang cukup mewah.
"Mau apa dia mengajakku kemari?" gumam Safira keheranan, tak biasanya pria sombong ini pergi ke tempat begini apa lagi membawa wanita yang statusnya sebagai istri.
"Turun! Apa perlu aku yang membukakan pintu?" ujarnya ketika melihat Safira masih tak bergeming.
"Mengapa kita datang ke tempat ini?" bukannya turun Safira malah melontarkan pertanyaan.
"Untuk makanlah."
"Makan, denganku?" Safira berujar dengan nada tak percaya.
"Bu-bukan hanya denganmu, na-nanti akan ada rekan bisnisku yang datang." Yohan menjawab dengan kikuk.
"Sebagai bos, aku ingin kau menemaniku makan malam. Rekan bisnisku seorang wanita, aku merasa tidak nyaman." Yohan kembali memberi alasan random.
"Turun!" Yohan mulai jengah, karena Safira tak henti-hentinya mendebat segala apa yang Yohan katakan.
"Aku tidak mau, pergi saja sendiri!" Safira melipat tangan di dada dan malah menyandarkan punggung di sandaran kursi.
"Kau menolak?" Yohan mengerutkan dahi dengan bibir berkedut.
"Ya aku menolak!" Tegas Safira dengan mata menyalang.
Brak... Yohan keluar sembari membanting pintu mobil cukup keras, membuat Safira seketika terlonjak, dia berlalu membuat Safira seketika menghela napas lega. Dia tak ingin berada lama-lama satu ruangan dengan Yohan, bernapas di tempat yang sama dengan Yohan membuatnya kekurangan oksigen.
Safira memang sengaja membuat Yohan selalu marah dan membencinya, agar lambat laun dia kesal sendiri dan memilih untuk bercerai.
Sebuah motor menepi tak jauh dari mobil yang Safira diami. Seorang Pria berambut bergelombang yang sedikit gondrong melepas helm lantas turun, Safira mengenal pemilik punggung lebar itu.
"Roger!" Pekiknya, dada Safira seketika bergemuruh. Orang yang dia sukai tepat berada di depan matanya, ingin rasanya Safira berteriak dan memanggil nama itu, tapi bibirnya hanya mampu bergetar, tenggorokan seolah tercekat. Safira menatap punggung Roger yang hilang dengan cepat masuk kedalam Restoran tersebut.
Sakit, seolah ribuan jarum menghujam jantung, menatap dia yang kau cintai lewat di depan mata, namun kau tak mampu hanya untuk sekedar berkata, aku disini.
Safira menitikkan air mata, menekan rasa yang seolah meronta dan menyuruhnya pergi mengejarnya.
"Sudah jangan menangis, jalan kita sudah berbeda, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Fira, kau sudah memutuskan untuk menyerah akan cinta Roger, tapi mengapa kau masih tetap terpengaruh saat melihatnya." Safira bergumam pada dirinya sendiri.
Kisah Cinta yang Safira jalani dengan Roger tidak bisa di bilang sebentar, mereka menjalin hubungan saat Safira lulus kuliah, sejujurnya Safira telah menaruh hati sejak lama, namun dia tak memiliki keberanian hanya untuk sekedar bicara.
Bruk... Suara pintu mobil di tutup, membuat Safira kembali terlonjak, dia tak menyadari kedatang Yohan. Dengan cepat dia menyapu sisa air mata di pipinya.
"Kamu menangis?" ucap Yohan tiba-tiba, membuat Safira sedikit terkejut.
"Siapa yang menangis." Safira berkilah.
"Ya kamu lah, siapa lagi? Hantu?" Yohan menilik wajah Safira, dia tahu jika Safira habis menangis, namun apa penyebabnya? Pertanyaan itu langsung muncul di kepala Yohan.
Yohan melajukan mobilnya, meski pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya, Yohan sebisanya menahan agar dia tak bertanya. Yohan menyodorkan paper bag yang tadi dibawanya.
Safira diam, namun dia tetap menerima benda tersebut, "apa ini?" tanya Safira bingung.
"Kau punya mata kan, lihat saja sendiri. Mengapa harus buang-buang waktu bertanya." Rasa penasaran yang tak terpecahkan tadi, berubah menjadi kekesalan. Mood Yohan seketika berubah, dia ingin Safira mengatakan keluh kesah padanya, kesedihan mau pun kebahagiaan, bahkan hal-hal kecil sekali pun. Yohan ingin Safira terbuka, namun dia tak dapat mengatakan keinginannya itu, dia ingin orang lain mengerti apa yang Ia inginkan tanpa Ia harus mengatakannya.
Safira mendelik kesal, "jika kau tidak ikhlas mengapa kau memberikannya padaku." Keluh Safira, dia menjelajah isi di dalam paper bag tersebut, yang ternyata adalah cup cake yang beraneka warna dan rasa.
'Cup cake? Apa dia tahu kue ini kesukaanku?'
Kekesalan Safira sedikit mereda, dia mengambil satu cup cake coklat dan menikmatinya, seperti biasa makanan manis memang selalu membuat dia senang, membuat moodnya yang semula hilang, kembali seketika.